Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Pria Misterius


__ADS_3

"Ya? halo? nggak kedengeran! bentar gue keluar dulu!" ucap pria yang sedari tadi mengawasi Sinta dari kejauhan.


Sementara pria itu pergi, ada tiga pria hidung belang mendekatinya, membuat Sinta merasa tidak nyaman dan berniat untuk pergi dari club itu. Namun sial, usahanya tak berhasil. Pasalnya, ketiga pria itu menarik lengannya dengan kasar dan menahannya untuk tetap duduk, hal itu membuat Sinta kesal, wanita itu berusaha mengusir pria-pria yang kini tersenyum nakal memandangnya.


"Pergi! gue nggak ada urusan ya sama kalian," sentak Sinta pada ketika pria yang saling memandang dan menertawakan Sinta.


"Wohoooo, nih cewek galak juga ya, tp gue suka kok sama yang galak-galak!" sahut salah satu dari mereka, lalu tawa menggelegar dari kedua temannya yang lain, seakan mereka tengah mendengar sebuah lelucon yang patut ditertawakan.


"Minggir gue mau pergi!" Sinta mengusir seorang lelaki yang menghimpitnya.


"Pergi kemana cantik?" ucap pria yang duduk dipinggir Sinta.


"Jangan sok jual mahal, deh ...kita main-main dulu lah sebentar," lanjut pria itu sambil bersiul dan tersenyum penuh arti membuat Sinta menjadi geram.


"Ciih, gue nggak sudi! jangan kurang ajar ya, minggir!" kata Sinta dengan ketus dan mencoba berdiri, sayangnya tenaganya tak sebesar pria disampingnya. Pria itu menarik dan menghempaskan tubuh wanita itu kasar.


"Awwwkkkhhh...." pekik Sinta.


Plak


Sinta menampar pria yang sudah menarik tangannya, namun saat tangan Sinta akan melayangkan tamparan yang kedua, seorang pria menahan tangan itu.


"Lepas!" Sinta memberontak ingin melepaskan cengkraman tangan pria itu sedangkan dua lainnya terbahak-bahak.


"Jagan bikin kita kasar sama lo, ya!” ucap pria dan dengan kasar menghempaskan tangan Sinta.


"Diem disini, dan minum ini sampai habis!" lanjut pria itu.


"Nggaaaak!" ketus Sinta yang membuat pria itu semakin jengkel dibuatnya, dan mengambil gelas itu dan memaksa Sinta untuk meminumnya.


"Ayo cepat minum!!!"


Namun Sinta tak kehilangan akal, ia menyemburkan minuman yang masuk ke mulutnya.


"Jangan bikin kita bertindak kasar, cepat minum!" satu pria memeganginya dan satu lagi mencekokinya dengan minuman, sampai bajunya basah karena dia terus saja memberontak.

__ADS_1


BUGH


BUGH


BUGH


Walaupun wanita itu dengan sekuat tenaga, menahan kerongkongannya agar tak meminum minuman haram itu, namun sepertinya tak sedikit cairan itu terminum olehnya dan membuat kepalanya pusing.


"Apa yang kalian lakukan!" teriak seorang pria yang tiba-tiba berlari ke arah meja Sinta.


"Apa urusanmu, hah? sana pergi!" ucap salah satu pria disana, sementar Sinta memegangi kepalanya yang sangat pusing.


BUGH


BUGH


BUGH


Pukulan demi pukulan melayang ke wajah ketiga pria yang marah karena kesenangannya diganggu. Pria itu menendang salah satu lawannya hingga tersungkur ke lantai, semua orang disana berteriak histeris saat pria itu tak berhenti menghajar ketiga pria itu tanpa ampun. Darah mengalir dari sudut bibir dan pelipis lawan-lawannya. Pria itu terus saja memukul, setelah dirasa cukup puas menghajar mereka, pria misterius itu berdiri, berbalik matanya mencari keberadaan Sinta.


"Kau mau main-main denganku rupanya! hah!" kata pria misterius dengan mengunci tangan lawannya. Kemudian menendang lawannya hingga menubruk sebuah meja.


"Aaarghhh!" pekik pria yang sudah jatuh tersungkur.


Tak berapa lama, beberapa penjaga club itu datang karena kegaduhan yang terdengar dari luar.


"Katakan pada pemilik tempat ini, saya akan bayar semua kerugian untuk kekacauan malam ini," pria misterius itu memberikan sebuah kartu nama.


"Dan ini untuk kalian," pria itu memberikan sejumlah uang pada para penjaga club untuk kompensasi.


"Seret pria-pria ini keluar!" lanjut pria itu


"Terima kasih Tuan," ucap salah seorang dari mereka.


Suasana sangat kacau, pria itu meninggalkan ketiga lawannya yang sudah babak belur, terkapar tak berdaya, ia segera menghampiri Sinta yang sudah setengah tidak sadar.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa, Sin? maaf aku terlambat" ucap pria itu menyesal.


"Masss?" lirih Sinta yang tak begitu jelas siapa yang sosok pria yang ada didepannya, namun otaknya mengira pria yabg dihadapannya ini adalah Kenan.


"Akhirnya kamu datang," lanjut wanita.


"Sin ... Sinta?" pekik pria itu yang menepuk pipi Sinta berulang kali, berharap Sinta masih sadar, namun wanita itu malah menutup matanya.


Pria itu akhirnya menggendong tubuh Sinta dan tak lupa, ia mengambil tas milik gadis itu, kemudian sang pria membawa Sinta keluar dari club itu. Ia memasukkan wanita itu ke dalam mobil miliknya dengan susah payah, ketika pria itu akan memasangkan sabuk pengaman, Sinta tiba-tiba menarik baju pria itu dan mengoceh tidak jelas.


"Rumah kamu dimana, Sin?" tanya sang pria sambil membenarkan posisi duduk Sinta.


"Mas, jangan pergi..." Sinta malah meracau tidak jelas.


"Ah, percuma juga aku tanyain, nggak bakalan nyambung!" pria itu kembali ke posisi duduknya.


Kemudian ia menyalakan mesin mobilnya dan melaju membelah jalan raya yang sudah mulai lengang, beberapa kali ia melirik ke arah wanita yang bertahun-tahun mengisi hatinya, wanita yang masih setia dengan obsesinya. Sesekali tangannya mengelus pucuk kepala wanita itu.


"Aku sayang sama kamu, Sin ... rasa ini masih tetap sama, Sin, walaupun dulu kamu hanya memanfaatkanku," pria itu bermonolog.


"Hahahaha, bodoh memang! aahhh cinta membuatku menjadi orang bodoh, Sinta! begitupun kamu, kita sama!" ucap pria itu lagi sambil menertawakan dirinya sendiri.


Pria itu membawa Sinta ke dalam apartemennya, setelah sekian tahun, dia baru bertemu Sinta lagi, itu pun tidak sengaja, karena malam ini dia sedang janjian dengan temannya yang kebetulan tidak bisa datang.


Sinta bukan peminum, dia kesana hanya untuk melepas penatnya, menikmati musik, dia hanya memesan minuman tanpa berniat untuk meminumnya, itu dilakukannya agar tidak dianggap cemen oleh Bella.


Pria itu merebahkan tubuh Sinta diatas ranjang, kemudian ia meletakkan tas wanita itu disamping nakas, ia lalu beralih melepas high heels yang dipakai Sinta dan melemparnya asal. Ia terpaku dengan wajah cantik Sinta, tanpa sadar ia membungkukkan tubuhnya dan menahan tubuhnya dengan satu tangan, sedangkan tangan yang satunya lagi mengelus lembut pipi wanita yang sedang tak sadarkan diri. Tangan pria itu menyingkirkan rambut yang yang menutupi sebagian wajah Sinta.


"Cobalah untuk membuka hatimu buat aku, Sinta ... kamu tidak akan bertepuk sebelah tangan, belajarlah mencintai orang lain, dan lupakan obsesi yang hanya menyakitimu, Sinta..." ucap pria itu lembut


Dan ketika pria itu akan bangun dari posisinya, tangan Sinta menarik kerah bajunya secara tiba-tiba.


"Jangan pergiiii, aku mohon jangan pergiii!" Sinta mulai membuka matanya dan memandang pria yang telah menolongnya.


...----------------...

__ADS_1


okaaayyy semngat crazyy up up up up....


__ADS_2