
Vira hanya memandang sekilas pria yang berdiri di sampingnya, ia malah memilih untuk menyeruput mojitonya, tanpa memperdulikan pria yang menatapnya seperti singa menatap mangsanya. Gusti hanya melihat kedua orang yang tengah bersitegang itu secara bergantian, sementara Vira malas menatap pria yang berstatus pacarnya itu.
"Aku tanya, ngapain kamu disini?" suara Firlan meninggi. Pria yang kini duduk di hadapan Vira lantas berdiri
"Wait, kamu sepertinya salah paham, kita hanya ngobrol," Gusti angkat bicara, karena melihat kilatan amarah di wajah Firlan.
"Aku nggak tanya kamu, aku tanya dia." ucap Firlan dengan tatapan mengintimidasi.
"Ehm, aku permisi ya, Kak?" Vira bangkit dari kursinya dia menatap Gusti dan tersenyum pada pria itu. Hal itu semakin menyulut amarah sang kekasih. Namun Vira berusaha bersikap acuh, dia ingin pergi dari tempat itu karena malu menjadi pusat perhatian pengunjung.
"Makasih untuk traktirannya," lanjutnya sebelum ngeloyor pergi.
"Hey, bocah itu!" gerutu Firlan yang segera mengejar kekasihnya yang lagi mogok ngomong.
"Hey, Vira!" seru Firlan memanggil nama kekasihnya, tapi Vira tak juga menoleh atau menghentikan langkahnya
"Denger nggak sih aku panggil?" Firlan mencoba menyamai langkah Vira yang kini telah mencapai luar pintu restoran
"Sorry, aku mau kerja." sahut Vira ketus ngalahin cabe setan.
"Kamu shift malem, jangan ngada-ngada." Firlan mencekal tangan Vira, mereka sudah berada diluar restoran.
"Nah tuh tau!" Vira melepaskan cekalan tangan kekasihnya dan berusaha jalan dengan langkah cepat, ia berniat menyebrang jalan dan tangannya kembali ditahan Firlan.
"Kamu kenapa, sih?" Firlan menatap lekat kedua manik kekasihnya.
"Kamu yang kenapa?" Vira malah balik ngegas, perempuan itu masih saja berusaha menghentikan taksi, namun Firlan mencegahnya.
"Kenapa nomormu nggak aktif? kenapa aku nggak bisa chat kamu? kamu..." ucapan Firlan terhenti dan dengan cepat Vira menyerobot.
"Aku blokir, puas?" Vira mencoba melepaskan cekalan tangan kekasihnya.
__ADS_1
"Dan sebentar lagi nama kamu akan aku blokir dalam hatiku, ngerti?" lanjutnya dengan membuang muka.
"Kamu ngomong apaan sih? emang aku salah apa? sampe nomorku kamu blokir? hah?" Pria itu mengernyit heran, sebenarnya pacarnya ini habis ketempelan setan dimana, bisa merong-merong seperti itu. Vira menoleh melihat wajah Firlan, ada beberapa luka disana. Tapi pikiran Vira malah nyeleneh.
"Muka dia sampe gitu banget, apa mereka? ahh, sabodo teuing!" Vira menepis pikiran yang berseliweran di otaknya itu.
"Vira, jawab!" Firlan membuang nafasnya kasar. Pertanyaannya tak dijawab oleh perempuan yang pikirannya sudah melanglang buana.
Melihat Vira yang mengabaikan pertanyaannya, Firlan langsung menarik pacarnya itu untuk berjalan mengikutinya
"Sini, ikut aku!"
"Ih, apaan sih, lepas! bikin malu tau nggak?"Vira kaget tangannya ditarik, dia terpaksa mengikuti kemana pria itu berjalan. Sementara ada beberapa pasang mata yang melihat secara live adegan pacar yang lagi ngambek-ngambekan. Mereka cuma bisa geleng-geleng, melihat dua sejoli itu yang berasa sedang shooting FTV atau reallity show, beuh saking menjiwainya tuh adegan merong-merongnya. Mungkin mereka nggak sadar kalau mereka sedang di tempat umum.
"Diem dan masuk!" ucap Firlan yang membuka pintu mobil dan menyuruhnya untuk tidak melawan.
Firlan tak bodoh, dia takut Vira kabur jadi setelah pacarnya masuk, dia langsung menekan tombol kunci. Pria itu berlari memutar ke sisi pintu yang lain, dia segera menekan kembali tombol kunci untuk membuka pintu dan segera duduk di belakang kemudi.
"Bukan urusan kamu!" ucap Vira dengan melipat tangannya di depan dada. Pandangannya lurus melihat jalanan. Sementara mobil mereka masih diem ditempat, nggak maju nggak mundur.
"Ya jelas jadi urusan aku lah, orang kamu pacarku!" ucap Firlan yang ingin menjambak rambutnya, dia menghela nafasnya mencoba mengontrol emosinya. Dia tahu Vira akan semakin melawan jika dia meninggikan suaranya.
"Kamu punya hubungan apa sama dia? jawab Vira..." Firlan mencoba bertanya sehalus mungkin.
"Apa lagi, sih!" Vira menoleh dan menatap Firlan dengan tatapan tajam.
"Kamu selingkuh?" tanya Firlan ragu, dan pertanyaan yang dilontarkan pria itu sukses membuat Vira bertanduk.
"Heyyyy, saya nggak pernah selingkuh seperti yang anda tuduhkan!" kata Vira yang menatap pacarnya getir.
"Justru anda yang selingkuh," Vira tak melepaskan pandangannya dari pria yang kini malah mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kapan aku selingkuh?" ucap Firlan seraya mendorong kening Vira dengan telunjuknya.
"Kamu kesambet dimana, sih? ngomong pakai anda kamu anda kamu," kata Firlan yang spontan menempelkan punggung tangannya di kening kekasihnya itu, memastikan suhu tubuh Vira masih dalam batas normal.
"Nggak panas, anget iya," ucap Firlan yang masih menempelkan punggung tangannya di kening Vira.
"Apaan sih!" Vira menepis tangan Firlan.
"Hey, saya tidak cukup bodoh, suara meresahkan itu..." Vira tak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia sekuat tenaga menahan air mata yang sudah memupuk di pelupuk matanya.
"Suara meresahkan apa? kamu itu ngomong apa? aku nggak ngerti..." pria itu makin bingung dengan apa yang dikatakan kekasihnya. Memangnya suara apa yang dimaksud Vira?
"Buka pintunya! aku mau keluar!" Vira mencoba membuka pintu, namun tidak bisa karena pintu itu sengaja dikunci Firlan, biar pacarnya tidak kabur-kaburan. Dia ingin masalahnya tuntas. Pria itu yakin ada kesalahpahaman diantara mereka.
"Buka aja kalau bisa," ucap Firlan yang memandang Vira masih berusaha membuka pintu mobil.
"Sekarang, bilang sama aku, suara meresahkan apa yang kamu maksud? aku nggak ngerti, beneran. Kamu kenapa sih, Ay?" Firlan mencoba membujuk Vira dengan sebutan Ay, yang membuat dia teringat ayam. Vira persis seperti ayam yang akan bertelur, marah-marah mulu.
"Loh lok nangis?" Vira menutup wajahnya, terdengar isakan yang memilukan, bahunya naik turun menandakan perempuan itu berada diambang batasnya, menahan sesak di dalam hatinya.
"Hey ... kok nangis? aku salah ngomong? iya? hem? maafin aku, yah?" Firlan mencoba meraih tangan kekasihnya, ia bersikap lembut. Pria itu menangkup wajah Vira yang sudah banjir air mata. Perlahan dia mengusap lelehan cairan bening yang tak hentinya keluar dari kedua mata Vira.
"Kamu..." ucap Vira sesenggukkan. Dia mencoba mengatur nafasnya. Tangisnya pecah kembali, sepertinya tak sanggup melontarkan kalimat selanjutnya.
"Aku apa? liat aku, Ay..." Firlan menghapus air mata Vira dengan ibu jarinya. Pria itu menatap wajah kekasihnya lekat-lekat. Vira mencoba membuang muka, tapi dengan segera Firlan mencegahnya.
"Aku kenapa?" tanya Firlan.
"Semalam ... aku dengar kamu lagi sama cewek, dan kalian..." Vira tak sanggup melanjutkan.
...----------------...
__ADS_1