
Di kediaman Ganendra.
Setelah makan malam, mereka semua berkumpul di taman belakang dekat kolam renang.
"Pulang, yuk? udah malem," ajak Satya saat melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Ya udah, tinggal pulang, noh pintu terbuka lebar," celetuk Prisha.
"Abang nggak ngomong sama kamu, Mon!"
"Pulang yuk, Sayang..." Satya menowal-nowel lengan istrinya.
"Mas pulang aja sendiri, aku masih kangen sama Mami..." ucap Amartha sambil memainkan matanya pada Sandra.
"Kalau aku pulang sendiri yang ada aku yang kangen sama kamu, Yank... aku kan nggak bisa jauh-jauh dari kamu," ucap Satya memelas, sang papi hanya tertawa geli dalam hati, nasib anaknya ternyata tak jauh beda dari dirinya.
"Aku ngantuk, aku mau ke atas. Mami, Papi, Amartha mau istirahat di atas,"
"Yuk, Sha..." ajak Amartha pada adik iparnya. Abiseka hanya mengangguk, karena ia sedang menahan tawanya sekuat tenaga, tidak tahan melihat anaknya yang sedang merana.
"Iya, Sayang..." sahut Sandra.
"Yank ... pulang sama mas yuk, Sayang!" seru Satya saat melihat Amartha melangkah pergi.
"Biarin aja sih, Sat ... biarin Amartha nginep disini. Kamu pulang aja sana," sergah Sandra, ia mencegah anaknya untuk memaksa menantunya untuk pulang.
"Loh kok Mami ngusir aku sih, Mam? aku anak mami juga loh, Mami lupa?" ucap Satya kesal.
"Lagian kamu bikin ulah apa lagi, sih?" tanya Sandra.
"Nggak ada, Mam!" sahut Satya.
"Mami nggak percaya," kata Sandra.
"Satya, Satya ... istri lagi hamil itu dibikin seneng, kasih perhatian, kasih apa yang dia suka, buat dia nerasa sangat istimewa. Ah, kamu itu harus banyak belajar dari papi," ucap Abiseka membanggakan dirinya sendiri. Satya hanya memijit pangkal hidungnya, pusing
"Perempuan kalau lagi hamil itu sensitif banget, Sat! nggak boleh disenggol, itu mah pinter-pinternya kamu aja supaya nggak ngerusak mood dia, udah ya? mami capek mau tidur, kalau mau pulang jangan lupa bilang Mira supaya ngunci pintu," ucap Sandra yang beranjak dari duduknya dan mengajak suaminya untuk naik ke kamarnya.
"Yuk, Pap..."
"Ya Allah tega bener mami sama anak sendiri," cicit Satya yang melihat orangtuanya malah akan meninggalkannya.
"Yang sabar ya, Sat!" Abiseka menepuk pundak anaknya lalu melewatinya begitunya.
Walau bagaimanapun pantang bagi Satya untuk pulang jika tak bersama istrinya, Satya menaiki anak tangga. Ia berjalan menuju kamarnya, tapi tak ada seorang pun disana. Satya beralih pada kamar adiknya, tapi ia tak bisa langsung masuk karena pintu yang dikunci dari dalam.
"Bocil ngapain tidur pake di kunci segala!"
__ADS_1
Satya akhirnya mengetuk pintu kamar Prisha untuk menanyakan dimana keberadaan istrinya.
"Mon, buka pintunya!" Satya menggedor pintu kamar Prisha.
"Mon, buka!" Satya mengulanginya lagi.
"Ish, apaan sih? gedor-gedor pintu orang!" ucap Prisha menyembul dari balik pintu.
"Amartha mana?" tanya Satya.
"Udah tidur!" jawab Prisha sudah mengantuk, ia berniat menutup pintunya
"Eeeittts, tunggu dulu! tidur dimana?" Satya menahan daun pintu kamar Prisha.
"Disituuuuuu, noh..." Prisha menunjuk dengan dagunya, matanya sudah merem-merem menahan kantuk.
"Kamu pindah sana ke kamar abang!" perintah Satya yang masih betah berdiri.
"Nggak mau!" tolak Prisha.
"Mon! kamu pindah sana! abang beliin tas, deh!" Satya mencoba bernegosiasi denga Prisha.
"Duit aku udah banyak di kasih papi, sana sana pergi..." Prisha ingin menutup pintu, namun segera ditahan Satya.
"Eeeits, tungguuuu..."
"Abang mau masuk, minggir!" Satya segera menerobos masuk ke dalam kamar Prisha dan segera mengangkat istrinya ala bridal style.
Prisha yang udah ngantuk parah pun langsung menutup pintu saat abangnya sudah keluar bersama Amartha yang sudah berada di alam bawah sadarnya.
Satya membuka kamarnya dengan susah payah, pria itu menutup pintu dengan kakinya, lalu ia merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang yang berada dalam kamarnya. Ia menutupi sebagian tubuh Amartha dengan selimut.
Satya segera berganti pakaian, dan merebahkan dirinya di samping istrinya yang sedang ngambek.
Pagi harinya, Amartha bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Namun ia merasakan ada nafas hangat yang menyapu lehernya.
Amartha mengerjapkan matanya berkali-kali, ia mengumpulkan kesadarannya. Wanita itu perlahan membalikkan tubuhnya, ia melihat Satya tengah tertidur pulas.
"Mas..." panggil Amaratha.
"Mas Satya..." Amartha mengulanginya lagi
"Emhh, kenapa, Yank?" tanya Satya yang masih setengah sadar.
"Udah subuh," ucap Amartha.
"Bangun, Mas..." Amartha menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
__ADS_1
"Iya, Sayang..." Satya akhirnya sedikit membuka matanya. Pria itu duduk sejenak sambil mengumpulkan kesadaran.
Satya langsung bergegas menuju kamar mandi, mereka berdua menunaikan dua rakaat wajib sebagai seorang muslim. Setelah selesai, Amartha mencium punggung tangan suaminya. Ia kemudian melepas mukena yang dipakainya.
"Hati-hati..." ucap Satya saat Amartha akan berdiri.
Satya yang sedang mengganti baju kokonya dengan baju santai pun kaget saat istrinya mendadak mendekat.
"Pengen bubur ayam," rengek Amartha.
"Mau aku masakin?" tanya Satya menyungkurkan rambut je belakang telinga Amartha.
"Pengen beli, masak kelamaan," ucap Amartha.
"Ya udah, yok..." Satya langsung menyambar kunci mobilnya.
Setelah berganti pakaian, Amartha dan Satya turun menuruni satu persatu anak tangga. Sampai di depan mobil, Satya membukakan pintuk untuk istrinya. Satya segera berjalan memutar, ia duduk di kursi kemudi.
Langit masih gelap, Satya mulai melajukan mobilnya perlahan.
"Udahan dong Yank sebelnya, ya?" ucap Satya.
"Iya," sahut Amartha singkat.
"Dingin, ya?" tanya Satya. Amartha mengangguk. Satya segera mengatur kembali Air conditioner yang ada di dalam mobil, namun Amartha masih kedinginan. Ia ingat kalau di jok belakang ada jas yang kemarin dia kenakan. Satya menepikan mobilnya, dan menutupi tubuh istrinya menggunakan jas.
"Biar nggak kedinginan," ucap Satya.
"Makasih," jawab Amartha. Satya tersenyum, lalu segera melajukan mobilnya membelah jalanan yang masih sepi. Satya mencari-cari gerobak bubur ayam yang mungkin sudah mangkal jam segini.
Karena terlalu fokus menyetir, Satya tidak mengajak Amartha untuk mengobrol, matanya sibuk mencari penjual bubur ayam. Satya masih menyusuri jalanan sampai ia menemukan apa yang diinginkan istrinya.
"Yank kayaknya belum ada yang jualan," ucap Satya namun Amartha diam saja.
"Kita cari kemana lagi?" tanya Satya.
"Masih sepi banget, Yank ... atau mau cari di tempat yang lain?" Satya tak melepaskan pandangannya dari jalanan, ia tak mendapatkan jawaban dari Amartha. Ia sekilas melihat Amartha melihat ke arah jendela tanpa berniat menjawab pertanyaannya.
Satya menghela nafasnya, Amartha pasti ngambek karena permintaannya tak bisa langsung dituruti.
"Yank ... jangan diem aja, kita cari kemana lagi?" tanya Satya.
"Yank?" Satya melepas sabuk pengamannya dan mendekatkan tubuhnya pada istrinya.
"Astagaaaa, dia malah tidur," Satya terkekeh sendiri saat menyadari dirinya sedari tadi mengoceh sendirian, sedangkan istrinya sudah terbang ke alam mimpi.
...----------------...
__ADS_1