
Sekarang Rosa sudah berada di ruang perawatan, di kamar VVIP. Tentu ini menjadi perdebatan antara Amartha dan Satya. Amartha menginginkan ruang perawatan yang biasa saja, bukan kamar VVIP seperti ini. Tapi Satya bilang bahwa kamar yang tersisa hanya ini, tentulah itu hanya akal-akalan seorang Satya Ganendra. Pria itu menginginkan, ibu dari gadis yang dicintainya bisa mendapatkan perawatan yang terbaik di rumah sakit itu.
Rosa perlahan membuka matanya, wanita itu mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling. Tangan yang diinfus menandakan, ia sedang berada di rumah sakit. Dilihatnya, Amartha duduk di sofa dengan seorang pria. Tak sadar kepala anak gadisnya menyender di bahu pria itu, sedangkan mata mereka memejam, kemungkinan mereka tengah terlelap. Rosa melihat guratan lelah di wajah keduanya.
Tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan sosok suaminya. Baru juga Rudy akan bersuara Rosa langsung menempelkan telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar Rudy jangan bersuara.
"Kenapa?" ucap Rudy tanpa mengeluarkan suara, ia berjalan mendekati Rosa, sontak mata Rudy membulat sempurna saat tak sengaja melihat pemandangan di sofa. Rosa menyentuh tangan suaminya seraya menggelengkan kepalanya, agar Rudy menahan Amarahnya.
Rudy menghela nafasnya, lalu tersenyum dan mengusap pucuk kepala istrinya. Menarik kursi dan duduk di samping ranjang Rosa, mengusap tangan istrinya dengan lembut.
Amartha menggeliat, mengucek matanya, Amartha terlonjak kaget saat menyadari dirinya bersandar di bahu Satya, dan jantungnya berdegub kencang saat mendapati mama dan papanya melihat dirinya.
"Mas, Satya!" ucap Amartha dengan setengah berbisik seraya menggoyang-goyangkan tubuh Satya.
"Ish, kenap-" Satya tercekat saat mendapati orang tua Amartha memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ehm," Satya berdehem seraya bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rosa diikuti Amartha yang salah tingkah.
"Perkenalkan, saya Satya Ganendra, Tante..." Satya membungkukkan sedikit tubuhnya tanda hormat.
"Iya, Nak Satya ... terima kasih atas bantuannya, suami saya sudah cerita semuanya," Rosa tersenyum teduh.
"Mah," ucap Amartha setelah berada di dekat Rosa.
"Amartha, Sayang..." Rosa menatap putrinya dengan tatapan sendu.
"Ada yang mama mau bicarakan," imbuh Rosa menatap Satya dan Amartha secara bergantian.
"Mama tau, kami sebagai orang tua terlalu mengekangmu," tanpa sadar air mata menetes dari sudut netranya.
"Sudahlah, Mah ... lebih baik Mama istirahat dulu," ucap Amartha lembut.
"Mama, minta maaf selama ini mama nggak pernah bisa mewujudkan keinginanmu," lanjut Rosa.
"Mah..." Rudy menatap istrinya lekat.
__ADS_1
"Ssst, biarkan aku bicara ... aku mohon," ucap Rosa menatap Rudy dengan memelas.
"Amartha, Sayang ... kamu harus selamatkan diri, pergilah ke luar kota, pergi sejauh mungkin!" tangis Rosa pecah saat itu juga.
"Tapi, kenapa, Mah?" Amartha masih bingung, sebenarnya apa yang telah terjadi.
"Nak, ada hubungan apa kamu dengan keluarga Brawijaya?" Rudy angkat bicara.
"Aku? Brawijaya?" Amartha semakin bingung dibuatnya. Bukannya di beri penjelasan, malah ia diberi pertanyaan.
"Mereka bilang, jika kamu masih berhubungan dengan pewaris Brawijaya, maka mereka akan menghabisi kamu, Nak! kami pun tidak mengerti, siapa yang mereka maksud," jelas Rudy dengan wajah serius.
"Apakah Kenan yang mereka maksud?" gumam Amartha lirih, namun masih terdengar oleh Rudy.
"Ka-kamu? su-sudah bertemu dengan Kenan? apa kalian menjalin hubungan?" tanya Rudy kaget dengan suara terbata-bata.
"Iya, Pah ... aku dan dia sudah bertemu kembali, dan aku sudah tau cerita yang sebenarnya," sahut Amartha dengan tatapan nanar.
"Maafkan papa, Sayang..." Rudy berdiri menggenggam tangan Amartha.
"Sudahlah, Pah ... semuanya sudah terjadi," ucap Amartha mengelus punggung tangan papanya.
"Sama sekali nggak," Amartha menggelengkan kepalanya.
"Aku kira kamu udah tau, kalau Kenan adalah anak dari Damar Brawijaya, seorang pengusaha sukses yang sangat terkenal, apapun akan dia lakukan, demi mewujudkan keinginannya, walaupun dengan cara kotor sekalipun," jelas Satya, membuat yang mendengarnya bergidig ngeri.
Kenan tak pernah bercerita mengenai keluarganya, Amartha pun tidak pernah menanyakan hal itu. Terlebih lagi, Kenan sangat sibuk, komunikasi keduanya pun sempat terganggu akhir-akhir ini.
"Nak ... tolong jaga Amartha, dia anakku satu-satunya," ucap Rudy memecah keheningan.
"Pasti, saya akan menjaga Amartha, Om.." sahut pria disamping Amartha.
"Kalau begitu menikahlah dengan Amartha, bawa dia pergi, jangan biarkan mereka menyakitinya," ucapan Rudy membuat Satya maupun Amartha membelalakkan matanya.
"Hah?" seru Amartha dan Satya kompak.
__ADS_1
"Nggak! aku nggak mungkin-"sergah Amartha, gadis itu menggeleng tanda tak setuju.
"Dengarkan papa, orang suruhan Brawijaya datang mengacaukan rumah, mereka mengancam kami dengan mengarahkan pistol ke kepala kami, papa yakin mereka tidak akan main-main!"
"Tapi ini nggak masuk akal, Pah..." kata Amartha melepaskan tangan papanya.
"Mungkin ada cara lain, selain menikah, Pah..." lanjut gadis cantik itu dengan tatapan memohon kepada sang papa.
"Papa hanya ingin kamu selamat, Nak ... papa takut mereka akan melenyapkan kamu,"
"Tapi kenapa harus Mas Satya?!" cairan bening meluncur bebas ke pipi gadis itu. Dia tidak mungkin menikah dengan orang yang tidak ia cintai, walaupun tidak dipungkiri Satya sangat baik terhadapnya.
"Papa tau, selama ini papa mengekangmu ... selama ini, papa mengatur hidupmu, tapi untuk kali ini papa mohon, untuk yang terakhir kalinya papa memohon padamu, Amartha... waktumu tidak banyak, Nak... Papa nggak mungkin melepaskanmu tanpa ada orang yang akan menjagamu, Sayang ... mengertilah," lanjut Rudy, dengan air mata yang menetes dari sudut netranya, memandang lekat sang putri tercinta.
"Amartha, mama tau ini adalah permintaan yang sulit, penuhilah keinginan mama, Sayang, dan setelah ini pergilah, Nak... mama ingin kamu tetap hidup..." Rosa meraih tangan Amartha, mengiba kepada putrinya.
Rosa pun tak kuasa menahan air matanya. Amartha memandang mamanya tak percaya, Rosa tahu betul pria yang dicintainya hanyalah Kenan. Tapi kenapa Rosa memintanya menikah dengan orang lain? Sekilas bayangan pria itu berputar di kepalanya, sulit baginya untuk mengabulkan permintaan sang mama.
"Ta?" suara Satya membuyarkan lamunan Amartha.
Akhirnya dengan berat hati Amartha mengangguk, air matanya lolos begitu saja. Apakah ini jalan satu-satunya? bahkan orang tuanya baru pertama kali bertemu dengan Satya, tapi mengapa dengan mantap mempercayakan dirinya kepada Satya?
"Bagaimana, Satya? apakah kamu bersedia menjaga putriku seumur hidupmu?" kini Rudy bertanya pada pria tampan yang berdiri di samping putrinya.
"Insya Allah, Om ... saya tidak akan membiarkan mereka menyakiti Amartha," ucap Satya kemudian melihat Amartha yang memalingkan wajahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Arghhh! sial!" teriak Kenan frustasi seraya mengusap kasar wajahnya.
Beberapa menit yang lalu, dia mendapat sebuah pesan misterius, yang mengirimnya sebuah gambar Rudy dan Rosa yang ditodong senjata api di kepalanya. Pria itu segera bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah shower. Ia harus tetap tenang menghadapi ambisi ayahnya. Dia harus cepat membawa pergi Amartha sebelum orang-orang suruhan ayahnya menemukan gadis itu. Kenan telah melacak keberadaan Amartha, melalui seorang pakar IT. Info yang terakhir diterimanya bahwa Amartha sedang berada di kota kelahirannya.
Setelah bersiap, Kenan segera melangkahkan kakinya menuju basement, ketika akan membuka pintu mobil, seseorang membekapnya dari belakang dan tak lama pandangan pria itu kabur dan akhirnya tak sadarkan diri.
"Halo, Boss! kita sudah menemukannya!" kata pria bertubuh tinggi besar itu pada seseorang lewat sambungan telepon.
__ADS_1
"Bagus, cepat bawa dia kesini!" titah seorang pria paruh baya.
...----------------...