Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Tabrak lari


__ADS_3

Pagi ini Kenan akan berpamitan dengan Amartha untuk kembali ke kota J. Kenan memarkirkan mobilnya di depan kosan gadis itu.


Baru saja Kenan akan menelpon Amartha, lelaki itu melihat sang gadis keluar dari gerbang kosan bercat putih itu. Sepertinya dia akan berangkat kuliah.


Kenan bergegas menurunkan kaca mobilnya. Amartha yang melihat itu, langsung menghampiri mobil Kenan kemudian masuk ke dalamnya. Kenan kembali menutup kaca mobilnya.


"Mau berangkat kuliah?" tanya Kenan.


"Iya, Mas, ada kelas pagi," sahut Amartha.


"Kok sendirian?" tanya Kenan lagi.


"Vira nggak masuk kuliah," jawab Amartha. Kenan mengerutkan keningnya


"Lagi sakit, biasa sakit lambung," ucap Amartha lagi.


"Aku pamit ya, sementara kita jalani hubungan jarak jauh dulu ya, Sayang? kamu jaga diri baik-baik, ya? jangan sampai telat makan dan..."


Kenan menggantung ucapannya.


"Dan apa?" tanya Amartha.


"Dan jangan deket-deket sontoloyo itu!" ucap lelaki itu serius.


"Ish..." Amartha mengerucutkan bibirnya tanda tak suka dengan kalimat yang diucapkan pacarnya itu.


Cup


Kenan mengecup singkat bibir Amartha yang mengerucut itu. Kenan tertawa saat melihat ekspresi kaget tergambar jelas di wajah gadis itu.


"Jangan mancing-mancing makanya," kata Kenan melihat


"Siapa juga yang mancing," Amartha kembali memanyunkan bibirnya. Kesal dengan Kenan yang seenak jidatnya mengecupnya.


"Kuliah yang rajin, ya? jangan nakal!" ucap Kenan sembari mengacak-acak rambut gadis itu.


"Iya Iya, ih..." sahut Amartha kesal sambil merapihkan lagi rambutnya. Sementara Kenan tertawa senang.


"Aku antar kamu kuliah ya?" ucap Kenan yang kemudian mendapat anggukan dari gadis di sampingnya.


Kenan melajukan mobilnya menuju kampus Amartha. Amartha yang memakai setelan baju seragam putihnya menata ulang rambutnya lagi memakai hairnet. Karena penampilan mahasiswi disana harus rapi tidak boleh dengan rambut yang digerai atau di kucir kuda.


Setelah sampai didepan kampus, Kenan menghentikan mobilnya.


"Aku masuk ya, Mas?" tutur Amartha melepas sabuk pengaman yang membelitnya.


"Iya, Sayang," Kenan meraih tengkuk Amartha.


Cup


Kenan mengecup kening Amartha. Amartha memejamkan matanya mengira lelaki itu akan mengecup bibirnya. Kenan yang melihat itu, tersenyum jahil.


Amartha kemudian membuka matanya saat merasakan kecupan dikeningnya. Dan dilihatnya senyum jahil Kenan yang membuatnya merasa sangat malu.


"Hahahahaha," Kenan tertawa renyah sementara Amartha memalingkan wajahnya yang kini terasa sangat panas.


Kenan meraih tubuh kekasihnya itu dan dipeluknya erat.


"Aku bakalan kangen banget sama kamu, Sayang! terutama bibir dengan rasa cherry itu," bisik Kenan yang membuat Amartha semakin merona.

__ADS_1


Amartha membalas pelukan Kenan merasakan kehangatan dari lelaki itu. Kemudian Kenan merenggangkan pelukannya dan memberi jarak keduanya.


"Aku masuk ya, Mas! kamu hati- hati di jalan dan jangan lupa kabari aku, ya?" titah gadis itu.


"Iya, Sayang..." ucap Kenan.


Amartha keluar dari mobil itu dan masuk ke dalam area kampusnya. Setelah Amartha tak terlihat lagi, Kenan melajukan mobilnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan berlalu.


Rindu mulai bergelayut di hati Kenan. Ingin sekali mengunjungi gadis itu, tapi banyak pekerjaan yang sedang menantinya. Apalagi sekarang dia baru saja membuka cabang baru untuk cafe miliknya. Sementara Amartha sibuk dengan kuliahnya yang semakin padat.


Beberapa kali Satya berkunjung ke kosannya. Amartha tidak bisa menolak, karena pria itu tidak akan pulang sebelum gadis itu menemuinya. Amartha kesal dibuatnya. Pria itu datang setiap akhir pekan dengan membawa berbagai makanan. Karena Amartha selalu menolak ketika diajak dinner. Sampai saat ini Amartha tidak tahu apakah Satya masih kuliah atau sudah bekerja. Yang jelas Amartha tidak pernah menanyakan itu.


Sore ini, Vira mengajak Amartha ke toko buku. Memburu novel best seller yang sudah Vira idam-idamkan.


"Udah Siap?" tanya Vira yang sudah duduk di motornya.


"Udah!" sahut Amartha lantang setelah mengenakan jaket dan helm ungu miliknya dan tak lupa tas punggung kecil berwarma coklat.


Kedua gadis itu membelah kota dengan mengendarai motor matic hitam milik Vira. Toko buku yang menjadi tujuan mereka berdua berada di pusat Kota, yang membutuhkan kurang lebih 30 menit untuk sampai disana.


Ketika Vira melewati Jalan Makam Pahlawan yang agak sedikit menanjak, tiba-tiba motornya tersenggol oleh seorang pngendara motor yang sedang mengebut.


Brukkkk!


Vira yang kaget tidak bisa mengendalikan motornya dan mereka berdua jatuh diatas aspal. Beruntung jalanan tidak sedang ramai, keduanya hanya tertindih motor yang tiba-tiba oleng.


"Awhhhhhhh!" pekik kedua gadis itu.


"Astagfirllah! Mbak nggak apa -apa?" tanya lelaki yang memandang Vira dan Amartha bergantian.


"Nggak apa-apa, Mas! Makasih..." ucap Vira sambil meringis kesakitan. Sedangkan Amartha masih terduduk mencoba untuk berdiri.


"Mbak, kayaknya harus ke rumah sakit! Di depan jalan itu ada rumah sakit terdekat, mau saya antar?" tawar pria itu.


"Makasih, Mas. Nggak apa-apa, nanti kami kesana sendiri, lagian cuma lecet aja," sahut Amartha.


Pria itu pun pergi meninggalkan kedua gadis itu yang berada di tepi jalan. Amartha dan Vira mencoba untuk menaiki motornya.


"Awh!" Amartha memekik kesakitan saat dia akan menaiki motor.


Vira yang sudah terlebih dahulu duduk dan menyalakan mesin motornya, mendadak mematikan mesin dan turun dari motor.


"Coba aku lihat kakimu, Ta!" Vira menghampiri Amartha dan berjongkok melihat kaki Amartha, dilihatnya ada luka bakar akibat tersentuh knalpot motor. Dan beberapa memar dan lecet di kedua kaki sahabatnya itu. Karena Amartha yang memakai jeans 3/4 berbeda dengan Vira yang memakai jeans panjang.


"Gimana nih, Ta?" tanya Vira.


"Udah, aku coba naik aja Vir!"


"Beneran, bisa?" Vira meragukan jawaban Amartha.


"Awh! iya bisa kok," sahut Amartha.


Dengan dibantu Vira, Amartha menaiki motor itu. Vira melajukan motor ke rumah sakit terdekat. Vira memapah Amartha menuju IGD, sementara Amartha berbaring di ranjang pasien, Vira keluar untuk mengurus pendaftaran pasien di bagian administrasi.


Seorang pria dengan jas dokternya yang didampingi oleh seorang perawat, menghampiri Amartha yang tengah terbaring.

__ADS_1


"Amartha?" ucap pria itu.


"Mas Satya!" pekik Amartha.


"Kamu Kenapa?" tanya Satya panik.


"Aku ... aku jatuh dari motor," jawab Amartha lirih.


"Ditabrak atau nabrak?" Satya mencecar Amartha dengan pertanyaan.


"Ditabrak," jawab gadis itu lagi.


"Coba, aku lihat luka kamu, ya?" Satya mulai melihat kaki Amartha.


"Alat dan obatnya taruh disini saja. Biar saya yang mengerjakannya sendiri," ucap Satya dingin.


"Baik, dok!" jawab perawat wanita itu.


Satya sangat tampan dengan memakai jas dokternya, tidak ada Satya yang slengean. Satya sangat dingin saat berbicara dengan perawat tadi. Berbeda saat berbicara dengan Amartha, wajahnya sangat manis.


"Tahan, aku obati dulu lukanya!" kata Satya sambil menatap wajah Amartha.


"Awh!"


"Perih, ya? tahan sebentar ya, luka bakarmu harus dioles obat dulu, kamu nggak mau ini akan berbekas, kan?" ucap Satya yang diangguki oleh Amartha. Amartha menahan segala perih yang ia rasakan. Dengan cekatan Satya mengobati luka Amartha.


"Sudah, selesai!" ucap Satya seraya melepas sarung tangan medisnya dan menyemprot tangannya dengan cairan alkohol.


"Maaf, sakit ya?" ucap Satya lagi sambil mengusap lembut pucuk kepala Amartha.


"Ta, maaf lama!" ucap Vira yang baru saja datang. Vira menatap Satya kaget, ternyata dokter yang menangani Amartha adalah pria yang sering menyambangi sahabatnya itu.


"Nggak apa-apa, lagian udah selesai, Vir!" tutur Amartha.


"Kaki kamu nggak apa-apa, Vir?" lanjut Amartha.


"Nggak, ini cuma lecet dikit," sahut Vira sambil tersenyum.


"Kenalin Vir, ini Mas Satya," ucap Amartha merasa tidak enak karena dari tadi Satya bersikap acuh terhadap Vira.


"Salam kenal, aku Vira," tutur Vira menyunggingkan senyumnya.


"Oh ya, Amartha biar aku yang antar," ucap Satya tanpa membalas perkenalan dari Vira.


Nih, orang ketus banget jadi cowok!


"Iya, mendingan kamu dianter aja sama dokter Satya, Ta!" tutur Vira dengan perasaan sedikit dongkol dengan dokter songong itu.


"Kamu tunggu disini, ya? aku urus administrasinya dulu!" ucap Satya meninggalkan kedua sahabat itu.


"Ish Vira! Mas Kenan bisa marah kalau tau!" Amartha melirik Vira kesal.


"Nggak usah dikasih tau! lagian ini darurat!" kata Vira sambil cengengesan dan menaik turunkan alisnya.


...----------------...


Kalau suka dengan cerita ini, tinggalkan jejak komen dan like nya ya....kirim bunga🌹 atau kopi ☕ juga boleh....


Makasih...😁😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2