
"Astaga, bagaimana aku bisa mengusir wanita itu," gumam Satya dalam hatinya saat melihat Ivanka sedang duduk sambil memperhatikan kuku-kuku cantiknya. Wanita yang memakai blouse berwarna putih dan rok pendek berwarna coklat itu sepertinya enggan untuk pergi dari ruangan Satya. Ia meletakkan tasnya diatas meja.
Tak lama ia mendapatkan sebuah chat.
"Sampai kapan aku disini? usir dia, jangan sampai dia menemukanku di toilet, atau rencana kita akan gagal," Satya menggerakkan bibirnya tanpa bersuara membaca isi dari chat tersebut. Satu sudut bibirnya naik, ia bisa membayangkan betapa tersiksanya Carlo yang sedang bersembunyi di toilet.
"Sayang? kok kamu ngantor pakai baju kayak gitu?" tanya Ivanka seraya menaikkan satu kakinya dan menumpangkannya di kaki satunya.
Satya tak mau menjawab, dia masih mengingat dimana ia menyimpan alat perekam suara yang ia selalu bawa.
"Ih, dicuekin! kamu tuh sebenernya kenapa, sih?" Ivanka mendekat pada Satya, ia duduk diatas meja sedangkan kakinya menjuntai ke bawah.
"Turun Ivanka! ini kantor," ucap Satya yang sangat muak melihat tingkah Ivanka yang semakin menjadi.
"Astaga, aku bisa gila mengatasi wanita ini!" gumam Satya dalam hatinya. Satya langsung memundurkan kursi yang didudukinya, ia langsung bangkit dan menjauh dari wanita itu.
"Galak banget, sih? kamu sebenernya kenapa? kamu lagi banyak pikiran, iya?" Ivanka segera turun dan mengejar Satya, ia memeluk pria itu dari belakang dengan erat.
"Ivanka, jangan seperti ini. Aku bilang ini kantor," kata Satya yang mencoba melepaskan kedua tangan Ivanka yang melingkar ditubuhnya.
"Nggak, aku nggak mau! aku kangen tau, kenapa semalem kamu nggak angkat telfonku?" tanya Ivanka, wanita itu menempel di punggung Satya.
"Oh iya, aku lupa ... kamu pasti lagi sama istri kamu ya, Sayang?" lanjut Ivanka.
"Itu bukan urusan kamu, Ivanka..." kata Satya dingin.
"Aku harap kamu nggak akan berubah pikiran untuk membantuku, tenang saja kita bisa merahasiakannya dari istrimu. Aku bisa mengunci mulutku rapat-rapat," Ivanka sedang membual. Padahal dalam hatinya ia telah menyusun rencana untuk menyingkirkan Amartha.
"Aku akan bertahan menjadi yang kedua, sampai aku bisa menyingkirkan istrimu yang bodoh itu. Dan kamu akan secara resmi menjadi milikku. Hanya milikku, hahahhahaha..." Ivanka tertawa jahat dalam hatinya.
Satya melepaskan tangan Ivanka dari tubuhnya, Ivanka pun memekik kesakitan karena tangan Satya yang melepaskannya secara paksa.
"Awwhh!" Ivanka memekik kesakitan. Namun Satya tak pedulu, ia mengambil ponsel yang ada di meja, beberapa chat dari Carlo membuatnya sangat kesal.
__ADS_1
"Astaga sampai kapan aku harus berhadapan dengan kedua orang itu," gumam Satya. Ia menyimpan ponselnya ke dalam saku, saat ia akan mengambil kunci mobil ia melihat Ivanka berjalan menuju ke toilet yang ada di ruangan itu.
Sementara Carlo yang mendengar suara heels yang beradu dengan lantai semakin dekat padanya pun tak kalah berdebar, matanya mengawasi pintu. Lalu dengan gerakan yang sangat halus, ia menggeser slot sehingga pintu tidak bisa dibuka dari luar.
"Hey, kamu mau kemana?" tanya Satya.
"Aku nggak kemana-mana, aku hanya ingin ke toilet..." ucap Ivanka, ia memajukan tubuhnya dan meraih handle pintu.
"Hem! toiletnya sedang rusak, jadi tidak bisa dipakai. Keluarlah, pakai toilet yang di ujung lorong sana," ucap Satya seraya menghampiri Ivanka, ia melepaskan tangan Ivanka dari pegangan pintu itu.
"Aku nggak tau dimana tempatnya kecuali kamu yang mengantarku kesana," Ivanka sambil menggambar pola abstrak di kemeja bagian dada Satya.
Ivanka semakin merapatkan tubuhnya namun Satya segera menjauh. Ia berjalan memunggungi Ivanka, pria itu membuka pintu dan menyuruh wanita itu untuk mengikutinya. Sedangkan Ivanka tersenyum misterius.
"Tunggu!" seru Ivanka seraya menyambar tasnya dan berlari kecil mengejar Satya yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Sedangkan Maura nampak bingung dengan bosnya yang nampak dekat dengan wanita yang sudah menarik sahamnya dari perusahaan.
Sementara Carlo yang masih di dalam toilet, akhirnya bisa bernafas lega saat mendengar Ivanka keluar dari ruangan itu. Pria tampan dengan mata biru itu akhirnya keluar dari persembunyiannya.
Maura melihat ounggung Carlo yang semakin menjauh, wanita itu menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak ada ketombe.
"Aku kira dia udah pergi, ternyata masih di dalam..." gumam Maura.
.
.
Satya dan Ivanka sudah sampai diujung lorong.
"Itu toiletnya," ucap Satya menunjuk sebuah pintu berwarna coklat dengan simbol ladies.
"Tunggu aku, aku nggak akan lama, kok!" kata Ivanka yang berjalan masuk ke dalam toilet. Setelah wanita itu tak terlihat lagi, Satya segera meninggalkan tempat itu dan segera pergi menuju lift.
__ADS_1
Pintu akan tertutup namun dengan secepat kilat Satya masuk ke dalam kotak besi itu.
Dan siapa sangka ia bertemu dengan Carlo di dalam lift yang sesaat kemudian bergerak ke bawah menuju lobby.
"Kau sengaja membuatku terjebak di dalam sana?" tuduh Carlo pada Satya.
"Menurutmu? 1 jam berada di dalam ruangan yang sama dengan wanita itu bukan sebuah penyiksaan? bahkan lebih baik terkunci di toilet selama 2 jam daripada harus ditempel wanita itu," jawab Satya dengan ketus.
"Baiklah aku anggap kita impas. Jangan membatalkan rencana ini, aku akan memberikan semua sahamku. Dan itu artinya aku akan jatuh miskin jika memang terbukti aku bersekongkol dengan Ivanka,"
"Hey, kau hanya akan kehilangan kekayaan, tapi aku akan kehilangan separuh nyawaku seandainya ternyata
kamu berbuat curang! bahkan membayangkannya saja aku tidak akan mampu," ucap Satya.
"Oh, My God! siapapun tidak ingin jatuh miskin. Bisa dibayangkan seorang Carlo Jester Brooks, mendadak miskin. Dan keluargaku akan mencoretku dari daftar keluarga, karena aku membuang semua uangku dengan percuma. Ayolah, kau hanya perlu bermain sedikit lagi..." kata Carlo.
"Astaga, apa yang kau lihat dari wanita itu?" Satya mencibir perbuatan konyol Carlo.
"Ini tantangan dan saya menyukai itu. Saya mendapatkan Vanka dan kamu akan mendapatkan istrimu kembali," ucap Carlo.
"Dasar orang gila!" umpat Satya, pria itu langsung melenggang pergi setelah pintu lift terbuka.
Carlo hanya tertawa seraya melangkah keluar dari kotak besi. Semakin sulit ia mendapatkan Ivanka maka semakin tertantang pula dirinya untuk mendapatkan wanita itu. Seorang wanita sombong yang pernah menolak cintanya dulu.
"Dulu kau pernah menolakku, dan kali ini aku akan membuatmu benar-benar menjadi milikku. Sebentar lagi kau akan menyandang nyonya Brooks! kita lihat saja nanti..." gumam Carlo dalam hatinya.
Sementara Ivanka yang sudah selesai menggunakan toilet pun sedang melihat dirinya di cermin.
"Penampilanku memang selalu memukau," ucap Ivanka.
"Aku harus segera keluar, dia pasti sudah lama menungguku..." kata Ivanka, ia segera mencangkolkan tas di bahunya lalu membuka pintu.
"Sayang, maaf aku..." ucapan Ivanka terhenti saat tak menemukan Satya saat ia keluar dari toilet wanita.
__ADS_1
...----------------...