Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Diguna-guna


__ADS_3

"Sinta?" seru Amartha. Wanita itu menoleh melihat wajah sahabat lamanya. Wanita dengan pakaian kerja yang modis itu kemudian menoleh.


"Eh, Ta..." pekik Sinta, ia tersenyum canggung, Amartha mendekati Sinta.


"Kamu suka beli disini juga?" tanya Amartha.


"Nggak, aku kebetulan lewat aja tadi, ehm ... kebetulan belum sarapan juga," jawab Sinta dengan gugup.


"Maaf, jadi cake yang ini, Nona?" tanya pelayan bakery sambil mengambil sebuah soft cake berbentuk oval lumayan besar. Amartha mengernyitkan dahinya.


"I-iya jadi," jawab Sinta.


"Itu untuk sarapan?" tanya Amartha yang heran.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya seorang pelayan.


"Soft cake rasa pandan," Amartha menunjuk sebuah cake berukuran besar berbentuk persegi.


"Beneran kamu mau makan cake sebanyak itu?" tanya Amartha, Sinta hanya tersenyum kaku.


"Nggak usah salting kayak gitu kali, Sinta..." kata Amartha menepuk lengan Sinta.


"Hai, baby kecil, ehm..." Sinta nencoba menyapa dedek bayi yang ada di dalam perut Amartha.


"Pegang aja nggak apa-apa, Sin..." ucap Amartha, ia menarik tangan Sinta dan menempelkan telapak tangan wanita itu ke perut buncitnya. Baru saja Sinta menyentuh perut Amartha ada tendangan kecil yang Sinta rasakan.


"Wah kamu dapet salam kenal tuh," ucap Amartha sambil terkekeh.


"Masa sih? salam kenal juga ya, adek kecil..." ucap Sinta seraya mengelus perut Amartha.


"Ini cakenya, Nona..." ucap sang pelayan yang menunjukkan sebuah papper bag.


"Oh, ya ... cake untuk nyonya ini biar saya yang bayar," ucap Sinta sambil mengekuarkan sebuah kartu ajaib.


"Nggak usah, Sin ... aku bisa bayar sendiri," cegah Amartha, ia merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa, kalau kamu nggak terima malah aku marah," ucap Sinta, kemudian ia menekan pin pada sebuah mesin yang disodorkan seorang pelayan.


"Kita duduk disana, kasian kamu berdiri kelamaan," ucap Sinta saat sudah menerima kartunya kembali.


"Mbak tolong dibawakan kesana, temen saya lagi hamil, kasian kalau berdiri kelamaan," ucap Sinta pada petugas kasir.


"Baik, Nona..." jawab wanita itu dengan ramah.


Amartha dan Sinta berjalan ke arah meja yang ada di tengah ruangan itu.

__ADS_1


"Hati-hati, Ta..." Sinta memperingatkan agar Amartha duduk dengan hati-hati.


"Kamu nggak ngantor?" tanya Amartha.


"Ini mau ke kantor, Ta..." jawab Sinta.


"Yakin?" tanya Amartha menelisik, kemudian wanita itu tertawa.


"Astagaaa, Amartha..." Sinta mencebikkan bibirnya, mereka berdua tertawa seperti dulu sewaktu mereka masih remaja.


"Maaf, ini pesanannya, Nona..." ucap seorang pelayan yang menaruh dua papperbag diatas meja.


"Terima kasih," ucap Amartha.


"Jadi nggak enak dibayarin," ucap Amartha pada Sinta.


"Dienakin aja, Ta..." celetuk Sinta, wanita hamil itu pun tertawa renyah.


Amartha maupun Sinta masing-masing memilih untuk saling berdamai dengan perasaan masing-masing. Mereka berusaha untuk melupakan semua yang terjadi di masa lalu.


"Ternyata kamu benar..." ucap Sinta tiba-tiba.


"Soal?" tanya Amartha, wanita itu mengernyitkan dahinya.


"Kamu berhak mendapatkan orang yang juga mencintai kamu, Sin..." ujar Amartha, Sinta menipiskan bibirnya.


"Melupakan memang sulit, tapi bukan menjadi suatu hal yang mustahil terjadi," lanjut Amartha


"Iya iya bumil ... bijak banget sih sekarang," celetuk Sinta.


"Sinta, kayaknya aku harus pergi, lain kali kita ngobrol lagi, aku mau ke rumah mertuaku," kata Amartha dengan wajah menyesalnya. Amartha kemudian perlahan berdiri.


"Mau aku antar?" Sinta menawarkan tumpangan.


"Makasih, tapi aku kesini pakai supir tadi, dan makasih untuk cake-nya," ucap Amartha sambil menunjukkan papper bag berwarna coklat.


Amartha meninggalkan Sinta yang masih duduk di meja melihat kepergian sahabat lamanya. Wanita itu menyunggingkan senyumnya, dengan mata yang sedikit berkabut.


Sinta segera menghapus air matanya, ia membawa satu papper bag yang berisi cake rasa cokelat ke dalam mobilnya. Wanita itu lalu melajukan mobilnya membelah jalan raya. Beberapa kali ia memandang ke arah papper bag yang menempati kursi di sampingnya.


"Kasih enggak ya?" Sinta mengetuk-ngetukkan jarinya di stir mobil, ia melirik barang yang dibelinya di toko kue.


"Atau putar balik ke kantor aja?" gumam Sinta galau


"Lagian kenapa pake acara ngelayab kesini, coba? nih otak udah error kayaknya! atau jangan-jangan aku dijampi-jampi sama tuh orang?" lanjut Sinta mulai curiga.

__ADS_1


"Nggak mungkin, kan tiba-tiba inget terus malah beliin dia cake? ganjil banget! ini fix aku dipakein guna-guna," ucap Sinta bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Tuh, sekarang malah ketularan tuh orang bilang aku aku terus," lanjut wanita itu mengoceh sambil menyetir. Sinta merasa ada yang aneh dalam dirinya, secara tidak sadar dia tersenyum. Perasaan sakit hati perlahan memudar dari dalam hatinya. Dan sekarang pikirannya beralih lagi pada kue yang telah dibelinya


"Huufh, terus gimana tuh nasibnya cake?"


Setelah sekian lama berkendara, mobil Sinta berhenti di depan sebuah gedung perkantoran. Matanya melirik lagi, ke arah barang yang membuat dirinya merasa bimbang. Sinta meniupkan udara dari mulutnya perlahan sebelum menyambar papper bag berwarna coklat itu.


"Daripada mubadzir," gumamnya.


Wanita itu berjalan dengan percaya dirinya, Sinta melangkah menuju sebuah pintu besi yang akan membawanya naik ke lantai teratas. Ia segera memakai kacamata hitamnya, dan berjalan keluar setelah pintu besi terbuka sempurna. Sinta mempercepat jalannya menuju ruangan seseorang.


Belum sempat sang sekretaris yang memakai baju yang sangat ketat itu mempersilakan Sinta masuk, wanita itu sudah lebih dulu memegang handle pintu dan masuk ke dalam ruangan orang yang akan ditemuinya.


"Ehem," Sinta berdehem, menarik perhatian seorang pengusaha muda yang sedang terpaku pada tablet di tangannya.


"Maaf Tuan Fendy, tadi Nona ini..." kata sekretaris itu menggantung.


"Tinggalkan kami," ucap pria itu yang tersenyum penuh arti saat melihat Sinta yang belum melepas kaca mata hitamnya.


"Wow! calon istriku tumben-tumbenan mampir, wah kangen nih pasti!" ucap pria itu dengan sangat percaya diri, Fendy mendekati Sinta.


"Hey, siapa juga yang kangen? aku ... aku cuma kebetulan lewat, aku cuma mastiin kalau kamu pengusaha beneran," Sinta berusaha mengelak dari pria yang berdiri dihadapannya.


"Kamu ngira aku pakai jas kayak gini, kayak lagi nyamar gitu? sembarangan!" Fendy memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.


"Ini pasti buat aku," ucap Fendy saat melihat sebuah jinjingan ditangan Sinta.


"Bukan, tapi buat kucing!" celetuk Sinta, Fendy hanya menarik satu sudut bibirnya. Ia mengambil alih barang bawaan Sinta dan menaruhnya di atas meja, priabitu duduk di sofa panjang. Sinta perlahan mendekat, dia berdiri sambil melipat tangannnya di depan dada.


"Jadi kucingnya kamu nggak apa-apa deh, abang siap lahir batin," ucap Fendy sambil menepuk dadanya, Sinta memutar bola matanya jengah.


"Kamu duduk disini, Sayang..." ucap Fendy sambil menepuk sofa disampingnya. Sinta yang merasakan pegal di kakinya pun memilih untuk duduk.


Fendy tersenyum saat wanita cantik itu mau duduk di sampingnya.


"Kalau kayak gini berasa duduk di pelaminan, ya? tinggal panggil penghulu," celetuk Fendy.


"Aku buka, ya?" tanya Fendy basa-basi padahal tangannya sudah mengeluarkan sebuah box dari papper bag, lalu pria itu membukanya.


"Kenapa?" tanya Sinta saat melihat perubahan raut wajah Fendy yang sangat kentara.


"Chocolate cake?" lirih Fendy tanpa mengalihkan pandangan dari kue berbentuk oval itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2