
Kenan merasakan dirinya berada dalam sebuah mobil. Pria itu membuka matanya perlahan, dan menajamkan telinganya, mencoba mendengarkan percakapan dua orang penculik yang duduk di depan. Sementara dia, meringkuk di kursi belakang dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Wah, ternyata gampang menculik anaknya pak bos, ya?" ucap orang yang duduk di kursi penumpang yang berada di depan.
"Baguslah, jadi nggak buang-buang tenaga!" sahut pria dengan suara bariton yang sedang duduk di belakang kemudi.
Oh, jadi mereka orang suruhan ayah?
Rahang Kenan mengeras dengan sorot mata yang tajam. Matanya mencari-cari alat yang memungkinkan untuk dia gunakan membuka ikatan tali tangannya. Dan kebetulan ada sebuah kater tergeletak di bawah. Kenan mencoba meraih kater itu.
"Bang, berenti sebentar! depan ada pom bensin!" seru seorang pria yang duduk di kursi depan mengagetkan Kenan yang sedang mencoba mengambil kater.
"Mau ngapain?" tanya pria yang duduk di belakang kemudi.
"Mau menyalurkan hasrat yang terpendam! gue mau bok*r!"
"Nyusahin aja lo!" Mau tak mau pria dengan suara bariton itu, membelokkan mobil ke pom bensin terdekat.
Kenan mengatur kembali nafasnya, ia harus bertindak dengan cepat. Mobil yang tiba-tiba berbelok memudahkan Kenan untuk menjangkau alat yang akan ia gunakan untuk melepaskan ikatan tali di tangannya. Dengan hati-hati Kenan mencoba mengiris tali menggunakan kater yang ia temukan.
"Cepetan!" seru si pria ketika temannya baru akan membuka pintu mobil karena hari sudah semakin sore, dia harus membawa Kenan ke tempat yang sudah bosnya tentukan.
"Belum juga nyampe udah dicepet-cepet!" getutu sang partner yang membanting pintu kesal.
Sembari menunggu partnernya sedang menuntaskan ritual di toilet, seorang pria bertubuh tinggi besar itu turun dari mobil, berdiri menyender di samping mobil, kesal karena harus menunggu teman tak beradabnya itu.
Kenan yang sudah berhasil melepas ikatan tangan dan kakinya, dengan cepat membuka pintu mobil yang bodohnya tidak dikunci, dan segera berlari dengan kencang.
Pria bertubuh besar itu pun segera mengecek mobil, setelah merasakan pintu mobil terbuka. Pria itu mencari sosok Kenan, namun yang ditemukannya hanya bekas tali yang sudah di potong.
"Breng**k!" teriak pria itu seraya membanting pintu mobil.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya, menancapkan gasnya menjauh dari pom bensin itu meninggalkan temannya yang masih setia dengan ritualnya.
Sementara Kenan yang berlari melihat sebuah mobil pick up yang sedang parkir di depan kios penjual buah. Tanpa pikir panjang, Kenan segera naik di kursi depan yang terlihat kosong, memalimgkan wajahnya agar tak terlihat mencurigakan.
Mobil yang dikendarai penculik itu sudah melesat jauh, Kenan bernafas lega. Pria itu merogoh kantung sakunya meraih sebuah ponsel. Sesaat dia menyalakan ponselnya, mencari kontak yang mungkin bisa ia hubungi.
Sebaiknya, aku matikan saja ponselku, takut mereka bisa melacak keberadaanku saat ini.
"Eh, ngapain ku disini? mau maling ya?" seru si pemilik mobil.
"Eh, enggak, Pak ... saya mau nebeng sebentar sampai-" belum selesai Kenan bicara, ada panggilan masuk di ponselnya, dilihatnya ada sebuah panggilan dari seseorang. Ia memberi kode kepada si pemilik mobil, bahwa ia akan mengangkat panggilan telepon itu terlebih dahulu, ia segera menekan tombol hijau dan berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan seseorang, Kenan menonaktifkan ponselnya dan mengantonginya kembali. Dia tidak mau posisinya terlacak oleh orang suruhan ayahnya.
"Saya minta maaf, Pak ... sudah main masuk ke mobil Bapak, saya mau nebeng sampai ujung jalan sana, Pak..." ucap Kenan sopan.
"Baiklah," ucap Bapak paruh baya seraya menjalankan mobilnya. Kenan tersenyum seraya mengucapkan terimakasih.
Sementara partner si penculik yang telah selesai dengan kegiatannya di toilet pun celingukan, saat ia tak menemukan mobil temannya.
"Br****ek! gue malah ditinggal!" ucap pria itu dengan muka yang sangat kesal tentunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dibilangin, mama tuh udah sehat!" ucap Rosa saat masuk ke dalam rumahnya.
"Ck! belum juga dirawat 24 jam, masa iya langsung sehat?" Amartha menimpali ucapan Rosa.
"Sudah, sudah! kalian nggak malu apa ribut di depan Satya?" ucap Rudy menengahi perdebatan ibu dan anak itu.
Mereka duduk di kursi tamu, Rudy menatap istrinya meminta persetujuan. Rosa mengangguk pelan, saat Rudy menatapnya dalam. Amartha bingung dengan sikap kedua orangtuanya.
"Nak Satya? apa semua sudah disiapkan?" tanya Rudy pada pria tampan yang duduk di samping Amartha.
__ADS_1
"Sudah, Om..." sahut Satya dengan mantap. Amartha hanya memandang ke arah Satya meminta penjelasan, sejujurnya dia tidak tahu apa yang tengah dibicarakan. Apanya yang sudah disiapkan?
"Amartha, besok kamu akan menikah, lebih baik kamu masuk ke dalam kamar dan istirahat," titah Rudy menjawab kebingungan yang tersirat di wajah anaknya.
"Me-menikah? be-besok?" ucap Amartha terbata-bata, dia tahu akan menikah dengan Satya namun, apakah harus secepat ini? airmata langsung lolos begitu saja membasahi pipinya.
"Iya, Sayang ... masuk dan istirahatlah," ucap Rudy. Amartha menyeka air matanya dan melirik Satya sekilas, lalu ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
Amartha menutup pintu kamarnya dan segera merebahkan tubuhnya di ranjang faavoritnya, menangis sejadi-jadinya seakan air mata tak akan pernah habis mengalir deras dari kedua manik yang indah itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tok tok tok.
"Masuk!" sahut pria paruh baya dari dalam ruangan.
"Ada apa, Fer?" tanya Damar pada asistennya, Ferdy.
"Maaf Tuan, putra anda berhasil kabur," ucap asisten Damar.
"Apa?! Kenan kabur?" sentak Damar pada asistennya seraya bangkit dari dari kursi kebesaran yang ada di ruang kerjanya.
Arggg! bodoh! kalian tidak berguna!" teriak Damar ketika mendapat laporan bahwa Kenan berhasil kabur.
"Cepat, cari anak itu sampai dapat!" ancam Damar kepada orang suruhannya, dia membanting vas bunga yang ada di ruang kerjanya.
"Baik, Tuan!" ucap Ferdy yang undur diri dari ruangan itu dan langsung menelpon orang suruhan andalannya untuk terus mencari Kenan.
Rencana pernikahan Kenan dan Sinta yang akan dilaksanakan 2 hari lagi telah terendus oleh para pencari berita, bahkan dari pihak Sinta sudah membenarkan berita tersebut. Damar memegang dadanya yang terasa sakit, pria paruh baya itu duduk sambil berusaha mengontrol nafasnya. Dia harus menemukan Kenan sebelum hari pernikahan anak semata wayangnya dengan anak dari sahabatnya.
"Dasar anak si**an!" Damar mengumpat dengan nafas yang terengah-engah.
__ADS_1
...----------------...
hai....nikmati alurnya ya....😀