Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Aku Yang Salah


__ADS_3

Lebih dari seminggu Vira menjauh dari Firlan. Entahlah, wanita itu sedang fokus merawat Raharjo yang kebetulan tinggal di sebuah apartemen milik Ricko. Ricko juga tinggal disana, karena rumah Raharjo ada di daerah, maka Ricko menyarankan supaya pria yang ia kenal dengan sebutan pak Jojo itu tinggal di apartemennya untuk sementara waktu. Vira merasa tidak enak karena selain mendapat donor ginjal, papanya malah juga mendapat perawatan home care yang dibayar oleh Ricko.


"Aku pamit, Kak..." ucap Vira saat wanita itu keluar dari kamar yang ditempati Raharjo dan mendekat pada Ricko yang sedang menonton televisi.


"Udah malem, apa nggak sebaiknya nginep disini?" tanya Ricko, ia melihat jam pada ponselnya yang ada di genggaman tangannya.


"Besok aku masih shift pagi, seragam masih ada di kos. Kalau berangkat dari sini nggak akan keburu, bisa telat masuk yang ada," ucap Vira.


"Kalau nggak, aku antar kamu ke kosan, aku nggak bisa ngebiarin kamu pergi malem-malem sendirian, bahaya." ucap Ricko yang segera bangkit dengan memegang daerah bekas operasi.


"Kakak kan masih sakit," ucap Vira seraya membantu Ricko berdiri.


"Nggak begitu sakit kok, bentar aku ambil kunci mobil dulu," Ricko mengusap pucuk kepala Vira dan melenggang masuk ke kamarnya.


Tak lama, Ricko kembali dengan membawa kunci mobil, malam itu Ricko mengantar Vira ke kosannya yang lumayan jauh dari apartemennya. Nyeri sedikit masih bisa ia tahan, daripada Vira harus pulang sendirian, ia takut terjadi sesuatu pada wanita itu. Ricko baru pertama kali


"Makasih, Kak..." ucap Vira saat mobil Ricko sudah sampai di pelataran kosannya. Wanita itu membuka sabuk pengaman yang membelit tubuhnya.


"Sama-sama, nite ya..." ucap Ricko seraya tersenyum.


Vira turun dari mobil berwarna putih itu dan segera menutupnya, ia berdiri di depan pagar kosannya, perlahan mobil Ricko bergerak dan menjauh dari tempat dimana Vira berdiri.


Saat Vira akan masuk sebuah mobil hitam datang dan berhenti di depan kos wanita dengan rambut sebahu itu. Vira menoleh, nampak Firlan keluar dari mobil. Vira segera mempercepat langkahnya, namun Firlan berhasil mencekal tangannya.


"Vira, tunggu!" seru Firlan.


"Ada apa? aku capek," kata Vira ketus, ia berusaha melepaskan cekalan dari Firlan.


"Kamu darimana?" tanya Firlan.

__ADS_1


"Jenguk orangtua," jawab Vira, Firlan masih memegang tangannya.


"Jangan bohong," ucap pria berjas hitam itu,m.


"Kalau nggak percaya ngapain pake nanya?" Vira membuang muka.


"Vira, kenapa kamu ngehindarin aku?" tanya Firlan yang langsung to the point.


"Masa sih?"


"Vira kita aku mau ngomong," ucap Firlan, Vira menoleh.


"Bukannya kita daritadi juga ngomong, ya?" celetuk Vira.


"Vira ... aku tau kamu masih marah sama aku," kata Firlan


"Please..." lanjutnya.


Sementara Ricko yang berhenti saat melihat sebuah mobil hitam datang dari arah berlawanan dan berhenti di depan kosan Vira. Ia melihat dari kaca spionnya, Vira yang masuk ke dalam mobil itu, pria itu menghela nafas kemudian menjalankan mobilnya kembali menuju apartemennya.


"Vira, aku tau aku salah, aku minta maaf..." ucap Firlan, Vira menatapnya dengan tajam. Ini kali pertama mereka berdua bertengkar lebih dari seminggu.


"Vira..." Firlan memanggil Vira dengan lembut. Pria itu mencoba untuk tidak memancing keributan.


"Kalau kamu pengen tau, aku sama kak Ricko itu nggak ada apa-apa. Coba kamu bayangin ada orang yang udah kasih satu ginjalnya buat papa kamu, terus dia juga menampung orangtuamu di rumahnya, apa salah kalau aku juga bersikap baik sama dia? aku salah?" emosi Vira meledak, air mata lolos dari kedua matanya.


"Belasan tahun aku kehilangan kasih sayang orangtuaku, dan aku dipertemukan dengan mereka dalam keadaan sakit kayak gini, apa aku salah jika aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan orangtuaku? aku yang dulunya hanya tau kalau orangtuaku sibuk kerja dan nggak peduli sama aku, dan sekarang kenyataan kalau papaku sakit dan mereka sibuk mencari uang untuk pengobatan papa. Apa aku harus sedetail itu menjelaskan disaat aku khawatir dengan keadaan papa? apa aku harus minta ijin dulu sama kamu? iya?" Vira menangis meraung-raung. Firlan membawa Vira ke dalam dekapannya.


"Aku minta maaf ... aku nggak ngertiin kamu, aku nggak berguna. Aku nggak ada disaat kamu butuh kehadiranku, maafin aku..." ucap Firlan ia mengecup pucuk kepala Vira.

__ADS_1


"Apa aku harus menjelaskan disaat semuanya terjadi begitu cepat?" ucap Vira disertai isakan.


"Sssh, aku yang salah, aku ... maafin aku," kata Firlan yang memeluk Vira erat, bahu wanita itu bergetar, ia menangis di pelukan kekasihnya.


"Kamu mau kan maafin aku?" lanjutnya.


Firlan mengelus lembut kepala Vira, ia memberi ruang pada wanita itu untuk menumpahkan segala kekecewaannya, segala kesedihannya agar beban di pundak wanita utu setidaknya berkurang sedikit, dan hatinya menjadi lega.


"Maafin pria egois ini," ucap Firlan, Vira mengangguk pelan. Firlan mengusap punggung kekasihnya dengan lembut. Vira menangis sampai sesenggukan.


"Aku boleh nggak jenguk calon mertuaku?" tanya Firlan, Vira kembali mengangguk kecil.


"Udah jangan nangis, aku yang salah ... kamu wanita yang kuat, aku bangga sama kamu. Kamu mau mengurus papa kamu yang lagi sakit, nggak salah memang aku pilih calon istri...." ucap Firlan berusaha menghibur Vira, pria itu juga menghapus air mata wmVira dengan ibu jarinya.


"Emang siapa calon istri kamu?" Vira menjarak tubuh keduanya, ia menatap lekat mata indah milik Firlan.


"Vira Anugrah anaknya pak Raharjo," ucap Firlan.


"Tunangan aja belum udah ngaku-ngaku calon istri, dasar nggak modal!" cibir Vira, lalu tertawa kecil. Antara ingin lanjut menangis dan ingin tertawa mendengar celetukannya sendiri


"Nih mulut aku karetin baru tau rasa," ucap Firlan mencubit bibir Vira yang tipis.


"Boleh karetnya dua!" celetuk Vira.


"Dasar!" Firlan mengusap rambut kekasihnya. Ia membawa Vira ke dalam pelukannya lagi.


Ricko yang sudah berada dalam apartemennya pun tidak bisa tidur. Ia terbayang dengan apa yang ia lihat tadi. Melihat Vira masuk ke dalam mobil lain, Ricko yang semula sudah berbaring di kasur empuknya mendadak beringsut dan beranjak dari ranjangnya. Ia berjalan perlahan ke arah jendela, ia menyibak tirai yang ada di jendela besar di kamarnya. Pria itu melihat hamparan bintang berkerlap-kelip diatas sana. Pria itu meniupkan udara dari mulutnya perlahan.


Beberapa kenangan dengan Vira kecil pun terlintas di ingatannya, ia tersenyum saat mengingat memori itu. Namun, ia teringat kembali saat wanita itu masuk ke dalam mobil dengan seorang pria.

__ADS_1


"Apakah dia kekasihmu, Vira?" ucapnya lirih.


...----------------...


__ADS_2