Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Ketempelan Setan


__ADS_3

Kruuuk kruuuukk


"Makan, Yank..." ucap Satya yang mengarahkan sendok yang berisi nasi beserta lauknya ke depan mulut istrinya yang masih bungkam.


"Jangan liatin aku gitu, Yank ... nanti sore Mami dateng kesini, loh ... aku nggak mau kalau sampe kamu pingsan didepan, Mami..."lanjut pria itu.


"Bodo amat! biarin aja pingsan depan Mami, biar Mami tau kalau anaknya ngajakin duel game semalem," ucap Amartha ketus.


"Kan dari tadi aku udah minta maaf, Yank ... itu juga salah kamu sendiri yang kalah berkali-kali," Satya langsung dapat pelototan dari mata istrinya.


Krruuuukkk kruuuukkk


"Iya, iya aku yang salah kok, makan ya?" pria itu membujuk Amartha untuk mau mengisi perutnya.


Akhirnya Amartha mengambil piring yang ada di tangan suaminya, dengan masih menggunakan selimut yang membelitnya, wanita itu makan dengan lahap. Bagaimanapun nanti malam akan diadakan pesta pernikahannya dengan Satya di ballroom hotel itu, dia tidak mau sampai pingsan di atas pelaminan karena mabar. dia tidak menyangka Satya juga jago dalam hal main game.


"Minum," Satya menyodorkan gelas berisi air putih, sedangkan Amartha mengambilnya tanpa mengatakan apapun, hanya lirikan matanya yang mengisyaratkan bahwa dia masih ngambek


Setelah menghabiskan makanannya, Satya menutup matanya, sementara Amartha memakai bathrobe, pria itu malah senyam-senyum.


"Udah,"


"Ya udah, kamu tunggu disini, bentar..." kata Satya sebelum melesat ke dalam kamar mandi, mengisi air dalam bathtub.


"Mas dah siapin air anget di dalem," tanpa aba-aba Satya menggendong Amartha, wanita itu yang kaget tubuhnya diangkat langsung mengalungkan tangannya di leher pria itu.


Akhirnya sensasi hangat menjalar ditubuhnya, mengurangi rasa lelah karena begadang yang ia rasakan saat ini. Sementara Satya menunggunya sambil tiduran di sofa, memainkan ponsel yang ada di tangannya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Lumayan masih ada waktu istirahat, dilihatnya Satya lagi molor di sofa, Amartha pun yang baru selesai mandi dan sudah cantik dengan dress berwarna ungu, dengan perlahan ia melangkahkan kakinya ke arah ranjang. Wajahnya polos tanpa sentuhan bedak, wanita itu masih sedikit merasakan kantuk, ia pun lebih memilih untuk memejamkan matanya. 


Seseorang memencet bell dengan tidak sabaran, membuat Amartha terbangun dari tidurnya. Perlahan matanya terbuka, ia merasakan ada satu tangan melingkar di perutnya, dan hembusan nafas yang terasa hangat di tengkuknya. Jantungnya masih saja berdebar saat berada didekat pria yang tengah memeluknya. Sepertinya pria itu tidur dengan sangat nyenyak, dia bahkan tidak terusik sedikitpun dengan suara itu.

__ADS_1


"Sejak kapan dia pindah kesini?" gumam Amartha.


Amartha kemudian memindahkan tangan kekar yang memeluknya dengan posesif, Amartha merapikan rambutnya dengan tangan, lalu perlahan menjangkau pintu, sementara bell terus saja berbunyi.


Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok mertuanya.


"Astaghfirllah!" teriak Sandra dengan mata yang membelalak melihat menantunya.


"Kenapa, Mam? Mam? Mami, kenapa?" ucap Amartha yang cemas melihat ekspresi wajah mertuanya.


"Ada apa sih, Mam? tereak kaya di hu-" tanya Prisha yang nongol dibalik badan Sandra, yang sedang menutup mulutnya dengan tangan, gadis itu menatap Amartha cengo.


"Loh? mbak? mbak lagi sakit? pucet banget, mbak lagi kena alergi?" Prisha menempelkan tangannya di pipi Amartha dan melihat kulit Amartha yang kemerah-merahan, ditambah wajah kakak iparnya yang terlihat pucat.


"Suwer pucet banget, Mbak..." ucap Prisha yang terlihat ikut khawatir, Amartha hanya tersenyum canggung, masa iya dia bilang kalau semalam dia begadang karena main game bersama Satya.


"Mana suami kamu, Sayang?" tanya Sandra yang mencari keberadaan anak sulungnya, Amartha menggeser tubuhnya dan memperlihatkan Satya yang masih tidur dengan sangat pulas.


"Lagi tidur..." sahut Amartha.


"Hufhhh, pasti capek banget ya, Sayang? kebetulan Mami bawa obat pereda nyeri, nanti kamu cepat minum ya?"


Prisha yang tidak nyambung dengan omongan sang mami pun hanya diam dan menemani Amartha duduk di sofa, sementara Sandra langsung berjalan menuju anaknya yang masih molor.


"Dasar bocah sableng!" gumam Sandra yang geleng-geleng kepala melihat putranya.


"Heh, bangun! cepet bangun! dasar bocah sableng, kamu apain menantu Mami! heh, bangun!" Sandra mencubit pinggang Satya dan sesekali meneplak lengan putranya agar cepat bangun.


"Aduhhh, aduuh ... ampuun!" teriak Satya yang mendapat serangan secara tiba-tiba.


"Jawab! kamu apain menantu, Mami?! heh," Sandra masih terus mengeksekusi anaknya.


"Aduh, Mami ... sakit Mam!" bukannya menjawab Satya malah terus mengaduh.

__ADS_1


"Mami, Mam ... udah Mam kasian, jangan dipukul lagi," Amartha yang semula duduk, kemudian mendadak menghampiri suami dan mertuanya.


"Udah, Mam! udah..." Amartha mencoba menghentikan  Sandra yang masih mencubit anaknya.


"Terus Mam, cubit terus, jambak kalo perlu," Prisha malah ngomporin, padahal dia tidak tau alasan yang melatarbelakangi sang Mami berbuat demikian.


"Ada apa sih, Mam? dateng-dateng udah nyubit aja! deuh pake mukul segala, sakit tau..." ucap Satya yang melihat kulitnya panas dan ruam-ruam, sementara Amartha mencoba merapikan rambut Satya yang acakadul.


"Itu kamu apain badan istri kamu? bisa belang-belang udah kaya macan loreng kayak gitu! nanti malem kan masih ada acara," Sandra mendorong kening Satya dengan telunjuknya, membuat anak lelakinya itu garuk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak ketombean, dan pasang cengiran khasnya.


"Dia kalah main game, Mam!" sahut pria itu, yang mendapat cubitan extra 20% dari Sandra.


"Badan? loreng?" Amartha melihat ke arah Prisha, dan melirik Satya meminta penjelasan, namun pria itu hanya menjereng giginya


"Mbak coba liat sendiri tuh di kaca ... mbak coba inget, inget abis makan apaan," ucap Prisha yang mendorong pelan tubuh Amartha menuju cermin.


"Astagfirllah, Maaaaaaaasss!" pekik Amartha saat melihat tubuhnya bagian wajah, leher ke bawah terlihat bercak merah bekas lipstik, dia lebih mirip siluman harimau ketimbang manusia, mungkin sebentar lagi Amartha akan berteriak 'aing maung' seperti acara pemburu hantu yang sering ditontonnya di tivi. Satya tertawa saat mengingat kejahilannya mengambil lipstik istrinya dan mencolat colet wajah Amartha dengan pemerah bibir itu. lalu ia merebahkan dirinya disamping istrinya dan pura-pura tidur yang berakhir tidur beneran.


Amartha melihat ke arah suaminya, ia menghunuskan tatapan mematikan. Satya tak berani melihat istrinya, tapi pria itu tak bisa menahan tawanya karena wajah istrinya sungguh sangat lucu meskipun dia mengoleskan tipis pemerah bibir itu, seakan wanita itu titisan macan tutul.


"Emang mbak Amartha kenapa sih, Mam? emang diapain abang?" tanya Prisha yang mengikuti Amartha kembali duduk di sofa, Amartha nampak malu sekali melihat ke arah mertuanya, sungguh suami durjana!


"Ketempelan setan, Sha..." sahut Satya asal, membuat Amartha mendelik dan tangan Sandra kembali melayang untuk menabok lengan pria itu.


"Iya setannya kamu!" lirih Sandra yang hanya terdengar oleh Satya.


"Hih, hotel bagus-bagus gini kok ada setannya ... Mam, nanti malem aku bobok sama Mami, ya..." Prisha langsung merapatkan tubuhnya pada kakak iparnya.


"Aku nggak mau ya, bangun-bangun kayak mbak Amartha blentang blentong kayak gitu," ucap Prisha yang bergidig ngeri melihat kulit kakak iparnya saat ini. Satya hanya tersenyum tanpa rasa bersalah, dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan sang istri.


"Eh, tapi … kok merahnya nempel ditangan aku?" cicit Prisha.


"Ini mah lipstik!" seru Prisha.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2