Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Jangan lakukan Ini Lagi!


__ADS_3

"Amartha!" teriak Satya saat melihat satu sosok wanita.


"SURPRISEEEEEEEEEEE!" teriak semua orang disertai dengan lampu kapal yang menyala, semuanya menjadi terang benderang. Terlihat semua orang berkumpul dengan drescode berwarna putih, disana ada orangtua Satya dan Amarta, Prisha, Aaraf, dan juga Vira.


Mata pria itu menangkap satu sosok yang membuatnya hampir gila, mencari keberadaan wanita itu. Satya berlari ke arah istrinya yang berdiri tak jauh darinya, ia segera memeluk tubuh Amartha dengan sangat posesif. Terlihat jelas raut wajah yang takut bercampur khawatir,


"Kamu bikin aku khawatir. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu, Sayang!" ucap Satya seraya mendekap tubuh Amartha, ia lalu mengecup pucuk kepala istrinya itu.


"Jangan pernah lakuin hal kayak gini lagi! mengerti?" lanjutnya yang tak juga melepaskan pelukannya.


"Maaf..." ucapan singkat dari Amartha, ia sangat merasa bersalah karena sudah membuat Satya sangat khawatir, terlihat dari penampilan suaminya yang begitu berantakan, dengan jas yang tidak dikancing dan dasi yang sudah dilonggarkan.


"Happy birthday suamiku, I love u..." ucap Amartha.


"Sebenernya itu rencana Prisha dan mami, maaf, ya? ternyata mereka merencanakan semua ini, sudah lama ... seseorang yang mengawasi kita di resort itu juga kerjaan temen kamu, Aaraf. Tuh katanya, dia sampe nggak boleh pulang ke jerman sama Mami, dia disuruh nakut- nakutin kita di pulau itu, dan tentang bunga misterius itu ya kerjaan dia juga, Mas. Aaraf dan Prisha liat aku mau buang bunga, mereka nyuruh aku ikut mereka. Dan ya, mereka ternyata udah siapin ini buat kejutan ulang tahun kamu, maaf ya? udah bikin kamu khawatir," ucap Amartha seraya menjarak tubuh keduanya.


"Jangan lakukan ini lagi!" ucap pria itu.


"Jangan pernah ngelakuin hal kayak gini lagi," lanjutnya


"Udah dong pelukannya, nih lilin udah hampir nggak berbentuk lagi!" celetuk Prisha yang sudah menyalakan lilin yang berbentuk angka 2 dan 7 diatas kue yang sangat besar, yang ada di ditaruh di meja.


"Tiup lilinnya, Mas..." ucap Amartha yang mengajak Satya untuk mendekat ke arah kue tart.


"Bareng- bareng ya?" kata Satya.


"Satu ... dua ... tiga,"


Dan lilin pun padam saat ditiup Amartha dan Satya berbarengan. Pria itu kembali mendekap erat istrinya, disinilah orangtua Amartha sangat yakin kalau Satya memang benar- benar mencintai putrinya. Ucapan selamat mengalir dari orang- orang terdekat, membuat pria itu sangat bahagia, walaupun cara yang mereka lakukan terlalu ekstrim baginya. Karena dia tidak sanggup jika harus mengalami kejadian seperti tadi, istrinya hilang secara tiba-tiba membuatnya hilang kendali.


"Selamat ulang tahun, Nak Satya." ucap Rosa dengan Rudy yang ada disamping wanita paruh baya itu.


"Terima kasih, Mah..." jawab Satya yang bahunya ditepuk Rudy pelan, pria itu tersenyum padanya.

__ADS_1


Kapal yang ditumpangi mereka berlayar membelah lautan. Satya yang sudah mengganti pakaiannya dengan kemeja putih yabg ternyata sudah disiapkan di dalam kapal pun bergabung dengan keluarga dan sahabat yang sudah lama menunggunya.


"Kamu memang cantik, Amartha. Dan lucunya aku jatuh cinta pada istri sahabatku sendiri," gumam Aaraf dalam hatinya, saat melihat Amartha sangat cantik dengan dress berwarna putih, apalagi ditambah dengan sentuhan make up tipis yang membuatnya terlihat sangat menawan.


"Saat aku melihat kamu menerima bunga itu, aku merasa senang, walaupun sebenarnya itu bukanlah termasuk dari rangkaian rencana yang dibuat untuk party ini, aku sengaja melakukan itu karena aku sangat tertarik dengan kamu, Amartha!" batin Aaraf yang tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok cantik yang duduk bersebelahan dengan Satya.


Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu, Amartha tersenyum pada seorang pria yang diam-diam mencintainya. Aaraf membalas senyuman itu, dan meneguk minuman yang ada ditangan kanannya, sementara Amartha mengalihkan pandangannya ke arah Satya.


Mereka semua menikmati makan malam diatas kapal pesiar pribadi milik keluarga Ganendra.


Gelak tawa mewarnai acara makan malam yang mewah ditengah lautan. Firlan yang ternyata sudah mengetahui rencana itu sedari awal tak bisa menghindar dari timpukan bosnya.


"Pantas saja, kamu bawa mobil seperti kura-kura!" kata Satya yang membuat Firlan berhenti mengiris steak yang ada di atas piringnya.


"Ternyata kamu juga bersekongkol dengan mereka semua, dasar asisten penghianat!" ucap Satya yang menatap kesal pada Firlan.


"Ya itung-itung kesempatan, kapan lagi bisa ngerjain bos sendiri, jujur saya sangat senang, Tuan!" celetuk Firlan dengan senyum mengejek yang membuat semua orang tertawa.


"Kamu sepertinya punya dendam tersendiri dengan bos kamu ini ya, Lan?" tanya Abiseka yang melihat Satya dan Firlan yang jarang sekali terlihat akur, selalu nyolot-nyolotan.


"Ish, emang tuh orang cocoknya sama Papi," gumam Satya melirik Firlan dan papinya yang tengah tertawa.


"Oh ya, Sat? kapal ini hadiah dari mami sama papi," ucap Sandra. Kapal pesiar yang harganya selangit itu menjadi kado ulang tahun untuk Satya, namun belum juga Satya menjawab, Prisha lebih duluan menyerobot.


"Berarti kalau Prisha ulang tahun juga dikasih kapal kayak gini ya, Mam?" kata Prisha tidak tahu malu.


"Nggak," sahut Sandra singkat.


"Oh, atau mau dikasih jet pribadi?" kata Prisha yang sudah membayangkan kalau dirinya akan diberi barang mewah seperti itu.


"Nggak juga, ehm, kalau kamu cukup dikasih kuaci sepuluh kantong aja udah lebih dari cukup," celetuk Sandra yang membuat gadis itu mencebikkan bibirnya.


"Ihhhh, Mamiii..." teriak Prisha yang membuat semua orang tertawa, bahkan Rosa dan Rudy bisa tertawa lepas ditengah keluarga yang tajir melintir namun gesreknya juga bikin perut jadi sakit.

__ADS_1


Makan malam sudah selesai, semua orang sedang bercanda di dalam, namun Satya tak melihat Aaraf. Pria itu keluar dari kapal dan melihat Aaraf sedang berdiri diatas geladak, sepertinya temannya itu sedang menikmati suasana laut.


Satya berdiri di samping Aaraf, pria itu kemudian menoleh ke arah Satya.


"Happy birthday, anyway..." ucap Aaraf lalu menatap kembali ke arah laut lepas.


"Thanks," jawab Satya singkat.


"Jadi ditahan sama mami?" Satya beroengahan pada besi yang dicat berwarna putih.


"Iya nih, tau sendiri mami kamu suka maksa," sahut Aaraf sambil nyengir.


"Niat banget kalian," ucap Satya yang membuat Aaraf tertawa.


"Hahahahahaha, ya begitulah..."


"Bagaimana?" tanya Satya ambigu.


"Apanya?" Aaraf menengok ke arah Satya dengan mengerutkan keningnya.


"Calon istri," ucap Satya.


"Nggak ada!" Aaraf menjawab singkat.


"Nggak mungkin, Aaraf playboy cap badak nggak punya cewek," Satya tersenyum mengejek, namun Aaraf tak menimpalinya.


"Seriusan? nggak mungkin," tanya Satya sembari menatap Aaraf, lalu menautkan kedua alisnya


"Udah Insaf?" lanjutnya.


"Nggak juga hahahaha..." Aaraf malah tertawa menjawab pertanyaan Satya


"Yang disuka sih ada, tapi..." lanjut Aaraf sambil menatap Satya serius.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2