Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Jurus Seribu Bayangan


__ADS_3

"Bukankah anda memiliki supir, Nona Ivanka?" ucap Satya tenang. Ia memasukkan tangan ke dalam sakunya. Melihat tatapan Satya yang begitu adem kayak lantai masjid, Ivanka terpaku sesaat sebelum otaknya kembali jalan.


"Maksudnya?" Ivanka mengerutkan keningnya.


"Bukankah anda memiliki supir pribadi?" Satya mengulangi pertanyaannya dan lagi tatapan pria tampan itu seakan menghipnotisnya agar bicara jujur tanpa paksaan.


"Iya, punya.."


"Saya ada urusan lain setelah ini, jadi kemungkinan saya tidak bisa mengantarkan anda kembali ke kantor, jadi mungkin lebih baik jika kita memakai mobil masing-masing," ucap Satya lembut, Ivanka hanya manggut-manggut.


"Begitu ya? baiklah, kita bertemu disana," jawab Ivanka lirih, dia masih memperhatikan Satya yang tersenyum tipis padanya.


"Kalau begitu saya jalan duluan," kata Satya lalu berbalik berjalan menjauh dari ulet keket itu. Jika tidak mengingat jasa Ivanka yang menyelamatkan perusahaannya diambang kehancuran, ralat perusahaan papinya dari kehancuran, pastilah Satya udah ogah-ogahan deket cewek seperti Ivanka.


Ivanka memandang punggung tegap Satya semakin menjauh dari pandangannya. Ivanka merasa sangat kesal karena Satya menolak permintaannya.


Ivanka menyambar tasnya dan berjalan cepat menuju lift. Sedangkan Satya bernafas lega, telah terbebas dari situasi yang sangat sulit.


"Sialan memang si Firlan, main ninggalin aja!" umpat Satya pada asistennya yang sudah kabur duluan.


Bukannya Satya tidak tahu arti tatapan Ivanka terhadapnya, wanita cantik dengan tubuh yang sangat menggoda. Dan dia lebih baik menjaga jarak dengan Ivanka, dia tidak mau merusak kepercayaan istrinya.


Mengingat kata istri, Satya teringat dengan Amartha.


"Halo? Sayang?" Satya menempelkan sebuah earpods ditelinganya.


"Iya, Mas..." sahut Amartha lembut.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Satya sambil terus fokus menyetir tapi ia mendengar suara selain suara istrinya.

__ADS_1


"Oh, aku lagi masuk-masukin baju ke koper," ucap Amartha sambil terus memperhatikan Sasa bekerja.


"Loh kok kamu beresin sendiri?" tanya Satya


"Ini dibantuin sama Sasa kok. Aku cuma nunjuk-nunjukin aja..." jawab Amartha mengusir kekhawatiran suaminya.


"Baguslah, oh ya aku mungkin baru sampe rumah 1 atau 2 jam lagi. Aku udah pesenin makanan, Yank. Aku masih ada urusan, jadi kamu makan duluan aja," ucap Satya saat mobilnya sudah terparkir di area parkir sebuah restoran.


"Iya, Mas..." jawab Amartha singkat setelah sambungan telepon terputus.


Satya mematikan ponselnya. Ia segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran yang diberitahu oleh Firlan. Sudah jelas restoran ini hanya bisa dijangkau oleh orang kalangan atas. Matanya menangkap sosok Firlan dan Alia yang sedang duduk berhadapan.


Satya menggeser kursi disamping Firlan, lalu dengan santainya. Firlan menoleh ke arah bosnya.


"Tempat anda bukan disini, Tuan..." ucap Firlan, karena Alia reservasi dua meja yang tidak saling berdekatan.


"Tapi disana," lanjut Firlan seraya menunjuk sebuah meja yang bertuliskan reserved. Satya mengerutkan keningnya.


"Eeh, mau kemana?" Satya mendongak saat Firlan berdiri.


"Mau pindah ke sana," ucap Firlan seraya jarinya menunjuk tempat yang dimaksud.


"Nggak usah! tetap di tempat kamu sekarang, lagian meja ini juga cukup untuk kita berempat," Satya mencegah Firlan pindah tempat, dia tidak mau makan hanya berdua dengan Ivanka, urusannya bisa runyam nanti.


"Tapi," Firlan mendapat tatapan melas dari Alia yang mengartikan perkerjaannya sedang dalam bahaya. Firlan hendak melangkah namun suara Satya membuatnya berhenti.


"Lan, duduk!" ucap Satya datar.


"Atau mau aku bilangin sama pacarmu, kalau kamu makan berdua sama dia?" ucap Satya lirih namun masih didengar oleh Firlan sedangkan Alia perhatiannya terpusat pada ponselnya.

__ADS_1


"Saya tinggal foto kamu dari sana dan langsung saya kirim ke Vira, saya jamin kamu bakalan kena jambak dan cakar saat itu juga," ucap Satya tersenyum devil. Sementara Firlan terduduk dan membayangkan Vira yang akan ngamuk-ngamuk pakai jurus seribu bayangan. Bisa jadi tuh baju pada robek perkara kena cakar, Firlan ngeri juga. Bisa disate atau di pepes sama si ayam.


"Anda mengancam saya, Tuan?" ucap Firlan lirih seraya melirik tajam ke arah Satya, yang dilirik biasa aja. Padahal dirinya juga ketar-ketir kalau Amartha tahu dia makan hanya berdua dengan ivanka bisa dibabat habis satya sama bumil yang satu itu. Satya mencoba setenang mungkin menghadapi pertanyaan Firlan.


"Ayo, kalau berani sana pindah," Satya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan mengusap-usap layarnya.


"Pak Firlan, Sepertinya kita harus secepatnya pindah, Nona sudah hampir sampai," Alia mau tak mau bicara langsung pada Firlan. Namun Firlan masih duduk di tempatnya. Bisa berabe kalau bosnya nekat menjepret dan mengirim Vira sebuah foto dirinya bersama seorang wanita duduk berdua seakan sedang berkencan.


"Pak Firlan?" Alia mendesis mengkode dengan tatapannya bahwa dirinya dan Firlan harus segera berpindah tempat. Namun pria yang dikode tetap diam ditempat. Dia sedang membayangkan bagaimana Vira mengamuk dengan jurus-jurus ajaib. Alia semakin gondok melihat Firlan yang malah lengket sama jok kursi.


"Pak Firlan!" seru Alia dan membuat Satya mendongak.


"Tidak perlu pindah tempat Alia, makan beramai-ramai lebih seru, saya kira Ivanka tidak akan keberatan," ucap Satya dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.


Alia melihat ke Firlan seakan mengatakan 'tatap mata saya' dan Firlan langsung ke hipnotis dan bilang semua unek-unek yang dia rasakan. Maap bukan gitu konsepnya ya.


Alia masih mencoba untuk adu tatap dengan Firlan mungkin mereka lagi lomba mata siapa yang paling bulet.


Firlan mengendikkan bahunya saat Alia melirik ke arah Satya yang sedang duduk disamping asistennya. Alia langsung pusing, sudah dipastikan ia akan kena semprotan Ivanka. Alia memohon pada Firlan agar bosnya itu mau berpindah tempat. Namun Firlan menggeleng. It means Firlan tidak tahu bagaimana caranya membujuk Satya, atau dia memang tidak tahu apa yang dikatakan Alia melalui mata batinnya.


"Kepala kamu kenapa, Lan? geleng-geleng terus dari tadi?" Satya tersenyum penuh arti.


"Nggak kenapa-napa, cuma pegel." ucap Firlan ngeles.


Tak lama Ivanka muncul dan berjalan mendekati dimana Alia berada. Dan Alia dengan gugup membenarkan kacamatanya, ia tak kuasa melihat bosnya berjalan semakin dekat ke arahnya. Alia dengan sisa- sisa kekuatannya memberi kode pada Firlan untuk segera beranjak dari meja itu.


"Sudahlah Alia, duduklah dengan tenang." Satya memperingatkan Alia untuk tidak perlu gelisah. Satya merasa diatas awan, Firlan tak bisa berkutik karena ancamannya. Firlan malah kasihan melihat wajah Alia yang pucat berasa ketemu setan.


"Loh kok disini?" tanya Ivanka yang berdiri di samping Satya.

__ADS_1


"Alia, bukannya saya menyuruh kamu pesan dua meja?"


...----------------...


__ADS_2