
"Main aja sendiri!" kata Vira sambil membuang muka.
"Aku traktir deh kalau kamu menang," kata pria itu.
"Kok maksa, sih?" ucap Vira, ia segera meninggalkan pria yang ada disampingnya itu namun lengannya dicekal sehingga ia tak bisa kemana-mana.
"Lepasin, nggak?" ucap Vira penuh penekanan.
"Ayolah, main bentar ..." ucap pria itu seraya menempelkan kartu ke mesin di depan Vira dan menekan tombol start. Ia pun melakukan hal yang sama pada mesin permainan bola basket di hadapannya.
"Aku nggak mau main, kamu denger nggak sih Firlan Anggara?" ucap Vira menatap tak suka.
"Tapi tadi aku lihat kamu mau main ini tadi,"
"Tapi nggak setelah liat kamu," ucap Vira ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Firlan.
"Ya udah, kamu main, aku cuma liat aja deh..." kata Firlan. Sulit sekali jika Vira sudah ngambek seperti ini karena Firlan bukan tipe pria yang bisa membujuk wanita.
"Males," kata Vira.
Bola sudah ada di depan mata, namun wanita itu tak juga melemparkan bola ke dalam keranjang basket hingga waktu permainan telah habis.
"Kamu mau main apa?" tanya Firlan. Ketika Firlan lrngah Vira langsung menarikbtangannya dan berjalan menjauh dari Firlan. Firlan hanya bisa membuang nafasnya kasar sambil mengekori Vira dari belakang.
"Sulit sekali mengajakmu bicara," kata Firlan lirih.
Pria itu teringat saat dirinya keluar kantor dan ingin membawakan makan siang untuk Vira, namun saat mobilnya sudah di depan apartemen Ricko, ia melihat Vira masuk ke dalam taksi putih. Firlan segera mengikuti kemana perginya wanita itu. Ia menelepon bossnya jika dia tidak bisa kembali ke kantor. Beruntung Abiseka orangnya tidak rese seperti anaknya. Firlan mengikuti wanita yang tengah menikmati eskrim ditangannya dan betakhir di pusat permainan yang sungguh tidak cocok dengan outfitnya hari ini.
Vira berusaha tidak terpengaruh dengan kehadiran Firlan yang masih mengawasinya dari kejauhan. Wanita itu duduk di sebuah permainan berbentuk mobil ia segeta menempelkan kartu lalu melihat ke arah monitor, ia menginjak pedal dan berusaha mengikuti permainan. Namun sayangnya mobilnya terlempar dari jalur sirkuit, tanpa sadar ada tangan kokoh yang membantunya untuk mengendalikan stir.
"Injak pedal gasnya, kecepatan maksimal!" perintah Firlan yang tiba-tiba saja berada di belakang Vira.
Wanita itu menurut saja, sementara aroma parfum dari jas yang dikenakan Firlan menguar di indra penciumannya. Vira berusaha tetap fokus ke layar sampai akhirnya permainan selesai.
__ADS_1
"Yes, kita menang!" kata Firlan saat berhasil memenangkan permainan itu. Vira tak menggubrisnya, wanita itu beranjak dari tempat itu. Pergi mencari permaianan yang lain, Firlan hanya bisa garuk-garuk kepala.
"Ngambeknya Vira masih awet aja," kata Firlan yang mengekori kemana Vira pergi.
Wanita itu melihat sebuah permainan capit boneka. dia melihat boneka beruang yang lucu. Sesaat mata terpaku pada boneka itu. Firlan mendekat di belakang wanitanya.
Ia menempelkan kartunya lalu mulai mrmainkan joy stick mengarahkan mesin pencapit itu pada sasarannya. Vira hanya melihat wajah kekasihnya dari pantulan kaca. Ketika pencapit turun mencapit sebuah boneka beruang namun ketika pria itu menggerakkan tombol, pencapit itu naik ke atas tanpa membawa boneka. Firlan sungguh kesal.
"Ya jelas nggak bisa keangkat, orang bonekanya segede gaban, nyapitnya gitu doang!" gerutu Firlan. Vira kemudian meninggalkan pria itu. Firlan segera mengejar kekasihnya. Tak ada lagi yang ingin dimainkan Vira, wanita itu memilih keluar arena permainan. Dan berhenti pada stand penjual permen kapas. Firlan segera mengeluarkan dompetnya dan segera membayar permen kapas yang diinginkan pacarnya. Mbak-mbak penjualnya hanya tersenyum kala melihat sepasang kekasih yang sedang tidak akur itu.
"Makasih," Vira langsung menerima sebuah permen kapas yang super besar berbentuk kepala boneka beruang. Ia berjalan menuju tempat duduk yang berada di luar area permainan.
Firlan duduk di samping Vira lalu tangannya meraih satu tangan Vira dan mengeluarkan botol mini dan menyemprotkan cairan itu pada telapak tangan kanan kekasihnya.
"Tadi habis pegang mainan, kan?" kata Firlan. Vira cuek saja, ia membiarkan Firlan menggosok telapak tangannya agar cairan itu cepat menguap.
Vira mulai mencuil permen yang berbentuk kapas itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Vira makan dengan keheningan. hanya ada suara musik yang terdengar tanpa ada pembicaraan diantara keduanya.
"Vira..." panggil Firlan.
"Masih," sahut Vira sambil terus makan.
"Lama banget marahnya," kata Firlan menatap wajah Fira dari samping.
"Kan aku udah minta maaf," lanjut Firlan karena tak juga mendapat respon dari Vira.
"Karena aku udah bosen sama sikapnkamu yang seenaknya sendiri," kata Vira, ia berudaha menahan air mata. Dia terus memakan apa kapas manis itu, supaya bisa mengalihkan perhatiannya.
"Iya, aku tau,"
"Udah tau kenapa dilakuin?" tanya Vira menohok, wanita itu menatap Firlan dengan tajam.
"Iya, aku salah..." Firlan hanya bisa pasrah, tak ada gunanya berdebat dengan wanita uang sedang keluar tanduknya. Lagian dia mengikuti Vira untuk memperbaiki hubungannya bukan malah mau bikin tambah runyam.
__ADS_1
"Aku salah, aku yang salah, aku minta maaf..." kata Firlan namun Vira memalingkan wajahnya.
"Vira?" panggil Firlan lembut.
"Apa yang kamu katakan waktu itu udah keterlaluan, Firlan..." Vira menoleh dan air mata jatuh begitu saja dari kedua mata Vira.
"Iya aku emang keterlaluan, aku selalu berprasangka buruk dengan Ricko. Karena..." Firlan menggantung ucapannya.
"Karena apa?" tanya Vira, Firlan menghapus air mata kekasihnya, ia mengusap lembut pipi Vira.
"Karena dia menyukaimu," kata Firlan.
"Aku seorang pria, dan aku tau arti tatapannya saat melihat kamu, Vira..." jelas Firlan. Vira menggelengkan kepalanya, ia tidak setuju dengan pemikiran Firlan.
"Terserah kamu mau percaya atau nggak, aku nggak peduli. Yang jelas aku kesini, aku pengen memperbaiki hubungan kita," kata Firlan.
"Aku akan siap nungguin kamu, sampai kamu siap nikah sama aku. Aku pengen kamu tau, aku nggak main-main dengan perasaan aku, Vira..." kata Firlan. Vira menatap pria itu dalam.
"Janji?" tanha Vira.
"Aku nggak bisa janji, tapi aku akan berusaha membuktikan itu, kita jalani ini pelan-pelan..." ucap Firlan meraih satu tangan Vira dan menggenggamnya.
"Kamu mau maafin aku?" tanya Firlan. Vira perlahan mengangguk, Firlan segera mengecup tangan kekasihnya.
"Makasih, ya?" ucap Firlan.
"Aku laper!" kata Vira.
"Ya udah kita makan," ucap Firlan yang segera beranjak dari duduknya, ia mengajak Vira untuk pergi dari tempat itu. Mereka berjalan dengan tamgan saling bertautan, Firlan terkekeh saat menyadari bahwa dia seperti sedang melakukan kencan anak remaja. Sang wanita masih menggenggam permen kapas yang berwarna merah muda, sesekali ia melirik pria yang menggenggam tangannya erat.
"Kencan anak ABG" kata Firlan.
"ABG tua!" celetuk Vira.
__ADS_1
...----------------...