Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Yum Yum Yum


__ADS_3

"Dan bahan bangunan mendadak berkurang setelah bahan-bahan itu masuk ke area proyek," kata Firlan.


"Apa mungkin mereka..." ucap Satya menggantung.


"Ya, aku curiga ada oknum yang mencuri bahan material, sehingga barang-barang yang digunakan selalu kurang, itu yang membuat pembelian material melonjak tinggi," ujar firlan, Satya manggut-manggut mendengarkan analisis Firlan.


"Bagaimana caranya kamu bisa masuk kesana?" tanya Satya penasaran.


"Aku menyamar sebagai pekerja proyek," jawab Firlan.


"Kamu harus hati-hati, Lan! mereka bisa saja curiga dengan gerak-gerikmu," ucap Satya mengingatkan, bisa saja sesuatu yang buruk bisa terjadi pada Firlan dan itu sangat beresiko


"Aku sudah memperhitungkan semuanya, Tuan..." kata Firlan menenangkan, pria itu menuangkan air mineral ke dalam heater dan tangannya yang satunya menempelkan ponsel di telinganya.


"Jangan ceroboh, jangan remehkan siapapun lawan kita,"


"Saya curiga dengan satu mobil pick up yang ditutupi, besok saya akan pasang GPS di mobil itu supaya saya bisa tau pergerakannya, dan saya akan pasang alat rekam di beberapa titik," Firlan menjelaskan rencananya.


"Good job, Lan! tidak salah jika papi selalu mengandalkanmu," kata Satya.


"Baiklah, saya mau makan dulu, Tuan ... saya habis nguli beneran ini," Firlan mendengar bell di depan pintu kamarnya, mungkin pesanannya sudah datang.


"Saya bisa membayangkannya, Lan! baiklah, segera kabari saya perkembangan selanjutnya," ucap Satya.


Pria itu segera mengakhiri sambungan teleponnya dengan Firlan. Ia memandang istrinya yang masih tertidur. Satya segera mandi dan turun ke bawah.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya bik Surti yang kebetulan sedang mengelap meja saji.


"Santai aja, Bik ... saya cuma mau masak," jelas Satya dengan tersenyum.


"Masak? masak apa, Tuan?" tanya bik Surti bingung.


"Sudah, biar bibik saja yang masak, Tuan ingin makan apa biar bibik buatkan," ujar wanita itu nencegah sang tuan untuk memasak makanan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Bik ... saya sudah sehat, saya mau masak special buat istri saya," ucap Satya, yang langsung memakai appron hitam.


"Aduh, Tuan ini ada-ada saja, ya sudah kalau begitu biar bibik bantu siapkan bahan-bahannya," ujar bik Surti melihat tuannya bersikeras ingin membuat makannya sendiri.


Satya ingin membuatkan tomyam untuk makan malam, dengan lincah tangan Satya mengiris dan memotong bahan-bahan yang ada. Hujan mengguyur kota malam ini, rasanya sangat pas jika menghangatkan perut dengan sup yabg panas dan sedikit pedas.


Bik Surti segera menyiapkan hot pot dengan sekat untuk tempat kuah kaldu dan kuah pedas. Sedangkan Satya mulai menghaluskan bumbu untuk membuat kuah tomyam.


Sasa yang melihat Bik Surti sedang menyiapkan mangkok kecil dan juga menaruh kompor portable diatas meja pun segera membantu. Setelah selesai menata semua bahan mentah, giliran Satya menuang kuah yang berwarna merah dan kuah kaldu ke dalam panci bersekat. Kemudian Satya melepas appron hitamnya.


"Sa, tolong siapkan minumannya, saya mau ke atas," ucap Satya yang melihat Sasa sedang menata meja.


"Baik, Tuan..." ucap Sasa.


"Oh, ya ... tadi saya bikin banyak, jangan lupa panggil mang Tatang, Damian untuk makan malam," ucap Satya.


"Baik, Tuan..." jawab Sasa. Setelah membuatkan minumanbuntuk majikannya, Sasa pun segera mengambil kuah tomyam untuk ia bawa ke meja makan belakang, untuk di santap bersama dengan pekerja lain di rumah itu, diikuti dengan bik Surti yang membawa bahan mentahnya.


Satya berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, namun pria itu tak mendapati istrinya di atas ranjang. Tak berapa lama, munculah Amartha dengan memakai bathrobe dari balik pintu kamar mandi dengan bibir dimonyong-monyongin.


"Ditinggal," Amartha melihat Satya dengannmencebikkan bibirnya. Dia kesal ditinggal sendirian di kamar setelah aktivitas yang menguras tenaga. Satya melepas handuk yang melilit rambut istrinya, ia membuat gerakan mengusap lalu ia pun mencium puncak kepala Amartha.


"Cup cup cup, maaf ... tadi aku masak di dapur, kamu kan pasti laper setelah," belum sempat Satya melanjutkan ucapannya, Amartha mencapit pinggang pria itu.


"Aaaaaaaaaaawh!" pekik Satya yang merasakan antara sakit dan geli di pinggangnya.


"Tega kamu, Yank..." Satya melepaskan rengkuhannya, ia beralih mengusap pinggangnya sendiri.


"Kamu kan masih sakit, kenapa malah masak?" Amartha berjalan menuju ranjang, wanita itubtampak menggoda dengan bagian depan dan belakang yang sama-sama menonjol.


"Apa tadi kurang meyakinkan kamu kalau aku udah sembuh? atau kamu mau kita reka ulang lagi?" Satya duduk di samping istrinya dan menaik turunkan alisnya. Amartha memutar bola matanya malas, Satya pun tertawa.


"Ganti baju, terus kita makan, aku udah masak tomyam, di luar hujan jadi pas dong makan yang anget-anget," lanjutnya, wanita itu pun segera melangkah menuju ruang ganti.

__ADS_1


Satya menggandeng Amartha untuk menuruni anak tangga. Di luar hujan sangat deras, sesekali petir menyambar seakan menjadi pengiring lagu malam ini.


Satya mendudukkan Amartha dengan hati-hati.


"Hmmm baunya enak banget," ucap Amartha yang cantik dengan rambut yang diikat.


"Bukan cuma baunya, rasanya pasti juga enak," ucap Satya sembari tersenyum.


"Aku boleh pakai kuah yang itu, kan?" Amartha menunjuk kuah merah yang terlihat sangat menggiurkan.


"Boleh, aku bikinnya nggak begitu pedes, kok..." ucap Satya.


Amartha menaruh beberapa daging yang diiris sangat tipis ke dalam kuah yang berwarna merah, dia juga memasukkan beberapa sayuran seperti baby kailan dan jamur enoki.


"Hati-hati, panas..." ucap Satya mengingatkan, ia mengambil alih bahan yang lainnya, lalu ia yang memasukkan ke dalam kuah yang mendidih itu.


Aroma daging menyeruak memanjakan indra penciuman. Perut Amartha sudah sangat lapar hanya dengan mencium aroma kuah yang terlihat sangat menggoda.


"Laper..." rengek Amartha, Satya tersenyum.


"Tunggu dagingnya matang, kamu mau sayurannya dulu?" tanya Satya yang disambut anggukan kepala istrinya.


Satya mengambil sayuran yang sudah layu ke dalam mangkok kecil dan tak lupa menyertakan kuah merah ke dalam mangkok itu.


"Makasih, Mas..." kata Amartha yang tersenyum pada Satya.


"Hati-hati, masih panas..." ucap Satya memperingatkan saat Amartha mulai menyeruput kuah supnya.


"Enak banget, Mas..." Amartha menoleh sambil mengangkat ibu jarinya ke atas, Satya tersenyum.


Membuat Amartha tersenyum sangat mudah, wanita itu tidak terlalu suka belanja barang-barang mewah, tapi dia sangat suka dengan sesuatu yang berbau perhatian seperti sekarang ini. Wanita itu merasa sangat disayang oleh suaminya, ia sangat beruntung disaat masa kehamilannya ia mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari kekuarga maupun suaminya


Tiba-tiba ponsel Amartha berdering, seseorang meminta panggilan vidio call. Amartha mengernyit melihat nama si penelepon, ia segera mengusap layar ponselnya.

__ADS_1


"Haaaaaiiii, mbaaaaaaaaakkk..." ucap seorang gadis setelah panggilan terhubung.


...----------------...


__ADS_2