
Kenan langsung menancapkan gasnya menuju kota S untuk menemui Amartha. Dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Amartha. Beberapa kali dia memukul stir mobilnya, melampiaskan amarahnya yang sedang membuncah.
"Kenapa kamu bisa sama dia, Ta? arghhh!" Kenan memukul stir mobilnya. Lelaki itu memacu mobilnya, dia ingin cepat sampai di kota S. Walaupun Satya mengatakan bahwa, Amartha dan Satya tidak melakukan hal yang aneh. Tapi, tetap saja hatinya cemburu mengetahui kekasihnya bersama dengan Satya.
Sementara di tempat lain, Satya kembali dari menemui Amartha. Dilihatnya gadis itu tengah tertidur pulas. Satya mengambil obat oles untuk mengobati kaki Amartha. Pria itu mengoleskan obat dengan sangat hati- hati. Ditatapnya wajah gadis itu yang sesekali terlihat gelisah. Satya duduk di tepian ranjang, mengusap pipi Amartha dengan sangat lembut, mencoba menenangkannya. Perlahan raut wajah gadis itu kembali tenang.
"Aku mencintai kamu, Amartha..." ucap pria itu lirih.
Satya menggenggam tangan Amartha, menatap lekat wajah gadis yang telah mencuri hatinya.
Satya kemudian berjalan ke arah sofa di kamar itu, dia merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah. Tak butuh waktu lama, matanya kini mulai terpejam. Hujan turun membasahi kota menambah suasana dingin malam itu.
...----------------...
PUKUL 06.00 WIB.
Amartha menggeliat dan mengerjapkan matanya mencoba beradaptasi dengan cahaya lampu yang redup. Karena Satya mematikan lampu utama dan hanya menggunakan lampu tidur untuk menerangi kamar itu. Amartha mencoba untuk duduk dan meraba ranjangnya, mencari ponsel miliknya. Amartha mengedarkan pandangannya, mencoba mencari dimana ponselnya.
Dilihatnya Satya tengah tertidur di sofa berwarna maroon. Perlahan Amartha turun dari ranjang, menapakkan kakinya diatas lantai marmer berwarna krem dengan motif abstrak.
Sepertinya pria ini menyukai warna yang soft, terbukti dari pemilihan warna wallpaper dan ornamen yang ada di kamar ini.
Amartha berjalan mendekati Satya dengan kaki yang sedikit pincang. Ternyata kakinya masih terasa sedikit nyeri untuk berjalan. Dengan susah payah, Amartha mendekati Satya. Matanya mencari apakah ponsel miliknya berada di tangan Satya atau tidak. Namun sang gadis tak menemukan apapun di tangan pria yang telah menolongnya.
"Ish ... nggak ada!" Amartha berdecak kesal. Lalu ia memutar tubuhnya berniat untuk mencari ponselnya lagi. Namun, tiba-tiba tangannya ditarik Satya. Amartha yang kaget tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan jatuh diatas tubuh Satya yang tengah berbaring diatas sofa.
"Awh!" pekik Amartha.
Satya membuka matanya dan mata mereka beradu, sesaat pandangan itu terkunci. Mereka saling menatap satu sama lain. Tak bisa dipungkiri ada sesuatu dalam diri Satya yang tengah menegang karena bersentuhan dengan tubuh gadis yang tengah menubruknya. Satya mendekatkan wajahnya namun sesaat dia tersadar dan tiba-tiba mendorong kening Amartha dengan telunjuknya.
"Jangan mesum!" ucapnya dengan wajah yang berseringai.
"Ih, amit-amit!" Amartha bergegas beranjak dan mencoba berdiri.
"Hahahah," Satya hanya terkekeh melihat wajah Amartha.
"Kamu lagi nyari apa sih?" tanya pria itu yang kemudian berganti posisi menjadi duduk.
"Nyari Hape!"
"Galak amat Non jawabnya! nih, hape kamu ada di sini," Satya menepuk saku celananya.
"Kok bisa?" tanya Amartha memicingkan matanya.
"Ya bisa lah, "
"Sini balikin!" Amartha menengadahkan telapak tangannya di depan pria menyebalkan itu.
__ADS_1
"Ya udah ambil sendiri," Satya menepuk kembali saku celananya.
"Ish, sini balikin!" Amartha mulai jengah dengan sikap Satya.
"Iya udah tinggal ambil, ini loh ini!" Satya terkekeh melihat ekspresi gadis itu yang kesalnya bukan main.
Satya berdiri dan mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu. Dirogohnya saku celananya dan mengambil ponsel milik Amartha.
"Sini!" Amartha langsung menyambar ponselnya, namun Satya meninggikan posisi tangannya. Amartha yang kemudian melompat berharap bisa mengambil ponselnya, ternyata malah membuat kakinya terkilir.
"Awh!" pekik Amartha merasakan nyeri di pergelangan kakinya.
Satya segera menangkap tubuh Amartha yang hilang keseimbangan. Direngkuhnya tubuh gadis itu. Amartha kaget dengan perlakuan Satya, ia membulatkan matanya. Satya lalu menegakkan kembali tubuhnya tanpa melepaskan tangannya di pinggang Amartha, seakan ia ingin berlama-lama merengkuh tubuh gadis itu.
"Lepas!" Amartha mendorong dada bidang Satya. Satya memberikan ponsel gadis itu dan dengan sigap menggendong tubuh Amartha. Lagi, Amartha kaget dengan apa yang Satya lakukan.
"Turunin!" Amartha mencoba memberontak. Satya tak menghiraukan Amartha yang terus berteriak dan terus berjalan ke arah ranjang. Pria itu meletakkan gadis itu di atas ranjang.
"Sssst, jangan berisik!" Satya meletakkan telunjuknya di bibir Amartha.
"Kalau tetangga denger, kita bisa di kawinin!" ucap pria itu dengan entengnya.
"Aku mau pulang!" Amartha menatap Satya dengan tajam. Sementara Satya mengecek kondisi pergelangan kaki Amartha yang terkilir.
"Awh!" pekik gadis itu saat Satya memijit pergelangan kakinya.
"Aku bilang, aku mau pulang!" ucap Amartha lagi. Satya seketika memandang wajah Amartha dan memajukan wajahnya yang membuat wajah Amartha menjadi tegang.
"Ish," Amartha mendorong tubuh Satya dengan tangannya. Satya terkekeh melihat reaksi Amartha.
Satya kembali menggendong tubuh gadis itu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar. Amartha kembali berteriak.
"Nah, mandi kamu mandi dulu! Kalau udah selesai panggil aku!" ucap Satya yang langsung menutup pintu kamar mandi. Amartha hanya menatap pria itu tak suka yang seenaknya menggendong dirinya masuk ke dalam kamar mandi.
Satya keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Pria itu membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan makanan. Dia meracik bumbu dan mulai memasak untuk sarapannya hari ini.
Setelah adegan masak memasak selesai. Lelaki itu menyajikan nasi goreng diatas piring putih berbentuk oval, tak lupa diletakkannya telur mata sapi dan juga kerupuk diatas nasi goreng seafood yang masih mengeluarkan asapnya. Satya membawa sepiring nasi goreng dan segelas air putih ke dalam kamarnya.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, pria itu tak mendapati Amartha. Mungkin gadis itu masih di dalam kamar mandi, pikirnya. Satya menaruh piring dan gelas di atas meja di depan sofa maroon dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Amartha?" Satya memanggil dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya!" jawab Amartha.
"Udah selesai?"
"Udah!" teriak gadis itu. Satya hanya terkekeh mendengarnya. gadis ini sungguh menggemaskan.
__ADS_1
Satya membuka pintu dan mendapati Amartha yang sedang berdiri di depan wastafel.
"Loh? kok belum mandi?" Satya mengernyitkan dahinya, melihat penampilan Amartha yang masih sama seperti sebelumnya.
"Nggak bisa buka jeansnya!" sahut Amartha dengan suara yang pelan.
"Oh, ini pasti sakit kalau lepas jeans ya?" tanya Satya sambil melihat kaki Amartha yang terdapat beberapa luka gores dan luka bakar.
"Tunggu disini dulu," titah Satya. Beberapa saat kemudian, Satya kembali dengan membawa gunting. Pria itu berjongkok dan mulai menggunting jeans gadis itu.
"Eh, mau ngapain!" Amartha membulatkan matanya kaget dengan apa yang dilakukan Satya.
What? dia gunting jeans kesayangan aku!
"Jeans kamu ini terlalu ketat, harus digunting biar kamu bisa buka jeans dan bisa mandi," sahut Satya tanpa memandang Amartha. Satya menggunting jeans 3/4 itu sebatas paha. Kini terpampang jelas paha putih milik Amartha. Amartha merasa sangat risih namun Satya berusaha bersikap biasa.
"Sudah selesai, sekarang kamu bisa mandi," kata Satya yang langsung berjalan keluar membawa sobekan jeans Amartha dan gunting di tangannya serta menutup kembali pintu kamar mandi.
Satya kembali mengetuk pintu kamar mandi setelah dirasa tidak terdengar suara gemericik air. Pria itu menanyakan apakah Amartha sudah menyelesaikan mandinya atau belum. Setelah sang gadis menjawabnya, Satya membuka pintu dan memapah Amartha yang meringis kesakitan akibat luka di kakinya yang belum sembuh ditambah kakinya sedang terkilir.
"Makan dulu, ya?" ucap Satya usai mendudukkan gadis itu di sofa.
Ehm, enak! ternyata pinter masak nih orang!
"Mas Satya yang masak?" tanya Amartha .
"Iya aku yang masak, tenang nggak aku kasih jampi-jampi apalagi racun!" sahut Satya sembari mengambil piring dan menyuapkan nasi ke mulut gadis itu. Amartha mau tak mau membuka mulutnya.
"Aku bisa makan sendiri," ucap Amartha setelah mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Lalu ia mengambil alih piring yang ada di tangan Satya.
"Mas Satya nggak makan?" ucapnya kepada pria itu.
"Tumben panggil 'mas'? nggak panggil sayang aja sekalian?" ucap Satya yang menaik turunkan alisnya.
"Aku buat cuma satu porsi, kamu duluan aja, nanti aku bisa makan sereal," lanjutnya.
Krukk kruk.
Terdengar suara dari perut Satya, sontak membuat Amartha tertawa. Satya hanya memandang pemandangan langka itu. Dia bisa melihat gadis yang biasa cuek itu tertawa lepas hanya karena perutnya yang berbunyi. Memang sejak kemarin siang, Satya belum sempat mengisi perutnya.
"Ya ampun, jangan-jangan Mas Satya belum makan ya dari kemarin?" tanya Amartha setelah menghentikan tawanya.
"Nggak sempet,"
"Ya udah, kita makan bareng aja, toh ini porsinya jumbo buat ukuran lambungku,"
Akhirnya pagi itu, Satya dan Amartha makan di satu piring yang sama. Amartha juga tidak tega melihat pria itu kelaparan karena menjaganya semalaman. Setelah selesai sarapan, terdengar bunyi panggilan telepon di ponsel Amartha. Satya bergegas mengambil ponsel Amartha yang tergeletak diatas ranjang, lalu memberikannya pada gadis cantik itu. Amartha mengatur nafasnya sebelum mengangkat telepon itu.
__ADS_1
"Halo?" Amartha menyapa orang disebrang sana.
...---------------...