
"Aaakhh!" pekik Ivanka saat Carlo menghempaskannya di atas ranjang.
"Cepat, kemasi barang-barangmu! karena malam ini kita akan terbang ke London!"
"Cih, siapa juga yang mau ikut dengan kamu!" kata Ivanka yang kemudian bangkit menunjuk wajah Carlo.
"Apakah kamu tidak diajari sopan santun, Nona! sekali lagi kau menunjuk wajahku, aku bisa memelintir jarimu itu!" kata Carlo setaya menangkap tangan Ivanka kemudian menghempaskannya secara kasar.
"Cepat lakukan sebelum kesabaranku habis!" kata Carlo yang melepas jas pengantinnya dan membuangnya tepat ke wajah istrinya.
"Sialan kamu Carlo! kau pikir aku keranjang sampah?" umpat Ivanka seraya membuang jas itu ke lantai.
"Dengar, aku tidak akan ikut kamu pergi karena aku bukan istrimu!" bentak Ivanka.
"Kau lupa jika kau sendiri yang mengatakan bersedia saat aku bertanya padamu apakah kamu mau menerima pinanganku? hem? apa kau ingin mendengar rekamannya lagi? supaya otakmu itu bisa menerima kenyataan bahwa sekarang kau menjadi istri dari pria yang dulu pernah kau tolak?"
"Menurutlah seperti kucing kecil yang manis dan jangan menguji kesabaranku," teriak Carlo.
"Kau menjebakku dan sampai kapan pun aku tidak akan menganggapmu suamiku!" teriak Ivanka histeris, menatap Carlo penuh kebencian.
Carlo sudah hilang kesabaran melihat Ivanka seperti memainkan sebuah drama. Pria itu mengambil koper yang terletak di sudut ruangan dan mendorongnya hingga terjatuh di hadapan istrinya
"Tidak usah pura-pura stres seperti itu, perbaiki penampilanmu dan segera masukkan barang-barangmu ke dalam koper itu," Carlo menunjuk koper yang tergeletak di lantai dengan dagunya.
"Cih, aku tidak sudi!"
"Tidak ada penolakan, cepat lakukan! karena aku paling benci menunggu!" tegas Carlo yang kini mulai melepas kancing baju di bagian pergelangan tangannya.
Siang berganti malam. Bintang berhaburan di langit sana, menebarkan keindahan. Begitu pun dengan Satya dan Amartha yang saling menyandarkan kepalanya, membuat orang yang melihatnya ingin ikut berbahagia.
"Aku minta maaf..." ucap Amartha tiba-tiba.
"Untuk?"
"Kabur dari rumah waktu itu," kata Amartha.
"Sebenci atau semarah apapun denganku jangan pernah lakukan lagi, karena aku nggak akan sanggup jauh dari kamu," kata Satya.
"Jangankan pergi dari rumah, liat kamu ngambek aja hati aku langsung kebeset-beset, kepala langsung nyut-nyutan yang kalau diminumin paracetamol nggak akan mempan," lanjut pria itu, Amartha terkekeh mendengar ucapan suaminya. Amartha menegakkan kepalanya tak lagi bersandar pada bahu Satya.
"Aaiih, malah ketawa kamu, Yank!" Satya mau pura-pura ngambek tapi gagal, bibirnya bukannya dimonyong-monyongin malah nyengir, dan ikut tertawa.
"Hahahahah, loh malah ikutan ketawa," kata Amartha.
__ADS_1
"Hahahah tauk, nih! mau ngambek malah gagal," ucap Satya seraya melingkarkan tangan di perut istrinya. Mereka sedang duduk berdua di depan balkon. Satya sengaja menggeser sofa, karena istrinya yang katanya ingin menikmati pemandangan langit di malam hari.
"Aku kira kamu bakal nikahin..."
"Ssssst, jangan bahas orang lain. Lagian nggak mungkin aku melakukan itu setelah dengan susah payah aku dapetin kamu, Yank. Dan ada calonku yang sebentar lagi akan melihat dunia, aku nggak segila itu, Yank. Kamu harus percaya kalau aku cinta dan sayang banget sama kamu, cuma sama kamu," kata Satya mengajak istrinya bersandar pada dadanya.
"Mas? kok kamu deg-degan?"
"Kalau nggak deg-degan berartinudah wassalam, Yank! dih, amit-amit!" Satya mengetuk-ngetukkan tangannya yang mengepal ke kepalanya.
"Kamu tuh kebiasaan, Yank..." keluh Satya.
"Kebiasaan apa?"
"Suka ngerusak suasana romantis yang udah aku bangun dengan susah payah," ucap Satya.
"Hahahhaha, maaf ... maaf,"
"Masih mau disini? udara makin dingin loh, Yank?" kata Satya yang mengusap perut istrinya.
"Sebentar lagi, ya? aku lagi nyaman banget..." kata Amartha yang masih melihat hamparan bintang di angkasa.
Pagi sudah menjelang. Carlo semalam memberi kabar bahwa dirinya dan Ivanka akan pergi dan menetap di London untuk sementara waktu. Satya pun senang akhirnya dia terbebas dari kedua orang yang beberapa waktu terakhir ini suka membuat kepalanya sering pening.
"Kenapa, Mas? kok pagi-pagi udah senyum-senyum?" tanya Amartha sambil mengoles selai pada roti.
"Kopinya, Tuan..." ucap Sasa seraya menaruh secangkir kopi panas di hadapan majikannya.
"Terima kasih, Sa..." ucap Satya.
"Aku baru baca chat dari Carlo, kalau dia dan Ivanka sudah terbang ke London, dan akan stay disana untuk sementara waktu..." jelas Satya, ia tak mau istrinya berpikir yang macam-macam lagi padanya.
"Beneran?"
"Ngapain juga bohong sama kamu, Yank..." ujar Satya.
"Roti kamu, Mas..." ucap Amartha seraya menaruh satu slice roti diatas roti yang sudah dioles selai peanut butter kesukaan suaminya. Ia menaruh roti diatas piring kecil dan meletakannya di depan Satya.
"Terima kasih, Sayang..."
"Mas?" panggil Amartha.
"Aku boleh jalan sama Vira?" tanya Amartha.
__ADS_1
"Gimana, ya? bukan nggak boleh tapi aku khawatir terjadi sesuatu, kandungan kamu semakin besar dan persalinan bisa datang kapan saja," kata Satya.
"Suruh pacar Firlan itu datang kemari, kalian bisa membuat kue atau semacamnya. Atau menonton film di rumah, lakukan hal yang menyenangkan," lanjut pria itu.
"Ya udah deh..."
"Please kamu ngerti ya, Sayang?"
"Hu'um ngerti banget kok kalau suamiku ini orangnya suka khawatiran," ujar Amartha.
Setelah menyelesaikan sarapannya. Satya segera bangkit dari duduknya.
"Aku berangkat, ya?" ucap Satya sambil mengecup puncak kepala istrinya.
"Kamu lanjutin aja sarapannya," sambung Satya saat melihat istrinya akan beranjak. Amartha mengangguk, karena dia baru saja memakan rotinya satu gigitan.
"Hati-hati ya, Sayang..."
"Pasti," ucap Satya seraya memberi kecupan pada baby bump Amartha.
Satya pun pergi berangkat ke kantor. Sedangkan Amartha masih menikmati sarapannya namun ia terlihat kurang bersemangat.
"Vira sibuk nggak, yah?" ucap Amartha. Ia pun meletakkan sisa roti di tangannya diatas piring oval. Lalu ia meraih ponsel yang ada di atas meja tak jauh dari piringnya.
Ia mengusap benda itu, menekan kontak Vira dan segera melakukan panggilan. Amartha menempelkan ponsel ke telinga kanannya.
"Halo? kenapa, Jum?" sapa Vira saat panggilan terhubung.
"Kamu sibuk nggak, Yem? aku hampa di rumah, pengen pergi tapi bggak dibolehin, kamu kesini ya?" kata Amartha sambil manyun-manyun.
"Astaga di rumah segede lapangan bola kamu bilang hampa? adeuh apa kabar kontrakanku yang kaya sarang lebah ini?" jawaban Vira membuat Amartha ingin tertawa.
"Gimana?"
"Apanya?" tanya Vira bingung.
"Bisa kesini apa nggak?" Amartha mengulang pertanyaannya.
"Bisa, tapi sambil ngerajut nggak apa-apa? soalnya lagi kejar setoran ini," ucap Vira.
"Emang kamu bgutang dimana? kalau kamu butuh duit kenapa pakai ngutang segala? kan ada aku," kata Amartha cemas, ia takut Vira terlilit hutang di bank.
"Astaga," Vira menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
...----------------...