
"Maksudnya?" Vira mengernyitkan keningnya.
"Hahaha, lucu banget wajah kamu kalau lagi kaget gitu, ya?" Ricko malah tertawa. Vira menautkan kedua alisnya.
"Hanya becanda, Vira ... walaupun aku cinta sama kamu, aku nggak akan jadi orang ketiga. Tenang aja..." ucap Ricko yang membuat Vira menatap pria itu lekat-lekat.
Pria itu bicara sangat santai seolah tak membicarakan sesuatu yang penting, sementara hati Vira meletup-letup seperti popcorn.
"Gadis kecil itu sekarang sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik, namun sudah milik orang lain. Tapi bisa ketemu kamu lagi aja aku udah bersyukur banget," celetuk Ricko yang melipat tangannya di depan dada.
"Kamu tau nggak? saat papa mu ke panti tanpa membawa gadis kecil yang selalu mengikat rambutnya seperti ekor kuda, aku sangat kecewa. Padahal aku sudah menyiapkan sebuah permen warna-warni buat si gadis kecil," Ricko masih mengawang ke masa lalu, sembari terkekeh. Vira masih menyimak, dia juga tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Aku menyimpan dua permen besar itu di dalam laci di kamarku, dan berharap si gadis kecil akan datang. Tapi sayangnya, hari itu datang setelah kita sama-sama sudah dewasa, disaat permen itu mungkin sudah jadi fosil,"
"Mana ada, bukannya jadi fosil yang ada lumer tuh permen!" celetuk Vira.
"Entahlah, aku meninggalkannya disana saat aku dibawa oleh ayah angkatku," Ricko mengendikkan bahunya.
"Vira...?"
"Ya?" sahut Vira.
"Aku ingin kasih kamu sesuatu, tunggulah disini..." Ricko segera beranjak dari duduknya, Vira memutar badannya melihat punggung Ricko yang kian menjauh.
Ricko membuka laci meja kerjanya lalu mengeluarlan sebuah permen berbentuk bulat pipih yang berwarna-warni. Ricko duduk disamping Vira, ia memberikan apa yang ada di tangannya.
"Buat kamu," kata Ricko.
"Apakah ini permen fosil yang ada di panti?" tanya Vira.
"Coba saja dulu, kalau terjadi sesuatu aku akan panggil ambulance," seloroh Ricko.
"Rasanya manis dan aku masih hidup!" seloroh Vira. Ricko mengacak rambut Vira, dia tertawa melihat kepolosan gadis kecilnya. Vira menatap Ricko, dia tidak menyangka bahwa Ricko akan mengatakan perasaannya dengan cara sesantai itu.
"Kamu nggak perlu merasa nggak enak, aku mengatakannya padamu agar hatiku merasa lega, dan kamu akan selalu jadi adik kecilku. Lagipula aku pikir-pikir, lucu juga bocah kecil sudah bisa merasakan perasaan sedalam itu pada seorang gadis," kata Ricko.
"Maaf," kata Vira.
"Kenapa minta maaf? kamu nggak salah," kata Ricko.
__ADS_1
"Oh, ya? bagaimana jika kamu membantuku di kantor, itung-itung supaya kamu nggak bosen di rumah..." lanjut Ricko.
"Bicaralah dengan pacarmu yang masih kekanak-kanakan itu, aku akan menunggu jawabanmu. Tenang saja, ini nggak ada hubungannya dengan perasaan," Ricko tersenyum.
"Baiklah aku akan pikirkan,"
Matahari mulai mengeluarkan semburat oranye. Seorang wanita dengan perut buncitnya sedang berjalan di sekitar tempat tinggalnya. Beberapa tetangga pun menyapanya, karena sudah lama ia tak melihat wanita yang kini sudah bersuami itu.
"Mas, aku pengen jambu itu ... di rumahnya pak Dirga," ucapnya menunjuk pohon jambu air milik tetangganya. Satya yang memang sudah melepas perban di tangannya pun ngeri-ngeri sedap dengan permintaan istrinya itu.
"Tapi nggak harus aku yang manjat, kan?" tanya Satya.
"Kalau iya emang kenapa?" Amartha mengerucutkan bibirnya.
"Nih," kata Satya yang menunjukkan lukanya yang sudah menutup.
"Ya kali aku suruh kamu manjat, Mas..." ujar Amartha. Satya mengelus dadanya lega.
"Ya udah kita ijin dulu sama yang punya," kata Satya.
Satya menggandeng istrinya, mereka mendatangi rumah sederhana yang letaknya persis di samping rumah orangtua Amartha.
"Waalaikumsalam," ucap seorang pria diiringi suara kunci yang diputar. Tak lama munculah seorang pria paruh baya dengan celana pendek dan kaos hitam berkerah.
"Maaf, Pak Dirga ... Saya Satya dan ini istri saya Amartha. Kebetulan istri saya lagi ngidam jambu air," kata Satya menyalami sang pemilik pohon.
"Walah, Amartha lagi ngidam jambu, tho ... ya sudah Mas ambil yang banyak sekalian!" tanya pria itu yang memang sudah kenal dengan Amartha.
"Bisa manjat, tho?" lanjut pak Dirga.
"Bisa!" kata Satya, padahal tangannya baru saja sembuh.
"Mas?" cicit Amartha.
"Kalau boleh, saya minta keresek, Pak..." kata Satya.
"Baik, sebentar saya ambilkan..." pak Dirga masuk ke dalam rumahnya.
"Tanganmu kan masih sakit, Mas? terus gimana manjatnya?" tanya Amartha. Baru saja Satya akan menjawab pertanyaan istrinya, pak Dirga sudah kembali dengan keresek hitam di tangannya.
__ADS_1
"Ini, Mas kereseknya..." kata pak Dirga seraya memberikan keresek hitam pada Satya.
"Kamu tunggu disini," ucap Satya menyuruh Amartha untuk duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga yang berhadapan dengan pohon jambu.
"Tadi bilangnya nggak mau manjat," gumam Amartha.
Satya menekuk celana jeansnya sebatas lutut, lalu ia mulai memanjat pohon jambu. Kakinya begitu lincah bergerak ke atas, walaupun ia harus merasakan perih karena luka yang sudah mengering bergesekan dengan batang pohon jambu yang kasar. Satya mulai memetik jambu, yang terlihat sangat menggiurkan itu.
"Wah, suamimu pinter manjat juga ya, Ta?" kata pak Dirga yang berdiri tak jauh dari Amartha, kepalanya mendongak melihat Satya memasukkan jambu yang ke dalam keresek hitam.
"I-iya, Pak..." sahut Amartha.
"Pohon jambu ini sudah ada dari kamu belum lahir, dulu Rosa juga ngidam jambu ini dan Rudy yang disuruh manjat ke atas. Sudah sampai diatas, dia malah digeroyok semut, akhirnya dia turun dan saya yang harus menggantikan dia manjat pohon itu," kata pak Dirga yang memang sudah lama bertetanggaan dengan Rudy.
"Jadi pohon ini udah legend banget ya, Pak...?"
"Iya betul. Karena buahnya selalu melimpah dan rasanya juga manis, jadi sayang kalau ditebang..." jelas pak Dirga.
"Sepertinya suamimu sudah mulai diserang para penghuni disana," pak Dirga malah tertawa kecil melihat Satya yang sesekali menggaruk lehernya di atas pohon jambu.
Setelah dirasa cukup, pria itu turun dengan jurus monyet terjun. Ia menyerahkan keresek itu pada istrinya. Amartha perlahan beranjak dari duduknya.
"Segitu cukup, kan?" tanya Satya yang menggeliat karena semut yang masuk ke dalam bajunya.
"Iya, cukup..." sahut Amartha.
"Ini baru namanya suami siaga," kata pak Dirga memuji Satya yang langsung menjereng giginya.
"Terima kasih banyak, Pak ... kalau begitu kami permisi," ucap Satya yang langsung mengajak Amartha pulang, ia sudah tidak tahan dengan gigitan semut yang sudah membuat kulitnya merah-merah dan juga bentol-bentol di sekitar leher dan pipinya.
"Semut nggak beradab!" umpat Satya saat mereka sudah menjauh dari rumah pak Dirga.
"Jangan cepet-cepet jalannya..." kata Amartha.
"Aku udah nggak tahan, Yank..." ucap Satya.
"Semutnya udah kemana-mana ini," lanjut Satya yang mau tidak mau memperlambat jalannya supaya bisa menyamai langkah pendek Amartha. Wanita itu menutup mulutnya dengan punggung tangannya, menahan tawa agar tidak meledak.
...----------------...
__ADS_1