Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Susah Ngomongnya


__ADS_3

Air..." lirih Fendy.


Sinta yang tengah duduk di samping pria itu sambil memainkan ponselnya pun kaget. Sinta segera menyimpan ponselnya ke dalam sakunya.


"A-air..." ucap Fendy lagi, ia merasa sangat haus.


"Air?" ulang Sinta sambil matanya mencari air mineral.


"Sebentar aku ambilkan," ucap Sinta pada Fendy.


Sinta mengatur ranjang Fendy agar bisa setengah duduk. Ia menuang air ke dalam gelas panjang dan menaruh sebuah sedotan agar Fendy dengan mudah meminumnya. Sinta membuka masker oksigen yang dipakai Fendy.


"Pelan-pelan, nggak usah keburu-buru nggak ada yang minta," ucap Sinta ketus. Fendy hanya tersenyum tipis.


"Udah?" tanya Sinta memastikan, pria itu mengangguk kecil. Sinta menaruh gelas ke tempat semula dan memasangkan kembali masker oksigen Fendy.


"A-aku di rumah sakit?" tanya Fendy lemas.


"Bukan, tapi di hotel..." celetuk Sinta, Fendy memandang Sinta memperhatikan wanita yang tampak pucat itu.


"Aku kenapa?" tanya Fendy lirih, mencoba mengingat apa yang terjadi.


"Hampir saja meet up malaikat pencabut nyawa," jawab Sinta.


"Aku panggil suster dulu, biar kamu diperiksa, kali aja otak kamu rada geser gara-gara jatuh tadi pagi," lanjut wanita itu.


Sinta menekan tombol untuk memanggil suster jaga, tak lama seorang perempuan dengan seragam perawat pun datang.


"Udah sadar, Sus! tolong periksa barangkali syaraf otaknya barangkali ada yang geser," ucap Sinta, wanita itu bergeser memberi tempat pada suster yang akan memeriksa kondisi Fendy.


Setelah selesai perawat itu pun pergi meninggalkan dua orang yang bagaikan kucing dan anjing itu.


"Udah tau punya alergi cokelat, kenapa masih dimakan?" ketus Sinta ia menarik kursi di samping pria yang beberapa jam yang lalu membuatnya khawatir setengah mati.


"Jangan marah-marah, aku jadi susah nafas..." ucap Fendy lirih, ia memandang Sinta. Pria itu sepertinya melihat sekelilingnya, seakan bertanya ini jam berapa.


"Kamu mencari jam? ini sudah 8 malam," Sinta menjawab kebingungan Fendy.


"Kamu pasti khawatir ya sama aku..." ucap Fendy penuh percaya diri, walaupun tubuhnya masih sangat lemah.


"Nggak usah banyak ngomong dulu, besok kalau udah sembuh baru kita bisa berantem lagi," kata Sinta menaikkan selimut Fendy.


"Kan aku nggak ngajak kamu berantem, aku cuma nanya," ucap Fendy, Sinta masih berdiri menatap pria yang sangat menyebalkan. Pria yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya.


"Kamu nggak pulang?" tanya Fendy dia melepas masker oksigen yang ia pakai. Sinta melotot.

__ADS_1


"Kenapa dilepas? pakai lagi," kata Sinta mengingatkan.


"Susah ngomongnya," ucap Fendy.


"Nggak usah aneh-aneh," Sinta berusaha memakaikan kembali masker oksigen yang Fendy lepas. Sinta duduk di kursi samping ranjang Fendy.


"Kenapa kamu disini?" tanya pria itu, sebenarnya bukan itunyang ia ingin ucapkan, namun entah kenapa pertanyaan aneh yang malah keluar dari mulutnya.


"Jadi ngusir nih ceritanya, udah bagus aku tolongin, tau gitu harusnya aku biarin aja kamu ngegeletak di kantor," jawab Sinta kesal, Fendy langsung meralat ucapannya.


"Bukan kayak gitu, maksudnya aku seneng kamu ada disini," kata Fendy, namun Sinta sepertinya tidak percaya.


"Beneran aku seneng banget kamu nungguin aku, berarti kamu yang bawa aku kesini?" tanya Fendy, dia tidak percaya Sinta akan menolongnya.


"ya iyalah aku, tapi dibantu sama karyawan kamu," jawab Sinta.


"Udah jangan banyak ngomong, aku engep dengernya, baru juga sadar ... diem dan istirahat," lanjut Sinta.


"A-aku..." kata Fendy, Sinta memandangnya lekat-lekat.


"Istirahat, jangan banyak ngomong, nggak usah bandel, atau mau aku tinggal?" kata Sinta mengancam.


"J-jangan, kamu disini aja," ucap Fendy menahan Sinta.


"Ya udah, makanya diem!" kata Sinta, Fendy mengangguk pasrah.


"Nggak, makanya aku nggak mau pakai ini, lagian aku udah biasa dan aku nggak akan kenapa-napa," ucap Fendy menunjuk masker oksigen.


"Kecuali kalau dokter bilang kalau kamu udah nggak perlu pakai ini, kamu boleh nggak pakai, selama dokter belum ngebolehin ngelepas, ya tetep dipakai berarti," kata Sinta panjang lebar.


"Sin?" panggil Fendy.


"Ya?"


"Aku ingin minum," ucap Fendy, bicara dengan Sinta membuat kerongkongannya kering.


Sinta pun membantu Fendy untuk minum, hati pria itu berbunga-bunga.


"Tidurlah," kata Sinta memasangkan kembali masker oksigen yang tadi sengaja Fendy lepas.


"Aku akan duduk disana," Sinta menunjuk


Sinta beralih pada sofa panjang yang tak jauh dari ranjang Fendy. Wanita itu meluruskan punggungnya yang lelah di sofa. Kantuk pun mulai menyerangnya, walaupun jam di dinding baru menunjukkan pukul 8 malam, tapi Sinta merasakan kantuk yang luar biasa. Wanita itu mulai terpejam. Fendy tersenyum saat melihat Sinta tertidur di sofa, setidaknya hati wanita itu sudah mulai menghangat.


Vira menunggu Raharjo untuk kembali masuk ke dalam ruang perawatan steril, cangkok ginjal yang ia lakukan mengharuskan ia harus berada di lingkungan steril. Pintu terbuka, Raharjo yang berada di ranjang di dorong dua orang perawat, yang kemudian memasukkan ranjang Raharjo ke ruang steril.

__ADS_1


Tak berapa lama, Ricko pun keluar, ia terbaring di atas ranjang, pria itu diantarkan ke ruang perawatannya.


"Ma, Vira lihat Kak Ricko dulu, ya?"


"Iya, Sayang ... nanti mama nyusul kamu kesana, mama masih ingin melihat papa,"


Vira pun melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan Ricko, pria itu sedang melihat langit-langit kamar.


"Kenapa?" tanya Vira.


"Nggak apa-apa," jawab Ricko lembut.


"Pasti udah kerasa sakit, ya?" tanya Vira, ia duduk di kursi samping pria yang sudah mendonorkan ginjalnya untuk papanya.


"Lumayan,"


"Bukan lumayan lagi kalau wajahmu saja menahan rasa sakit seperti itu," seloroh Vira, Ricko hanya mengangguk kecil.


"Kak, aku tidak melihat siapa-siapa yang mengunjungimu disini," ucap Vira yang lumayan penasaran kenapa tak ada orang yang mengunjungi Ricko.


"Karena aku emang nggak punya siapa-siapa," ucap Ricko menatap kedua manik Vira.


"Maaf," ucap Vira menyesal karena telah bertanya seauatu hal yang privacy.


"Nggak masalah, Vira ... aku terbiasa hidup sendiri," kata Ricko yang membuat Vira yercengang dengan jawabannya. Vira memang mengetahui kalau Ricko berasal dari panti asuhan, tapi Vira pikir Ricko memiliki keluarga lain atau minimal sudah berkeluargam


"Apakah tidak ada keluarga yang mengadopsimu dulu?" tanya Vira.


"Maaf, duh aku salah bertanya, ehm ... Nggak usah dijawab kalau Kakak nggak mau," ucap Vira cepat setelah merasa pertanyaannya kurang sopan.


"Dulu pernah, orangtua angkatku meninggal karena sakit keras," Ricko mengingat kembali mendiang orangtua angkatnya.


"Dua-duanya?" tanya Vira, Ricko mengangguk.


"Iya, begitulah ... setelah mendiang ayah angkatku meninggal tak lama ibu angkatku menyusul kepergian ayah, dan jadilah aku yatim piatu untuk yang kedua kalinya," ucap Ricko dia menertawakan kehidupannya. sedangkan Vira menatap Ricko dengan wajah yang sendu.


"Maaf ya, aku membuka masa lalu Kakak..." ucap Vira menyesal.


"Tidak masalah, tidak usah dipikirkan,"


"Kakak bisa menganggapku adik, jadi jangan bersedih," ucap Vira.


"Iya, adik kecil..."


Vira tersenyum pada Ricko, mereka berbincang dan itu membantu Ricko melupakan rasa sakit yang mulai menjalar di tubuhnya. Vira tak lupa berterima kasih atas bantuan Ricko, namun sepertinya dia lupa untuk menyalakan ponselnya, sehingga kekasihnya sekarang uring-uringan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2