
"Vira?" gumam Ricko. Ia mengerutkan keningnya.
"Oh, ya ada kok," lanjut Ricko.
"Kakak ngomong sama siapa?" tanya Vira.
"Firlan," jawab Ricko. Ricko menggeser tubuhnya, dan terlihat satu sosok yang sedang tidak ingin ia temui.
"Hai..."
"Masuklah, dan bicara di dalam..." ucap Ricko.
"Vira, aku berangkat ... Lan, duluan ya?" kata Ricko, ia melangkah keluar. Hari ini ada meeting penting jadi dia harus datang lebih awal.
Firlan masih berdiri diambang pintu, Vira masih memandangnya dengan tatapan yang datar. Wanita itu melangkah ke depan semakin dekat dengan Firlan, lalu dengan cepat ia menutup pintu. Namun secepat kilat Firlan segera mencegahnya.
"Tunggu!" Firlan menahan pintu.
"Aku mau ngomong sama kamu," ucap Firlan cepat.
"Sorry tapi aku nggak. Dan aku nggak mau ribut disini. Lebih baik sekarang kamu pergi," ucap Vira dengan suara pelan namun dengan penuh penekanan.
"Aku janji nggak akan bikin ribut, aku janji..." kata Firlan, yang sudah uring-uringan dari kemarin tak dapat menemui wanitanya.
"Vira kamu ngomong sama siapa?" tanya Dewi yang kebetulan sedang ada di dapur mengambil minuman untuk Raharjo.
"Emhh ini tukang paket salah alamat!" seru Vira.
"Kayak lagu dangdut aja pake salah alamat segala" kata Dewi.
"Aku bukan tukang paket, Vira!" ucap Firlan.
"Udah deh sana pergi," Vira berusaha menutup pintu namun tak juga berhasil.
"Nggak! sebelum kamu jelasin kenapa kamu resign," Firlan bersikeras tidak mau pergi.
"Loh, kamu gimana sih? orang yang datang Firlan kok kamu bilang tukang paket?" ucap Dewi mengagetkan Vira. Wanita itu ternyata sudah ada di belakang Vira.
"Iya, paket cinta mungkin maksud Vira..." kata Firlan.
"Ada-ada saja kamu, Firlan..." ucap Dewi dengan logat jawa.
"Vira ada tamu kok ngobrol di depan pintu, ora ilok, nduk ..." ucap Dewi ia berjalan masuk dengan membawa segelas air putih di tangannya. Vira menggeser tubuhnya memberi akses Firlan untuk masuk. Vira segera menutup pintu dan berjalan masuk dengan Firlan.
__ADS_1
"Apaan tuh ora ilok?" tanya Firlan pada Vira. Namun sang pacar tak juga menjawab.
"Ora ilok itu apa ya, kurang lebih artinya tidak sopan atau pamali juga bisa..." Dewi menjawab pertanyaan pacar dari anaknya itu.
"Duduk dulu, Nak..." ucap Dewi lagi.
"Vira, buatkan minum untuk Firlan..." ucap Dewi pada Vira yang masih anteng berdiri.
"Iya, Maa..." jawab Vira.
"Sekalian, bikinin roti bakar ... Firlan pasti belum sarapan," ucap Dewi.
"Dia kalau sarapan pagi-pagi malah nanti konslet perutnya, Maa..." kata Vira, Firlan menahan emosinya. Dia harus sabar menghadapi Vira yang sedang marah padanya.
"Memangnya seperti itu, Nak?" tanya Dewi.
"Emh, iya ... saya nggak biasa sarapan pagi," ucap Firlan, Vira mengangkat satu sudut bibirnya. Entahlah, dia malas melihat pria itu sekarang.
"Oh, ya sudah ... buatkan minum saja kalau begitu," kata Dewi. Vira segera ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Teh atau kopi?" Vira menimbang apa yang akan ia berikan pada pria itu.
"Gimana kalau air kobokan aja?" kata Vira kesal.
Vira mengambil satu sachet kopi tanpa ampas, lalu menyobek bungkusnya dan menaruhnya dalam sebuah cangkir putih. Lalu ia menuangkan air mendidih ke dalamnya. Sambil mengaduk kopi hitam yang masih panas itu, Vira menyematkan senyuman penuh arti.
Tak lama Vira datang membawa secangkir kopi hitam dengan satu toples kecil bagelen rasa keju.
"Tuh Vira nya udah dateng.Tante tinggal dulu, ya? mau ngasih papa nya Vira obat," ucap Dewi yang meraih gelas yang berisi air putih untuk ia bawa ke dalam kamar.
"Diminum kopinya, Nak..." ucap Dewi sebelum beranjak dari duduknya.
"Iya, Tante..."
"Kamu temenin Firlan ngobrol," ucap Dewi sambil menyentuh pundak Vira, wanita itu berjalan menuju kamar yang ditempati Raharjo.
"Aku minum, ya?" ucap Firlan. Ia mengangkat cangkir dan tatakannya. Vira tak merespon. Firlan menghela nafasnya perlahan, sepertinya kali ini Vira memang sangat marah padanya. Tak ada tatapan cinta yang biasanya ia dapatkan.
Firlan mulai menyeruput kopi yang dibuatkan untuknya. Namun, tiba-tiba raut wajahnya berubah.
"Kenapa? kok nggak ditelen? nggak enak? kalau nggak enak sini aku buang!" ucap Vira menatap dengan tatapan tajam.
Mau tak mau, Firlan dengan susah payah menelan kopi yang terasa seperti air garam itu masuk melewati kerongkongannya. Vira dalam hati tertawa senang karena berhasil mengerjai Firlan.
__ADS_1
Firlan menaruh kembali cangkir di atas meja.
"Ini pasti Vira sengaja, masukin garam ke dalam kopi. Astaga ... sabar sabar..." gumam Firlan dalam hatinya.
"Makasih, ya?" ucap Firlan, namun ucapannya tak selaras dengan raut wajah yang ditampilkannya. Sangat berbeda dengan Ricko yang waktu itu memakan gongso yang rasanya ajaib dengan wajah yang tenang dan malah terlihat sangat menikmatinya.
"Makasih?" cicit Vira, mengejek ucapan Firlan.
"Aku boleh ngomong?" tanya Firlan, namun Vira tak menjawab dia malah memandang ke arah lain.
"Vira?" Firlan memanggil pacarnya.
"Ya udah tinggal ngomong," ucap Vira datar.
"Kenapa kamu resign?" tanya Firlan.
"Bukan urusan kamu," ucap Vira.
"Ya jelas urusan aku, kan kamu pacar aku. Aku berhak tau karena aku juga yang masukin kamu kesana," ucap Firlan.
"Oh, iya yah ... aku lupa kalau aku kerja atas bantuan kamu, ya?" kata Vira menertawakan dirinya sendiri.
"Bukan itu maksud aku, aku tau kita lagi ada masalah. Tapi jangan kamu lampiaskan amarah kamu pada hal lain," kata Firlan, ia menekuk kaki panjangnya, diatas lantai. Pria itu menggenggam tangan kekasihnya.
"Aku tau kata-kata aku nyakitin hati kamu," lanjut Firlan.
"Udah biasa," kata Vira.
"Aku minta maaf, aku hanya takut kehilangan kamu..." kata Firlan memandah wajah pujaan hatinya.
"Udah terlalu siang untuk berangkat ke kantor, lebih baik kamu pergi dan kita bisa bicara di luar, bukan disini..." kata Vira.
"Baiklah, kalau itu mau kamu. Aku berangkat..." Firlan segera bangkit, ia mendekatkan kepala Vira ke dadanya, ia mengecup puncak kepala Vira. Pria itu lalu pergi meninggalkan Vira yang masih duduk di sofa, menatap kepergian Firlan.
Di tempat lain, Sinta yang baru saja membuka pintu ruangannya terkejut saat melihat ada seseorang yang sudah lebih dulu berada di sana.
"Fendy?" pekik Sinta saat melihat Fendy tengah duduk di sofa dengan beberapa makanan yang tertata di atas meja.
"Ngapain?" tanya Sinta berjalan mendekat ke arah dimana orang itu duduk.
"Ngajakin kamu sarapan bareng," ucap Pria itu.
"Aku nggak biasa sarapan, lagian bisa-bisanya pagi-pagi udah nongkrong di kantor orang!" kata Sinta.
__ADS_1
"Hei, ini udah lebih dari jam 9 ... kamu yang dateng kesiangan," ucap Fendy.
...----------------...