
"Mas Kenan?" Amartha melihat suaminya, Satya hanya membalas tatapan istrinya, kemudian memutuskan pandangan itu dan segera beranjak, dan berjalan ke arah mantan suami istrinya. Ia menjabat tangan Kenan. Pria itu membawa sebuket bunga. Satya mencoba bersikap santai, dia menaruh kedua tangannya ke dalam saku.
"Gimana keadaannya?" tanya Kenan pada Satya
"Sudah membaik dan beruntung janin yang ada di dalam kandungannya bisa bertahan," jelas Satya.
"Ja-nin?" ucap Kenan terbata-bata, lalu sekilas melihat Amartha yang tengah berbaring diatas ranjangnya.
"Iya," sahut Satya singkat.
"Boleh aku bicara dengan Amartha? ada hal yang ingin aku sampaikan," tanya Kenan pada orang yang kini telah menggantikan posisinya.
"Silakan," Satya menggeser tubuhnya dan mempersilakan Kenan untuk mendekat ke arah ranjang. Satya segera menghampiri istrinya.
"Sayang? aku kabari mami dulu, ya? aku telfon diluar bentar," ucap Satya yang sebenarnya hanya sebuah alasan untuk memberi waktu Kenan dan istrinya bicara empat mata.
"Mas?" Amartha tidak mau ditinggal.
"Hanya sebentar, aku di depan situ kok, ya? sekalian mau telfon Firlan, tuh orang pergi dari pagi tapi sampai sekarang belum nyampe-nyampe juga," kata Satya, tangannya mengelus pucuk kepala istrinya.
"Jangan lama-lama," lirih Amartha.
"Iya, Sayang..." ucap Satya lembut.
"Ken, tinggal dulu, ya?" Satya menepuk pundak mantan Rival.
"Oke," kata Kenan singkat.
Satya berjalan ke arah pintu dan menutupnya dari luar. Kenan menarik sebuah kursi di samping ranjang Amartha, lau ia mendudukkan dirinya.
"Hai, Ta..." ucap Kenan menyunggingkan senyumnya.
"Maaf aku selalu gagal melindungi kamu, gimana keadaan kamu sekarang?" kata Kenan sendu.
"Baik, Kak..." jawab Amartha canggung.
"Kak?" gumam Kenan, dia merasa sangat asing dengan panggilan dari Amartha itu. Seakan ada jarak yang membentang jauh antara dirinya dan mantan istrinya itu, dia tersenyum tipis.
"Ehm, kata Satya sekarang kamu sedang," ucapan Kenan mendadak terhenti.
"Hamil." Amartha menyambung ucapan mantan suaminya itu.
"Iya, hamil. Ehm, sebentar lagi ternyata aku jadi om, ya?" kata Kenan dengan tawa kecil, dia mencoba untuk mencairkan suasana
__ADS_1
"Iya, Kak..." jawab Amartha singkat.
"Hai, dedek kecil kenalin ini om Kenan. Kamu baik- baik ya, disana? kita akan berjumpa setelah kamu lahir," ucap Kenan seakan berbicara dengan janin yang ada di dalam kandungan Amartha.
"Memangnya Kakak mau kemana?" Amartha mengerutkan keningnya setelah mendengar ucapan Kenan.
"Aku mau melanjutkan studiku di Amrik, sekalian mengepakkan sayap bisnis keluargaku disana, dan juga untuk menyembuhkan luka di masa lalu. Aku harap kamu akan selalu bahagia, bersama suami dan anak-anakmu," ucap Kenan yang ingin sekali menggenggam tangan Amartha, namun dengan sekuat tenaga ia tahan.
"Hey apakah kamu bisa dengar apa yang om katakan? mintalah adik yang banyak sama mama dan papamu, ya?" ucap Kenan yang mengukir segaris senyuman di bibir Amartha. Melihat itu hati Kenan sangat sakit, tapi dia mencoba untuk menepisnya. Amartha masih mau berbicara dengannya saja itu sudah lebih dari cukup, tapi tetap saja hati tak bisa dibohongi. Walaupun bibir mengatakan dia akan baik-baik saja, namun hatinya berkata lain. Hatinya sangat terluka dengan kenyataan yang ada di depan mata.
"Sebelum aku pergi, bolehkah aku minta satu permintaan?" kata Kenan sambil menatap wajah yang mungkin akan sangat ia rindukan dalam jangka waktu yang sangat lama.
"Apa itu?" tanya Amartha pada Kenan.
"Jangan panggil aku kakak, karena itu terasa asing ditelingaku, bukankah kita masih bisa menjadi teman atau saudara? jadi jangan panggil aku dengan sebutan itu, hem?" ucap Kenan kemudian tersenyum.
"Iya, Mas Kenan..." Amartha mengangguk.
"Nah itu lebih baik. Oh ya, ini bunga mawar untukmu, terimalah..." Kenan memberikan satu buket mawar putih, bunga kesukaan Amartha.
"Makasih, Mas..." kata Amartha yang menerima bunga itu, dan mencium aromanya.
"Aku yakin Satya pria yang baik, walaupun sebenarnya sampai kapan pun aku tidak suka dengannya. Hahhaahha, tapi sialnya dia sudah membuktikan bahwa dia bisa melindungimu melebihi siapapun, jaga dirimu. Aku pamit..." Kenan mengacak-acak rambut Amartha, wanita itu merengut dan merapikan kembali rambutnya. Sementara Kenan hanya tertawa kecil.
"Pasti..." sahut Kenan.
Ketika Kenan beranjak dari kursinya, tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan sosok Rudy dan Rosa. Pandangan mereka terkunci saat melihat mantan menantunya di depan mata. Kenan berjalan ke arah Rudy dan Rosa yang berdiri mematung melihatnya.
Kenan langsung menyentuh kaki Rudy, sementara pria paruh baya itu langsung meraih tubuh menantunya dan membantunya berdiri.
"Jangan lakukan itu," Rudy mendekap tubuh pria jangkung di hadapannya.
"Maafkan aku, Pah! maafkan aku ... aku lalai dengan kewajibanku, aku telah menyakiti putri semata wayangmu, aku pantas dihukum..." Kenan tak sanggup menahan air matanya. Dia merasa sangat bersalah telah mengingkari janjinya ketika membawa Amartha pergi dari rumah orangtuanya.
"Papah sudah memaafkanmu. Begitu pun dengan mama, kami sudah ikhlas. Semua ini takdir yang harus kita jalani. Setiap orang bisa melakukan kesalahan, namun setiap orang juga berhak memperbaiki diri. Sudahlah, tinggalkan masa lalu dan melangkahlah ke depan." ucap Rudy diiringi tangis Rosa, dia terharu suaminya bisa berbesar hati memaafkan Kenan.
"Benar kata papah, kami sudah memaafkanmu. begitu juga dengan Amartha. Mama doakan kamu juga bisa segera menemukan pasangan hidup, jadikan masa lalu sebagai pelajaran ketika kamu akan membina kehidupan rumah tangga kelak," Rosa mengusap punggung menantunya. Kenan melepaskan pelukannya dan menyeka lelehan air mata yang membasahi pipinya.
"Terima kasih Mah, Pah ... Kenan pamit," ucap Kenan. Seraya menyalami kedua orangtua Amartha, beban hatinya kini sedikit berkurang.
Pria itu melangkahkan kakinya keluar. Sementara Rudy dan Rosa mendekati anak mereka yang juga meneteskan air matanya, terharu dengan apa yang baru saja disaksikannya.
Kenan mendekati Satya yang tengah duduk di kursi depan ruang perawatan istrinya.
__ADS_1
"Hem," Kenan berdehem.
"Udah?" Satya bertanya dan menggeser tempat duduknya, memberi tempat untuk Kenan duduk.
"Terima kasih," ucap Kenan setelah duduk disamping Satya.
"Untuk?" Satya mengerutkan keningnya.
"Selalu melindungi Amartha," Kenan tersenyum lalu melipat tangannya di depan dada.
"Sudah menjadi kewajibanku." ucap Satya yang dibalas senyuman oleh Kenan. Sepertinya baru kali ini mereka berdua bisa bicara dengan kepala dingin.
"Oh ya, selamat sebentar lagi kalian akan menjadi orangtua," kata Kenan dengan senyuman mengembang, walaupun hatinya sakit mengatakan itu.
"Terima kasih, Ken ... semoga kamu juga bisa melanjutkan kehidupanmu," Satya menumpangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya.
"Semoga," sahut Kenan getir.
"Mungkin jika anakmu lahir perempuan kamu bisa menjaganya untukku," ucap Kenan yang membuat Satya menatap heran padanya.
"Maksudnya?" Satya tidak mengerti apa yang dimaksud Kenan.
"Jika aku tak bisa mendapatkan ibunya, mungkin aku bisa mendapatkan putrinya," ucap Kenan yang langsung mendapatkan pukulan di lengannya.
"Haisshhh, jangan harap! aku nggak akan biarkan putriku menikahi pria tua seperti dirimu," ucap Satya ketus.
"Hahahahahaha, aku hanya bercanda, Sat!" Kenan tertawa saat melihat wajah Satya yang masam.
"Aku tau,"
"Baiklah aku pamit, sampai berjumpa kembali, aku mendoakan kebahagiaan kalian," Kenan segera bangkit.
"Doa yang sama untukmu," Satya juga bangkit dari duduknya dan menepuk bahu Kenan pelan.
Kenan memutar tubuhnya dan melangkah pergi dengan membawa luka yang sangat dalam, tapi dia yakin bisa menyembuhkan luka itu. Namun ia tidak yakin bisa menghapus nama mantan istrinya dan menggantikannya dengan yang lain.
Pria itu berjalan menjauh dengan ditemani kilasan masa lalu yang manis yang pernah dilaluinya dengan seseorang yang sudah menjadi milik orang lain.
"Selamat tinggal, kekasihku..." gumam Kenan sambil menyeka air mata yang lolos dari kedua matanya.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1