
"Kamu sudah datang?" ucap Ricko seraya berdiri saat Firlan masuk ke dalam.
"Dia sudah tidur," lanjut Ricko.
"Gimana kondisinya?" tanya Firlan.
"Sudah lebih baik dari sebelumnya," jawab Ricko.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Jaga dia, dia lebih membutuhkanmu," kata Ricko penuh arti, pria itu menepuk pundak Firlan.
"Sebenarnya aku ingin menginap, tapi besok aku ada pertemuan penting," ucap Firlan.
"Untuk malam ini temanilah dia, aku akan datang lagi besok pagi," ucap Ricko yang membawa jasnya, dan menyampirkannya di lengan kirinya.
"Terima kasih," ucap Firlan sebelum Ricko pergi. Ricko meninggalkan Firlan bersama Vira.
Firlan mendekat pada ranjang dimana Vira terbaring. Pria itu membelai lembut wajah kekasihnya.
"Kenapa kamu bodoh sekali?" ucap Firlan menghela nafasnya.
"Nggak, bukan kamu yang bodoh tapi aku. Aku nggak tau kalau kamu punya penyakit lambung," ucap Firlan lagi lirih seraya memandang wajah Vira yang sedang tertidur.
"Lebih baik kita seperti ini dulu, Vira..." ucap Firlan. Ia duduk sambil mengelus punggung tangan Vira.
Firlan tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan Vira. Pria itu belum bisa memberikan jawaban atas permintaan Vira untuk bekerja dengan Ricko. Padahal jika Vira sudah siap menikah dengannya, wanita itu tidak perlu bekerja. Karena Firlan pasti akan memenuhi semua kebutuhannya. Namun, Vira bersikeras tidak mau menikah dalam waktu dekat. Wanita itu ingin merawat papa nya yang sakit.
Firlan tak dapat memaksakan kehendaknya, namun rasanya ia tak dapat menahan rasa cemburu saat melihat kedekatan Vira dengan Ricko. Mereka tinggal dalam satu atap yang sama saja membuat hati Firlan cenat-cenut khawatir jika Vira berpaling darinya. Apalagi jika mereka bertemu lagi dalam urusan pekerjaan. Firlan tak bisa membayangkan akan seperti apa hubungan mereka.
"Kami berdua orang yang berbeda, Vira ... aku takut kamu akan berpaling dariku dan mulai terbiasa dengan kehadiran dia disisimu," ungkap Firlan, ia mengecup tangan kekasihnya.
Sementara Vira merasakan ada sosok lain yang sedang berbicara padanya, namun kantuk yang teramat sangat membuatmya tak juga membuka mata indahnya.
Firlan tertidur sambil menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang Vira. Ia terus menggenggam tangan itu.
Malam berganti pagi, Vira membuka matanya perlahan. Wanita itu berusaha untuk duduk.
"Kamu sudah bangun?" tanya Ricko.
"Kamu mau duduk? biar aku bantu..." lanjut Ricko seraya membantu Vira untuk duduk.
Vira nampak mencari sesuatu, matanya menelisik ke seluruh penjuru ruangan.
"Kamu mencari apa?" tanya Ricko.
__ADS_1
"Nggak, aku nggak nyari apa-apa," kata Vira.
Vira menghela nafasnya, semalam dia seperti mendengar suara Firlan. Tapi mungkin itu hanya mimpi. Nyatanya pria itu tak ada sini.
"Sebegitu nggak pedulinya kamu," gumam Vira dalam hatinya.
Vira mulai beringsut, Ricko yang melihat itu pun segera membantu wanita itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Ricko.
"Ke kamar mandi," jawab Vira.
"Biar aku bantu," ucap Ricko yang memegang lengan Vira berusaha untuk memapah Vira yang terlihat masih lemas.
"Dimana bajuku?" tanya Vira.
"Di dalam lemari," kata Ricko. Vira berjalan menuju lemari dan mengambil baju yang dipakainya kemarin.
"Sini aku bawain," kata Ricko menawarkan bantuan untuk membawakan baju yang dipegang Vira.
"Tenang aja, aku bisa sendiri," kata Vira melepaskan tangan Ricko.
Vira masuk ke dalam kamar mandi, ia melihat pantulan wajahnya yang masih pucat. Ia membasuh wajahnya dengan air.
"Kamu hanya membawaku kesini, lalu pergi lagi..." ucap Vira pada dirinya sendiri, ia tersenyum kecut.
Vira melepaskan selang infus yang menancap di punggung tangan kirinya. Ia berjalan menyalakan shower untuk membersihkan tubuhnya.
Ricko menunggu Vira yang tak kunjung keluar, pria itu mulai gelisah. Ia mencoba mengetuk pintu kamar mandi, memastikan wanita itu baik-baik saja di dalam sana.
"Vira? Vira?" seru Ricko sambil terus mengetuk pintu.
Ricko pun terkejut saat mendapati pintu yang dibuka secara tiba-tiba.
"Astaga, kamu mengagetkanku Vira..." ucap Ricko spontan saat daun pintu hampir membuat keningnya benjol.
"Maaf," hanya satu kata yang keluar dari mulut Vira. Wanita itu berjalan begitu saja mencari tasnya.
"Kenapa selang infusnya dilepas? kamu masih sakit, loh!" kata Ricko membuntuti kemana Vira bergerak.
"Aku udah sembuh..." jawab Vira. Wanita itu mengambil tasnya yang ada di dalam lemari.
"Hey, kamu mau kemana?" tanya Ricko, ia mencekal tangan Vira.
__ADS_1
"Pulang," sahut Vira singkat.
"Kamu masih sakit," ucap Ricko.
"Aku udah biasa sakit kayak gini, jadi nggak perlu khawatir berlebihan. Lagian mama sama papa pasti khawatir kalau aku nggak pulang lagi," jelas Vira dengan nada datar terkesan dingin.
"Aku nggak mau lagi ngrepotin Kakak," lanjut Vira.
"Kamu sama sekali nggak ngerepotin aku, percaya deh..." ucap Ricko, memegang kedua bahu Vira. Mata mereka bertemu, Vira menatap sepasang mata coklat yang sangat indah dengan alis yang tebal itu. Menatap pria yang mempunyai garis wajah yang tegas.
Wanita itu menghela nafasnya, ia melepaskan tangan Ricko dari bahunya. Tapi pria itu malah menangkup wajah pucat itu.
"Kalau ada masalah, kamu bisa cerita sama aku, ini bukan Vira yang aku kenal..." ucap Ricko.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat saat jarak Ricko dan Vira begitu dekat. Pria itu menutup pintu tanpa bersuara dan pergi begitu saja.
"Aku nggak ada masalah, Kakak salah paham..." ucap Vira membuang muka.
"Tapi mata kamu berkata lain, ada hal yang mengganggu hati dan pikiran kamu," ucap Ricko yang membuat Vira kembali menatapnya.
"Kamu sudah aku anggap sebagai adik, jadi nggak perlu sungkan untuk cerita, aku janji aku akan tutup mulut," ucap Ricko.
"Apakah kamu sudah terbiasa seperti itu pada semua wanita?" tanya Vira dengan tatapan meremehkan.
"Sudahlah, aku nggak apa-apa. Ini hanya perasaan sesaat," ucap Vira yang melepaskan tangan Ricko dari wajahnya. Vira tidak tahu apa yang ada di hatinya saat ini.
"Apakah ini ada hubungannya dengan apa yang aku katakan tempo hari?" tanya Ricko.
"Tentang apa?" tanya Vira.
"Perasaanku," ucap Ricko. Vira mengambil tasnya dan mencangkolkannya di bahu kanannya.
"Nggak sama sekali," jawab Vira.
"Lalu kenapa kamu jadi dingin?" tanya Ricko mencegah wanita itu pergi.
"Hanya perasaan Kakak mungkin," ucap Vira.
"Kamu nggak suka aku dekat dengan seseorang?" tanya Ricko, karena pria itu melihat keanehan Vira saat dirinya mulai intens berkomunikasi dengan seseorang.
"Nggak," jawab Vira.
"Bukan urusanku juga, Kak. Aku mau pulang, aku nggak mau bikin orangtuaku khawatir," lanjut Vira.
__ADS_1
"Kita pulang bersama," ucap Ricko seraya menggandeng tangan Vira.
...----------------...