Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Siaran Tunda


__ADS_3

Berurusan dengan cinta memang sungguh menguras tenaga dan perasaan. Dua oramg yang saling mencintai kini saling menyakiti. Vira masih terpejam, ia tak mendengar apa yang diungkapkan oleh kekasihnya. Perlahan bibir Vira bergumam.


"Kamu dimana?" lirih Vira.


"Ngelindur nih orang!" ucap Firlan yang mendengar Vira mengucapkan kalimat yang sama beberapa kali.


"Kamu dimana?"


"Siapa yang kamu cari, hah? aku atau Ricko?" ucap Firlan menanggapi gumaman Vira.


"Jangan pergi..." lirih Vira, matanya masih tertutup rapat.


"Tergantung, kalau kamu pengen sama dia ya aku pasti pergi, aku nggak mau berlama-lama sakit hati..." kata Firlan.


"Aku mohon ... j-jangan pergi dengan..." Vira tak melanjutkan ucapannya.


"Dengan siapa?" tanya Firlan sambil melipat tangan di depan dada.


"Karena..." ucap Vira menggantung, Firlan semakin mendekatkan kursinya supaya dia bisa mendengar lebih jelas.


"Karena aku ... aku, cinta sama..."


"Iya, kamu cinta sama siapa?" Firlan mendengarkan dengan seksama


Harapan Firlan pupus saat mendengar dengkuran halus dan nafas yang teratur dari wanita itu.


"Bodohnya aku, orang lagi ngelindur malah ditanggepin serius!" Firlan merutuki kebodohannya.


Penat menghampirinya, ia berjalan menjauh dari Vira dan merebahkan dirinya diatas sofa.


Ia sama sekali tak menyentuh ponsel yang masih ada di dalam saku jasnya. Sebenarnya Firlan pun tak tahu mengapa tadi ia mengajak Alia untuk makan bersama.


"Alia? dia pasti bisa pulang sendiri kan, ya?" gumam Firlan sebelum terbang ke alam mimpinya.


Tengah malam, Vira terbangun karena ingin pergi ke kamar kecil. Dan dia baru menyadari kalau dirinya sedang berada di rumah sakit.


Vira perlahan beringsut dari tidurnya, dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ia melihat Firlan sedang tertidur di sofa.


Vira menurunkan kakinya, ia mencoba menggeser tiang infusnya secara perlahan agar tak menimbulkan suara. Vira tak mau pria itu sampai terbangun, karena dia belum siap bertatap muka dengan Firlan.


Wanita dengan rambut sebahu itu membuka pintu dan mendorong tiang infus agar masuk terlebih dahulu. Ia menutup pintu dengan gerakan smooth and slowly.

__ADS_1


"Huuufh!" Vira menghela nafas lega saat dirinya sudah sampai di dalam kamar mandi. Selang infus yang tertancap di punggung tangannya membuatnya tak bisa bergerak dengan leluasa. Terlebih lagi keadaan tubuhnya yang masih lemah. Setelah menuntaskan apa yang sudah tertahan sedari tadi, Vira pun membasuh tangannya dengan air. Ia membasuh juga wajahnya yang terlihat sangat pucat.


"Bahkan kamu terlihat sangat menyedihkan Vira..." Vira bermonolog dengan dirinya.


"Lalu bagaimana aku bisa menghadapinya sekarang?" Vira menatap wajahnya sendiri.


"Bukankah rasanya sangat canggung? aku ingin bertemu dengannya, dan setelah dia ada disini aku malah bingung. Apa yang harus aku bicarakan dengan pria itu," kata Vira.


"Lebih baik jika aku tidur kembali, dan bangun setelah dia pergi," ucap Vira menjentikkan jarinya setelah menemukan sebuah ide brilian dalam otaknya.


Perlahan ia memutar handle dan...


"Kenapa lama sekali di dalam? hampir saja aku dobrak pintu ini," ucap Firlan dingin.


"Ngapain aja di dalam situ? bertapa atau cari wangsit? lain kali kalau mau turun ngomong biar aku nggak ngira kamu diculik genderuwo!" lanjut Firlan.


Vira hanya terpaku melihat reaksi Firlan yang begitu berlebihan.


"Permisi," Vira berjalan perlahan melewati Firlan yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


Firlan memutar tubuhnya melihat Vira dengan wajah datarnya melewatinya begitu saja. Vira dengan perlahan berjalan sambil mendorong tiang infusnya sendiri.


"Astaga, kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutku!" maki Firlan pada dirinya sendiri.


Firlan melenturkan raut wajahnya, ia bersikap seolah biasa saja. Firlan berjalan mendekat, ternyata Vira sudah naik ke atas ranjang dan menaikkan selimut untuk menutupi setengah dari tubuhnya.


"Ada sesuatu yang kamu butuhkan?" tanya Firlan basa-basi.


"Nggak ada," ucap Vira pelan.


"Atau ada seseorang yang kamu butuhkan?" sindir Firlan.


"Maksudnya?


"Ya barangkali ada seseorang yang lain yang sangat kamu butuhkan untuk menemani kamu disini," ujar Firlan, Vira menggeleng tidak percaya dengan apa yang diucapkan Firlan padanya.


"Maaf, aku merusak makan malam kamu," ucap Vira dengan tersenyum miris.


"Aku hanya makan malam, dan tidak sampai tinggal bersama," ucap Firlan menohok, menembus langsung ke pusat rasa sakit hati.


"Iya kamu benar, semua yang kamu katakan itu memang benar," ucap Vira.

__ADS_1


Vira tersenyum sangat manis mendengar ucapan yang terlontar dari pria yang masih berstatus kekasihnya. Vira segera bangkit dan melepas paksa selang infus yang ada di punggung tangannya dan segera menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan, hah? kamu sudah gila!" teriak Firlan, ia segera mencegah wanita itu untuk pergi.


"Baiklah, kalau begitu biarkan wanita gila ini pergi," kata Vira.


"Nggak semudah itu," kata Firlan.


"Kembali ke tempatmu dan aku akan memanggil perawat menangani ini," kata Firlan meraih tangan Vira yang terluka, ia seperti sedang berbicara dengan orang lain.


"Buat apa? ini nggak sakit sama sekali, lagipula aku sudah lebih baik," kata Vira melepaskan tangan Firlan yang menggenggam pergelangan tangannya.


"Nggak usah aneh-aneh, Vira! diam dan cobalah untuk menurut," kata Firlan tegas dan juga menyakitkan, ia menarik Vira mendekat padanya. Tangannya kuat mencengkram wanita yang ada di hadapannya.


"Bisakah kamu berlaku sedikit lebih baik?" tanya Firlan.


"Satu bentakan darimu saja sudah mengobrak abrik seluruh perasaanku, Tuan Firlan!" ucap Vira.


"Kamu ingin aku seperi kucing yang akan selalu menurut dengan apa yang kamu katakan? iya?" ucap Vira dengan tatapan tajam.


"Apa karena kita pacaran lantas kamu boleh berlaku seperti ini?" ucap Vira menganggat tangannya yang masih dalam cengkraman tangan Firlan. Firlan yang menyadari bahwa dia telah menyakiti Vira pun akhirnya melepaskan tangan itu, ia mencoba mendekatkan dirinya namun Vira segera menghindar. Hati Firlan pun mencelos saat mendapatkan penolakan dari kekasihnya.


Vira berjalan menuju sofa dan mencoba mencari tas dan bajunya. Namun yang yerluhat hanya alat-alat jahit yang tadi siang dibelinya.


"Kamu mencari apa?" tanya Firlan dingin.


Vira tak menjawab, ia terus saja bergerak mencari. Kini ia membuka lemati dan benar saja baku dan tasnya ada di dalam sana.


"Kamu mau apa?" tanya Firlan yang menyambar baju yang ada di tangan Vira.


"Pulang," jawab Vira.


"Nggak bisa! kamu masih sakit, dan, kamu masih harus dirawat disini," ujar Firlan.


"Kembaliin, itu bajuku!" kata Vira mencoba meraih bajunya yang pria itu sembunyikan di balik punggungnya.


"Nggak! kamu nggak akan bisa keluar dari sini tanpa persetujuan dariku," ucap Firlan.


"Tidurlah, kita tunda perdebatan ini sampai kamu sembuh," lanjut pria itu lagi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2