Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Gengsi


__ADS_3

Satya masih mengecek ponsel milik Amartha.


"Dasar, korban novel online!" gumam Satya sambil terkekeh melihat apa saja yang dibaca istrinya. Rata-rata cerita tentang istri yang dihianati suaminya lalu bangkit dan mendapatkan suami baru yang lebih tampan dan kaya raya. Satya melihat koleksi novel genre horor yang sedang nangkring di rak buku istrinya.


"Apa dia nggak takut baca novel kayak begini?" Satya ngeri-ngeri sedap saat membaca sekilas cerita tentang keturunan yang bisa melihat hari akhir seseorang.


"Kenapa nggak dia baca yang bahagia-bahagia aja, sih?" gumam Satya.


"Kalau kayak gini kan aku yang apes," Satya bergumam lagi, ia meredupkan layar ponsel Amartha lalu meletakkannya di atas nakas.


"Aku nggak bakalan sanggup berpaling dari kamu, Sayang…" Satya menyentuh kening istrinya dan menggerakkan telapak tangannya dengan lembut.


Amartha masih terpejam, namun tiba-tiba saja terdengar bunyi kruk krukk dari dalam perut istrinya. Dan tidurnya pun menjadi terganggu. Amartha beberapa kali merubah posisi tidurnya, perutnya kembali berbunyi.


"Emh!" Amartha mengucek matanya.


"Hooooaam, ini jam berapa?"


"Laper..." Amartha nampaknya belum sepenuhnya sadar, dia masih celingak-celinguk dan sesekali masih menguap, namun perutnya terasa sangat lapar. Amartha mencari sesuatu, benda pipih kesayangannya yang selalu dalam genggaman.


"Hah? jam 7 malem?" pekik Amartha saat melihat ponselnya.


Amartha mengikat rambutnya, lalu ia beringsut dan menurunkan kakinya ke lantai.


Baru saja kaki Amartha menyentuh lantai, pintu terbuka perlahan. Dan muncuk sosok Satya dari balik pintu dengan nampan di tangannya.


"Aku bawain kamu makanan, pasti kamu laper, kan?" ujar Satya sembari mendekat, ia meletakkan nampan diatas nakas. Namun Amartha diam saja, tak ada yang keluar dari mulutnya.


"Masih sebel?" Satya bertanya sambil duduk di samping istrinya.


"Ya udah kalau masih sebel, aku keluar dulu. Jangan lupa makanannya dimakan, ya? aku yang masak ini sendiri," kata Satya.


Pria itu mengelus puncak kepala istrinya sebelum beranjak dari duduknya. Amartha hanya menoleh sekilas saat suaminya melangkah menjauh sampai akhirnya tertelan oleh pintu.


Amartha mulai menyentuh makanannya, lambungnya yang terasa kosong kini mulai terisi. Ia pun meneguk jus jeruk yang terlihat sangat menyegarkan itu.


Setelah menghabiskan makanannya, Amartha kembali masuk ke dalam selimutnya.


"Dia udah makan belum, ya?" Amartha menyibak selimutnya dan menurunkan kakinya kembali.


Amartha berjalan keluar kamar mencari suaminya. Walaupun dalam hati masih sangat kesal, ia tetap mengkhawatirkan suaminya yang sedang digilai seorang wanita.


"Dimana, sih?" gumam Amartha yang tak melihat suaminya di ruang keluarga maupun di meja makan.

__ADS_1


Amartha pun menyusuri setiap sudut ruangan dalam rumahnya.


"Disini juga nggak ada. Apa di ruang kerjanya?" gumam Amartha saat melihat ke area taman, namun tak ada orang yang tengah dicarinya.


Tangan Amartha menggeser rolling door yang terbuat dari kaca, ia menutup kembali apa yag telah dibukanya tadi. Langkah kaki wanita itu berjalan menuju ruang kerja suaminya.


"Bik? Bibik lihat suami saya?" tanya Amartha saat berpapasan dengan bik Surti yang membawa nampan di tangannya.


"Ada di ruang kerja, Nyonya..." jawab bik Surti.


"Mas Satya sudah makan belum ya, Bik?


"Sepertinya belum, Nyonya..."


"Oh, gitu ... makasih ya, Bik..." ucap Amartha sebelum melanjutkan langkahnya.


Beberapa kali Amartha merasakan tendangan di perutnya.


"Kita cari ayah, ya?" ucap Amartha sambil mengelus perutnya.


Perlahan Amartha memegang handle pintu dan memutarnya. Pintu pun terbuka.


Terlihat Satya tengah duduk menopang dagunya diatas meja kerjanya. Tampaknya pria itu sedang memikirkan sesuatu.


"Sayang? kamu kesini nyariin aku?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut pria tampan itu. Amartha berjalan mendekat ke arah suaminya.


"Aku pengen makan, ehm makan bakmi!" ucap Amartha. Satya menggeser kursi berodanya, menatap betapa menggemaskan saat Amartha menginginkan sesuatu.


"Kemarilah," Satya menarik pinggang istrinya dan mendudukan Amartha diatas pengkuannya.


"Kamu pengen makan makanan yang lain?" tanya Satya memancing Amartha untuk bicara padanya.


Satya mengelus perut istrinya yang semakin bulat saja, dan Amartha sangat menyukai ketika tangan Satya dengan lembut menyentuh perutnya itu.


"Aku bukan pengen makan makanan yang lain, aku cuma makan bakmi," kata Amartha.


"Baiklah, sekarang masih kurang dari jam 8 malam, mungkin masih ada penjual yang belum menutup kedainya," ucap pria yang memakai sweater hitam yang menutupi leher jenjangnya.


"Baiklah, Nyonya ... kita berangkat sekarang," ucap Satya sembari menurunkan istrinya.


Satya segera bangkit dan menggandeng tangan wanita dengan perut buncit itu.


"Tunggulah disini, aku ambil dompet dan jaket buat kamu," ucap Satya yang menyuruh Amartha untuk duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Ponselku masih di kamar," kata Amartha berniat untuk bangkit dari duduknya.


"Biar aku yang ambilkan, aku segera kembali!" ucap Satya yang setengah berlari menaiki anak tangga.


Amartha menghela nafasnya, dia masuh sangat kesal pada suami tampan nggak ada lawannya itu. Ya kesal karena dia membiarkan wanita lain untuk menempel padanya.


Tak lama sang suami pun datang dengan membawa ponsel dan jaket.


"Pakai dulu, udara malam ini sangat dingin. Aku nggak mau kamu sampai sakit," Satya membantu istrinya untuk memakai jaket, dan ia pun memberikan sebuah benda pipih pada Amartha.


Satya menggandeng Amartha keluar menuju mobil berwarna hitam yang hanya bisa dinaiki berdua.


Melihat Amartha yang nampak asing dengan mobil yang mereka naiki, akhirnya Satya pun buka suara.


"Aku beli baru, mobil khusus kalau lagi pacaran sama kamu, Yank..." ucap Satya.


"Oh," jawab Amartha irit.


"Iya, baru datang tadi pagi di kantor. Pas aku pulang awalnya aku mau kasih surprise mobil ini buat kamu, eh kamunya malah ngambek jadi bubar jalan rencanaku," jelas Satya.


"Terus salah aku gitu?"


"Astaga, salah ngomong lagi nih mulut!" gumam Satya sambil menabok bibirnya sendiri.


"Ya nggak salah, Yank ... aku yang salah, kan aku yang bikin gara-gara. Jangan lama-lama ya sebelnya, nanti si dedek mirip sama aku, loh!" kata Satya.


"Emang kenapa kalau mirip sama Mas? kan Mas bapaknya, jadi wajar mukanya mirip Mas, gimana sih?" kata Amartha sewot.


"Hahahah, astaga iya juga, ya?" Satya malah tertawa.


"Astaga, otak aku mulai eror, Yank! makanya udahan ngambeknya," ucap Satya yang mencubit pipi gemoy istrinya.


"Yaaaaank..." Satya menusuk-nusukkan jarinya di pipi Amartha.


"Yank?" pria itu masih saja menjulurkan telunjuknya, sambil matanya sesekali melihat pada istrinya.


Namun saat Satya lengah, Amartha mengigit jari telunjuk suaminya. Sontak Satya pun mengerang kesakitan.


"Aaaaaawh!" pekik Satya.


"Astaga, ada bayi ikan hiu yang gigit tangan aku!" Satya mengibaskan tangannya yang tercetak bekas gigitan manusia.


"Yang kamu lakukan itu sungguh kejam, Yank!" ucap Satya lagi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2