Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Duh Gustiiiiii


__ADS_3

Vira segera memutuskan panggilannya secara sepihak. Air mata lolos begitu saja dari kedua matanya.


Firlan yang memang sedang merasakan perih dan sakit, menjauhkan ponsel dari telinganya, dan malah menaruhnya di ranjang.


"Nah, sekarang sudah selesai, Pak. Kalau begitu, saya permisi," ucap wanita itu tersenyum setelah selesai mengobati luka di wajah Firlan.


"Terima kasih," ucap Firlan datar.


Perawat wanita itu melangkah pergi dan menutup pintu dari luar. Firlan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, badannya lumayan pegal karena tenaganya terkuras hari ini. Tiba- tiba Pria itu menepuk jidatnya.


"Astaga, lupa kan tadi lagi nelpon si ayam!" ucap Firlan yang mencari-cari dimana tadi ia menaruh ponselnya, dan...


"Ketemu!" ucap Firlan yang meraih benda pipih itu, namun panggilan itu sudah berakhir.


Firlan segera menelepon kembali seorang wanita yang memanggil dirinya dengan sebutan 'Ay' yang berarti ayang, tapi Firlan suka mlesetin jadi ayam bukan ayang.


Namun wanita itu ternyata tidak mengangkatnya, bahkan sampai Firlan menekan tombol dial berkali-kali, wanita itu tak kunjung menjawab.


"Tumben di telfon susah..." gumam Firlan mengerutkan keningnya.


"Coba lagi deh, si Ay Ay Ayam pasti ngambek telfonnya aku cuekin," pria itu bicara sendiri.


Kali ini panggilan Firlan malah tidak terhubung, pria itu mengernyit.


"Lah, kok sekarang nggak bisa nyambung?" Firlan heran karena dia tak bisa menghubungi kekasihnya.


"Apa nggak ada sinyal, ya? dia atau aku nih yang sinyalnya burik?" pria itu melihat ke layar ponselnya, jaringannya terkoneksi dengan baik dan sinyalnya pun tak ada masalah.


"Huufhhh, resiko pacaran sama bocil ya begini. Ngambekan," Firlan membuang nafasnya kasar.


Kemudian ia beralih ke menu pesan, ia mengetik sesuatu.


📩 Ay, marah?


Kling pesan itu terkirim, namun hanya centang satu, yang berarti pesan itu hanya berhasil dikirim namun belum diterima Vira.


Setelah sekian lama tak kunjung ada balasan pria itu beralih pada aplikasi chat berwarna hijau yang biasa digunakannya, ia mengetik kalimat yang sama.

__ADS_1


💬 Ay, marah?


Dan hal yang sama pun terjadi, pesan itu hanya bercentang satu.


"Besok aku cari sampe ketemu tuh bocah, muka lagi bonyok begini, bukannya dapet perhatian, eh malah ngambek si ayam! nasib ya nasiiib," Firlan segera memejamkan matanya, besok kemungkinan banyak yang harus dilakukannya.


Sementara seorang perempuan tengah menangis sesenggukan, mengumpat sang kekasih jahanam.


"Dasar buaya! tega-teganya dia selingkuuh dari aku. Muka udah cantik bening kayak gini, masih aja diduain, ****** emang tu laki!" Vira mengusap air matanya dengan tissue, dia juga menyumpal hidungnya yang meler tengah malam.


"Masih untung ketauan boroknya sekarang, coba kalau udah nikah, udah punya anak? yang ada pernikahan berakhir di pengadilan agama! amit-amit deh, seumur-umur patah hati tapi nggak senyesek ini, duh gustiiiiii..." ucap Vira ditengah tangisannya.


Ponselnya tiba-tiba berdering menampilkan nama gusti.


"Gusti?" gumam Vira yang mengernyit melihat kontak nama Gusti. Vira menyeka air matanya, menjawab panggilan itu. Mereka sempat bertukar nomor telepon saat berada di pesta pernikahan Amartha.


"Ngapain telpon orang tengah malem? kayak mau ngepet aja." wanita itu segera menghapus air matanya.


"Halo?" sapa Vira.


"Lagi ngejawab telepon dari orang yang namanya Gusti," sahut Vira ketus.


"Haha, kamu lucu." pria itu malah tertawa mendengar jawaban Vira.


"Lucu dari monas? ketus dia bilang lucu, nambah satu lagi orang sarap di dunia," gumam Vira membuat orang yang sedang berbincang dengannya sedikit mengerutkan keningnya.


"Gimana, gimana? kamu ngomong apa tadi? sorry nggak begitu jelas," Gusti mencoba menajamkan telinganya.


"Nggak. Tadi ayam tetangga minta dikasih makan," jawab Vira yang sungguh tidak nyambung sama sekali.


"Ada gitu, ayam makan tengah malem kayak gini?" Gusti malah senyam-senyum sambil memeluk gulingnya, namun tak ada sahutan dari Vira. Pria itu malah mendengar Vira yang srat srot mengelap ingusnya karena kebanyakan nangis.


"Kenapa kok kamu kayak orang habis nangis?" tanya Gusti yang mendengar suara Vira yang berbeda.


"Nggak cuma lagi pilek." sahut Vira ngeles.


"Oh ya, ada apa telfon malem-malem?" lanjut Vira yang sekarang merasakan kepalanya pusing, karena sedari tadi air matanya keluar tanpa bisa dihentikan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, cuma ngerasa ada yang lagi nyebut nama aku?" ucap Gusti enteng.


"Hah?" Vira cuma hah hoh kayak orang bego. Perempuan itu menelan salivanya dengan susah payah.


"Jangan-jangan nih orang punya ilmu kanuragan? eh ilmu kebatinan, bisa gitu tau aku ngomong gusti padahal cuma keceplosan," gumam Vira yang didengar oleh Gusti.


Pria itu hanya asal menebak namun Vira malah menganggapnya punya ilmu kebatinan. Sebenarnya dia tak sengaja melihat kontak dengan nama Vira di ponselnya, dan pria itu mendadak ingin menelepon, ditengah-tengah kesibukannya mengerjakan pekerjaannya yang tak terasa sudah lewat tengah malam.


"Besok bisa ketemu nggak? udah lama nggak ketemu," Gusti merembet pada tujuannya menelepon Vira. Menurutnya Vira tipe yang asik kalau untuk diajak ngobrol.


"Ehm, gimana ya?" Vira menimbang-nimbang ajakan Gusti.


"Ijin dulu sama pacar kamu juga boleh, cuma ngobrol aja kok nggak lebih, boleh juga kalau tempatnya kamu yang tentuin." ucap Gusti.


Mendengar kata 'pacar' mengingatkan dia pada sosok Firlan, dia pun menjadi kesal.


"Gimana? bisa?" tanya Gusti yang menunggu jawaban Vira.


"Ya udah deh, tapi nggak bisa lama soalnya aku masuk malem," ucap Vira yang memang lagi nggak jelas.


"Oke, see you!" Gusti tak bisa menahan senyumnya.


"Ya." jawab Vira datar lalu memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.


Masa bodoh dengan Firlan yang membuat hatinya sakit, dia mengiyakan ajakan Gusti bukan karena apa-apa. Tapi dia memang tipe orang yang suka berteman dengan siapapun, tidak ada ketertarikan dengan pria bernama Gusti itu. Dan dia yakin Gusti juga tidak menaruh rasa padanya, prinsip Vira banyak teman banyak yang nraktir, eh banyak rezrki maksudnya.


Pagi-pagi sekali Firlan sudah meninggalkan rumah sakit, ia akan mengambil beberapa baju untuk Satya dan Amartha. Sebenarnya itu hanya alasan. Sebenarnya dia ingin bertemu dengan pacarnya, yang dari semalam dan sampai pagi ini belum bisa di hubungi.


Firlan terlebih dulu ke kediaman keluarga Ganendra, ia bertemu dengan Sandra dan pria itu menceritakan kronologis kejadian penculikan Amartha. Setelah itu baru dia pergi dari rumah itu dengan membawa koper milik bosnya.


"Kenapa nggak bisa di hubungi, sih?" gerutu Firlan.


Mendadak perutnya meronta ingin diisi, dia memarkirkan mobilnya di sebuah cafe yang ternyata dekat dengan rumah sakit tempat Vira bekerja. Firlan turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe, dan tanpa sadar ia melihat sosok perempuan yang sedang duduk berhadapan dengan seorang pria. Rahangnya mengeras melihat pemandangan yang tersaji di depannya, dia berjalan dengan nafas yang memburu dan...


"Ngapain kamu disini?" ucap Firlan dengan menatap tajam satu sosok di depannya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2