
Vira datang membawa satu kotak alat rajutnya. Bisnis yang dibangunnya dari nol itu sekarang memberinya pemasukan rutin yang membuatnya bersemangat kembali. Paling tidak dengan melakukan hal ini dia bisa mengatur waktunya sendiri dan melupakan pria bernama Firlan.
"Eh, Mbak Vira. Sudah ditunggu Nyonya di ruang keluarga," ucap bik Surti yang baru saja membukakan pintu untuk Vira.
"Lah, Sasa kemana, Bik?" tanya Vira seraya masuk ke dalam rumah megah itu.
"Lagi pulang kampung, katanya kakaknya mau nikahan," jawab bik Surti yang menutup pintu kembali.
Vira berjalan menuju ruang keluarga, menemui Amartha yang sedang menikmati kue sagu.
"Widihh, bumil enak banget nih ngemilnya," kata Vira seraya neletakkan sebuah kotak berwarna merah yang masih tertutup.
"Jam segini emang paling suka ngemil dan bentar lagi pasti ngantuk," jawab Amartha.
"Lama banget nyampenya, Vir? kamu naik ojek atau naik siput, sih?" sindir Amartha.
"Tadi kan aku nginem dulu, Ta. Baru aku kesini, lagian pagi-pagi amat main ke rumah orang nanti dikira mau numpang sarapan," jelas Vira, Amartha manggut-manggut mendengar jawaban Vira.
"Mau minum apa, Vir?" tanya Amartha.
"Apa aja, yang penting jangan air kobokan atau air mentah," celetuk Vira.
"Bik, Bik Surti..." seru Amartha.
"Iya, Nyonya..."
"Bik? bisa bikinin es kopyor buat aku sama Vira?" tanya Amartha.
"Kelapanya masih ada kan?" lanjut Amartha.
"Ada, sebentar Nyonya, saya buatkan dulu..."
Bik Surti kembali ke dapur sementara Amartha yang duduk leyehan di sofa melihat Vira yang duduk di bawah sambil membuka kotak merah milik wanita itu.
"Kamu bisa banget ya bikin baju dari benang dan alat itu," ucap Amartha seraya memasukkan kue sagu ke dalam mulutnya.
"Nggak tau, dulu waktu sekolah kan ada mata pelajaran menyulam, nah aku mulai tertarik sama yang benang, pokoknya aku suka banget, Ta ... dan nenekku dulu suka merajut, beliau pernah ngajarin aku juga bikin-bikin kayak gini," ucap Vira.
"Ya kayak kamu lah, kenapa bisa bikin kue? bisa masak yang enak? karena kita suka makanya kita bisa, aku terakhir masak hampir bikin orang diare, Ta.."
__ADS_1
"Hahahahah, kok bisa?"
"Ya gimana? ternyata memasak itu butuh effort yang besar dan skill yang bagus juga. Hadeuh, nggak bakat aku tuh..." ucap Vira seraya mengingat kejadian gongso yang hampir membuat Ricko diare.
"Kamu udah mulai bisnis? jual baju rajutan kayak gini?" tanya Amartha.
"Ya begitulah, ternyata ada aja yang beli..." ucap Vira.
"Es kopyornya, Nyonya..." ucap bik Surti yang membawa dua gelas berisi es yang menyegarkan tenggorokan.
"Makasih ya, Cantik..." ucap Vira pada bik Surti.
"Ih, Mbak Vira ini..."
"Terima kasih ya, Bik. Jangan lupa antarkan juga untuk semuanya, biasanya Damian dan Mang Anto pada ngumpul di posnya mang Tatang, kan?" ucap Amartha.
"Iya, Nyonya ... nanti saya akan bawakan ke pos," ucap bik Surti seraya pamit pergi meninggalkan ruangan itu. Vira membereskan pekerjaannya terlebih dulu. Dia khawatir jika air dari gelas akan menetes pada hasil karyanya.
Amartha menurunkankan kakinya ke lantai ia mencoba meraih gelas tinggi bening. Vira yang melihat itu langsung membantu Amartha mengambil gelas yang berisi es kopyor itu.
"Makasih, Ta..." ucap Amartha.
Tiba-tiba saja Amartha menghentikan suapan es kopyor ke dalam mulutnya, ketika rasa sakit hebat yang menyerang perutnya. Seperti sesuatu yang mendesak ingin keluar.
"Aawh!" Amartha mengerang kesakitan. Vira yang sedang menikmati es nya pun segera menaruh gelasnya di atas meja. Ia segera beranjak dan mengambil gelas yang dipegang Amartha.
"Kamu kenapa, Ta?" tanya Vira bingung.
"Sa-sakit banget, Viraaa..."
Vira segera mengecek perut Amartha yang mulai kencang. Vira mencoba tidak panik, karena itu akan membuat Amartha semakin takut.
"Tenang, kamu coba tarik nafas terus hembuskan perlahan," Vira memberikan instruksi.
Amartha mulai melakukan apa yang dikatakan Vira. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Vira melihat ponselnya dia menghitung berapa menit sekali rasa sakit dirasakan Amartha.
"Aaaakh, sakit!" kata Amartha pelan, namun Vira tau yang dirasakan Amartha pasti sakit yang luar biasa.
"Tenang, kayaknya si dedek udah ketemu mama sama papanya,"
__ADS_1
"Bukan mama papa, Vira! tapi ibu dan ayah," ralat Amartha.
"Iya iya ibu sama ayah maksudnya," ucap Vira.
"Astaga lagi sakit masih bisa aja ralat ucapan aku yang kepleset," gumam Vira.
"Kamu tunggu disini, aku panggil bik Surti dulu. Biar aku paniknya ada temennya, sebentar ya, Ta..." Vira langsung ngibrit ke dapur. Namun, tidak ada orang.
"Astaga, bik Surti kemana coba? dia nggak ngerti apa majikannya mau brojolin anak?" Vira mencari bik Surti di kabinet kitchen set.
"Ya ampun ngapain juga aku bukain kabinet, nggak mungkin juga bik Surti nyempil disitu!"
"Oh, iya, mungkin lagi nganter es kopyor ke depan," Vira langsung ngibrit ke ruang tamu. Amartha yang sudah pucat melihat Vira yang tadi lari ke dapur sekarang lari lagi ke ruang tamu membuat Amartha geleng-geleng kepala.
"Tadi dia bilang aku jangan panik, tapi dia malah kayak lagi lomba lari," ucap Amartha disela rasa sakitnya.
Vira yang kemudian membuka pintu bertepatan dengan bik Surti yang juga yang akan masuk ke dalam rumah. Alhasil mereka berteriak karena sama-sama terkejut.
"Astaghfirllah, Mbak Vira bikin bibik kaget aja! untung nih jantung masih kuat!" bik Surti mengusap dadanya.
"Yang ada aku yang kaget kenapa juga Bik Surti tiba-tiba nongol di depan pintu kayak tadi!" ucap Vira.
"Saya kan habis nganterin es kopyor ke depan, Mbak..."
"Kalian ngapain ribut di depan pintu," ucap Firlan yang tiba-tiba nongol kayak setan. Firlan yang datang karena disuruh mengambil dokumen di ruang kerja Satya pun bingung melihat dua wanita yang berbicara di depan pintu
"Astaghfirllah! aku sampe lupa, itu Amartha kayaknya mau lahiran. Ayo bantuin aku, bik!" ucap Vira gugup seraya menggandeng tangan Firlan. Firlan yang digandeg pun diam dan menurut saja kemana Vira membawanya.
"Bibik mending ambil koper atau apapun yang udah disiapin Amartha kalau mau ke rumah sakit," ucap Vira seraya menengok ke belakang. Namun ia terkejut saat ia mengetahui bahwa dia salah gandeng orang.
"Astaga, kok aku malah gandeng buaya sih!" ucap Vira seraya melepaskan genggaman tangannya.
"Kamu bilang apa tadi? buaya?" ucap Firlan tak terima.
"Aduuuh, Mbak Vira sama Mas Firlan ributnya ditunda dulu," ucap bik Surti yang menyadarkan kedua orang yang akan mulai berdebat.
Vira menyusul bik Surti yang setengah berlari menuju majikannya berada.
"Nyonya!" seru bik Surti saat melihat Amartha menahan sakit yang teramat sangat.
__ADS_1
...----------------...