
"Lan? berapa lama lagi kita akan sampai?" gerutu Satya dengan mata terpejam.
"Buka mata dulu, Tuan. Baru anda boleh marah-marah!" kata Firlan yang sudah sangat emosi.
Satya pun perlahan membuka matanya, terlihat sebuah villa yang nampak asri.
"Udah sampe?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Satya.
"Menurut anda?" Firlan menirukan kata-kata bosnya ketika malas menjelaskan sesuatu. Vira hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah keduanya.
"Saya kan tadi merem sebentar, apa susahnya sih menjawab pertanyaan saya?" kata Satya ketus.
"Tuan, kita sudah sampai di villa yang ditempati nyonya," ucap Firlan sopan tapi penuh penekanan.
"Ya, saya sudah tahu!" jawab Satya sambil tertawa mengejek.
"Astagaaaaaaaa," Firlan hanya bisa menggaruk dashboard.
"Vira, kamu turun duluan. Kamu ketuk pintunya pancing dia keluar, saya akan menunggu disini," perintah Satya.
Tanpa menjawab Vira keluar dan menutup mobil dari luar. Udara segar langsung berebut masuk ke dalam rongga paru-parunya.
"Aaahhh, seger banget! pantesan dia betah disini," gumam Vira yang berdiam sesaat sebelum melangkah menuju teras rumah itu.
Vira mengetuk pintu beberapa kali disertai salam. Dan terdengar suara langkah kaki dari dalam. Pintu pun terbuka.
"Vira?" pekik Amartha tak percaya dengan sosok yang dilihatnya.
"Amartha? ya Allah, akhirnya aku nemuin kamu," Vira sudah merentangkan tangannya ingin memeluk Amartha, namun wanita itu tiba-tiba bergerak mundur.
"Jangan mendekat, mundur 3 langkah ke belakang. Ayo cepat mundur," Amartha menggerakkan tangannya menyuruh Vira untuk mundur. Vira pun menurutinya.
"Kenapa, Ta? emang aku sebau itu sampai kamu nggak mau aku peluk?" Vira mencium-cium lengan bajunya.
Didalam mobil Satya pun bingung, karena tadi Amartha sempat terlihat di ambang pintu. Namun setelah itu wanuta hamil itu nampak menjauh, dan Vira yang mengendus bajunya sendiri.
"Kenapa pacar kamu, Lan? dia kok cium-cium baju sendiri?" tanya Satya.
"Mana saya tahu, Tuan! kan saya disini, nggak dengar apa yang mereka bicarakan. Mungkin istri anda mencium aroma busuk suaminya di baju Vira," kata Firlan menyindir.
"Jangan sembarangan bicara kamu Firlan atau bibir kamu saya sulap biar jadi menyon!" ancam Satya.
__ADS_1
Vira bingung dengan sikap Amartha yang melihatnya dari ujung kaki hingga ujung kepala, wanita itu keluar dari pintu dan berjalan mengitari tubuh Vira dengan tatapan menelisiknya.
"Astaga, Juminten kok jadi aneh begini, dia ngapain muter-muter begitu, nggak mungkin mau nari-nari acha acha ahe ahe, kan?" gumam Vira.
"Kamu kenapa sih, Ta?" tanya Vira.
"Aku biasa panggil kamu apa?"
"Maksudnya, panggil aku? Vira, Iyem?" jawab Vira.
"Oke lebih sulit lagi, siapa nama suami dari bu Sari?" tanya Amartha seraya menghentikan langkahnya.
"Astaga, suaminya bu Sari itu ya pak Rokhim yang sukanya pakai sarung sama kaos kutang!" ucap Vira dalam sekali tarikan nafas. Seketika ekspresi Amartha berubah, senang.
"Iyeeeeeemmmmmm! alhamdulillah, kamu beneran Vira bukan makhluk jadi-jadian..." Amartha lantas memeluk Vira dengan lelehan aur mata yang membanjiri pipinya. Mereka berdua berpelukan di depan teras.
"Kamu kenapa nggak ngehubungin aku, Amartha. Aku khawatir, aku cemas, aku takut kamu kenapa-napa, sedih boleh tapi otak juga harus dipake," Vira nyerocos sambil terus menangis.
"Akhirnya aku ketemu lagi sama kamu, Vira..." Amartha sesenggukan.
Namun ketika mereka hanyut dalam haru, ada sebuah mobil mewah masuk ke pelataran diikuti dua mobil di belakangnya. Satya yang melihat itu langsung waspada.
Amartha terkejut bukan main, saat melihat suaminya ada di depan matanya. Dan Amartha lebih terkejut saat melihat Kenan yang juga keluar dari sebuah mobil mewah yang baru saja datang.
"Mas Kenan?" gumam Amartha.
"Vira?" Amartha menatap Vira penuh tanya. Vira hanya mengendikkan bahunya.
"Kamu? datang kesini sama mas Satya?" tanya Amartha.
"Sorry, jangan marah, Ta. Kita semua cemas sama kamu," ucap Vira namun Amartha menatap Vira dengan kecewa.
"Tapi aku nggak mau ketemu sama dia, dan kamu malah datang kesini dengan orang yang aku hindari," ucap Amartha, satu tetes air mata lolos begitu saja dari mata indahnya.
"Nggak kayak gitu, Ta. Aku udah cari kamu kemana-mana, dan nggak ketemu. Kebetulan Firlan bilang kalau dia udah nemuin alamat kamu, jadi ya aku ikut mereka," jelas Vira.
"Kamu nggak percaya sama aku? iya?" tanya Vira.
Amartha tak menjawab Vira, ia mengalihkan pandangannya pada dua sosok pria yang sedang berdiri berhadapan dengan masing-masing memasukkan tangan ke dalam saku.
Sedangkan, Satya menatap Kenan dengan sejuta tanya dibenaknya.
__ADS_1
"Kamu kesini?" tanya Satya menggantung.
"Buat menjemput Amartha, aku mengkhawatirkannya. Dan kenapa sampai istrimu kabur kemari? apa yang telah kamu lakukan?" tanya Kenan sambil bersandar di satu sisi mobilnya.
"Hanya salah paham. Bukannya setiap rumah tangga pasti pernah mengalami itu?" jawab Satya.
"Kamu tidak perlu repot-repot, aku sudah disini dan aku akan membawa pulang istriku sendiri..." ucap Satya sembari tersenyum.
"Tapi aku juga ingin melindunginya, dan sepertinya Amartha tidak menginginkan kehadiranmu disini," kata Kenan seraya menggerakkan kakinya menendang batu kerikil.
"Bagaimanapun aku suaminya, dan Amartha pasti membutuhkan aku," kata Satya.
"Kamu memang suaminya tapi kamu lengah menjaganya," sindir Kenan.
"Ya, mungkin memang benar aku lengah menjaganya. Tapi jangan lupa jika kamu pernah gagal untuk mempertahankannya," ucap Satya.
"Cih, main masa lalu," kata Kenan.
"Karena masa lalu berperan penting dalam masa kini. Jika dulu kamu sanggup mempertahankannya tidak mungkin aku bisa memilikinya saat ini," kata Satya mencoba mengingatkan Kenan dengan masa lalunya yang pahit bersama Amartha.
"Lalu apa bedanya kita? kamu berjanji menikahi perempuan lain bahkan ketika istrimu sedang mengalami masa sulit. Saat dia mengandung darah dagingmu," kata Kenan yang merah padam karena menahan gejolak dalam hatinya. Ingin sekali dia memukul wajah Satya.
"Aku tidak pernah berjanji, mungkin kamu mendengar berita yang tidak valid!" sanggah Satya.
"Tidak berjanji tapi fitting gaun pengantin? apa aku sebodoh itu?" Kenan kembali melontarkan pertanyaan yang menohok.
Amartha masih berdiri memandang kedua pria yang terlibat obrolan yang serius, terbukti dengan raut wajah keduanya yang begitu tegang.
"Ta..." Vira memanggil sahabatnya yang memandang lurus ke depan tanpa menggubrisnya.
"Aku kira kamu kesini karena mencemaskan sahabat kamu, ternyata kamu kesini karena disuruh," kata Amartha.
"Ya kalau kesini sama suami kamu karena nggak ada pilihan lain, kamu pun pergi nggak bawa ponsel, gimana aku bisa menghubungi kamu, coba?" jelas Vira.
Amartha kembali menatap kedua pria tampan dibawah naungan senja. Kedua pria itu kemudian melayangkan tatapannya pada Amartha.
Baik Satya maupun Kenan, keduanya berjalan mendekati Amartha yang diam mematung.
"Pergilah, disini tak ada tempat untuk kalian," ucap Amartha.
...----------------...
__ADS_1