Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Tidak Ada Hubungan Apa-Apa


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Jadi? kapan kalian akan menikah?" tanya Kamila pada anak perempuannya.


"Kalian siapa, Mah?" tanya Sinta yang masih menikmati makanannya.


"Kamu dan Fendy," kata Kamila, sontak membuat Sinta tersedak. Semua mata memandang ke arahnya, termasuk ayah dan kakak lelakinya. Hubungan Sinta dan keluarganya sudah harmonis kembali. Fendy lah yang mempererat hubungan keluarga itu kembali.


"Hey ... malah ngelamun, kita tuh nunggu jawaban dari kamu tau, nggak?" sarkas Refan.


"Kok aku sama Fendy? orang kita nggak ada hubungan apa-apa," Sinta berkelit, dia gugup membahas pernikahan sedangkan hubungannya dengan Fendy saja belum jelas.


"Ini anak kamu gimana sih, Pah?" Kamila tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Sinta.


"Ya kan dia juga anak kamu, Mah!" sahut Arya yang menaikkan satu alisnya, melirik Sinta. Sinta yang mendapat dukungan dari papa nya pun teraenyum simpul.


"Jangan bilang kamu masih ngarepin Kenan ya Sinta? dia udah pergi jauh, sampai kapan kamu mau nungguin orang yang sama sekali nggak cinta sama kamu? cuma makan hati aja yang ada," ucap Kamila menggebu.


"Lah, kok nyambungnya kesitu sih, Mah? orang aku sama Fendy itu emang beneran nggak pacaran, masa iya ucluk-ucluk nikah? yang bener aja," kata Sinta.


"Kak Refan aja sana yang Mama suruh nikah, udah bangkotan begitu. Atau mungkin dia pengen jadi jomblo abadi?" lanjut Sinta.


"Dih, kamu kan perempuan. Kalau aku kan laki-laki, jadi aku slow aja mau nikah umur berapa, nggak masalah. Udah deh, Sin ... nggak usah ngeles, nanti kakak yang tanya sama Fendy, kapan dia akan bawa keluarganya untuk bertemu dengan kita," ucap Refan tersenyum jahil.


"Kalian sama aja, disini cuma papa yang ngertiin aku. Iya kan, Pah?" kata Sinta mencari dukungan.


"Yes, my sweetheart..." sahut Arya, dia hanya terkekeh mendengar perdebatan mereka bertiga. Suasana ini yang sebenarnya Arya rindukan selama ini, berbincang tertawa bersama istri dan anak-anaknya. Dan semua ini akhirnya terwujud.


"Wah ... lagi seru, nih!" ucap seorang pria muncul tiba-tiba.


"Nah, panjang umur nih orang! baru aja diomongin udah nongol aja," kata Refan, sementara mata Sinta melotot pada kakak lelakinya.


"Udah sarapan, Fen?" tanya Kamila.


"Belum, Tante..." jawab Fendy seraya mendudukkan dirinya disamping Sinta.

__ADS_1


"Ya sudah, sarapan bareng kita. Sinta ambilkan nasi buat Fendy," titah Kamila.


"Dih, dia bisa ambil sendiri. Iya, kan?" ucap Sinta sambil menoleh pada Fendy dengan tatapan mematikannya.


Fendy tidak menjawab dia hanya tersenyum penuh arti.


"Sinta, ayo cepat ambilkan!" kata Kamila. Mau tidak mau Sinta menuruti perkataan Kamila. Ia pun mengambilkan nasi beserta lauknya dan juga segelas air putih untuk pria menyebalkan itu.


"Gimana, Fen? kok kamu jarang main akhir-akhir ini?" tanya Arya.


"Sibuk pacaran," lirih Sinta namun masih bisa didengar oleh Fendy.


"Lagi ada masalah di kantor, Om ... tapi untungnya semua sudah bisa teratasi," kata Fendy.


"Syukurlah, Om senang dengan pria seperti kamu. Punya semangat yang tinggi untuk meraih puncak kesuksesan dimasa muda," puji Arya pada pria yang duduk disamping anak perempuannya. Pria itu menikmati sarapan bersama keluarga Sinta. Namun tiba-tiba saja wanita itu beranjak dari duduknya.


"Mah, Pah ... Sinta udah selesai, Sinta ada urusan," kata Sinta yang mendekat pada orang tuanya dan menyalami keduanya.


"Kalau begitu, saya juga sudah selesai. Terima kasih atas sarapan paginya. Permisi, Om ... Tante..." kata Fendy seraya berjalan cepat mengejar Sinta yang sudah pergi dari tempat itu.


"Sin! Sinta!" seru Fendy seraya menarik tangan Sinta.


"Ih, apaan sih!"


"Hey, kamu itu kenapa?" kata Fendy yang tidak tahu kenapa Sinta ngambek seperti ini.


"Lepasin, ih..." ucap Sinta.


"Ya udah iya aku lepas, tapi kamu pergi sama aku ya? hari ini udah nggak ngantor lagi, kan?" kata Fendy. Setelah Refan dan Arya kembali, Sinta memutuskan untuk berhenti bekerja. Ia ingin mengistirahatkan otaknya dulu, bersantai menikmati waktu. Kemarin wanita itu tak sengaja melihat Fendy bersama seorang wanita.


"Tapi aku nggak mau," kata Sinta ketus, ia membuang muka.


"Aku nggak tau, salah aku apa sampai kamu bersikap kayak gini. Kamu bikin aku stres tau nggak?" kata Fendy.


"Nggak salah? pikir aja sendiri!" kata Sinta yang berusaha membuka mobilnya. Namun Fendy dengan sigap menutup pintu mobil itu kembali.

__ADS_1


"Nggak usah rese, deh!" ucap Sinta.


"Kita harus bicara, sini ikut aku!" ucap Fendy. Ia menarik Sinta untuk berjalan mengikutinya. Ia memasukkan wanita itu ke dalam mobilnya.


Pria itu membawa Sinta pergi menjauh dari kediaman Aryaka. Sementara di dalam mobil, Sinta tak mau bicara. Dia sangat kesal dengan pria yang dia anggap hanya mempermainkannya saja. Jika dia tahu kalau Fendy sudah bertunangan dengan wanita lain, mana mungkin dia akan memberikan hatinya pada pria yang akhirnya akan menjadinmilik wanita lain. Wanita yang pernah menjadi batu sandungan dan pernah membuat gejolak di pernikahan sahabatnya.


"Heh, kamu mau bawa aku kemana?" tanya Sinta yang melihat Fendy masuk ke jalan tol.


"Cari tempat buat ngomong," jawab Fendy.


"Ngomong tinggal ngomong, nggak usah sampai ke luar kota juga kan bisa,"


"Otak kamu lagi panas, jadi kamu butuh suasana yang dingin supaya otak kamu bisa ikut adem, ngerti?" ucap Fendy.


"Lagian, kan kemarin udah manggil sayang. Kenapa sekarang pake kamu kamu lagi?" lanjut Fendy.


Sinta tak menanggapi ocehan Fendy, sabodo amat dengan pria itu. Yang jelas, saat ini dia sangat malas untuk bertatap muka dengan Fendy yang sudah membuat hatinya tersilet-silet.


Setelah beberapa jam berkendara akhirnya mereka sampai juga di sebuah Vila. Dengan pemandangan yang sangat asri.


"Yuk, keluar ... kita udah sampai," kata Fendy yang membuka pintu dan mengeluarkan dirinya dari kendaraan roda empat itu.


Pria itu berjalan memutar dan membukakan pintu mobil untuk wanitanya. Sinta keluar begitu saja. Fendy hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Sinta yang kembali ke setelan pabrik.


Udara sangat dingin matahari juga sudah mulai naik ke atas. Sinta memeluk dirinya, namun dengan cepat Fendy membuka jasnya untuk menutupi tubuh Sinta.


"Kita ke dalem, kecuali kamu ingin membeku disini," kata Fendy.


"Nggak usah aneh-aneh, ya?"


"Ya ampun, siapa sih yang mau aneh-aneh? cuma ngajak kamu ke dalem, bikin teh atau kopi buat ngusir hawa dingin. Pikiran dijaga makanya!" ucap Fendy seraya mendorong dahi Sinta dengan telunjuknya.


"Nggak usah pake noyor-noyor juga kali," sarkas Sinta.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2