Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Ingin Bicara


__ADS_3

"Sinta?" gumam Amartha saat melihat Sinta datang ke mejanya.


"Nggak bisa!" seru Satya. Satya menggeleng pada Amartha, tanda ia tak mengijinkan Amartha untuk berdiri. Bahkan ia menggenggam tangan istrinya. Satya tak akan membiarkan istrinya dalam bahaya karena berdekatan dengan wanita siluman itu.


"Tolong deh lo nggak usah ikut campur! gue nggak bakal ngapa-ngapain dia kok," ucap Sinta saat melihat reaksi suami Amartha.


"Ya jelas saya ikut campur karena dia istri saya! dan saya tau bagaimana sifat anda," ucap Satya dingin.


"Nggak usah lebay deh," ucap Sinta ketus.


"Gue mau ngomong sama lo, disana..." Sinta menunjuk sebuah meja yang masih kosong. Amartha melirik Satya, lalu kembali menatap Sinta.


"Apa yang pengen kamu omongin?" Amartha menatap Sinta yang dengan tanda tanya besar dikepalanya. Apa yang ingin dia bicarakan? Sedangkan sepertinya Amartha merasa sudah tidak ada urusan dengan Sinta.


"Lo nggak denger? gue mau ngomong sama lo disana," ucap Sinta yang membuat Satya geram, pasalnya sikap wanita itu yang begitu angkuh.


"Dengan sikap anda yang seperti itu orang juga males mau nanggepin," celetuk Satya yang mendapat gelengan dari Amartha menandakan bahwa sebaiknya Satya tidak perlu menanggapi Sinta.


"Maaf ya? calon istri saya emang kurang sopan," ucap Fendy tiba-tiba. Fendy yang melihat Sinta berjalan cepat menuju sebuah meja pun mengerutkan keningnya. Ponsel pria itu bergetar mengharuskan ia mengangkatnya terlebih dahulu sebelum mengejar Sinta.


"Kak Fendy?" ucap Amartha tidak percaya, Amartha memandang Fendy dan Sinta bergantian.


"Hai Amartha long time no see, sorry Sinta lagi kumat, mungkin dia kangen sama kamu, jadi pengen ngobrol sebentar tapi kalau kamu nggak mau its okay, mungkin lain kali," ucap Fendy sambil merangkul pundak Sinta.


"Ih, apaan, sih?" Sinta melepaskan tangan Fendy sambil melotot ke arah pria yang dengan santainya merangkul pundak wanita itu lagi.

__ADS_1


"Kalau dia pengen ngomong ya tinggal ngomong, tapi disini." ucap Satya mendahului Amartha.


"Kamu mau ngomong apa?" kata Amartha lembut, dia sudah berpisah dari Kenan jadi seharusnya sudah tidak ada masalah lagi diantara mereka. Terlebih lagi Amartha sudah menikah dengan Satya.


"Mas?" Amartha meminta persetujuan Satya untuk bisa bicara sebentar dengan Sinta.


"Nggak! bisa aja dia mencelakai kamu dan anak kita. Maaf, Sayang. Untuk kali ini aku nggak bisa ngijinin kamu," Satya kekeuh tidak mengijinkan untuk Amartha bicara dengan manusia seperti Sinta yang bisa nekat melakukan apa saja yang membahayakan nyawa. Satya tidak mau kecolongan. Tidak ada jaminan Sinta tidak akan melukai istrinya, bisa saja dia menyimpan dendam pada Amartha. Karena setahu Satya hubungan Sinta dan Amartha belum ada kata damai.


"Maaf, Sin..."Amartha mengucapkan permintaan maafnya.


"Kita pindah restoran aja, Sayang! maaf sudah mengganggu waktu kalian," ucap Fendy dan berniat mengajak Sinta untuk meninggalkan restoran itu. Namun


"Nggak usah kita juga udah selese, jadi kami yang akan pergi dari sini," ucap Satya seraya melambaikan tangan pada pelayan untuk membawakan bill makanan. Setelah selesai membayar makanan mereka, Satya segera mengajak Amartha untuk meninggakan restoran tersebut.


Sementara Sinta menatap punggung Amartha yang kian menjauh, ada sebersit rasa iri di dalam hatinya. Mengapa Amartha selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Sinta sebenarnya hanya ingin bicara dengan Amartha tidak lebih. Dia juga tidak berniat untuk mencelakai mantan sahabatmya itu. Dia hanya ingin bicara, sesimpel itu.


Satya memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya setelah mereka masuk ke dalam mobil.


"Kenapa aku nggak boleh?" tanya Amartha pada suaminya yang menghembuskan nafasnya pelan. Satya menatap lembut Amartha dan mengusap kepalanya.


"Karena aku nggak percaya sama dia. Dan aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu, sama calon anak kita, kita nggak tau apa yang dia rencanain. Bisa saja itu hanya alasan agar dia bisa mencelakaimu, jujur aku nggak percaya sama perempuan modelan kaya gitu," jelas Satya yang dijawab anggukan kecil dari Amartha.


"Sinta bisa saja melakukan hal yang jahat, dan kita harus tetap waspada." lanjut Satya mencoba meyakinkan Amartha bahwa dia hanya mengkhawatirkan keselamatan anak dan istrinya saja.


"Aku harap kamu ngerti, dan lebih berhati-hati." Satya mengelus pipi istrinya. Namun tanpa Satya sadari, berkat kehadiran Sinta tadi Amartha jadi lupa kalau sebenarnya dia masih marah dengan Satya. Wanita itu membalas perkataaan Satya dengan senyuman manisnya, walaupun dalam hatinya penasaran dengan apa yang ingin wanita itu sampaikan padanya.

__ADS_1


"Kamu ngerti, kan?" Satya mengelus pipi Amartha dan mencium pucuk kepala Amartha.


"Iya, Mas..." sahut Amartha singkat.


Namun sebelum Satya memacu kendaraannya ada telepon dari Firlan, jika Satya harus secepatnya datang ke kantor, karena ada seseorang yang ingin bertemu untuk membicarakan kerjasama dengan perusahaannya.


"Yank? sekarang kita ke kantor dulu nggak apa-apa?" ucap Satya saat sudah mematikan sambungan teleponnya.


"Iya nggak apa-apa," ucap Amartha.


Amartha mengerti akan kesibukan suaminya yang harus pergi ke ruang meeting, toh dia hanya menunggu kurang lebih dua jam di dalam ruangan yang sangat luas itu. Wanita itu milih untuk duduk di sofa, menyandarkan punggungnya yang terasa pegal.


Amartha kini mudah sekali mengantuk, apalagi dengan perut yang sudah kenyang. Awalnya dia merebahkan duduk di sofa dengan memainkan game di ponselnya, tapi semakin lama kantuk mulai menyerangnya dan sulit sekali untuk membuka sedikit matanya. Dengan mudahmya wanita itu tidur walaupun dengan posisi duduk seperti ini.


Satya yang kebetulan sudah selesai dengan meetingnya, melihat istrinya sedang tidur dengan nyenyak.


"Kenapa tidur dengan posisi duduk seperti ini, ini membuat anak kita tidak nyaman di dalam sini," lirih Satya yang mulai merebahkan istrinya di sofa.


Pria itu mengelus pelan perut istrinya yang terasa kencang. Satya beralih pada meja kerjanya, ia mulai mengambil satu persatu dokumen yang ada di mejanya, sambil sesekali melihat Amartha yang masih tertidur pulas.


Setelah beberapa saat Amartha terbangun, ia mencoba untuk duduk dan menyalakan ponselnya namun sialnya benda itu kehabisan daya. Dia berdiri perlahan, merapikan rambutnya. Terdengar suara keran air di buka, mungkin suaminya sedang berada di toilet.


Sesaat ia melihat ponsel Satya tergeletak di meja kerja pria itu. Dan tak lama ponsel itu berdering menampilkan nama Ivanka. Dia hanya memandang layar ponsel itu menyala, kemudian redup kembali. Kemudian muncul sebuah chat dari orang yang baru beberapa saat yang lalu menghubungi suaminya. Air mata lolos begitu saja saat tak sengaja Amartha membaca isi dari chat itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2