Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Saling Bertemu


__ADS_3

Amartha sudah siap untuk acara yang akan dilaksanakan pagi ini.


Satya mendekat ke arah sofa yang ada di kamar mereka, dimana istrinya sedang duduk.


"Cantik banget, sih?" Satya memuji Amartha yang cantik dengan make up flawless-nya. Rambutnya yang panjang ditata dengan sangat apik. Pria itu duduk disamping Amartha.


"Dih gombal," ucap Amartha tersipu malu.


"Kenapa ya, Dek? setiap ayah muji ibu, dibilang gombal! padahal kan ayah ngomong sesuai fakta yang ada," Satya mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulutnya dengan perut bulat istrinya. Ia pun mendaratkan tangannya dan mengusap lembut tempat calon anaknya berada.


"Kamu setuju, kan? kalau ayah bilang ibu itu wanita paling cantik? iya ... Dedek emang paling bisa ngertiin ayah," ucap Satya mengoceh sendirian.


"Mana ada bayi dalem perut bisa ngejawab pertanyaan kamu, Mas..." kata Amartha.


"Woh, kamu lupa ya? ada ikatan batin antara ayah dan anak, udah pasti aku paham apa yang anakku bicarakan di dalam," Satya kembali menegakkan tubuhnya, ia mengusap punggung istrinya.


"Dasar," Amartha menepuk tangan suaminya.


"Eeh, nggak percaya," ucap Satya.


"Percaya, percaya..." kata Amartha tersenyum.


"Katanya semalem pinggangnya pegel, sekarang udah mendingan belum?" tanya Satya sambil memberi pijatan kecil di area pinggang Amartha.


"Nggak begitu, Mas..." ujar Amartha.


"Andai aja rasa sakit, rasa nggak nyaman itu bisa dipindah ke aku, aku rela ngerasain semua itu daripada liat kamu tersiksa kayak gini," ucap Satya, ia menggeser sedikit tubuh istrinya. Lalu dengan lembut ia memijat pinggang Amartha sambil terus mengoceh.


"Halah, waktu itu kamu mual-mual juga kamu nggak kuat, Yank ... yang ada kasihan Kak Firlan yang repot karena ngurusin Mas di kantor..." Amartha mencibir perkataan Satya, yang katanya rela menggantikan rasa tidak nyaman yang dialaminya selama masa kehamilan.


"Ya biarin aja, Yank ... yang penting kan kamu nggak ngerasa sakit atau ngerasa hal yang nggak enak," sahut Satya. Satya menghentikan pijatannya, ia menggeser kembali badan istrinya agar menghadap dirinya


"Dedek, harus sayang sama ibu, Dedek nggak boleh bikin ibu sedih, kita jadi tim yang solid buat bikin ibu bahagia terus, setuju?" Satya kembali mengajak calon anaknya bicara.


"Iya, Ayah..." ucap Amartha mewakili sang anak untuk menjawab.


"Yaudah, kita keluar yuk, Mas? pasti udah rame di luar," ajak Amartha.


Satya dan Amartha keluar untuk menyapa para sahabat dan kerabat yang sudah datang. Sandra yang sebentar lagi akan mendapatkan cucu pertamanya pun sangat sumringah pagi ini.


Amartha sangat cantik dengan balutan kain jumputan dengan model kutu baru warna biru tua. Seorang pria dengan blangkon di kepalanya, dengan setia menggandeng tangan wanitanya menuruni setiap anak tangga. Mereka berjalan ke arah depan.


"Mah," seru Amartha saat melihat Rosa.

__ADS_1


"Sayang," ucap Rosa yang kemudian menghampiri Amartha dan Satya.


"Papa sama Mama kapan dateng?" tanya Amartha.


"Kok nggak ngabarin Amartha, sih?" lanjutnya sambil cemberut.


"Maaf, Sayang ... kemarin ada reuni SMA papa kamu, nggak enak kalau nggak dateng. Lagian harus waspada. Reuni memang ajang temu kangen dengan kawan lama, yang bikin pusing itu kalau kangennya berlanjut sampai chattingan dan telfonan tiap malam," jawab Rosa panjang lebar.


"Sat, temenin papa kesana," Rudy menunjuk arah luar.


"Perempuan kalau sudah ngobrol bikin ngeri, mending kita menyelamatkan diri," bisik Rudy.


"Yank, aku sama papa kesana dulu, ya?" ujar Satya menunjuk ke arah tempat yang akan dilakukannya prosesi adat.


"Iya, Mas..." sahut Amartha.


"Ayok, Pah..." ajak Satya pada mertuanya.


"Papa kesana ya," ucap Rudy anak dan istrinya.


"Oke, Pah..." sahut Amartha.


Satya dan Rudy memilih untuk menyingkir dari pembicaraan para wanita. Ia menarik salah satu kursi yang melingkari sebuah meja. Satya mempersilakan Rudy untuk duduk.


"Rumah udah selesai finishing, Pah?" tanya Satya yang juga duduk di kursi yang lain dekat dengan Rudy.


"Sudah, Nak. Barang-barang juga sudah masuk semua, terima kasih ya? tapi buat kami rumah itu terlalu luas, Nak..." kata Rudy.


"Nggak akan, Pah ... karena nanti Papah punya banyak cucu. Jadi saat kita berkunjung ke rumah Papa, kita tidak kekurangan tempat..." ucap Satya, mereka berdua pun tertawa membayangkan jika Satya dan Amartha menghasilkan banyak anak, dan suasa rumah itu pun menjadi ramai.


"Pah, mungkin lusa Satya akan kirimkan beberapa asisten rumah tangga untuk membantu Papa dan Mama membersihkan dan merawat rumah itu, setidaknya Mama dan Papa tidak akan kelelahan dan kesepian," kata Satya.


"Ah, jangan terlalu berlebihan, Nak..." Rudy merasa tidak enak.


"Nggak berlebihan, Pah ... Satya hanya ingin Papa dan Mama bisa menikmati masa tua dengan nyaman, minggu depan mungkin Satya dan Amartha akan datang, kita akan membuat kejutan yang manis untuk putri kesayangan Papa," ujar Satya.


"Terima kasih ya, Nak ... kamu sudah menyayangi Amartha dan memperlakukannya dengan sangat baik," ujar Rudy. Satya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Dari kejauhan terlihat Sinta datang bersama dengan Fendy, Amartha yang sedang asik mengobrol tak melihat sahabatnya itu sampai Sinta menepuk pundaknya.


"Ta..." ucap Sinta.


"Hey, Sin ... Kak Fendy..." pekik Amartha, ia senang melihat kehadiran Sinta.

__ADS_1


"Aku kira kamu nggak dateng," lanjut bumil cantik itu.


"Aku pasti datenglah, udah dikirimin baju juga masa iya nggak dateng," kata Sinta.


"Tante apa kabar?" Sinta menyalami tangan Rosa.


"kabar tante, alhamdulillah baik, kalian mengobrolah. Tante akan kesana dulu," Rosa melangkah menjauh dari para anak muda.


"Hai, Kak Fendy..." sapa Amartha


"Selamat, ya..." ucap Fendy.


"Terima kasih," jawab Amartha.


"Oh, iya ini dari kami, semoga kamu suka..." Sinta memberikan sebuah kalung berlian yang tersimpan dalam sebuah kotak berbentuk persegi berwarna navy.


"Wah, dapet hadiah ... padahal nggak perlu repot-repot," ucap Amartha setelah melihat isi dari kotak yang diberikan Sinta.


"Hai, Sayang ... kita ketemu lagi nih," ucap Sinta pada perut sahabatnya.


"Kamu cantik banget, Sin dengan rambut baru," Amartha memuji penampilan baru Sinta.


"Makasih, Ta..."


Tak lama, Vira datang dengan Firlan mereka langsung mencari keberadaan Amartha.


"Hai, bumil..." seru Vira.


"Deuh, Juminten cakep banget hari ini," kata Amartha.


"Oh harus, dong!" ucap Vira dengan gaya khasnya.


"Vira, kenalin ini Sinta ... Sinta kenalin ini Vira sahabat aku juga," kata Amartha memperkenalkan dua orang wanita yang memakai baju dengan warna senada.


"Sinta," Sinta mengulurkan tangannya.


"Vira," Vira menjabat tangan Sinta.


"Kak Fendy, kenalin ini Kak Firlan pacarnya Vira ... dan ini Kak Fendy..." ucap Amartha yang tidak taulhu status Fendy dan Sinta apakah pacar atau sekedar teman.


"Calon suaminya Sinta," Fendy memperkenalkan dirinya.


"Salam kenal," ucap Firlan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2