
Pagi menjelang, sedari subuh Amartha sudah membersihkan tubuhnya, wanita itu sedang dirias di dalam kamarnya yang dihias dengan berbagai macam bunga, bau melati sangat kentara di kamar milik wanita itu. Sebuah ranfkain melati dipasangkan seperti bando di kepalanya, rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai. Amartha sangat cantik dengan kebaya tosca bercampur bunga berwarna merah muda dengan bawahan memakai jarik bercorak mega mendung.
Setelah selesai merias wajah Amartha, para perias pun undur diri dari ruangan itu. Amartha yang sedari tadi duduk di depan meja rias kini berpindah ke arah ranjang. Ia duduk di tepi ranjang itu dengan jari jemari yang saling meremas satu sama lain, menyiratkan sebuah kegugupan dan ah perasaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya, pintu pun terbuka secara perlahan menampilkan satu sosok wanita yang merupakan adik dari Rudy memakai kebaya berwarna putih pun tersenyum mendekati keponakannya.
"Sudah siap?" tanya Farida yang dijawab anggukan kecil oleh Amartha yang telihat njawani, dengan balutan kebaya dan jarik.
"Ayok, kita kedepan sekarang" lanjut wanita itu.
Farida membantu Amartha untuk berjalan, kedua wanita beda generasi itu berjalan beriringan keluar dari kamar, menuju ke pelataran diiringi gending jawa. Pagi ini Amartha akan melakukan prosesi siraman.
Diawali dengan prosesi sungkeman, Rosa dan Rudy duduk di kursi diatas panggung yang telah dihias dengan ratusan bunga, kemudian sang anak berjalan dengan cara beringsut secara perlahan sampai didepan kedua orangtuanya.
Amartha memegang sebuah pengeras suara, ia membuka secarik kertas yang telah ditulisnya semalam.
Kata demu kata terucap dari bibir Amartha dengan diiringi tangis haru semua orang yang hadir disana, begitu pun dengan Rosa dan Rudy. Saat ini Amartha duduk bersimpuh didepan Rudy, pria itu mengelus pucuk kepala putrinya.
"Anakku Amartha Dina, papa merestui pernikahanmu dengan seorang pria baik bernama Satya Ganendra, semoga kalian bisa saling membahagiakan dan saling menguatkan dalam mengarungi bahtera rumah tangga, tinggalkan semua masa lalu, masa kelam, tataplah masa depan, berjalanlah kedepan, anakku Amartha Dina ... papa menyayangimu, semoga kamu selalu bahagia..." ucap Rudy seraya mencium pucuk kepala Amartha kemudian memeluknya.
kemudian Amartha beralih pada Rosa yang saat itu sangat ayu memakai kebaya biru tuanya.
"Mama memberikan restu padamu, semoga ini adalah awal dari kebhagiaanmu, mama hanya ingin melihatmu bahagia..." ucap Rosa dengan suara yang bergetar.
Setelah itu Amartha diantar ke tempat siraman, wanita itu duduk diatas bangku yang beralaskan tikar daun pandan, guyuran demi guyuran air bunga membuat tubuhnya merasakan sensasi dingin.
Kemudian Rosa dan Rudy menggendong putrinya secara bersama-sama berjalan menuju ke dalam rumah. Vira yang hadir menyaksikan moment itu pun tak sadar menitikkan air matanya, ia senang melihat Amartha yang sebentar lagi akan menggapai kebahagiaannya.
Amartha langsung dituntun untuk mengeringkan tubuhnya dan berganti pakaian dan Amartha kembali diantar ke depan menemui orangtuanya, dia duduk di apit oleh Rosa dan Rudy, kedua orangtua menyuapi Amartha secara bergantian yang melambangkan ini adalah suapan terakhir,
"Jangan nangis, Mah..." ucap Amartha sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Rosa.
"Nggak Sayang, ini bukan air mata kesedihan tapi airmata bahagia," sahut Rosa yang kemudian tersenyum menatap anaknya
__ADS_1
Rudy dan Rosa memeluk anak mereka, membuat siapapun yang melihatnya pasti ikut meneteskan air matanya.
Amartha dan Rudy tak kuasa menangis haru, lalu rambut Amartha digunting sedikit untuk dikuburkan oleh Rudy dan Rosa, sementara Amartha masuk ke dalam kamarnya untuk dipaes.
sementara Rosa dan Rudy melanjutkan sesi jual dawet, prosesi yang ditunggu-tunggu banyak orang untuk mencicipi segarnya dawet ayu yang ada dalam gentong berukuran jumbo itu. Semua orang tertawa bahagia, bahkan ada banyak anak kecil yang mengerubungi Rosa dan Rudy untuk mendapatkan segelas dawet yang sangat segar itu.
"Aku Tante .... aku dawetnya," ucap salah seorang anak yang menyodorkan koin yang terbuat dari pecahan genteng.
"Aku juga mau, aku mau..." kata anak yang lain.
"Sebentar ya, semua pasti kebagian," ucap Rudy diiringi tawa sembari menerima kepingan koin itu, sedangkan Rosa yang melayani setiap pembeli yang ingin mencicipi dawet itu. Pria itu memegang payung untuk memayungi sang istri yang sedang melayani pembeli. Tua muda semua berebut untuk membeli dawet itu.
Amartha yang melihat adegan jual dawet dari monitor yang terpasang dikamarnya pun hanya terkekeh. Orang-orang diberikan semacam koin yang terbuat dari genteng, dan menukar koin itu dengan dawet. Amartha sedang dipaes dan disanggul, dia akan melewati malam midodareni, ah memang banyak sekali prosesi adat yang harus dilakoninya.
"Amartha? buka pintunya, Nak..." Rosa mengetuk pintu kamar anaknya.
Seorang perias membuka pintu, kemudian seseorang menaruh sebuah kain diatas pangkuan Amartha, Rosa masuk dan menyerahkan semua kepingan koin hasil dari menjual dawet.
"Ini hasil menjual dawet, Sayang..." ucap Rosa sembari menaruhbya diatas kain diatas pangkuan Amartha.
Amartha sangat cantik dengan paesannya malam ini, membuat siapapun terpukau.
"Ini diminum, Nona," ucap salah seorang perias.
"Ini apa? kok warnanya merah?" tanya Amartha yang kemudian menerima secangkir teh hangat.
"Itu teh secang, Nona..." jawab perias itu.
"Silakan diminum, Nona," lanjutnya.
"Teh apa tadi? secang? baru denger ... woek... nggak enak banget, nggak mau ah..." Amartha merasakan sesuatu yang tidak enak dilidahnya
"Ya memang rasanya seperti itu, ramuan ini cukup diminum hari ini dan besok Nona, supaya Nona tidak banyak mengeluarkan keringat," jelas perias itu.
__ADS_1
"Emang harus ya?"
"Sebaiknya seperti itu, Nona..." jawab wanita itu.
"Udah diminum aja, teh secang ya, Mbak?" celetuk Vira yang entah sejak kapan sudah nyelonong masuk ke dalam kamar Amartha.
"Udah nurut aja kenapa, Sih? percaya deh ... ini biar kamu keliatan manglingi, udah cepetan diminum, sambil merem ... sini aku bantu," ucap Vira yang mendapat pelototan dari Amartha.
"Iya, iya, aku siapin mental dulu," sergah Amartha ketika Vira akan mengarahkan cangkir itu ke mulutnya.
"Aiiiihhh, pake siapin mental segala, udah cepetan!" kata Vira yang membuat sang perias dengan sekuat tenaga menahan tawanya.
"Iya, iya, ih nih aku minum..."
"Nah, gitu dong..." kata Vira sambil terkekeh melihat Amartha yang meneguk habis teh itu.
Dilain tempat, Satya juga melakukan prosesi yang sama, tubuh pria itu terbuka dibagian atasnya, dia sudah mengigil kedinginan, namun para sesepuh dari pihak mami Sandra maupun papi Abiseka masih bergiliran mengguyur pria itu dengan air bunga.
"Mam? udahan napa, dingin..." ucap Satya sembari menahan rasa dingin yang terasa sangat menusuk tulang.
"Tahan bentar, Sat ... bulek Ani dan bulek Marni juga belum nyiram kamu, udah duduk anteng disitu," sahut Sandra dengan Santainya.
"Emang harus semua? Udahan aja deh, Mam..." Satya meminta untuk segera disudahi prosesi ini.
"Hust, nggak boleh gitu dong, mereka udah nyempetin dateng kesini loh, Sat ... disiram air aja kok..." Sandra menjawab sambil tersenyum
"Daritadi juga disiram air Mam, emang dari tadi disiram apaan?" ucap Satya yang membuat Sandra ingin membungkam mulut anaknya itu.
"Nggak usah protes," ucap Sandra sambil melempar senyum ke arah saudara dari suaminya yang kebetulan tersenyum ke arahnya.
Antrian menyiram air kembang akhirnya selesai juga, Satya langsung mengganti bajunya ke kamar. Satya sudah begitu merindukan kekasihnya, apalagi semalam dia tidak bisa tidur.
----------------
__ADS_1
hari ini mau nyobain up 3-4 eps... semoga bisa ya...