
"Please..." ucap Alia tidak tahu malu.
"Pikiranmu dimana, Alia? kamu meminta imbalan yang sangat tidak masuk akal," Firlan menggeleng menatap Alia.
"Aku hanya menagih janji," kata Alia lagi.
"Iya, aku tau! tapi kan ini tidak sebanding, Alia! it's fine, kalau kamu minta dibelikan sesuatu yang masih nalar di otak..."
"Itu perkara hidup orang, Alia! apalagi itu bosku sendiri. Maaf, aku tidak bisa mengiyakan permintaan konyolmu itu. Terserah, jika kamu masih menganggapku masih berhutang budi padamu, aku tidak peduli!" ucap Firlan tegas. Alia menghela nafasnya, ia kembali menyeruput minuman yang telah dipesankan oleh Firlan.
"Baiklah," ucap Alia lemas.
"Lagian, kenapa bosmu itu sangat terobsesi dengan bosku? sedangkan dia tau jika tuan Satya sudah memiliki istri," ucap Firlan.
"Entahlah, aku tidak tau! semakin hari, semakin tidak terkendali..." kata Alia, jelas terlihat di wajah wanita itu jika dia merasa sangat pusing menjalani pekerjaannya.
"Maaf untuk hal ini aku tidak bisa," ucap Firlan.
"Ya, aku mengerti. Hah! aku akan berhenti jadi asistennya, aku rasa. Karena lama-lama aku bisa gila dibuatnya," ucap Alia lemas.
Matahari sudah kembali ke peraduannya saat Satya sudah sampai ke kediamannya. Dia melihat ada mobil yang biasa dipakai sang mami.
"Mami kesini?" gumam Satya seraya membuka mobil, ia pun mengambil belanjaannya sebelum menutup pintu mobilnya.
Untuk mencari tahu dia pun segera masuk ke dalam rumah.
"Bik Surti!" Satya memanggil salah satu pelayan yang bekerja di rumahnya.
"Iya, Tuan..."
"Tolong panaskan lagi, ya? saya mau ke atas dulu. Oh, ya? mami datang kesini?" tanya Satya.
"Benar, Tuan ... nyonya Sandra ada di kamar bersama dengan nyonya Amartha," kata Bik Surti.
"Oh, ya sudah! jangan lupa bikinin es jeruk ya, Bik?" kata Satya sebelum naik ke kamarnya.
"Baik, Tuan..."
Pria itu mempercepat langkahnya agar cepat sampai di atas. Satya membuka pintu, dan terlihat sang mami sedang duduk di tepi ranjang tengah mengobrol dengan istrinya.
__ADS_1
"Dari mana kamu, Sat?" tanya Sandra, yang memutar sedikit tubuhnya untuk melihat anaknya.
"Beli bakso buat istri tersayang," jawab Satya.
"Yank, mau makan sekarang atau?" tanya Satya pada Amartha, istrinya.
"Sekarang aja, Mas..." jawab Amartha.
"Mam ... makan bakso, yuk?" ajak Amartha seraya menyingkap selimutnya dan mencoba untuk berdiri dibantu oleh mertuanya.
"Duluan aja, aku mau ganti baju dulu..." kata Satya.
"Ya udah, kita tunggu di bawah, ya?" ucap Amartha.
Sementara Amartha dan sang mami turun ke bawah, Satya segera menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Setelah selesai ia pun menutupi tubuh bagian atasnya dengan kaos oblong. Menyembunyikan kotak-kotak yang tercetak di perutnya.
Tak membuang waktu lama, Satya segera keluar dari kamar dan menuju meja makan. Dan benar saja, sudah ada Sandra dan Amartha sedang mengaduk-aduk bakso dalam mangkok.
"Bakso segede ini beli dimana, Sat?" tanya Sandra yang mulai memotong bakso besar dengan pisau.
"Punya kamu, Mas..." Amartha menggeser sebuah mangkok yang masih utuh.
"Rame banget, Mam! aku aja nunggunya capek banget," keluh Satya.
"Kenapa nggak minta tolong Damian? atau pesen aja pake jasa antar makanan, gitu..." ujar Sandra.
"Mas Satya mau mastiin kedai yang menjual baksonini tuh bersih, Mam! aku yakin, Mas Satya sebelum beli juga wawancara sama yang punya makanya beli bakso lamanya nggak kira-kira," serobot Amartha.
"Kok kamu tau sih, Yank?" ucap Satya yang kemudian mencicipi kuah bakso dan menambahkan sambal dan kecap.
"Oh, ya jelas! kan selalu kayak gitu..."
"Kamu emang nggak berubah ya, Sat? masiiih aja ribet kalau urusan makanan beli diluar, pasti ngidam kamu banyak yang nggak keturutan ya, Sayang?" Sandra menatap menantunya.
"Iya gitu deh, Mam! ya mau gimana lagi," kata Amartha.
"Ya kalau yang nggak aneh-aneh ya aku turutin, Mam..." Satya membela diri.
"Tapi lucu ya, di dalam bakso ada bakso," kata Sandra.
__ADS_1
"Iya, Mam! tapi aturan di dalem sini tuh kayak ada cabe-cabenya. Tapi ini kok nggak ada, ya?" ucap Amartha sambil mengobrak abrik isi dari bakso beranak miliknya.
"Emang gitu? punya mami juga nggak ada, Sayang! mungkin yang jual kelupaan ngasih cabenya," ucap Sandra yang mulai menggigit bakso dengan kuah pedas itu.
"Bukan kelupaan ngasih, Mam! tapi..." ucap Amartha menggantung, Sandra dan Amartha kompak menatap Satya dengan tatapan menelisik.
"Apa? kok ngeliatin ke sini? punyaku juga nggak ada, kok!" ucap Satya sedikit gugup.
"Jangan-jangan kamu sengaja nyuruh yang jual untuk bikin bakso baru sesuai permintaan kamu ya, Mas?" tuduh Amartha.
"Ya gimana ya, itu baksonya dikasih sambel dan cabe kan nggak baik buat kamu, Yank! lagian orangnya seneng kok, karena aku bayar 10 kali lipat buat 10 porsi bakso ini," kata Satya.
"Malah aku disuruh mampir lagi," lanjut Satya tanpa rasa berdosa.
"Tuh, kan dugaanku bener..." ucap Amartha. Sandra hanya menggelengkan kepalanya.
Mereka pun menikmati makanan berbentuk bulat itu dengan sesekali diselingi obrolan kecil.
Sedangkan di benua lain, ada seorang pria yang sedang termenung di salah satu sudut kamarnya.
"Aku mencoba untuk bergerak maju meninggalkan masa lalu. Tapi kenapa setiap aku mencoba, aku selalu teringat wajahmu. Terlebih lagi dengan apa yang sudah pernah kita lewati dulu," ujar pria itu.
Dia mengusap layar ponselnya, ia memandangi foto seorang wanita.
"Sejauh ini aku hanya berpindah tempat, namun hati dan jiwaku masih tertinggal bersamamu. Bodoh sekali, bukan?" pria itu bermonolog.
"Sesulit itu untuk melupakanmu, walaupun nyatanya sekarang kamu tak akan bisa aku raih,"
Pria itu tersenyum, melihat sebuah potret dirinya bersama seorang gadis dengan rambut panjang.
"Aku yakin, sekarang hidupmu sudah bahagia. Aku bisa melihat itu dari setiap kabar yang dikirimkan seseorang padaku. Aku benar-benar seperti seorang penguntit sungguhan, hal yang sama yang pernah aku lakukan dulu. Bedanya aku tidak bisa melihatmu secara nyata," ucap pria itu lagi. Dia menutup ponselnya dan menaruhnya di atas sofa, di samping tempat yang ia duduki sekarang.
Pria itu beralih menuju ranjang king size yang empuknya bukan main. Ia merebahkan dirinya, melihat ke langit-langit kamar.
"Aku hanya berpura-pura baik, tapi nyatanya aku sedang tidak baik-baik saja. Semoga tuhan memberikan keselamatan padamu, pada anak yang kau kandung saat ini,"
Setelah lelah bermonolog dengan dirinya sendiri, pria itu pun memejamkan matanya sejenak. Mengingat kilasan memori indah yang tersimpan rapi dalam ingatannya. Senyum tipis terbit dari bibirnya, saat mengingat wajah seseorang yang sampai saat ini masih mengisi relung hatinya.
...----------------...
__ADS_1