Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Keripik laknat


__ADS_3

Setelah sorakan para pengunjung membuat Amartha malu setelah koit. Dua sejoli itu langsung ngibrit keluar bioskop. Satya menarik Amartha menjauh dari tempat itu, mereka berdua tertawa saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Kebetulan mereka menonton bioskop yang ada di salah satu mall terbesar dikota itu.


"Ih Mas ... kamu tuh ya, malu-maluin tau nggak," ucap Amartha yang mencubit pinggang Satya, pria itu mengaduh antara sakit dan geli.


"Ya abisnya, aku udah ngebet pengen encuuun, Yank..." ucap Satya seraya memonyongkan bibirnya.


"Itu bibir pngen dicapit ap kayaknya, ya?" ucap Amartha saat melihat bibir Satya sudah mirip ikan koi.


"Dicapit? boleh tuh ... aku malah seneng Yank, tapi dicapit pake bibir kamu..." kata Satya yang membuat Amartha kembali mengeluarkan jurus capitannya, pria itu kembali mengaduh.


"Pikiranmu Maaaaasssss..." Amartha mencubit pinggang Satya, mereka berdua pun tertawa setelah Amartha puas mencubit dan menggelitiki pria itu.


"Yank, capek ketawa mulu, duh ... aku jadi laper, nih, kita makan dulu, ya? baru nanti balik," ucap Satya yang menatap Amartha meminta persetujuan.


"Iya, Mas ... cacing diperutku juga udah minta asupan," jawab Amartha yang membuat Satya gemas dan mencubit hidung mancung kekasihnya itu.


"Ih, Mas Satya ... kebiasaan, deh!" Amartha menggerutu sambil mengusap hidungnya yang habis ditarik.


"Kita makan disana aja gimana?" Satya menunjuk restoran jepang tak jauh dari posisi mereka saat ini.


"He'em, mau..." Amartha mengangguk antusias dan tersenyum, Satya menggandeng wanita itu berjalan menuju restoran yang mereka tuju.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memandang mereka dengan tatapan sendu.


Melihat Amartha yang tertawa bahagia dengan Satya membuat dada pria itu berdenyut nyeri. Pria itu berbalik, menjauh dari kedua sejoli yang terlihat sangat bahagia itu, bahkan ia belum pernah melihat Amartha tertawa seperti itu saat masih bersama dengan dirinya.


Setelah puas mengisi perut, Amartha dan Satya pulang ke rumah ke kediaman Ganendra.


"Baru pulang, Mbak?" sapa Prisha ketika melihat berjalan mendekat ke arahnya.


"Iya, Sha ... aku naro tas ke kamar dulu, ya?" ucap Amartha yang kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Sementara Satya ke arah dapur untuk mencuci tangannya. Sesaat kemudian pria itu menghampiri adiknya yang sedang santai di ruang keluarga.

__ADS_1


"Hey? makan apaan, Mon?" ucap Satya saat sudah duduk disamping Prisha yang sedang menonton tivi dengan ditemani setoples cemilan, yang sangat gadis itu memakannya terdengar sangat kriuk.


"Man Mon ,Man Mon ... abangku udah pikun ternyata ya, nggak nyangka umur belum 30 tapi daya ingat kalah papi," Prisha nyerocos sambil melirik abangnya.


"Sembarangan! Mon itu, Monster atau anak Mony-" Satya belum meneruskan ucapannya, gadis disampingnya sudah memotong ucapan pria yang dipanggilnya 'abang'.


"Oooh, pengen dikutuk sama mami nih orang," sarkas Prisha, yang malah dicuekin abangnya.


Satya mengeluarkan ponsel dari saku jeansnya dan menscroll chat di aplikasi berwarna hijau, namun suara kriuk dari mulut Prisha membuat dirinya juga ingin mencicipi cemilan yang dimakan adiknya itu.


"Makan apa sih kamu, Mon?" tanya Satya penasaran.


"Aku aduin sama mami loh, kalau abang ngatain aku anak monyet! biar abang diuwes-uwes sama mami!" kata Prisa yang kesal dengan panggilan baru yang diucapkan abangnya.


"Ya elah, gitu aja ngambek..." ucap Satya yang senang karena membuat adiknya mencebikkan bibirnya.


"Ditanya makan apa, nggak dijawab sih?" tanya Satya dengan wajah yang menyebalkan.


"Udah deh, nggak usah minta!" ucapan Prisha justru membuat Satya ingin merasakan cemilan itu.


"Pelit banget," Satya mendengus, kesal, namun pria itu tetap berusaha meraih makanan sejenis keripik di dalam toples berwarna oranye itu


"Ambil sendiri dibelakang noh dibelakang, mami beli banyak ... ini punya aku, mami juga beliin banyak oleh-oleh buat mbak Amartha," ucap Prisha yang tak mampu mencekal tangan Satya meraih keripik itu. Gadis itu tersenyum penuh arti saat tangan abangnya berhasil meraih beberapa keripik.


"Oh, Mami udah pulang?" kata Satya lalu memasukkan keripik ke dalam mulutnya. Ia bicara sambil tangannya sibuk mengusap benda pipih yang ada ditangan kirinya.


"Udah tadi sore," sahut Prisha singkat, ia berhenti makan dan justru melihat Satya memakan menikmati isi yang ada didalam toplet yang ada dipangkuan Prisha.


"Mon, eh Sha rasanya familiar nih keripik, tapi apaan ya?" kata Satya yang merasakan sesuatu yang familiar tapi entahlah, akhirnya dia mengambil keripik itu lagi dan memakannya.


"Tebak aja, keripik apaan" ucap Prisha sembari menutup mulutnya, menetralkan suaranya.

__ADS_1


"Diliat makanya, jangan makan sambil ngeliat hape!" Prisha tersenyum lagi


"Ambilin minum, Mon ... eh Sha ..." Satya meminta adiknya untuk mengambilkan segelas air.


"Dingin atau?" Prisha mulai bangkit, dan meletakkan toples diatas meja.


"Dingin, gitu dong kalau disuruh abang gercep! kalau kayak gini kan abang seneng," kata Satya tanpa melepaskan pandangannya dari layar ponselnya.


Tak berapa lama, Prisha datang membawa satu gelas air dingin ia menaruhnya di meja depan Satya.


"Makasih, ya?" ucap Satya dan segera meneguk air itu, kemudian ia taruh kembali gelas itu ke atas meja.


"Sat? abis pacaran?" seru Sandra yang tiba-tiba muncul lalu mendudukkan dirinya di sofa single di depan Satya.


"Iya Mam, biar kayak orang- orang, papi mana Mam?" kata Satya yang menatap maminya dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jeans yang dia kenakan.


"Lagi istirahat di kamar, capek banget katanya, oh iya ... Amartha mana, Sat?" tanya Sandra yang tidak melihat calon menantunya sedari tadi.


"Lagi ke kamar bentar, naro tas ... nanti juga kesini, Mam..." jawab Satya sambil terus mengunyah keripik, yang entah keripik apa itu, warnanya kuning, agak mirip dengan keripik nangka, tapi ini lebih tipis.


Satya terus memakannya, bukan doyan tapi lebih ke penasaran, karena rasa yang sepertinya tidak asing dilidah, tapi sampai saat ini dia belum menemukan jawabannya.


"Mami yang beli nih keripik?" ucap Satya yang menunjukkan keripik ditangannya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Sandra meraih toples yang ada dimeja, memastikan dugaannya benar.


"Iya mami beli di thailand, enak?" jawab Sandra yang meletakkan kembali benda berwarna oranye itu ke tempat semula, ia tak berkedip melihat Satya yang tak berhenti mengunyah.


"Tapi sejak kapan kamu doyan durian, Sat?" ucap wanita paruh baya itu mengernyit heran, melihat anak sulungnya doyan makan keripik durian, buah yang ia benci karena baunya yang begitu menusuk.


"Aaaaaapaaa! du-durian?" teriak Satya yang langsung merasakan mual, dan lari ke arah toilet di dekat dapur.


"Hoeeeeekkk, hoooeeeeeekkkkk!" pria itu mengeluarkan isi perutnya.

__ADS_1


...----------------...


Suka nggak suka nggak???


__ADS_2