
Amartha yang memang takut ketinggian terus memegang bahkan mencengkram lengan Satya. Pria disampingnya hanya meringis menahan perih, kuku menancap enak di lengannya. Ini lebih mirip mendampingi istri melahirkan ketimbang sepasang manusia yang naik pesawat. Setelah pesawat landing dengan sempurna, dan mereka turun dari burung besi itu barulah Satya bisa menghela nafas lega. Akhirnya penderitaannya selesai juga.
"Aku anter kamu setelah aku ambil mobil di rumah, ya?" ucap Satya ketika mereka sedang menunggu taksi.
Amartha yang sudah ngantuk tingkat dewa pun hanya mengangguk. Taksi yang mereka tunggu telah tiba, membawa dua orang yang jauh dari kata akur ini menuju tempat tujuan yaitu rumah Satya.
Selama di dalam taksi tak ada percakapan apapun, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Amartha memandang kosong ke arah jendela dan lagi air matanya meleleh dengan sejuta rasa sakit yang mendera dalam hati.
Inikah yang namanya patah hati?
Satya hanya sekilas melihat Amartha yang masih asik dalam dunianya, dokter ganteng itu tak banyak bicara, dia memberi ruang Amartha untuk menuntaskan kesedihannya, meluapkan apa yang dia rasakan. Dia tahu sangat menyakitkan mengetahui kenyataan bahwa kekasih yang sangat dicintai akan bertunangan sengan orang yang kita panggil sahabat.
Setelah 25 menit perjalanan, mereka sampai di rumah Satya. Pintu gerbang berwarna hitam itu dibuka oleh seorang Satpam. Satya membuka kaca mobil, memperlihatkan bahwa sang pemilik rumahlah yang berada dalam taksi berwarna biru itu.
"Mang, buka gerbangnya!" seru Satya.
"Eh, Mas Satya ... sebentar, saya buka gerbangnya," ucap Kardiman, satpam yang bertugas malam itu.
Kardiman lalu mendorong pintu gerbang yang menjulang tinggi, mempersilakan taksi yang ditumpangi majikannya untuk masuk ke area pelataran rumah dengan desain minimalis itu.
"Terima kasih, Pak..." kata Satya setelah menyodorkan uang pada supir taksi.
Amartha dengan cepat mengusap pipinya, menghapus jejak airmata saat pria itu mengajaknya turun dan mempersilahkan Amartha untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
"Tunggu disini, aku ambil kunci mobil dulu," ujar Satya yang hanya dijawab anggukan kecil oleh Amartha.
Sembari menunggu Satya mengambil kunci mobil, Amartha merogoh ponselnya yang dia nonaktifkan saat naik pesawat. Amartha menekan tombol di ponselnya. Ia menscroll chat B** di ponselnya, benar saja banyak chat yang masuk, terutama dari Kenan. Kembali air mata meluncur bebas dari manik gadis cantik itu. Dia hanya memandang chat itu tanpa berniat untuk membukanya. Tiba-tiba terlihat ada panggilan masuk dari Rudy, sang papa. Amartha menghapus air matanya dan segera menekan tombol hijau di ponselnya.
"Assalamualaikum, Amartha," suara Rudy terdengar panik.
"Waalaikumsalam ... ada apa, Pah?" Amartha mengernyit heran.
"Nak, mamah sakit," ucap Rudy singkat.
"Terus? gimana keadaan mamah, Pah?" Amartha cemas mendengar penuturan papanya.
"Mama nggak mau dirawat, papa juga bingung, harus gimana, barangkali kalau kamu yang bujuk, mama mau di rawat, Sayang..." jelas Rudy.
__ADS_1
"Iya, Pah ... Amartha segera pulang," ucap Amartha, menenangkan papanya.
"Assalamualaikum, Nak..." ucap Rudy.
"Waalaikumsalam," sahut Amartha sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Satya yang sedang berjalan mendekat ke arah Amartha pun mengernyitkan dahinya, pasalnya ia menangkap semburat kekhawatiran dari wajah Amartha. Satya yang hanya memakai polo shirt dan jeans pun duduk di samping gadis itu. Satya nampak lebih segar dengan wangi parfum maskulin yang aromanya sangat elegant.
"Ada apa, Ta?" tanya Satya.
"Mamah sakit, papah minta aku pulang," sahut Amartha sambil mengantongi kembali ponselnya.
"Ya udah, malam ini aku anter kamu," ucap Satya santai.
"Nggak usah, aku sendirian aja," Amartha menolak bantuan dari Satya. Dia merasa sangat tidak enak hati selalu merepotkan pria itu.
"Kamu jangan keras kepala, ini sudah malam, bahaya buat kamu!" Satya melipat tangannya didepan dada. Amartha hanya menghela nafas panjang.
"Yaudah," Amartha nampak pasrah, lagian hatinya sedang tidak baik dan hari sudah hampir mendekati jam 11 malam.
"Kamu bisa mandi pakai air hangat di kamarku, naik aja ... aku tunggu disini," Satya menyandarkan punggungnya di sofa. Sementara Amartha, dia naik melangkahkan kaki menuju lantai dua dengan membawa tas punggungnya. Gadis itu membuka kamar milik pria tampan yang lebih sering menguras emosinya. Amartha menaruh tasnya di sofa, dan hanya mengambil baju ganti yang ada di dalam tasnya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Satya membuat dua cangkir teh hangat untuknya dan Amartha. Gadis yang ditunggu-tunggu akhirnya selesai juga. Rambut Amartha nampak sedikit basah. Satya yang berniat menyesap teh hangatnya mendadak meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja dan segera menghampiri Amartha.
"Kalau mandi itu jangan lupa keringin rambut! apalagi mandi malem kayak gini!" ucap Satya sembari menuntun Amartha kembali ke kamarnya.
Satya melepaskan tas punggung Amartha di atas sofa, dan mengarahkan gadis dengan rambut panjang sepinggang itu berdiri menghadap cermin di depan wastafel. Satya menyalakan hair dryer yang menempel di dinding, pria itu dengan telaten mengeringkan rambut panjang Amartha. Selama dia melakukan kegiatan selayaknya mbak-mbak salon itu, dia terus berceloteh setidaknya itu bisa menghalau pikiran-pikiran laknat diotaknya karena bau shampoo rasa vanilla menggoda indra penciuman Satya, dan tentunya adik kecilnya juga. Amartha hanya diam, pusing mendengar Satya yang terus mengomel, cuma perkara rambut basah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB.
Satya, baru setengah jam memacu mobilnya membelah jalan raya. Sesekali dilihatnya gadis yang duduk di kursi penumpang dengan wajah menghadap jendela. Nampaknya, gadis itu sudah terlelap, Satya kembali memperhatikan jalanan. Sebenarnya, Ingin sekali ia mendekap tubuh Amartha membawanya dalam kehangatan. Namun, Satya hanya menyimpan keinginannya dalam hati.
Setelah melewati perjalanan selama berjam-jam yang melelahkan, akhirnya mereka sampai di kota B. Satya menepikan mobilnya untuk membangunkan Amartha.
"Amartha .... bangun, ini kita udah sampai..." ucap Satya sembari menepuk pipi Amartha.
__ADS_1
"Hmmm..." bukannya membuka matanya, Amartha malah hanya menjawab dengan deheman.
"Amartha ... aku nggak tau nih alamat kamu..." ujar Satya yang melepas sabuk pengamannya. dan mencoba lebih mendekat ke arah gadis cantik itu.
Satya sesaat terpesona dengan kecantikan natural yang dimiliki Amartha. Pria memandang lekat wajah cantik natural yang menbuatnya jatuh cinta. Alis yang rapi, hidung mancung dan bibir tipis dengan warna merah muda membuat Satya ingin sekali menyentuhnya. Namun, Satya segera tersadar bahwa Amartha akan sangat marah bahkan mungkin membencinya, jika dia berbuat hal diluar batas.
"Amartha, bangun! hey..." kali ini Satya memanggil gadis itu dengan volume yang lumayan keras. Benar saja, Amartha mulai mengerjapkan matanya. Satya segera kembali ke posisi duduknya, dengan mengatur mimik wajahnya agar terlihat biasa saja.
"Eh, kita udah sampai mana?" ucap Amartha dengan suara parau khas bangun tidur, ia menoleh ke arah Satya.
"Ehm, ini kita di Jalan Mawar," sahut Satya.
"Oh, udah deket, 15 menit lagi nyampe, nanti aku tunjukin jalannya, sekarang jalan ajah..." kata Amartha sambil membenarkan posisi duduknya.
"Oke..." Satya mulai melajukan mobilnya, sesuai petunjuk jalan dari Amartha.
Satya menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana namun sangat manis jika di pandang. Satya sekilas melihat jam di arloji digital miliknya, ternyata sudah hampir subuh. Satya turun untuk membuka gerbang yang sepertinya sengaja tidak dikunci. Pria itu kembali masuk ke dalam mobilnya dan memarkirkan mobil miliknya di halaman rumah yang bercat krem itu. Amartha turun dari mobil diikuti Satya.
"Assalamualaikum," Amartha mengucapkan salam sembari mengetuk pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam," ucap suara pria paruh baya dari dalam rumah.
"Eh, Amartha ... sudah sampai kamu, Nak..." kata Rudy ketika pintu rumah sudah terbuka dan menampakkan sosok anak semata wayangnya. Amartha mencium punggung tangan papanya.
"Dia siapa, Nak?" Rudy mengerutkan keningnya kala mendapati anaknya pulang dengan seorang pria.
"Saya Satya, Om ... saya teman Amartha," ucap Satya sopan dan menyalami tangan Rudy.
"Mas Satya ini kebetulan juga dokter, Pah..." jelas Amartha yang dibalas anggukan oleh Rudy.
"Oh ya, gimana keadaan mama, Pah?" tanya Amartha.
"Ayok, lebih baik kita bicara di dalam saja..." ucap Rudy sembari mengarhkan Satya dan Amartha untuk masuk ke dalam rumah.
...----------------...
Semoga suka dengan karya ini ya...
__ADS_1