Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Latihan Dasar Memasak


__ADS_3

Kurang dari satu jam, adon mengadon cilok sudah selesai, tinggal merebusnya ke dalam panci yang berisi air mendidih.


"Nala, tolong rebusin ini," ucap Sandra, sambil memberikan satu baskom yang berisi bulatan aci yang siap direbus


"Baik, Nyonya..." kata Nala.


"Kamu mau pakai bumbu kacangnya juga?" tanya Amartha pada adik iparnya. Gadis itu langsung mengangguk cepat.


"Mau, mau!"


"Diliat dan dihafalin tuh tadi gimana cara bikinnya," kata Sandra mengingatkan.


"Bedain mana ketumbar mana lada aja belum bisa," kata Prisha, Amartha tertawa kecil mendengar jawaban lugu gadis itu.


"Tadi apa aja dah lupa," lanjut Prisha mencoba mengingat-ingat.


"Nanti aku bikinin catetannya, tenang aja..." ucap Amartha, wanita itu langsung bangkit dari duduknya.


Amartha segera membuat bumbu kacang, sedangkan Prisha mencuci mukanya yang ketempelan tepung, gadis itu meraih tissue dan mengeringkan wajahnya.


"Sayang, ini tau matengnya gimana?" tanya Sandra, menunjuk panci yang berisi cilok.


"Kalau udah ngambang diangkat aja, Mam!" kata Amartha.


"Nih udah pada ngambang!" ucap Sandra yang langsung mematikan kompor.


"Biar saya angkat, Nyonya..." kata Nala yang langsung mentiriskan cilok yang sudah matang ke dalam mangkok super besar.


"Udah tuh lagi diangkat sama Nala, baunya aja udah enak banget, Sayang..." ujar Sandra yang mendekat pada Amartha yang sudah selesai menghaluskan bumbu kacang.


"Ini diapain lagi? langsung buat dicocol gitu?" tanya Prisha.


"Belom, ini masih harus dimasak dulu biar enak," jawab Amartha yang langsung menyalakan kompor dan menuangkan bumbu pada sauce pan.


"Mbak bisa bikin bakso?" tanya Prisha yang melihat apa yang sedang dilakukan istri dari abangnya itu.


"Bisa, Sha..." sahut Amartha.


"Ish, bakso mah tinggal beli di luar, bikin capek Amartha aja kamu ini, inget kakak kamu lagi hamil..." ucap Sandra.


"Ya kan cuma nanya, Mam..."


"Coba, kamu goreng telor, nanti mami nilai, enak atau nggak..." kata Sandra, Prisha mencebikkan bibirnya.


"Loh kok aku sih, Mam?"


"Ya iya, kamu kan cewek masa nggak bisa masak? nanti mami suruh Nala atau Mira ngajarin kamu nyalain kompor!" perintah Sandra, ia tak mau dibilang tak becus mendidik anak perempuan.

__ADS_1


"Lah apa hubungannya sama nyalain kompor?" tanya Prisha bingung.


"Latihan dasar masak ya nyalain kompor, gimana mau masak kalau kompor aja nggak bisa nyalain?" Sandra geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya. Padahal Sandra memakai kompor elektrik, tapi tetap saja anaknya yang jarang sekali ke dapur tidak bisa menyalakan kompor sendiri


"Ya ampuuuun mamiiiiii..." seru Prisha.


"Nggak usah tereakan, berisik! Mumpung belum punya calon suami, belajar masak dari sekarang, biar suami kamu seneng punya istri yang masakannya enak," Sandra memberikan nasehat.


"Iya, iya, Mam..." Prisha hanya bisa pasrah mendengar setiap wejangan dari sang mami.


Bumbu kacang sudah matang berbarengan dengan berakhirnya perdebatan antara ibu dan anak itu. Cilok yang sudah ditiriskan diberi satu sendok minyak goreng supaya tidak lengket atau menempel satu sama lain.


"Cobain dulu, Mam ... keasinan apa nggak," ucap Amartha setelah menaruh beberapa biji cilok yang disiram bumbu kacang.


"Mami cobain, ya?" kata Sandra, ia menusukkan garpu pada makanan yang kerap dijumpai di pinggir jalan terutama di depan sekolahan.


"Emmmh, enak!" puji Sandra, wanita paruh baya itu begitu menikmati setiap gigitan makanan dengan tekstur kenyal itu.


"Kasih saos juga akh sama kecap," Prisha mulai mengambil di piring kecil dengan kucuran sambal kacang dikocrotin saos dan kecap.


"Wuuuhhh, ini sih enak banget, dalemnya daging ayamnya enak, gurih..." kata Prisha, Amartha yang mendengar mertua dan adik iparnya menyukai cilok buatannya pun merasa senang.


"Nala, minta tolong buatin jus strawberry boleh? aku haus banget," tanya Amartha pada Nala.


"Baik, Nyonya..." jawab Nala.


"Duuuhhhh enakkknyaaaa, besok lah kita bikin, ya mbaaakkk? mbak nginep disini aja, biar abang pulang sendirian," ucap Prisha dengan tatapan memelasnya.


"Boleh..." kata Amartha.


"Mami bawa ke ruang makan dulu, ya?" ucap Sandra yang membawa cilok yang sudah di tata dalam wadah.


"Hati-hati ada panci panas," Sandra mengingatkan.


"Biar Amartha bantuin, Mam..." Amartha mendekat pada Sandra.


"Nggak usah, Sayang ... Prisha! bawain bumbu kacangnya kesini," perintah Sandra pada anak bungsunya.


"Aku bawain ini dulu ke sana ya, Mbak? sebelum Mami keluar tanduknya," bisik Prisha, lalu ia membawa mangkuk putih dan segera mengekori Sandra menuju ruang makan.


Langit kini sudah gelap, setelah melakukan kontrol jahitan tadi sore, Vira ikut pulang bersama Ricko dan juga orangtuanya ke apartemen.


"Papa istirahat, ya? jangan kecapean..." ucap Vira menaikkan selimut Raharjo.


"Kamu juga istirahat, Sayang..." ucap Dewi mengelus pipi Vira. Vira mengangguk dan tersenyum, dia senang bisa merawat papanya.


Setelah keluar dari kamar Raharjo, tak sengaja Vira berpapasan dengan Ricko.

__ADS_1


"Vira..." suara lembut Ricko menyapa indera pendengaran Vira.


"Eh, Kak Ricko," ucap Vira.


"Mau aku bikinin teh?" lanjutnya.


"Nggak usah, tapi kalau kamu maksa boleh deh," jawab Ricko, Vira tertawa mendengar ucapan Ricko.


"Kakak tunggu di ruang tivi aja," kata Vira.


"Ya udah, aku tunggu disana," jawab Ricko.


Beberapa menit kemudian Vira datang dengan secangkir teh yang masih mengeluarkan asap putihnya.


"Silakan, Kak..." Vira meletakkan cangkir meja, ia duduk disamping Ricko.


"Makasih ya, Vira..." ucap Ricko dengan senyum merekah.


Baru juga Ricko ingin menanyakan sesuatu pada Vira, ponsel yang ada di saku Vira berdering. Vira langsung mengusap layar ponselnya untuk mengangkat panggilan itu.


"Halo? kenapa, Ay? heh, gimana mau kesini? ehm, aku tanyain dulu, ya? ya udah, bye!" ucap Vira di telepon.


"Temen kamu mau kesini?" tanya Ricko, ingatannya meluncur pada sosok pria yang pernah ia lihat menemui Vira di kosannya.


"Iya, Kak ... katanya pengen jenguk papa," jelas Vira.


"Ya udah kesini aja, nggak apa-apa," ucap Ricko.


"Makasih ya, Kak?" ucap Vira, ia segeraembagi titik lokasinya saat ini pada orang yang baru saja meneleponnya. Vira menaruh ponselnya di meja.


"Oh, ya perutnya masih nyeri?" tanya Vira mencemaskan keadaan pria yang sudah menjadi penolong Raharjo, ayah Vira.


"Nggak terlalu, apa lagi kalau liat kamu," jawab pria itu.


"Maksudku, kamu kan perawat jadi ada aura-aura menyembuhkannya gitu ... atau mungkin karena sugensti kali, ya?" lanjut Ricko menjelaskan maksud ucapannya.


"Aku minum dulu, ya?" Ricko segera meraih cangkir beserta tatakannya.


"Hati-hati, panas..." ucap Vira memperingatkan.


Ponsel Vira berdering kembali, tertera nama Firlan di layar. Wanita itu langsung mengangkat panggilan dari kekasihnya.


"Halo? gimana, Ay?" tanya Vira setelah panggilannya tersambung. Ricko hanya melihat wanita di depannya sambil menyeruput teh yang dibuat untuknya.


"Apa? udah di depan!" seru Vira.


"Uhukkk!" Ricko terbatuk saat mendengar teriakan Vira.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2