
Pagi-pagi sekali, Satya dan Amartha sudah berada di lokasi untuk prewedding photoshoot.
Amartha sebenarnya tidak mau melakukan sesi foto, bukan tidak suka difoto, hanya saja dia merasa malu ketika bidikan kamera mengarah padanya.
Amartha menelan salivanya dengan susah payah saat diminta untuk berpose mesra dengan Satya. Vergio sang fotografer, meminta Amartha untuk menempelkan tangannya di dada Satya dengan jarak wajah yang cukup dekat, kini jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja, hal itu membuat Amartha sangat canggung dan gugup, ah rasanya campur aduk.
Bukan hanya sampai disitu, satu tangan Satya yang merengkuh tubuh Amartha, membuat jantungnya memompa lebih cepat. Satya menatap lekat wajah Amartha yang terlihat sangat gugup.
Ah, pose ini sangat menguntungkan bagi Satya. Namun bukannya, berpose selayaknya dua orang yang saling menginginkan satu sama lain, Amartha malah menunjukkan raut wajah yang begitu canggung, Satya yang melihat itu, berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa.
Sang fotografer pun sampai menggaruk-garuk kepalanya, karena belum ada satu pun foto yang bagus. Satya pun hanya terkekeh, melihat sang photografer yang terlihat sangat frustasi.
"Nona, rileks saja ya, tarik nafas ... hembuskan..." ucap Vergio sang fotografer.
"Oke, kita mulai lagi, ya?" seru Vergio yang dijawab anggukan Amartha. Wanita itu pun mencoba melakukan seperti apa yang diucapkan Vergio.
Namun, saat Vergio akan mulai melakukan jepretannya, tanpa aba-aba hujan turun di tengah sesi foto outdoor yang belum selesai.
Satya yang menyadari hujan semakin deras, lantas berlari sambil menggandeng tangan Amartha. Sang photografer yang melihat adegan itu pun iseng mengarahkan lensanya pada Satya dan Amartha yang tengah berlari. Lalu ia tersenyum, sebelum akhirnya ia juga berlari untuk mencari tempat berteduh.
Kedua sejoli itu juga mencari tempat berlindung dan menunggu hujan reda. Amartha yang suka sekali dengan hujan pun, menengadahkan tangannya.
"Sayang, nanti bajumu basah," ucap Satya khawatir.
"Tapi aku suka, aku suka ketika tetesan hujan ini menyentuh tanganku," sahut Amartha dengan senyum yang mengembang.
"Coba deh, Mas rasain tetesan air hujan ini," lanjutnya.
Satya pun akhirnya mengikuti apa yang dilakukan Amartha. Wanita itu tersenyum melihat Satya melakukan apa yang dilakukannya saat ini. Ah, bahagia ternyata sesederhana ini!
"Aku kira aku akan kehilanganmu selamanya, ternyata tuhan begitu baik telah mengembalikanmu padaku, mengembalikan kamu pada pria tampan dan mapan ini," ucap Satya tiba- tiba, membuat Amartha menoleh pada pria itu.
"Cih," Amartha berdecih mendengar Satya yang memuji dirinya sendiri.
Satya hanya memandangi Amartha dengan penuh cinta. Beberapa bidikan kamera mengarah pada mereka berdua, ini begitu terlihat natural.
"Ah, masih untung ada yang bagus!" ucap Vergio dengan senyum puas.
.
__ADS_1
.
.
Setelah satu jam tetesan air langit yang turun secara bersamaan itu menjeda acara sesi foto mereka, akhirnya cuaca sudah mulai bersahabat kembali.
Vergio menghampiri Amartha dan Satya untuk meminta mereka berganti pakaian. Amartha hanya mengernyitkan dahinya heran. Katanya belum ada foto yang bagus, tapi kenapa si fotografer memintanya untuk berganti baju?
"Udah, turuti aja, Sayang..." kata Satya yang melihat kening Amartha berkerut.
"Hufffh, kapan selesainya?" tanya Amartha pada Satya.
"Sebentar lagi," Satya mengelus pucuk kepala Amartha. Sebenarnya ini adalah ide Sandra, yang menjadwalkan foto prewedding untuk Satya dan Amartha.
"Ayo, kita mulai lagi," seru Vergio, pada krunya.
Kali ini mereka melakukan sesi foto di sebuah cafe, mereka berdua memakai baju casual, duduk dimeja panjang dan saling berdampingan.
Vergio meminta Satya untuk memancing Amartha agar tersenyum. Satya beberapa kali melemparkan sebuah lelucon yang membuat Amartha tertawa.
Ketika akan melakukan sesi foto selanjutnya, Amartha menolak. Vergio hanya menghela nafas panjang, saat sang Nona meminta untuk segera pulang, Satya pun akhirnya menuruti kemauan Amartha.
"Dia sudah lelah," Satya menunjuk Amartha yang duduk di salah satu kursi di cafe yang sudah mereka booking itu.
"Kalau nyonya Sandra-" belum sempat Vergio berucap, Satya langsung memotong.
"Tidak apa-apa, nanti saya yang menjelaskan," ucap Satya.
"Baiklah kalau begitu," Vergio mau tidak mau menuruti kemauan clientnya ini.
"It's a wrap!" seru Vergio yang membuat semua kru bertepuk tangan, menandakan pekerjaan mereka sudah selesai.
Padahal Sandra sudah menyiapkan beberapa gaun, tapi tak satu pun gaun itu Amartha sentuh. Amartha merasa sangat lelah.
Satya pun menuntun Amartha untuk masuk ke dalam mobil.
"Maaf," ucap Amartha pada Satya yang sudah duduk di kusi kemudinya.
"Untuk?" Satya memgernyit heran.
__ADS_1
"Karena aku minta cepat selesai," jawab Amartha sambil mengigit bibir bawahnya.
"Paling nanti pulang kamu dijewer sama mami," Satya mencoba menakuti Amartha.
"Hah? masa?" Amartha bertanya dengan wajah cemasnya.
"Hahahah, bercanda, Sayang! mana mungkin mami ngelakuin itu sama kamu," Satyaencubit gemas pipi Amartha.
"Ih, nakut-nakutin aja sukanya!" ucap Amartha yang gantian mencubit pinggang Satya.
"Aaaaaaaaahhhh..." teriak Satya saat Amartha mencapit pinggangnya.
...----------------...
.
.
"Bang, nyetel musik napa!" Vira menengok ke arah Firlan.
"Saya nggak suka dengerin musik kalau lagi nyetir!" jawab Firlan yang tetap fokus pada jalanan.
"Dih, ga asik!" gerutu Vira yang melipat tangannya di depan dada.
"Apa kamu bilang?" Firlan kemudia menengok ke arah gadis menyebalkan itu dengan tatapan menusuknya.
"Aku bilang nggak asik! kenapa? marah?" ucap Vira yang sengaja memancing amarah Firlan.
"Nih, bang ... jangan marah mulu, nanti cepet ubanan tuh rambut," ucap Vira sambil menunjuk rambut Firlan. Gadis itu lalu terkekeh dan kembali menghadap ke depan.
"Lebih baik kamu diam, pusing aku denger kamu dari tadi ngoceh mulu!" sarkas Firlan yang membuat Vira mencebikkan bibirnya.
Firlan yang hatinya sedang kacau memilih untuk diam, malas meladeni Vira yang terus saja mengoceh sepanjang perjalanan. Tanpa disadari, gadis itu terlelap setelah beratus-ratus kata meluncur dari bibir tipis itu. Firlan yang tidak mendengar suara Vira pun akhirnya menengok sekilas pada gadis yang duduk di sebelahnya itu.
"Udah capek ngoceh dia!" ucap Firlan saat melihat Vira telah terlelap, sesekali kepala gadia itu membentur kaca jendela disampingnya.
Melihat kepala Vira yang kadang ngejedot kaca, membuat Firlan sedikit berbaik hati. Pria itu menepikan mobilnya, di bahu jalan. Firlan menyetel posisi kursi yang diduduki Vira, agar kepala gadis itu tidak membentur kaca jendela.
Saat sedang mengatur posisi kursi, tiba-tiba mata Vira terbuka lebar. Dia kaget ada Firlan didepannya. Sesaat pandangan mata mereka terkunci, Firlan menelan salivanya dengan susah payah. Gadis cerewet itu memiliki bulu mata yang lentik, membuat daya tarik tersendiri bagi yang menatapnya. Vira yang spontan akan beranjak dari posisinya malah menyenggol lengan Firlan yang sedang bertumpu di sisi pinggir kursi, membuat Firlan hilang keseimbangan dan tanpa sengaja b*bir Firlan mendarat diatas b*bir tipis Vira. Keduanya kompak membulatkan matanya.
__ADS_1
...----------------...