
Firlan mempersilakan Kenan untuk masuk. Sang asisten pun menutup pintu kembali. Satya yang melihat mantan rivalnya langsung bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan menuju sofa single yang ada di ruangan itu.
"Ada perlu apa, Ken? nggak biasanya nyari sampai kesini?" ucap Satya yang duduk dengan menumpangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya.
"Aku nggak mau basa-basi ... aku datang kesini untuk minta kamu membatalkan pernikahan kalian, aku yakin dia menjalin hubungan sama kamu, cuma untuk pelarian aja," kata Kenan setelah mendudukkan dirinya di sofa dan menatap Satya dengan tajam.
"Pelarian? Kenan ... Kenan ... kamu itu ngomong apa, sih?" Satya menaikkan satu alisnya.
"Waktu itu aku udah bilang sama kamu, kalau kamu sampai nyakitin Amartha, aku nggak akan segan-segan merebut dia dari kamu, kamu nggak mungkin lupa, kan?" ucap Satya yang yang kemudian melipat tangannya didada.
"Biarkan dia bahagia, Ken..." lanjut pria itu.
"Dia akan bahagia sama aku, kita berpisah karena keadaan, keadaan yang memaksa kami mengambil jalan itu," ucap Kenan yang berusaha membela diri
"Omong kosong," Satya tertawa kecil mendengar apa yang diucapkan Kenan.
"Apa kamu bilang?" Kenan berdecak kesal melihat Satya.
"Aku bilang omong kosong!" Satya mengulangi perkataannya.
"Dengar ya, Amartha bukan barang yang bisa seenaknya kita ombang ambingkan perasaannya, dia punya hak untuk menentukan apa yang dia inginkan, Ken ... aku nggak peduli kalian berpisah karena apa, yang jelas aku akan tetap menikahinya dengan atau tanpa persetujuanmu, ingat kamu sekarang hanya mantan suami," kata Satya memberi penekanan di akhir kalimatnya.
"Aku yakin dia akan meninggalkan kamu dan kembali sama aku," kata Kenan yang tidak suka dengan apa yang diucapkan pria yang dulu sempat membantunya untuk menikahi Amartha.
"Belum tentu," kata Satya yang semakin membuat Kenan tersulut amarah.
__ADS_1
"Jangan lupa, perceraian itu atas keputusan kalian berdua, dan selama setahun itu mantan istrimu hidup dengan susah payah, apa kamu peduli? aku tanya, APA KAMU PEDULI?bagaimana dia hidup sendirian jauh dari orangtua, dia melewati semua kesakitannya sendirian, dia bahkan menyembunyikan perceraian kalian dari orangtuanya, orangtua yang dulu kau mintai izin untuk menikahi anak semata wayangnya, apa kau pernah meminta maaf pada mereka? atas janji yang sudah kamu ingkari, dan setelah dia mau melangkah meninggalkan masa lalu, kamu datang lagi dan menginginkan dia kembali? maaf aku bukan pecundang seperti kamu, Ken ... kamu telah menyia-nyiakannya dan apa salahnya jika sekarang aku memberinya kebahagiaan? aku memberimu undangan pernikahan kami supaya kamu pun berhenti mengejar Amartha," kata Satya yang membuat Kenan tak bisa berkata-kata, karena apa yang diucapkan Satya adalah fakta.
Bagaimana saat itu Satya meneleponnya saat ia dikejar oleh orang suruhan ayahnya, Damar Brawijaya. Saat itu Satya mengatakan bahwa besok ia akan menikahi Amartha, namun ia tahu orang yang dicintai Amartha hanyalah Kenan, Satya menyuruh orang suruhannya untuk menjemput dimana Kenan berada. Setelah Kenan berhasil bertemu dengan orang suruhan Satya, pria meminta Kenan untuk membeli perhiasan sebagai mahar untuk pernikahannya.
Sementara Satya meyakinkan Rudy bahwa ia akan menjamin keselamatan Amartha dan ia tidak akan membiarkan orang suruhan Damar menyakiti Amartha. Malam itu akhirnya, Kenan bertemu dengan Satya, kedua lelaki itu datang ke kediaman Amartha sekitar 2 dini hari, disaat semua orang sudah terlelap, di malam itu Kenan mengatakan bahwa ia berniat menjadikan Amartha sebagai istrinya, dia berjanji akan menjaga Amartha, Rosa dan Rudy pun akhirnya luluh dan menerima pinangan Kenan untuk putrinya. Ya kilasan demi kilasan masa lalu menggelayuti pikirannya saat ini, yang dikatakan Satya memang benar, dia telah melukai hati Amartha, dia telah mengingkari janjinya, bahkan satu kata maaf belum sempat ia katakan pada kedua orangtua mantan istrinya itu.
"Kamu benar, aku ini tak lebih dari seorang pecundang," akhirnya Kenan membuka suaranya setelah cukup lama ia terdiam.
"Baiklah kalau begitu," lanjut pria itu seraya bangkit dari duduknya, sepertinya usahanya kali tidak berhasil, Satya benar-benar membuktikan ucapannya.
Kenan pun melangkah menuju pintu keluar, namun ketika tangannya baru menyentuh hadle pintu, Satya kembali berucap.
"Mulailah untuk berjalan ke depan, Ken ... jangan terlalu sering menengok kebelakang, nanti kamu ketabrak," ucap Satya yang tanpa sadar membuat Kenan menarik segaris senyum tipisnya.
"Semoga kalian bahagia," ucap Kenan lirih, kemudian ia segera membuka pintu dan keluar dari ruang kerja Satya.
Ketika matanya mulai memejam, ponselnya berdering.
"Satyaaaaaa? dimana kamu?" teriak Sandra dari seberang telepon.
"Astaghfirllah, Mami bikin kaget orang aja, untung nih jantung masih anteng ditempatnya, ada apa, Mam? pake tereak segala, ngomong pelan juga Satya masih denger, Mam..." Satya mengusap telinganya, pria itu langsung menegakkan duduknya.
"Maap mami kelepasan, mami cuma mau ngingetin kamu supaya jangan lembur, mami tunggu di rumah, ya udah Assalamualaikum," ucap Sandra yang tak banyak bicara.
"Waalaikumsalam, Mamii..." Satya menutup teleponnya dan bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Satya segera menyambar kunci mobilnya dan segera meninggalkan perusahaan, dia tidak mau kembali mendengar teriakan sang Mami yang bikin panas telinga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara Refan terus melajukan mobilnya menuju rumah Amartha. Dia terus memacu mobilnya di jalan tol, dia harus cepat bertemu dengan wanita itu.
Tak berapa lama, Refan sampai di pelataran rumah Amartha, rumah yang sangat terlihat mencolok daripada rumah-rumah disampingnya, karena rumah itu terlihat sangat cantik dengan dekorasi yang sangat elegan.
Refan segera melangkahkan kakinya mengabaikan ornamen-ornamen acara siraman yang akan dilaksanakan besok pagi, pria itu mengetuk pintu rumah Amartha. Dan tak berapa lama, pintu pun terbuka dan menampilkan sosok wanita cantik bernama Amartha Dina.
"Mas Refan?" pekik Amartha saat yang dihadapannya adalah kakak dari Sinta.
"Amartha? gue boleh minta waktunya sebentar? ada yang pengen gue omongin," ucap Refan.
"Ehm, silakan masuk, Mas..." ucap Amartha sembari mempersilakan Refan untuk masuk dan duduk.
"Maaf duduk dibawah, Mas ... soalnya kursinya udah pada dipindahin, besok mau ada mau ada siraman,"
"Nggak apa-apa, Amartha ... sebelumnya gue minta maaf sama lo, gue yang udah minta Kenan buat jengukin Sinta waktu kalian ada di kota Y, karena saat itu gue nggak tau lagi harus minta tolong sama siapa kalau bukan Kenan, karena udah berkal-kali Sinta menyakiti dirinya sendiri dan berniat untuk mengakhiri hidupnya, dan maaf karena Sinta kalian sampai pisah," jelas Refan dengan rasa bersalah.
"Amartha, kembalilah pada Kenan ... gue yakin lo berdua masing saling sayang, please balik lagi sama Kenan," ucap Refan dengan tatapan sendu.
...----------------...
kira-kira gimana keputusan Amartha ya?
__ADS_1
oke nanti mlm aku up 1 lg kynya nnt malam ya