Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Mood Up And Down!


__ADS_3

Amartha yang akan menuruni tangga berpapasan dengan Sasa yang akan membawakan baju yang sudah disetrika ke kamar Evren.


"Sa, ini baju Evren?" tanya Amartha. Sasa yang ditanya pun mengangguk.


"Iya, Nyonya..." jawab Sasa yang melangkahkan kakinya mendekat pada majikannya.


"Biar saya yang masukkan ke kamar Evren, Sa? minta tolong bawakan eskrim rasa kelapa yang dibelikan Vira," ucap Amartha seraya mengambil keranjang baju dari tangan Sasa.


"Baik, Nyonya..."


Amartha membawa keranjang yang berisi baju-baju beserta selimut bayi ke dalam kamar milik Evren.


Wanita itu mulai memindahkan tumpukan baju rapi itu ke dalam lemari. Ia melihat salah satu dinding kamar yang dilukis oleh Vira, sahabatnya.


Ia teringat saat Satya pertama kali masuk ke ruangan yang dibuat untuk anaknya.


"Yank? Sayang?" seru Satya.


"Ada apa, Mas?" Amartha menyahut dari kamar sebelah. Connecting door terbuka, sehingga suara Satya mampu terdengar oleh Amartha.


"Yank...!" Satya memanggil Amartha lagi.


"Iya iya bentar, ini juga aku lagi mau kesitu," sahut Amartha.


"Ada apa sih, Mas? heboh banget!" ucap Amartha menghampiri Satya yang berdiri di depan sebuah dinding sambil berkacak pinggang.


"Ini kerjaan siapa?" tanya Satya


"Kerjaan apa sih, Mas?" Amartha menatap Satya lalu beralih menatapnke arah yang ditunjuk suaminya itu.


"Oh, itu.. emh," Amartha menahan tawanya melihat wajah Satya yang begitu kesal.


"Ini temen kamu kan yang gambar? ini ngapain gambar aku yang nangkring di atas pohon?" Satya menunjuk gambar yang mirip sekali dengan wajahnya yang sesang duduk di salah satu dahan pohon dengan kaki menjubtai ke bawah, sementara di bawah ada beberapa binatang dan gambar Amartha yang berdiri bersama dua orang anak seakan menyuruh laki-laki itu untuk turun.


"Aku, emh ... aku yang minta, Mas. Hehehe..." ucap Amartha sambil mengelus perutnya.


"Ya Allah, Yank..." Satya menepuk jidatnya.


"Kamu bener-bener, ya!" pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

__ADS_1


Amartha panik melihat Satya berjalan ke arahnya dengan wajah yang kesal. Amartha memejam takut, kemudia ia merasa tubuhnya melayang dan terangkat di kedua tangan seseorang. Sontak ia membuka matanya mengalungkan tangannya di leher pria yang kini membawanya masuk ke dalam kamar dan menutup connecting door menggunakan kakinya.


"Kamu udah berani ngeledek aku ya, rupanya?" ucap Satya.


Amartha tertawa saat kilasan kenangan itu menghampiri kepalanya. Ia masih tak melepaskan pandangannya dari dinding sampai terdengar suara ketukan dari luar kamar itu.


Amartha membuka pintu dan terlihat Sasa yang membawakan eskrim di dalam gelas kaca dan sendok kayu.


"Makasih, Sa..." Amartha mengambil alih gekas kaca itu, sesangkan Sasa bergerak mengambil keranjang baju.


"Permisi, Nyonya..." Sasa menutup pintu kembali.


Amartha duduk di sofa yang ada di kamar itu sambil menikmati eskrim yang menjadi favoritnya.


Namun baru beberapa sendok, ia beranjak dan membuka connecting door. Dan benar saja, Evren sedang menangis dalam gendongan suaminya.


"Evren, Sayang ... ini ibu disini. Oh, Sayang..." ucap Amartha yang menaruh gelas eskrim nya diatas nakas. Lalu mengambil alih bayinya dari tangan suaminya.


"Aku juga pengen dong dipanggil sayang kaya Evren!" rengek Satya.


"Ya Allah kamu itu lagi kenapa, Mas?" tanya Amartha sambil memberikan apa yang Evren inginkan.


.


.


Hari mulai berganti, selama beberapa hari ini Amartha mengalami mood swing yang membuang perasaannya jungkir balik. Bukan hanya dirinya, tapi juga suaminya yang harus ekstra sabar menghadapi Amartha.


Seperti saat ini ketika entah mengapa Evren menangis dan sulit berhenti. Amartha yang melihat bayinya menangis pun ikut menangis.


"Kamu kenapa sih, Sayang? hem?" ucap Amartha disertai tangisan.


"Ibu bingung kalau kamu nangis terus kayak gini," ucap Amartha. Dia memang dulu aeorang perawat dan sudah ahli dalam menghandle bayi, tapi menjadi ibu adalah hal yang baru baginya. Dan hormon sangat mempengaruhi apa yang dia rasakan saat ini.


"Tenang, ya? kamu yang tenang ... kalau kamu nangis, Evren juga nggak akan berhenti nangisnya," ucap Satya lembut.


"Aku nggak tau apa yang dia mau, aku ibu yang nggak becus!"


"Ssst! jangan ngomong kayak gitu, kamu ibu yang luar biasa. Ini lumrah bagi new mom kayak kamu, dan Evren masih perlu adaptasi dengan lingkungan barunya. Sekarang coba kamu tenangkan diri, tarik nafas lalu hembuskan. Bayangkan sesuatu yang menyenangkan," ucap Satya. Kamar mereka kedap suara maka dari itubsuara tangisan Evren tak sampai terdengar di kamarbyang ditempati Rosa dan Rudy yang berada di lantai bawah.

__ADS_1


"Coba, sini aku yang gendong Evren..." ucap Satya seraya mengambil anaknya dari tangan Amartha.


Satya bersenandung, mencoba menenangkan Evren dengan lantunan shalawat. Perlahan baby Evren menjadi tenang, dan terbuai dengan suara ayahnya yang membuatnya perlahan memejamkan matanya dan tertidur.


"Nah sekarang, kamu tiduran. Biar Evren aku yang jaga..." kata Satya seraya menaruh Evren ke dalam tempat tidur yang diberi kelambu transparan. Pria tampan dengan piyama berwarna biru itu berjalan ke arah istrinya.


"Kamu sekarang istirahat," titah Satya.


"Tapi..."


"Nggak ada tapi-tapian. Karena 2 atau 3 jam lagi Evren bangun minta asi, jadi manfaatkan waktu yang sedikit ini buat kamu meremin mata," ucap Satya sembari merebahkan tubuh istrinya.


"Makasih ya, Mas ... buat selalu bantu aku disaat aku butuh dukungan seperti ini,"


"Aku cuma ingin buktikan kalau bukan hanya tampan nggak ada lawan, tapi aku juga bisa jadi suami dan ayah siaga buat kamu dan Evren," kata Satya menepuk dadanya sendiri bangga.


"Ya ampun, Mas! kamu tuh pede nya nggak ilang-ilang,"


"Anak mami Sandra semuanya begini, Yank! kalau nggak pede-an malah nanti diragukan, nanti dikira aku anak hasil tuker tambah panci presto!" seloroh Satya.


"Hahaha, lagi kayak gini sempet-sempetnya bikin aku ketawa," Amartha tertawa kecil sambil menghapus sisa air matanya.


"Tidur, aku temenin..." kata Satya yang menyelimuti tubuhnya dan Amartha setengah badan.


"Mas?"


"Hem?" Satya berdehem.


"Nanti dateng ya, Mas? ke pesta pernikahannya Sinta dan kak Fendy. Kayaknya nggak enak kalau nggak dateng. Walaupun Sinta maklumin karena aku habis lahiran. Tapi tetep aja, ada rasa nggak enak..." ucap Amartha.


"Iya, nanti aku dateng demi kamu. Meakipun aku sebenernya males, tapi kalau nyonya sudah memberikan titah, hamba hanya bisa pasrah menjalankan tugas," kata Satya sambil terkekeh.


"Biar aku aja yang dateng, kamu di rumah jaga Evren. Dia masih terlalu kecil untuk diajak keluar, kecuali kontrol ke rumah sakit. Kamu setuju, kan?" tanya Satya. Namun, yang ditanya tak menjawab.


"Yank?" Satya melihat wajah istrinya.


"Hem, kebiasaan..." Satya mendekap istrinya yang sudah tertidur pulas.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2