Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Pertemuan Tak Sengaja


__ADS_3

Setelah kejadian Satya menolong Amartha, gadis itu melupakan tas dan jaketnya yang tertinggal di rumah Satya. Beberapa hari kemudian, pria itu mendatangi kosan Amartha untuk mengembalikan barang yang tertinggal.


Sedangkan Kenan, pria itu kembali ke kota J setelah mengantar Amartha pulang. Karena ada pekerjaan yang sangat penting. Walaupun sangat lelah, tapi tuntutan pekerjaan membuatnya harus kembali secepatnya.


Beberapa bulan telah berlalu, kesibukan Kenan membuatnya sedikit mengabaikan Amartha. Bahkan untuk sekedar mengabari keadaannya pun, Kenan hanya mengirimnya beberapa chat dalam seminggu.


Hari ini, Kenan sedang mengontrol satu persatu cabang cafe miliknya. Pria itu dengan gagahnya memakai kemeja maroon yang lengannya ditekuk hingga siku dengan bawahan berwarna gelap. Saat Kenan sedang berjalan, tiba-tiba seorang perempuan menabraknya dari arah berlawanan. Sontak, Kenan meraih pinggang perempuan itu dan menahannya agar tidak jatuh.


"Mas Kenan?" pekik perempuan yang masih dalam rengkuhan Kenan.


"Sinta?" Kenan pun tak kalah terkejut melihat Sinta, adik dari sahabatnya.


"Ups, maaf!" Kenan melepaskan tangannya dari pinggang ramping Sinta setelah perempuan itu berdiri sempurna.


"Aku yang minta maaf, Mas, aku yang nggak hati-hati," ucap Sinta dengan wajah penuh penyesalan


"Nggak nyangka ketemu kamu disini, Mas.." Sinta berbasa-basi.


"Kebetulan aku owner cafe ini, Sin..."


"Oh," Sinta mengangguk paham.


"Kita ngobrol di ruanganku aja, yuk?" ajak Kenan pada perempuan yang memakai blouse putih gading dengan rok hitam pendek yang ketat, yang semakin menonjolkan lekuk tubuhnya.


Kenan dan Sinta berjalan beriringan, menuju ruangan Kenan. Pria itu memutar handle pintu, dan mempersilakan Sinta masuk dan duduk di salah satu sudut sofa berwarna hijau pupus.


Kenan pun mendudukkan dirinya di sofa single tak jauh dari Sinta. Sinta menumpangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya, membuat roknya sedikit terangkat.


"Udah lama ya, Sin, nggak ketemu?" Kenan memulai pembicaraan.


"Iya, semenjak lulus SMA kan, Mas Kenan udah nggak pernah main ke rumah," sahut Sinta sembari tersenyum.


"Aku udah pindah soalnya ke kota ini, dulu kan aku disuruh ayahku buat tinggal sama kakek, karena kakek sempet down setelah nenek meninggal, beberapa tahun kemudian kakek pun menyusul kepergian nenek, makanya aku sekarang balik lagi kesini dan bangun bisnis di kota ini," jelas Kenan panjang lebar.


"Oh, gitu, aku baru tau, Mas...soalnya mas Refan nggak pernah cerita, sih!" Sinta mengerucutkan bibirnya.


"Nggak penting juga diceritain, Sin..." Kenan tertawa renyah melihat Sinta yang menggemaskan.


Baginya Sinta sudah seperti adik bagi Kenan. Karena kebetulan, Kenan adalah anak tunggal. Dulu ketika Kenan masih SMA, dia sering berkunjung ke rumah Refan, dan lumayan akrab dengan Sinta yang waktu itu masih SMP.


Tanpa terasa satu jam mereka mengobrol, sebelum Sinta pamit pulang mereka sempat bertukar nomor telepon.


"Aku pamit ya, Mas?" ucap Sinta seraya bangkit dari duduknya.


"Hati-hati di jalan, Sin..." Kenan pun bangkit dan berdiri berjalan pelan menuju pintu dan memutar handle pintu mempersilakan Sinta untuk keluar.

__ADS_1


Sinta yang berjalan di belakang Kenan berhenti sejenak sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


"Makasih ya, Mas..." ucap Sinta sambil mendaratkan cipika-cipikinya, dan berjalan keluar dan meninggalkan aroma parfum yang sangat lembut di ruang kerja Kenan.


Kenan tidak terlalu memusingkan perlakuan Sinta kepadanya. Dia kembali menutup pintu dan duduk di kursi kebesarannya. Mengecek setiap laporan keuangan cafe miliknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara di tempat lain.


"Amartha Dina! noh, pak dokter ganteng mau ngapelin kamu!" ucap Vira yang baru masuk ke kamar sembari membawa keresek yang berisi dua bungkus nasi rames dan dua es jeruk peras.


"Hah?" sahut Amartha yang sedang duduk lesehan dengan setumpuk setrikaan disampingnya.


"Hah, hoh, hah, hoh, cek tuh hape, jangan nyetrika mulu!" Vira meletakkan belanjaannya di atas meja.


"Yeuuuh si Iyem, kalau ngomong ngajakin ribut aja!" kata Amartha yang kemudian mencabut colokan setrikaannya. Segera ia mengecek ponselnya, ternyata benar ada 10 panggilan tak terjawab dari Satya.


"Buruan temuin di teras depan, si Arlin udah ngeces mulu, ngiler liat tuh dokter jutek," ucap Vira yang menyetel kipas dan mengarahkan ke tubuhnya yang berkeringat.


"Sabar, ih!" sarkas Amartha sembari mengganti pakaiannya yang lebih sopan.


Ngapain kesini lagi, sih!


"Ehem," Amartha berdehem seraya duduk di depan Satya.


"Assalamualaikum, nona cantik!" sapa Satya.


"Waalaikumsalam," sahut Amartha dingin.


"Ya Allah itu jutek nggak ilang-ilang," ucap Satya yang membuat lirikan tajam mengarah kepada dirinya.


"Ih nyebelin!"


"Makan siang, yuk? laper," ajak Satya seraya menguap perutnya.


"Terus?" Amartha bertanya dengan muka polosnya.


"Ck, ya ampun, nggak bisa dikode baget sih kamu, hahaha," Satya tertawa melihat Amartha mengerucutkan bibirnya.


"Udah, nggak usah banyak mikir," Satya dengan cepat menarik Amartha berjalan menuju mobilnya. Pria itu membukakan pintu untuk gadis itu, kemudian ia berjalan memutar, masuk ke dalam mobilnya dan duduk dibelakang kemudi. Satya melajukan mobilnya membelah jalan raya menuju sebuah restoran.


Setengah jam berkendara, Satya menghentikan mobilnya di sebuah restoran jepang. Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam.


Situasi restoran sangat ramai, beruntung dirinya sudah reservasi terlebih dahulu. Seorang pelayan menunjukkan meja yang telah di pesan Satya. Satya menarik sebuah kursi dan mempersilakan Amartha untuk duduk. Kemudian ia mendudukkan dirinya di seberang Amartha sehingga ia duduk berhadapan dengan gadis itu. Seorang pelayan menyodorkan buku menu. Namun, Amartha tidak berniat untuk membukanya.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa? sushi?" tanya Satya sembari melihat sekilas daftar menu.


"Terserah Mas Satya aja," jawab Amartha.


"Aku boleh pinjem hape nggak? aku nggak bawa hape, aku mau ngabarin Vira, takut dia ngira aku diculik!" lanjut gadis itu, yang diiring tawa kecil Satya.


Pria bernama Satya Ganendra itu, merogoh kantong jeansnya dan memberikan ponselnya pada Amartha. Sementara Satya memesan makanan, Amartha menekan nomor ponsel Vira.


"Ih, nggak dijawab, sih!" gerutu Amartha.


"Coba lagi, deh!" ucap gadis itu lagi.


Setelah Satya selesai memesan makanan, pelayan pun meninggalkan mereka berdua. Satya duduk manis melihat apa yang dilakukan gadis berambut panjang di depannya itu. Sesekali Satya mengernyit mendengar umpatan yang keluar dari mulut Amartha.


Setelah mencoba menghubungi Vira beberapa kali, akhirnya makhluk yang disebut manusia itu mengangkat teleponnya.


"Halo? ini siapa ya?" ucap Vira.


"Halo, iyem, ini aku Amartha, hape aku ketinggalan di kamar, aku sekarang lagi sama Mas Satya, mungkin sejam lagi baru balik kos!"


"Aiiihhh, si Tukijem main pergi aja! nih nasi rames gimana nasibnya?" Vira meninggikan suaranya.


"Kasih Veny aja, ngomong aja dari aku,"


"Eh, itu tadi ada yang nelpon ke hape kamu, aku angkat soalnya dia nelponin mulu, namanya Sinta," jelas Vira pada sahabatnya.


"Sinta?" Amartha balik bertanya.


"Iya, Sinta ... udah ya, aku mau bobo siang, bye!"


Vira memutus sambungan telepon Amartha.


Amartha mengernyit heran. Pasalnya dia sudah lama tidak berkomunikasi dengan Sinta, bahkan terakhir kali dia menghubungi Sinta, nomornya sudah tidak aktif. Amartha memang tidak pernah mengganti nomor ponselnya sejak kelas 3 SMA, jadi wajar jika Sinta dapat menghubunginya.


"Udah?" Satya memecah lamunan Amartha.


"Eh, iya udah,ehm ... makasih," sahut Amartha seraya memberikan ponsel Satya.


"Hafal banget nomer temen," goda Satya.


"Iyalah, buat jaga-jaga!" jawab Amartha asal, Satya hanya tertawa melihat ekspresi gadis cantik itu.


...----------------...


Tunggu episode selanjutnya ya....

__ADS_1


__ADS_2