
"Aku bilang kalau kamu lagi nginep di rumah temen kamu, jadi ... kita nggak mungkin dateng bareng ke apartemen. Nanti aku anterin sampai depan aja, ya?" kata Ricko saat di dalam mobil
"Ya," ucap Vira.
Vira tak banyak bicara di dalam mobil Ricko, pria itu jadi bingung apa dia melakukan kesalahan sampai gadis kecilnya itu tak mau bicara padanya.
Setelah berkendara cukup lama, akhirnya mereka sampai di depan apartemen.
"Aku turun disini aja," ucap Vira.
"Aku masuk basement,"
"Nggak usah, aku turun disini aja," kata Vira.
Daripada ribut akhirnya Ricko menghentikan mobilnya tepat di depan gedung yang menjulang tinggi itu.
"Masuklah, aku akan kembali ke kantor," ucap Ricko.
Vira hanya mengangguk dan berjalan masuk, dan mobil Ricko pun pergi menuju perusahaannya. Merasa mobil Ricko sudah tidak ada, Vira melangkah keluar dan menghentikan sebuah taksi untuk mengantarnya ke sebuah tempat.
Vira mengeluarlan ponselnya, ia menelepon Dewi.
"Assalamualaikum, Maa ... Vira lagi di rumah temen, lagi bantuin ngerajut pakaian bayi. Iya ... lagi lumayan ribet. Vira ijin pulangnya sorean, ya? Vira hati-hati kok, tenang aja. Assalamualaikum," ucap Vira di telepon.
"Maaf kita mau kemana, Nona?" ucap Vira.
Vira pun memberitahu kemana tujuannya sekarang. Wanita itu memandang keluar jendela. Sesekali ia menghela nafasnya, membuang segala kekalutan yang ada di dalam kepalanya.
Perlahan taksi yang ditumpangi Vira berhenti di depan sebuah toko.
"Maaf, Nona ... kita sudah sampai," ucap sang supir taksi.
"Terima kasih," ucap Vira seraya memberikan ongkos taksinya.
Setelah turun dari kendaraan roda empat itu, Vira segera masuk toko itu.
"Selamat datang di toko kami. Silakan Nona," ucap seorang pelayan toko.
"Mbak satu set alat rajut dan alat sulam..." ucap Vira.
"Sebentar saya ambilkan dulu," kata wanita yang ada di depan Vira, mereka dibatasi etalase panjang setinggi dada orang dewasa.
__ADS_1
"Silakan," ucap pelayan itu setelah membawa apa yang diminta Vira.
"Mbak, benangnya aku minta warna merah, biru tua dan kuning. Eh, warna pink juga, ya? emmh, tunggu, Mbak! aku minta semua warna, benang katun dan wol juga," ucap Vira.
"Baik, Nona ... tunggu sebentar," ucap pelayan toko.
Beberapa saat kemudian sang pelayan toko membawa berbagai macam warna benang wol dan katun. Vira mengecek kembali barang-barang yang akan dibelinya, termasuk satu set alat sulam. Vira segera membayar barang belanjaannya. Wanita itu keluar toko, namun di seberang jalan ia melihat kekasihnya baru saja masuk ke dalam mobil.
Vira pun segera masuk ke dalam taksi agar dapat mengejar kemana perginya Firlan.
"Ikuti mobil hitam itu, Pak!" ucap Vira pada supir taksi.
"Jangan sampai mobil itu curiga kalau kita sedang mengikutinya," lanjut Vira.
Taksi yang ditumpangi Vira mengikuti mobil yang dikendarai Firlan. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di sebuah gedung perkantoran. Namun, bukannya Firlan yang keluar melaikan seorang wanita berkacamata yang kemarin di temuinya di kantor bersama Firlan.
Vira hanya melihat wanita itu masuk, sedangkan mobil sudah melesat pergi. Vira tak berniat mengejar lagi.
"Jalan, Pak!" ucap Vira.
Wanita itu meminta supir taksi untuk mengantarnya ke sebuah taman kota. Vira tidak tau apa yang sedang ia rasakan. Apakah ink merupakan pembalasan dari Firlan?
"Oh, maaf! ini ongkosnya, Pak!" ucap Vira.
Vira keluar dari taksi itu setelah membayar ongkos. Vira berjalan menuju area taman. Wanita berambut sebahu itu duduk di kursi taman dan menaruh barang belanjaannya di samping kirinya.
"Rupanya seperti ini ya rasanya?" ucap Vira menarik satu sudut bibirnya.
Vira mengeluarkan alat untuk menyulam. Ia terlebih dulu menggambar pola dengan menggunakan pensil diatas kain linen. Dengan cekatan ia memasang pembidang yang berbentuk cincin pada kain linen yang sudah ada polanya. Pembidang yang terbuat dari kayu itu digunakan supaya menjaga kain agar tetap kencang. Vira memulai memasang benang ke dalam jarum.
"Biarlah aku melupakannya sejenak," ucap Vira saat menusukkan jarum pada kain. Tangannya dengan lincahnya bergerak dengan jarum dan benang dengan berbagai model tusukan dalam pelajaran jahit menjahit. Wanita ini memang payah dalam hal meracik makanan, tapi untuk urusan menyulam dan merajut, dia perlu diperhitungkan.
"Aku tak akan membiarkan satu tetes pun air mataku jatuh," Vira bermonolog dengan dirinya. Dia terus saja fokus pada apa yang dikerjakannya. Dia ingin melupakan apa yang dilihatnya dan apa yang dirasakannya.
Vira masih menggerakkan jarum menyusuri pola yang sudah ada. Beberapa kali Vira mengambil jarum dengan warna yang berbeda. Vira tak sadar ia belum mengisi perutnya tadi pagi, hanya seteguk air putih yang meluncur ke kerongkongannya sebelum ia pergi meninggalkan ruang dimana ia dirawat.
Vira berusaha untuk tetap fokus bagaimana pun caranya. Sesekali ia membunyikan sendi-sendinya saat tangannya sudah terasa sedikit pegal.
"Bantu aku melupakan, bantu aku menghilangkannya dari pikiran..." ucap Vira yang masih terus saja menyulam diatas kain berwarna putih.
"Kenapa semakin ingin dilupakan malah semakin ingat saja!" gerutu Vira, ia menoyor kepalanya. Tangan kirinya memegang kain yang dijepit dengan pembidang, sedangkan tangan kanannya menghapus air mata yang meleleh begitu saja.
__ADS_1
"Aissh, bodoh! kenapa malah menangis!" Vira menutup mulutnya dengan lipatan siku bagian dalam.
"Huuuffhh! nggak nggak, aku kesini bukan untuk nangis nggak jelas kayak gini," kata Vira.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ada nama Amartha disana. Vira segera menghapus air matanya, ia pun mengatur nafas sebelum mengangkat panggilan itu.
"Halo, Yem?" sapa Amartha saat panggilannya tersambung dengan Vira.
"Halo, Jum..."
"Loh, kok nggak ada kabar, sih? tumben juga jarang nelfon?" tanya Amartha.
"Kamu kali yang jarang nelfon aku sekarang, mentang-mentang udah jadi konglomerat, kalau aku kan kolongmelarat..." seloroh Vira, Amartha tertawa mendengar ucapan Vira.
"Nggak ya, yang kaya tuh suami sama mertua sedangkan aku hanya butiran debu," ucap Amartha.
"Gimana kabar kamu, Yem?" tanya Amartha.
"Baik, kalau kamu?" Vira balik bertanya.
"Aku baik juga, kamu lagi dimana? ganggu shift, nggak?" tanya Amartha yang belum tahu mengenai keluarnya Vira dari rumah sakit tempatmya bekerja.
"Tenang, aku free kok. Lagian aku udah nggak kerja lagi disana," jelas Vira.
"Loh, kenapa? kenapa kamu sampai keluar? ada yang bikin nggak nyaman? ngomong aja sama aku, Yem..." ucap Amartha.
"Sabar, buuuu ... hahahahah. Nggak, ini udah jadi keputusan aku sendiri, Jum! jadi, nggak perlu dipikirin. Woles, okey?" kata Vira.
"Oh, ya ... aku lagi menyulam di taman, lumayan cari suasana baru," ucap Vira.
"Oh, aku baru tau kamu bisa menyulam? kalau merajut aku tau, kalau itu kamu emang jagonya," lanjut Amartha.
"Bisa lah! ya udah aku tutup dulu, ya? mau pulang dan harus beresin alat-alatnya dulu," kata Vira.
"Ya, hati-hati!" ucap Amartha, sebelum panggilan itu berakhir.
Vira melihat kembali hasil sulamannya, sebuah kain yang terdapat objek seorang gadis kecil berambut panjang yang berdiri dengan posisi membelakangi. Gadis itu melihat ke langit yang luas, langit yang berwarna biru dan beberapa awan putih.
"Nggak nyangka ketemu disini, udah sore kenapa masih belum pulang?" ucap seorang pria yang berdiri menghampirinya
...----------------...
__ADS_1