
Keesokan harinya.
Satya sudah selesai mandi, kali ini ia butuh bantuan sang istri untuk membantunya mengenakan pakaian.
"Yakin mau pergi?" tanya Amartha.
"Tentu..."
"Tapi kamu kan masih sakit, Mas..." Amartha perlahan memakaikan kemeja semi formal berwarna hitam. Beruntung semalam dia menelepon Damian untuk pagi-pagi mengantarkan baju ke rumah sakit.
"Tapi kan ada kamu,"
"Emangnya aku mau ikut, gitu?" Amartha cemberut, ia mulai mengaitkan satu persatu kancing bagian depan.
"Paling cuma sebentar, Yank ... nanti kita mampir ke rumah Mami," ucap Satya.
"Gimana?" lanjutnya.
"Ehm," Amartha menimbang-nimbang sambil tangannya dengan lihai menyelesaikan tugasnya.
"Oke, deh..." ucap Amartha.
Wanita itu merapikan rambut Satya dan ia menekan tombol emergency call untuk meminta ganti balut sebelum mereka meninggalkan rumah sakit.
Satya menggenggam tangan istrinya dengan tangan kirinya yang tidak terluka. Mereka menaiki mobil menuju sebuah cafe dekat dengan perusahaan yang didirikan oleh ayahnya.
Satya datang 15 menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan.
"Mau minum apa, Yank?" tanya Satya.
"Iced cofee?" ucap Amartha.
"No, yang lain..." Satya menggelengkan kepalanya.
"Lemon squash?"
"Too acidic! yang lain aja," ucap Satya.
"Ngapain nanya kalau gitu," Amartha cemberut.
"Ya kamu milihnya kopi dan lemon, mereka bisa menaikkan kadar asam lambung! inget kamu lagi hamil, Yank..." kata Satya.
"Waffle with hazelnut cream, dan milk shake strawberry," ucap Amartha.
"Pilihan yang bagus," kata Satya.
__ADS_1
Satya melambaikan tangan kirinya pada seorang pelayan, ia memesan apa yang istrinya sebutkan tadi. Setelah pelayan itu meninggalkan meja mereka, seorang pria muda dengan setelan jas yang rapi mendatangi meja Satya.
"Maaf, saya datang terlambat, Tuan Satya..." ucap pria itu mengulurkan tangannya. Satya langsung berdiri begitu juga Amartha.
"Tidak, Tuan ... tapi saya yang datang terlalu cepat," ucap Satya.
"Maaf saya tidak bisa menjabat tangan anda," Satya menunjukkan tangan kanannya yang dibalut dengan kasa berwarna putih.
"Anda terluka?" tanya Irwan.
"Ya begitulah, berkat insiden kecil," jawab Satya.
"Anda harus lebih berhati-hati..." kata Irwan.
"Oh, ya ... perkenalkan ini istri saya, Amartha..." ucap Satya. Irwan sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan memberi hormat, begitu juga Amartha yang mengangguk perlahan sambil menyunggingkan senyumnya.
"Kita bicara disana saja," Saya menunjuk sebuah meja yang kosong.
"Sayang, aku kesana dulu, jangan kemana-mana," ucap Satya pada Amartha.
"Mari, Tuan..." ajak Satya yang berjalan mendahului Irwan.
Kedua pria itu duduk berhadapan di satu meja yang sama. Sementara Amartha duduk sendirian sambil sesekali mengusap ponselnya berselancar di dunia maya. Matanya membulat kala melihat akun milik Kenan sedang online.
"Terima kasih," sahut Amartha.
Kemudian matanya beralih pada status chat Kenan yang berubah menjadi offline.
"Semoga kamu bisa cepat melupakan masa lalu," gumam Amartha, kemudian ia menutup kembali akun media sosialnya. Wanita itu meletakkan ponsel diatas meja. Ia mulai menikmati milkshake strawberry miliknya sembari melihat Satya yang tengah berbincang dengan lawan bicaranya.
Di tempat lain, Vira yang semalaman menangis sambil menempelkan telepon di telinganya baru saja bangun dari tidurnya.
Ia melirik jam dinding, sudah jam 10 pagi. Tapi entah mengapa matanya masih saja mengantuk.
Dengan langkah gontai dan tidak bersemangat, Vira melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin, ya tentunya karena tidak ada shower dengan pemanas air. Setelah selesai, Vira menggosok rambutnya dengan handuk. Ia segera bersiap untuk menemui orangtuanya di apartemen Ricko. Masa bodo dengan Firlan, bahkan dia sangat malas melihat wajah pria itu.
"Semua cewek kalau abis nangis pasti jadi jelek mukanya," gumam Vira yang melihat matanya yang sembab. Wanita itu mengoleskan eye linner untuk membingkai matanya.
Tak lupa ia menyapukan bedak tipis dan lip tint berwarna soft pink di bibirnya. Ia membawa semua pakaiannya, beruntung ia tak banyak membeli barang jadi ia tak kebanyakan barang bawaan. Ia mengelus tempat tidur yang selama ini ia tempati dan menjadi pelepas lelah setelah seharian bekerja. Vira menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Kini keadaan kamar itu sama persis sewaktu Vira datang untuk pertama kalinya.
"Selamat tinggal," ucap Vira sebelum menutup pintu dan menyerahkan kunci pada pemilik kosan.
Vira yang sudah memesan taksi segera meluncur ke tempat yang ia tuju.
Sementara di sebuah perusahaan. Seorang pria sedang menyuapi seorang wanita muda yang cantik dengan rambut pendeknya.
__ADS_1
"Itu makanan salah sasaran, tau!" ucap Sinta dengan mulut yang penuh. Wanita itu protes karena sedari tadi mulutnya dijejali sandwhich.
"Telen dulu baru ngomong!" ucap Fendy. Tapi setiap Sinta membuka mulutnya bersiap akan memgomel, Fendy langsung memasukkan makanan ke mulut wanita itu. Mau tidak mau Sinta makan dengan mata yang melotot pada Fendy.
"Minum," kata Fendy sambil menyodorkan susu kotak low fat pada Sinta.
Wanita itu menyeruput susu yang terasa dingin di tenggorokan. Telapak tangannya menutupi mulutnya dan kepalanya menggeleng saat Fendy akan menyuapinya lagi. Ia merasa sudah sangat kenyang, rasanya tak sanggup jika harus memasukkan makanan lagi dan lagi ke dalam lambungnya.
"Baru juga habis satu," kata Fendy.
"Habisin aja sendiri," ketus Sinta.
"Padahal enak loh," Fendy menyuapkan sandwhich ke mulutnya.
"Perutku kerasa penuh banget, astaga..." Sinta mulai tidak nyaman dengan perutnya.
"Kamu tuh kebiasaan nggak pernah sarapan, makanya baru dikasih makan segitu aja udah begah," kata Fendy yang kemudian menghabiskan susu milik Sinta.
"Apa tadi? begah?" tanya Sinta, ia mengernyit.
"Iya begah, kayak rasa nggak nyan di lambung," jawab Fendy. Pria itu menghabiskan makanan berbahan dasar roti itu ke dalam mulutnya, lalu ia mengambil satu kotak susu lagi untuk dia habiskan. Sinta hanya geleng-geleng kepala melihat pria itu makan dengan sangat cepat.
"Sarapan itu penting, karena sel-sel otak kita juga butuh nutrisi buat mikir, kalau mau nggak makan ya sekalian aja puasa itu lebih sehat daripada kamu makan dengan jadwal yang amburadul," ucap Fendy setelah menghabiskan satu kotak susu.
"Dengerin napa!" ucap Fendy yang sedari tadi merasa dicueki.
"Ini juga denger, perut aku lagi mggak enak tau, nggak?" keluh Sinta.
"Makanya biasain makan," kata Fendy tidak mau kalah.
"lagian kamu itu makin kurus belakangan ini, kalau kamu sakit gimana?" kata Fendy.
"Pokoknya setiap hari kita harus sarapan bareng!" kata Fendy.
"Dih, maksa..."
"Itu juga buat kebaikan kamu, lagian kita harus membiasakan diri sebelum kita menikah dan tinggal bersama," kata Fendy.
"Menikah? siapa yang menikah?" Sinta menuntut jawaban.
"Kita lah masa asisten kamu?" jawab Fendy.
"Emang ehm, emang siapa juga yang mau nikah sama kamu? pede banget!" kata Sinta, menyembunyikan sesuatu di dalam hatinya.
...----------------...
__ADS_1