Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Dunia ini begitu sempit


__ADS_3

Setelah setelah seminggu orientasi di rumah sakit tersebut, Amartha kini di tempatkan di bangsal Anyelir. Kebetulan hari ini jatahnya shift malam.


"Sayang? kamu mau kemana?" tanya Sandra ketika Amartha melintas di depannya.


"Amartha mau ke rumah sakit, Tante..." sahut Amartha yang mendekati Sandra di ruang keluarga dan duduk disamping wanita itu.


"Jangan panggil tante dong, sebentar lagi kan kamu menikah sama si sableng, jadi manggilnya mami aja, ya?" kata Sandra seraya menaruh majalah di atas meja kaca.


"Iya, Mam..." ucap Amartha.


"Kok ke rumah sakit?" Sandra menanyakan, mengapa Amartha ke rumah sakit.


"Amartha shift malem, Mam ... harus udah sampe sana sebelum jam 7 malam," jelas Amartha


"Duh, ada shift malem segala, mami khawatir loh, Sayang..." kata Sandra dengan wajah khawatirnya.


"Pekerjaan perawat memang begitu, Mam ... ada tiga shift," Amartha lalu menjelaskan, bahwa pekerjaannya ini membutuhkan tiga shift, pagi, siang dan malam, Sandra pun mengangguk mengerti.


"Mami ijinin kamu keluar kalau kamu dianter supir, kalau nggak dianter, mami nggak ijinin," ucap Sandra berpura-pura memasang wajah sangarnya.


"Iya, mami ... asal nggak ngerepotin," Amartha tersenyum manis pada wanita paruh baya itu.


"Ya udah, Amartha pamit ya, Mam?" ucap Amartha sambil meraih tangan Sandra dan menciumnya.


"Miraaa..." Sandra memanggil kepala pelayannya.


"Iya Nyonya," Sahut Mira saat sudah berada didepan majikannya.


"Supir yang jaga siapa?" tanya Sandra pada Mira.


"Damian Nyonya," jawab Mira.


"Suruh Damian siapin mobil, buat nganter Amartha ke rumah sakit," titah sang majikan.


"Baik, Nyonya, permisi..." Mira pamit undur diri.

__ADS_1


"Ya udah, kamu hati-hati ya? besok pagi kalau mau pulang kabarin mami atau Satya ya, Sayang?" kata Sandra lembut, berbanding terbalik saat bicara dengan Satya yang pastinya menguras emosi.


"Iya, Mam ... Amartha pamit, assalamualaikum..." Amartha pamit untuk pergi ke rumah sakit.


"Waalaikumsalam,"


Malam itu pun akhirnya, Amartha diantar supir sampai di depan rumah sakit. Amartha seperti biasa masuk di ruang ganti perawat yang cukup sepi. Sebuah lorong dengan deretan loker-loker di sisi kanan dan kirinya.


Amartha mencoba menepis rasa takutnya, dia mencoba cuek saja masuk ke dalam ruang ganti, di dalam dia langsung mengganti bjunya dengan baju seragam, dan tak lupa menggelung rambut panjangnya, dan sedikit memoles lipglos favoritnya.


Amartha segera keluar dari ruang ganti dan menuju loker karyawan, dia membuka loker miliknya dan menaruh tas dan flat shoes di dalamnya, karena sepatu yang digunakannya saat bertugas adalah sepatu pantofel tanpa hak, dan selalu dia simpan di box dalam loker.


"Kok cepet datengnya?" tanya Luna, teman yang sedang shift saat itu.


"Iya, kan 15 menit lagi ganti shift kan?" Amartha melihat jam yang melingkar di tangan kanannya.


"Oh, iya yah? nggak begitu liat jam sih, ya udah nunggu Beti sama Ridho dulu, baru nanti kita operan, ya?" kata Luna yang sedang merapikan meja di nurse station.


"Oh, ya ... ada satu pasien di kamar 277, kamar executif, nanti kamu sering check ya? jangan lupa, check makanannya juga soalnya dia nggak mau makan, nggak ada yang nungguin juga, kalau kita ngasih tau malah marah-marah, sering dilihat pokoknya, ya? kadang udah beberapa kali ini dia mencabut infus yang dipasang," ucap Luna dengan wajahnya yang sudah terlihat sangat lelah.


"Namanya siapa?" tanya Amartha pada Luna.


"Hah? siapa tadi?" Amartha mengerjapkan matanya, lalu bertanya kembali pada Luna.


"Kenan Pradipta, kamu kenal?" jawab Luna yang kemudian mengernyitkan dahinya.


"Nggak, nggak, ta-tadi cuma kurang denger ajah," Amartha tersenyum canggung.


"Ya udah, nggak usah gugup kali, Ta..." kata Luna sambil menyenggol tangan Amartha.


"Siapa juga yang gugup, sembarangan..." ucap Amartha mengelak.


Setelah, teman- teman yang lain datang, mereka mulai operan dan masuk ke kamar masing- masih pasien.


"Kenapa pakai masker, Ta?" tanya Beti.

__ADS_1


"Nggak, ini ... ehm, tadi aku bersin- bersin terus, lagian acnya dingin," kata Amartha mencari seribu alasan, dia hanya berjaga- jaga kalau Kenan Pradipta yang dimaksud Luna adalah Kenan mantan suaminya.


"Ooh..." sahut Beti.


Setelah berkeliling dari kamarbke kamar, sekarang tinggal satu kamar yang dikunjungi yaitu kamar exsecutif kamar 277. Jantung Amartha berdegub kencang, kala memasuki ruangan itu.


Ketika Luna menjelaskan keadaan pasien dan apa saja yang sudah diberikan, mata Amartha justru terpaku pada sosok yang tengah terbaring di atas ranjang dengan mata yang terpejam, iya benar itu Kenan mantan suaminya. Tak berapa lama pun, mereka keluar dari ruangan itu.


"Gue pulang, ya?" ucap Luna sembari melambaikan tangannya.


"Hati-hati," ucap Beti.


Mereka pun mulai menata obat-obatan yang harus diberikan pada pada pasien sesuai petunjuk rekam medik, mereka semua berbagi tugas. Namun sialnya, Amartha yang kebagian di kamar 277 untuk memberikan obat yang harus diminum.


"Maaf, Tuan .. sekarang waktunya minum obat," ucap Amartha dengan masker medis yang menutupi sebagian wajahnya.


"Tuan," ucap Amartha membuat Kenan menatapnya tajam. Tatapan yang tak pernah ia dapatkan dari pria itu. Jika karena bukan tugasnya sebagai perawat, Amartha tidak mungkin membujuk pria itu untuk minum obatnya.


"Tuan, makanan anda masih bel tersentuh, apa mau saya bantu? setelah itu anda harus minum obat," ucap Amartha lagi, namun mata elang itu masih melihatnya dengan tajam, tanpa berniat menjawab pertanyaannya.


"Baiklah Tuan, nanti saya akan kembali lagi jika anda sudah makan," ucap Amartha seraya berbalik, namun sesaat tangan itu mencekal dan menariknya tiba-tiba hingga ia terjatuh di atas dada pria itu, lantas Kenan dengan cepat membuka masker yang menutupi wajah Amartha, membuat mata Amartha membulat sempurna.


"Aku tidak akan salah mengenali suaramu, aku merindukanmu, Sayang..." ucap Kenan seraya memeluk Amartha.


"Mas, lepas Mas ... ini rumah sakit, Mas tolong..." kata Amartha seraya berusaha melepaskan diri dari pelukan Kenan.


"Maafin aku, aku udah ninggalin kamu, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Amartha..." kata Kenan frustasi.


"Nggak, Mas ... aku udah nggak mau bahas itu lagi, Mas ... tolong lepas..." Amartha berusaha mendorong Kenan, namun tenaganya tak cukup kuat.


"Nggak, aku nggak mau kehilangan kamu, nggak..." Kenan enggan menuruti permintaan Amartha yang takut akan ada yang memergoki mereka, dia bisa kehilangan pekerjaannya ini.


"Kita udah selesai, Mas! bahkan sudah setahun yang lalu, tolong Mas ... biarkan aku melanjutkan kehidupanku, Mas kamu jangan seperti ini, tolong lepas..." Amartha sekuat tenaga melepaskan diri.


"Jangan menikah dengan Satya, aku mohon ... kembalilah padaku, Amartha..." ucap Kenan seraya mengendurkan pelukannya, Amartha pun segera bangun dan berdiri seraya menatap kedua manik milik Kenan.

__ADS_1


...----------------...


Hilal bahagianya Amartha sudah dekat ya gaes, hadeuuuh bang Kenan bikin pusing aje


__ADS_2