Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kegilaan Sinta


__ADS_3

Rudy mengajak Satya dan Amartha untuk masuk ke dalam rumah. Rudy lantas membawa Amartha menuju kamar mamanya. Air mata Amartha menetes kala melihat sang mama yang terbaring lemah.


Satya meminta ijin Rudy untuk mengambil stetoscope dan tensimeter yang ada di mobil. Dengan sigap Satya langsung memeriksa Rosa.


"Om, sebaiknya kita bawa langsung saja ke rumah sakit sekarang, karena tekanan darah tante sekarang 240/100 mmHg, ini sangat berbahaya!" jelas Satya sambil membereskan peralatan medisnya.


"Baik, Nak!" ucap Rudy seraya melihat dengan tatapan cemas. Ia tak mau sesuatu hal yang buruk terjadi pada Rosa.


Amartha lantas menyiapkan segala keperluan ibunya. Selesai menunaikan shalat subuh mereka bergegas pergi menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Amartha berusaha tenang, dia yakin Rosa baik-baik saja.


Sesampainya di rumah sakit, Satya segera membawa Rosa ke IGD untuk segera mendapatkan penanganan. Jika tekanan darah terlalu tinggi dapat mengakibatkan pecah pembuluh darah, sudah jelas ini sangat berbahaya. Rudy tidak mengetahui jika Rosa mempunyai riwayat tekanan darah tinggi karena selama ini istrinya tidak pernah mengeluh apapun. Dilihatnya Rosa sedang terbaring di atas brankar yang ada di IGD, sedangkan Amartha hanya bisa duduk di ruang tunggu depan IGD. Amartha tertunduk, dia memikirkan bagaimana ayahnya bisa membayar perawatan di rumah sakit ini. Sedangkan rumah sakit ini hanya untuk orang kalangan atas. Dia ingin sekali bicara dengan ayahnya, namun melihat Rudy yang masih setia di samping Rosa, membuat Amartha mengurungkan niatnya.


"Ini aku bawakan teh, kamu minum, ya?" Satya datang, membawa dua cup teh panas. Namun Amartha hanya memandangnya dengan tatapan sendu, dan ia menggeleng pelan.


"Kalau kamu sakit, yang jaga tante siapa coba? minum dulu, yah?" Satya memberikan satu cup teh hangat untuk Amartha.


"Kamu tunggu disini, aku mau ke dalem mau ngasih ini buat om," ucap Satya lembut, lalu beranjak dan melangkahkan kakinya masuk ke ruang IGD. Tak lama sosok pria bertubuh tegap itu menemui Amartha, duduk di samping gadis yang tengah meneteskan air matanya. Amartha langsung menyeka jejak tangis di pipinya.


"Kalau mau nangis, nangis aja nggak apa-apa, nggak usah ditahan," ucap Satya membawa Amartha ke dalam dekapannya. Gadis itu menangis sejadi-jadinya, yang ia butuhkan saat ini seseorang yang mampu untuknya bersandar sejenak. Satya hanya bisa memberikan kalimat penyemangat agar ia bisa kembali bangkit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain.


Prang!


Kenan mengacak-acak kamarnya. Dia membanting semua benda yang ada di sana. Keadaannya saat ini sangat kacau. Karena sejak pertemuannya dengan kekasihnya di cafe, sang kekasih tak juga dapat dihubungi.

__ADS_1


Darah mengalir dari punggung tangan yang dengan sengaja menghantam cermin. Cairan berwarna merah itu menetes di lantai kamar, sang empunya tubuh sedang terduduk dibawah, bersandar pada kaki ranjang sembari menggenggam ponselnya, berharap Amartha mau mengangkat panggilan telepon darinya. Air mata tak hentinya menetes dari sudut netranya.


Berliana mengetuk pintu kamar anaknya. Rasa khawatir menggelayut dalam pikirannya kala mendengar suara pecahan kaca dan benda yang dibanting dari arah kamar Kenan.


"Sayang, buka pintunya, Nak ... Sayang, mama mohon, buka pintunya!" suara Berliana mengiba pada anak lelaki semata wayangnya.


"Hentikan! biarkan anak itu, nanti juga dia akan berhenti dengan sendirinya, ayo masuk!" ucap Damar seraya menarik paksa istrinya menjauh dari balik pintu kamar Kenan, Damar men


memaksa istrinya untuk masuk ke kamar.


Suara adzan berkumandang, membuat Kenan seketika tersadar. Ia melihat keadaan kamarnya yang jauh dari kata layak. Pria itu segera bangkit lalu memasukkan beberapa baju ke dalam koper, meninggalkan rumah megah milik Damar Brawijaya.


Kenan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sebuah apartemen miliknya. Kenan membeli apartemen ini tanpa sepengetahuan Damar. Rencananya apartemen ini akan ia tinggali bersama Amartha setelah menikah.


Pria itu memarkirkan mobilnya di basement, mengambil kopernya di bagasi dan melangkahkan kakinya menuju lift. Setelah sampai di depan pintu, ia menekan pasword, dan pintu pun terbuka.


Aku mencintaimu, Amartha!


Matanya kini memejam, baru saja akan terlelap, terdengar suara bel berbunyi. Kenan tersadar, siapa yang bertamu ke apartemennya sepagi ini? Dan lagi, tak seorang pun mengetahui Kenan membeli satu unit apartemen yang ia tempati saat ini.Rasa penasaran mengalahkan logikanya, ia bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pintu, tangannya memutar handle, dan...


"Mas?" ucap seorang perempuan yang berdiri diambang pintu.


"Mau apa kamu kesini? kita nggak ada urusan!" kata Kenan ketus.


"Mas ... biarkan aku bicara, Mas!" kata perempuan itu sambil menerobos masuk dan menutup pintu.


Kenan sungguh muak melihat tingkah perempuan yang sedang tidak ingin ia temui. Kenan berbalik berjalan cepat menuju perempuan itu berada.

__ADS_1


"Pergi! sebelum aku bertindak kasar!" sentak Kenan pada perempuan yang akan dijodohkan dengannya.


"Nggak! aku nggak mau pergi!" ucap Sinta sembari duduk santai di sofa. Sinta menggunakan mini dress ketat yang menampilkan lekuk tubuhnya.


"Sinta! aku bilang pergi!" Kenan meninggikan suaranya, berharap Sinta akan beranjak dan keluar.


"Aku cinta sama kamu, Mas ... bahkan sejak aku masih SMP, kamu cinta pertama aku, Mas!" Sinta beranjak mendekati Kenan. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sinta. Gadis ceria yang sudah ia anggap adik sendiri.


"Nggak waras kamu, Sinta! kamu tau yang aku cintai itu Amartha!" ujar Kenan menatap Sinta dengan tatapan menusuknya.


"Iya iya aku tau! aku udah coba menenggelamkan rasa ini, bahkan saat kamu terang-terangan mendekati Amartha! tapi aku nggak bisa ... rasa itu semakin hari semakin kuat tanpa aku bisa melawannya! lihat aku, Mas! bahkan aku lebih cantik dari dia, aku lebih pintar dari dia, aku..." Sinta tak bisa melanjutkan kata-katanya, air mata seketika luruh membasahi pipinya.


"Cukup! cinta tidak memandang semua itu, Sinta! hentikan semua omong kosongmu dan pergi dari sini!" Amarah Kenan semakin memuncak.


"Nggak! aku nggak mau!" ucap sinta yang semakin mendekati Kenan dan menatap pria itu lekat. Seketika Sinta me**** b**ir Kenan dan menciumnya, mencoba meruntuhkan pertahanan pria itu. Kenan segera mendorong Sinta, menjauhkan gadis itu dari dirinya. Namun, Sinta malah memeluknya dari belakang, dengan cepat Kenan menghempaskan tangan gadis itu.


"Kenapa, Mas? kenapa kamu menolakku? kenapa?" ucap Sinta dengan diiringi isakan.


"Karena aku tidak mencintaimu!" sahut Kenan dengan tatapan tajamnya.


"Sekarang, aku bilang, pergi!" Kenan membentak adik dari sahabatnya, Refan.


"Oke, sekarang aku pergi, tapi ingat! siapapun tak akan bisa memilikimu, kecuali aku!" ancam Sinta seraya melangkahkan kakinya keluar dan membanting pintu meluapkan rasa kecewanya.


"Arghhh!" Kenan berteriak dan meraup wajahnya kasar.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2