Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Mendekati kata 'bahagia'


__ADS_3

Hari ini Amartha dan Vira akan pindah ke kota J, Amartha juga sudah resign dari klinik dokter Rizal. Karena kebetulan dia sudah di terima bekerja di salah satu rumah sakit swasta di kota itu. Kali ini mereka tidak ditipu, iya karena Firlan yang mencarikannya. Disini yang paling semangat tentu saja satu makhluk bernama Vira Anugrah. Dia akan semakin mudah mendekati asisten ganas yang sudah menjadi incarannya.


Amartha tak mau ambil pusing kenapa Firlan mencarikannya pekerjaan, karena ia juga berpikir dia tidak mungkin akan menjalani hubungan jarak jauh dengan Satya, terlebih lagi mereka akan menikah dalam beberapa bulan kedepan.


"Kamu yakin nggak mau bareng?" tanya Amartha pada Vira yang masih setia melihat ke layar ponselnya.


"Besok aja aku, Ta ... ehem, aku mau ketemu dulu sama mantan gebetan," kata Vira yang kemudian mendongak menatap sahabatnya sambil menaik turunkan salah satu alisnya.


"Astahfirllah, kamu tuh ya ... katanya suka sama Firlan, sekarang malah mau ketemu mantan gebetan, gimana sih?" Amartha melipat tangannya di depan dada dengan tatapan tajam, dia menganggap Vira tidak konsisten dengan perasaannya.


"Astagaaa Amartha, canda kali! dia itu mau nikah besok, nggak enak kalau nggak dateng ... ya walaupun dulu sempat di PHP in, tapi ya udah lah yaaa, kita udah berdamai dengan masa lalu," ucap Vira yang membuat Amartha berdecih.


"Mantan gebetanmu yang mana lagi sih, Vira?" Amartha duduk di samping Vira yang sedang lesehan di lantai.


"Itu loh, yang wajahnya manis-manis gula jawa," bukannya menjawab, Vira malah membuat Amartha berpikir keras.


Pasalnya banyak sekali mantan gebetan, Vira. Dari yang oriental, sampai yang blasteran, lengkap Vira mah. Kalau ditanya darimana kenalnya, ya darimana lagi kalau bukan di aplikasi chatting. Tapi belum ada yang sampai pacaran, karena kebanyakan kandas di tengah jalan.


"Siapa? Pak Rochim?" goda Amartha sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Astaga nih Juminten kalo ngomong ya nggak ada saringannya, coba? pak Rochim mah yang punya kosan sebelah, noh yang suka pake sarung sama kaos kutang doang, ngaco!" Vira mendengus kesal.


"Ati-ati kalau ngomong, Ta ... kalau sampe bu Sari denger, bisa jadi ayam geprek aku, Ta? aku bisa disambelin plus dipenyet- penyet ama dia," ucap Vira bergidig ngeri saat membayangkan dirinya jadi sasaran kemarahan istri dari pak Rochim, melihat ekspresi Vira sontak membuat Amartha tertawa renyah.


"Besok aku mau kondangan dikawinannya mas Ezhar, jadi lusa aku baru nyusul kamu, nggak apa-apa, kan?" tanya Vira pada Amartha.


"Ya udah, yang penting kamu jangan merana aja, saat melihat dia bersanding dengan yang lain," Amartha kembali menggoda Vira.


"Nggak dong Jum, kan di hati aku sudah ada yayang Firlan tercinta," jawab Vira yang tak mau kalah. Vira mencekal tangan Amartha saat gadis itu akan beranjak dari duduknya. Amartha mengerutkan keningnya heran.


"Eh, Jum ... tolong, ehem ... bilangin mas Satya dong, suruh yayang Firlan jemput cinderella dimari," ucap Vira sambil menangkupkan kedua telapak tangannya, seraya mengucapkan kata 'please' tanpa bersuara.

__ADS_1


"Ih, nggak mau, ah!" ucap Amartha cepat.


"Please ... Jum ... Juminten..." Vira merengek seraya menarik-narik ujung baju Amartha.


"Ish Vira ... nggak enak ah, minta tolong begituan," Amartha menolak permintaan konyol Vira.


"Amartha ... please, kalau aku nyasar disana gimana? kalau aku diculik gimana? kan aku belum pernah ke kota itu, masa kamu tega?" rengek Vira dengan muka sok memelasnya.


"Iya iya iya, ih..." Amartha akhirnya mengiyakan permintaan Vira.


"Jangan ditarik-tarik ... nanti yang ada bajuku lecek lagi!" ucap Amartha yang melepaskan tangan Vira dari ujung bajunya.


"Ya udah, Vira ... aku pergi ya? kasian mas Satya udah nunggu diluar," ucap Amartha yang kemudian bangkit dan berjalan keluar sambil menarik dua kopernya.


"Hati-hati, Ta..." ucap Vira setengah berteriak dengan senyum mengembang.


Amartha berjalan menuruni tangga, membawa dua koper dengan ukuran besar. Amartha mengedarkan pandangannya sesaat, ia menghela nafasnya perlahan, lalu memantapkan langkahnya menuju pintu depan.


"Berangkat sekarang?" tanya Satya yang dijawab anggukan kecil Amartha.


"Mari saya bantu, Nona..." kata Damian, yang meraih dua koper milik Amartha. Satya lalu meraih tangan Amartha dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.


"Tumben nggak sama Firlan?" tanya Amartha pada Satya ketika Damian mulai menekan pedal gasnya


"Kok yang ditanya malah Firlan, sih?" Satya malah beralih pada mode ngambek, pasalnya Amartha malah bertanya tentang Firlan saat mereka sedang berdua.


"Dih, ngambek!" Amartha menyenggol lengan Satya, namun pria itu malah bersikap acuh.


"Tau ah, baru aja ketemu, malah yang ditanya Firlan," ucap Satya sambil memandang keluar jendela. Sementara Damian tetap fokus menyetir, mengabaikan bosnya yang sedang bertingkah seperti anak kecil.


"Idih gitu aja cemburu," Amartha menusuk-nusuk pipi Satya dengan telunjuknya.

__ADS_1


"Udah ah, jangan ngambek, jelek tau!" lanjut Amartha yang menggenggam tangan Satya.


"Cium dulu," ucap Satya yang tiba-tiba menoleh ke arah Amartha, dan menepuk pipinya dengan tangannya.


"Nggak!" tolak Amartha mentah-mentah.


"Ya udah kalau nggak mau, aku cium tembok aja!" ucap Satya yang malah membuat Amartha tertawa.


...----------------...


Hari sudah sangat larut, namun dua pasangan yang tak lagi muda itu masih menunggu anaknya yang tak kunjung pulang.


"Kamu dari mana saja, Ken?" tanya Damar, saat melihat anaknya masuk ke dalam rumah


"Kantor," jawab Kenan singkat.


"Ken, ayah mau bicara," ucap Damar seraya bangkit dari duduknya diikuti Berliana.


"Kenan capek, Yah! mau istirahat," tanpa menunggu jawaban sang ayah, Kenan langsung menaiki tangga, bahkan ia sengaja mempercepat langkahnya. Berliana yang melihat Damar akan mengejar Kenan pun, mencekal tangan Damar.


"Udah, Yah ... inget jantung Ayah ... kita ke kamar, ya? udah malem, biarkan Kenan istirahat," Berliana mengusap lengan suaminya dan menuntun Damar menuju kamar.


"Sampai kapan dia akan seperti itu!" Damar tak bisa mengontrol amarahnya. Beliana memilih diam, daripada dia bicara yang ada nanti malah menyulut emosi suaminya.


Sementara di dalam kamar, Kenan membuka dasinya dengan kasar. Dia melepas sepatunya dan membuka satu persatu kancing bajunya, lalu melenggang menuju kamar mandi. Pria itu memabasahi tubuhnya di bawah shower, berusaha mendinginkan kepalanya.


Beberapa kali ia mengusap wajahnya, dia sangat cemburu saat melihat foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Sebuah foto yang menampilkan Amartha dan Satya saling bergandengan di depan sebuah kosan bercat putih.


Rahangnya mengeras tangannya mengepal, berulang kali ia meneriakkan nama Amartha, ia menangis merutuki nasibnya, menyesali keputusannya untuk berpisah dari wanita itu. Wanita yang begitu ia cintai, yang sebentar lagi akan menjadi milik pria lain.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2