
"Awwwhhh!" pekik Vira.
"Sorry," ucap pria itu singkat membuat Vira memicingkan matanya sambil membersihkan cairan berwarna merah itu.
"Ih, basah, kan? kamu pasti sengaja!" Vira menuduh pria itu telah sengaja menumpahkan minumannya.
"Sopan dikit dong sama yang lebih tua, manggilnya kamu kamu aja, lagian saya nggak sengaja dan lagi salah sendiri berdiri disitu, ngalangin orang jalan," jelas pria itu membuat Vira.
"Oke, Pak Firlan, saya yang salah, ehem saya tuh tempatnya salah dan dosa,!"
"Pake embel-embel kakak bukan bapak, sejak kapan saya jadi bapak kamu!" Firlan benar-benar membuat kesabaran Vira menipis.
"Males!" sahut Vira sambil melempar pandangannya ke arah lain.
"Apa?" Firlan bertanya kembali membuat wanita itu meninggikan suaranya.
"Aku bilang males!" Vira mengulang ucapannya.
"Kesambet dimana, sih?" Firlan menaruh gelas yang sudah kosong diatas nampan yang dibawa oleh petugas catering yang kebetulan lewat.
"Ah, kan nodanya nggak bisa ilang! dasar rese!" ucap Vira sembari masuk ke dalam rumah, menuju toilet.
"Nih cewek otaknya konslet apa ya?" Firlan melihat kepergian Vira, tanpa sadar pria itu menyunggingkan senyumnya, melihat gadisbitu bersungut-sungut meninggalkannya.
"Ngapain sih, ngajak-ngajak ngomong, nggak tau apa di hati udah berdarah-darah, giliran lagi dideketin juteknya nggak karuan, sekarang aku mau move on, Tuhan ngasih cobaan," gerutu Vira sambil membersihkan bajunya di toilet, dan melihat pantulan dirinya di cermin wastafel.
"Viraaaaa, viraaaa move on!" ucap Vira kepada pantulan dirinya seraya mengepalkan tangan.
"Ih kan, nggak ilang! vangke tuh Firlan, nih jelek banget kayak gini, ahhh bete suwer!" ucap Vira saat melihat warna merah tak juga hilang dari kebaya brukat yang dikenakannya.
Akhirnya, Vira pun keluar dari toilet dengan mulut yang terus saja mengomel.
"Mbak Vira, dicari Non Amartha, katanya disuruh foto bareng!" ucap salah seorang perias yang dimintai tolong Amartha untuk mencari Vira.
"Bajuku ketumpahan minuman, Mbak! warnanya jadi jelek kayak gini, malu..." Vira menunjukk bajunya.
"Bilang aja aku, ah, aku ... ah, bilang aja Viranya lagi nyiramin taneman di belakang," kata Vira sambil memasang tampabg memelasnya.
"Ih, Mbak Vira ada-ada aja," ucap wanita yabg didepan Vira.
"Jaman sekarang kan foto bisa diedit mbak, nanti Mbak Vira minta diedit aja sama fotografernya, gampang kan? Mbak nggak usah khawatir!" ucap wanita itu terkekeh melihat tampang Vira saat ini.
"Oh iya, diedit ya? hihihi..." Vira kemudian tertawa.
"Bener juga si Mbak! cespleng juga idenya! ya udah, ayok..." Vira kemudian berjalan menuju ke pelaminan.
"Kemana aja, sih?" bisik Amartha yang melihat Vira berdiri disampingnya.
"Itu ngusir kucing yang mau nyolong ikan asin di rumah tetangga kamu tuh," sahut Vira yang ngarangnya luar angkasa, eh luar binasa, ehm luar biasa, okeeeey.
__ADS_1
"Pake kebaya minum sampe tumpah-tumpah jorok banget kamu, Yem..." kata Amartha sambil matanya melirik brukat milik Vira.
"Ini juga karena perbuatan asistennya suami kamu..." ucap Vira dengan kesal.
"Firlan?" tanya Amartha, Vira hanya mengangguk.
"Oke, tolong Nona yang pakai kebaya silver, merapat lagi ya?" ucap mas-mas fotografer.
"Oke, siip! kita mulai ya? satu, dua, ti-"
"Eeeh, eh, tunggu ... mas jangan dijepret!" suara seorang nenek menginterupsi aksi jepret menjepret itu.
"Kenapa emang, Nek?" tanya si fotografer.
"Pamali foto bertiga, tambahin satu orang lagi biar genap," ucap nenek itu yabg merupakan tetangga Amartha, membuat mereka yang ada disitu saling melempar pandang.
"Firlan! Lan, kesini kamu!" Satya memanggil Firlan, Firlan yang ditunjuk pun kedap-kedip, kemudian mengarahkan telunjuk ke dadanya.
"Saya?" tanya Firlan.
"Iya, kamu ... cepat kesini," titah Satya pada asistennya
"Ada apa Tuan?" tanya Firlan ketika sudah di depan Satya.
"Kamu ikut foto," ucap Satya tanpa basa-basi, dan menarik Firlan untuk berdiri disampingnya.
"Nolak, potong gaji 50%, ayoook cepetan!" ancam Satya pada Firlan.
"Katanya pamali foto bertiga," lanjut Satya
"Pamali? siapa pamali, Tuan?" tanya Firlan pada Satya.
"Beneran, nggak tau pamali?" tanya Satya.
"Tidak, Tuan..."
"Pfffttt," Vira melirik ke arah Firlan yang mukanya masih mode serius.
"Pamali bapaknya Vira," celetuk Amartha.
"Ish sembarangan ... dasar, pamali aja nggak tau! payah!" Vira mencibir ketidaktahuan Firlan.
Akhirnya dengan sedikit paksaan dan ancaman, mereka berempat berfoto bersama. Setelah beberapa jepretan, Vira menghampiri mas fotografer yang sedang mengecek kameranya.
"Kak, jangan lupa diedit ya? bajuku ketumpahan minuman soalnya, biar warna merahnya ilang," ucap Vira yang membuat pria itu menoleh, dan matanya menangkap satu sosok wanita cantik berdiri di dekatnya.
"Oke, nanti gue editin, tenang aja, kenalan boleh? nama gue Vergio, panggil aja Gio," kata Vergio yang disambut senyuman dari Vira.
"Nama lo siapa?" Vergio mengarahkan tangannya, ingin menjabat tangan Vira.
__ADS_1
"Aku, oh aku..."
"Dicariin taunya disini,!" ucap Firlan tiba-tiba, yang membuat Vergio menurunkan tangannya.
"Tadi siapa namanya?" Vergio bertanya pada Vira.
"Kenalin aku-" belum selesai Vira bicara, Firlan langsung memotong ucapan wanita itu.
"Maaf mas, ini pacar saya ... ehem, mas nggak lagi niatan pedekate, kan?" Firlan membuat Vira mengerutkan keningnya
"Pacar?" gumam Vira menatap Firlan tajam, sementara Firlan tersenyum.
"Iya kan, Beb? ehem, marahnya jangan lama-lama, kalau ngambek kebiasaan suka bikin cemburu, maaf Mas kita mau mojok dulu," Firlan lalu menggandeng Vira untuk berpindah tempat, sedangkan Vergio mengendikkan bahunya melihat kepergian dua orang itu.
"Sarap nih orang," gumam Vira.
"Masss, jangan lupa editin ya..." seru Vira yang dibalas senyuman oleh Vergio.
"Issshhh, apaan sih main tarik-tarik aja, rese!" Vira melepaskan tangannya dari Firlan.
"Apa? rese? eh, tuh cowok saya yakin buaya... masih untung saya tolongin," Firlan mencoba mencari alasan, padahal dia juga tidak tahu kenapa dia mengaku sebagai pacar Vira.
"Heh? mau dia buaya kek mau nggak kek bukan urusan kamu, lagian yang ada kamu tuh yang buaya, udah punya pacar tapi ngaku-ngaku jadi pacar aku, buaya tereak buaya," ucap Vira dengan mata yang memicing ke arah pria itu, kemudian Vira langsung masuk ke dalam rumah Amartha.
"Pacar? pacar yang mana? baru juga putus, dasar bocah aneh!" gumam Firlan saat melihat kepergian Vira.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Serangkaian adat sudah mereka jalani, sekarang Satya dan Amartha masuk ke dalam kamar pengantin.
Hari mulai menjelang sore, satu persatu tamu sudah mulai meninggalkan kediaman Rudy, monitor sudah dipindahkan dari kamar Amartha, kini sepasang manusia yang sudah sah menjadi suami istri itu pun berada dalam satu ruangan yang sama. Satya pun menyeringai melihat istrinya yang masih dalam balutan kebaya.
"Disini, nggak ada Monster kecil, jadi aman..." gumam Satya.
"Kamu ngomong apa, Mas?" tanya Amartha yang melihat ke arah Satya.
"Aku cuma bilang kamu, cantik..." bisik Satya yang membuat bulu kuduk Amartha meremang. Baru saja Satya akan mendekati istrinya, dan mulai mengikis jarak diantara mereka, tiba-tiba....
Seseorang mengetuk pintu kamar Amartha, membuat Amartha memalingkan wajahnya dan melihat ke arah pintu.
"Masuk aja nggak dikunci," seru Amartha.
"Yassalaaaaammmmmmm! siapa lagi, sih!" gumam Satya ingin menjambak rambutnya.
----------------
...Hari ini aku terbangin 4 episode loh........
...total 4000 kata lebih......
__ADS_1