
"Maaf!" ucap Amarta seraya mengambil buket bunga mawar putih.
Satya mencoba mengontrol perasaannya, ia mencoba untuk tetap tersenyum walaupun rasanya sungguh sakit. Namun saat Satya akan mengantongi kembali cincinnya, Amartha menahan tangan Satya.
Pria itu mengernyitkan keningnya, Amartha menipiskan bibirnya, lalu ia memberikan buket bunga itu pada Vira yang ada disampingnya. Para penonton masih tak bersuara, mereka ingin tau apa yang dilakukan dua sejoli itu. Tangan Amarta kemudian mengambil kotak yang ada di tangan Satya. Satya hanya memandang Amartha tanpa berkedip.
"Aku lebih milih berlian daripada sebuket bunga," ucap Amartha lalu tersenyum.
"Jadi?" Satya masih belum paham.
"Jadi, aku terima kotak ini!" jelas Amartha.
"Ma-maksudnya kamu terima lamaranku?" Satya bertanya kembali untuk meyakinkan dirinya, bahwa wanitabyabg dihadapannya kini menerima pinangannya.
"Yes, I will..." lirih Amartha.
"Yeeeeeaaaaaaaaa!" teriak para penonton.
"Yeeees!" teriak Satya sambil mengepalkan tangannya, seakan telah memenangkan sebuah medali emas.
Kebahagiaan membuncah di hati Satya, saat Satya yang hampir memeluk Amartha, pria itu lantas mengurungkan niatnya. pasalnya Rudy menatapnya dengan tajam. Tahaaaaaaaan!
Satya pun segera mencium punggung tangan Rudi dan Rosa secara bergantian. Sementara Rudy dan Rosa sangat bingung dengan apa yang disaksikannya saat ini.
"Ehem, perhatian, perhatian! hari ini saya traktir kalian semua makan siang gratis!" ucap Satya dengan lantang.
"Kamu urus semua!" ucap Satya seraya menepuk pundak kanan Firlan. Firlan membulatkan matanya, lagi-lagi Satya membuatnya sangat pusing dengan kelakuan ajaibnya. Rasanya Firlan ingin menggaruk tembok saat itu juga, untuk sekedar melampiaskan emosi karena kelakuan Satya yang suka memerintah sesuka hatinya. Vira hanya terkekeh saat melihat wajah Firlan yang sangat frustasi.
"Amartha," ucap Rudy, yang tak tahu harus mulai dari mana.
"Sebaiknya kita cari tempat untuk bicara," ucap Satya. Amartha hanya mengangguk menuruti Satya.
"Aku boleh ajak Vira juga?" tanya Amartha pada Satya.
"Boleh, kita sambil makan siang, kamu pasti lapar ... ayok, Om ... Tante..." kata Satya sambil mengajak kedua orangtua Amartha.
"Aku nggak ikut ya, Ta..." ucap Vira tiba-tiba.
"Kenapa?" Amartha mengernyitkan dahinya.
"Nemenin orang yang lagi frustasi," sahut Vira sambil menunjuk Firlan dengan dagunya, dua sahabat itu terkekeh saat melihat ekspresi Firlan yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
"Tapi kamu hati-hati, ya?" pesan Amartha pada Vira.
"Hati-hati kamu bisa bikin dia tambah stress maksudnya," lanjut Amartha.
__ADS_1
"Hahahah, bisa aja Jum..." Vira tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu.
Akhirnya, Amartha berjalan mengikuti Satya dan orangtuanya, meninggalkan Vira yang kini mendekat ke arah Firlan.
"Ehem!" Vira berdehem. Firlan yang baru saja mengakhiri panggilan teleponnya pun segera melirik ke asal sumber suara.
Yaelah, si bocah sengklek dateng lagi!
"Ehem!" Vira berdehem kembali.
"Kalau batuk jangan disini, sana yang jauh!" ketus Firlan pada Vira yang berada di sampingnya.
"Idihhh si abang galak bener!" ucap Vira yang membuat Firlan berdecih.
"Maaf, saya bukan abang-abang!" sarkas Firlan yang membuat Vira semakin ingin membuat Firlan emosi sampai ke akar-akarnya.
"Terus kalau bukan abang, manggilnya apa dong?" tanya Vira sengaja memancing keributan anatara dirinya dan Firlan yang berstatus kekasih orang.
"Terserah!" sahut Firlan singkatn
"Ya udah kalau nggak boleh panggil abang, panggil, Om atau bapak aja sekalian, ya?" kata Vira yang sukses membuat Firlan menatapnya dengan kesal. Firlan segera meninggalkan Vira, namun gadis itu malah membuntutinya.
"Abaaaaangg!" rengek Vira pada Firlan.
.
.
Di sebuah restoran.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Rudy mulai membuka pembicaraan, Rudy menatap anaknya dengan lekat.
"Amartha? kamu bisa jelaskan semuanya?" ucap Rudy meminta penjelasan dari putrinya.
"Pah, Mah ... aku dan Kenan udah pisah setahun yang lalu," ucap Amartha dengan mata yang berkaca-kaca.
Amartha menceritakan semua yang telah dialaminya selama setahun terakhir. Tanpa aba-aba air mata terjun bebas dari mata kedua orangtua Amartha, mereka tidak menyangka putrinya sudah melewati banyak hal, tanpa adanya dukungan mereka. Amartha juga menjelaskan mengapa ia berbohong pada Rudy dan Rosa mengenai keadaannya selama setahun belakangan ini.
"Maafin, Amartha ... Pah, Mah..." lirih Amartha, Satya menggenggam tangan Amartha, memberikan sedikit kekuatan.
"Aku terpaksa berbohong, karena aku nggak mau membuat Papa dan Mama kecewa, walaupun cepat atau lambat, Papa dan Mama pasti akan mengetahui ini semua," ucap Amartha disertai dengan isakan, tangisnya pecah saat mengatakan kebenaran yang telah disembunyikannya.
"Ya Allah, Sayang ... kenapa kamu berpikir seperti itu? mama lebih sedih mengetahui kamu menghadapi masalahmu ini sendirian, kamu pasti sangat tertekan dengan semua ini..." Rosa tak bisa menahan tangisnya.
"Lalu, bagaimana kamu bisa menyelesaikan studimu? padahal papa tidak memberimu uang sepeser pun..." tanya Rudy meminta penjelasan putrinya.
__ADS_1
"Aku kerja di klinik dokter, dan beberapa pekerjaan serabutan, tapi tenang aja semua pekerjaan yang aku lakukan insya Allah halal, tapi-" Amartha menjeda sesaat kalimatnya
"Tapi apa?" tanya Rosa.
"Tapi, diam-diam ada yang ngebayarin uang kuliah Amartha, atau jangan-jangan..." Amartha lalu menoleh ke arah Satya.
"Apa?" Satya memasang wajah innocentnya
"Atau jangan-jangan kamu ya, Mas? yang bayarin uang kuliah aku?" Amartha menatap tajam pada Satya.
"Oh, heheheh, itu kerjaan Firlan, Ta..." Satya mencoba mengelak.
"Sama aja! Firlan nggak mungkin ngelakuin itu kalau bukan atas perintah kamu, Mas!" Amartha tak mau kalah.
"Iya, sih!" Satya manggut-manggut.
"Soalnya, aku nggak tega sih liat kamu banting tulang sendirian," lanjut pria itu.
"Jadi bener, kamu yang bayarin uang kuliah aku? iya?" Amartha mengulangi pertanyaannnya pada Satya.
"Iya..." sahut Satya dengan santainya.
"Nak, Satya? jadi kamu benar-benar serius dengan Amartha? lalu bagaimana dengan orangtuamu? saya takut kalau orangtuamu tidak menyetujui hubungan kalian, kamu tahu sendiri Amartha sudah pernah menikah," ucap Rudy dengan sendu.
"Om nggak perlu khawatir, saya bicara dengan orangtua saya, mereka sudah setuju, apalagi mami saya sudah terlanjur sayang sama Amartha," ucap Satya.
"Syukurlah kalau begitu," Rosa tanpa melepaskan pandangannya dari putri semata wayangnya.
"Saya akan membuktikan pada Om dan Tante, kalau saya akan menjaga Amartha dengan seluruh jiwa raga saya, saya akan berusaha agar tidak akan ada orang yang bisa menyakitinya," ucap Satya dengan tatapan serius pada kedua orangtua Amartha.
Rudy dan Rosa hanya mengangguk, mereka tidak mau mengatur kehidupan Amartha. Mereka takut Amartha akan lebih tertekan, biarlah putrinya menentukan kehidupannya, dia sudah cukup dewasa untuk itu.
"Lalu, kapan kalian akan menikah?" tanya Rosa.
"Mamah," lirih Amartha seraya memandang Rosa.
"Secepatnya, Tante ... saya takut kalau kelamaan, Amartha bisa berubah pikiran," ucap Satya seraya melirik Amartha.
Amartha hanya bisa menyembunyikan senyumannya. Ia tidak menyangka akan menerima Satya untuk menjadi teman hidupnya, teman berbagi cinta dan cerita.
...----------------...
Ayo yang pada menghujat Amartha, sungkem sini sama othor! wkwkwkwkwk, ehek!
Hari ini double update loh! YEAAAAAA 2000 KATA!!!!!!
__ADS_1