Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Kedatangan Satya


__ADS_3

Selama di pesawat pikiran Satya sungguh sangat kacau. Bagaimana nanti ia akan menghadapi Amartha, apa yang harus ia katakan pada gadis malang itu. Satya mengurut pangkal hidungnya, berharap mengurangi penat yang sekarang ia rasakan.


Satya tak habis pikir dengan foto yang dilaporkan Firlan. Foto Kenan yang sedang berlutut di depan Sinta dan menggenggam tangan gadis itu. yang sedang duduk di kursi roda dengan pandangan kosong. Terlihat beberapa luka di tangan kanan dan kiri serta kaki gadis itu. Sinta yang depresi mencoba melukai dirinya sendiri. Kenan menggenggam tangan Sinta.


Firlan mengatakan jika Satya harus secepatnya kembali ke kota J, sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Satya yang mendapatkan kabar yang tidak baik pun terus merutuki kebodohannya. Berulang kali dia mengusap wajahnya kasar, dia tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan berita ini pada Amartha.


Bagaimana caranya aku akan mengatakan hal ini padamu!


Akhirnya pesawat yang ditumpangi Satya pun mendarat dengan sempurna, Satya bergegas keluar dengan koper di tangan kirinya. Benar- benar sangat merepotkan.


Bodoh! kenapa aku nggak tinggalin koper di rumah mami aja, yah! begini nih kalau panik, otak nggak jalan!


Satya menaiki taksi untuk mengantarnya ke hotel tempat Amartha menginap. Bisa saja ia suruh, anak buah ayahnya untuk menjemput dia di bandara, namun lagi-lagi panik bikin orang jadi gagal fokus. Satya hanya menghela nafasnya kasar, merutuki kebodohanmya saat ini. Setelah 30 menit, sampailah Satya di hotel tujuannya. Satya menempelkan ponsel ke telinganya.


"Kamu di kamar berapa? aku udah di lobby," tanya Satya pada Amartha lewat sambungan telepon.


"Kamar 235," jawab Amartha singkat.


"Oke, aku akan kesana," ucap Satya, lalu menutup panggilan teleponnya.


Dengan langkah cepat, Satya segera menuju lift yang akan membawanya ke lantai 5. Satya bergegas menyusuri lorong dan setelah sampai di kamar 235, pria itu mengetuk dengan tidak sabaran.


"Mas!" ucap Amartha ketika ia membuka pintu dan nampaklah pria tampan bernama Satya Ganendra.


"Amartha!" Satya menerobos masuk, menaruh asal kopernya dan menutup pintu dengan tendangan kakinya. Pria itu segera memeluk Amartha yang kini tengah menangis dalam pelukannya.


"Maafin aku!" ucap Satya sembari mengelus lembut pucuk kepala Amartha.


"Aku takut! dia belum kembali sampai sekarang!" kata Amartha disertai dengan airmata yang tak hentinya meluncur bebas ke pipinya.

__ADS_1


"Tenang, yah? ada aku disini, aku akan selalu ada disamping kamu, percaya sama aku!" kata Satya dengan lembut, pria itu pun menjarak tubuh keduanya, tangannya menangkup wajah gadis yang telah mencuri hatinya, ia menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.


"Wajah kamu pucet, kamu udah makan?" lanjut Satya setelah melihat wajah Amartha yang sangat pucat.


"Belum," Amartha lalu menggelengkan kepalanya. Satya mengusap lembut kepala Amartha, lalu menggenggam tangan gadis itu dengan sangat erat.


"Hufffh, gimana ya?" gumam Satya yang samar terdengar oleh Amartha.


"Kenapa, Mas?" tanya Amartha dengan wajah polosnya.


"Kita makan di pesawat aja, yah? karena pesawat kita akan berangkat satu jam lagi," ucap Satya yang diiringi anggukan kecil dari Amartha.


Amartha bersyukur, Satya mau menjemputnya di kota ini. Walaupun batinnya bertanya-tanya mengapa suaminya tega meninggalkan ia di kota asing tanpa memberi penjelasan apapun. Mengapa Kenan selalu berbuat sesuatu tanpa menjelaskan apapun terhadapnya. Dia menghilang dan muncul sesuka hatinya. Amartha yakin ada hal yang disembunyikan Satya saat ini, namun dia lebih memilih untuk diam.


Satya dan Amartha segera bergegas menuju bandara setelah Satya menyelesaikan administrasi hotel terlebih dahulu. Amartha jujur sangat bingung dengan raut wajah Satya yang sangat tegang tidak seperti biasanya. Saat ini mereka berdua sudah duduk di dalam kursi penumpang. Pesawat akan take off beberapa saat lagi.


"Jangan takut, ada aku disini..." ucap Satya sesaat sebelum pesawat take off di malam itu.


Amartha yang sedang sibuk menerka sikap Satya yang aneh pun, tidak menyadari saat Satya menyodorkan pasta dan jus strawberry di depannya.


"Hey, jangan ngelamun, ayo makan dulu," Satya membuyarkan lamunan Amartha


"Eh, iya ... makasih, Mas..." Amartha tersenyum dan mulai menyesap jus strawberry miliknya.


"Mas Satya nggak makan?" lanjut gadis itu.


"Nggak, aku nggak laper," ucap Satya sambil menatap lembut perempuan yang duduk disampingnya.


Setelah selesai menghabiskan makanannya, Amartha, kembali berkelana dalam pikirannya. Tak sekalipun Kenan menjawab panggilan telepon darinya dari siang hingga malam menjelang. Sekarang fokusnya bukan ke phobia ketinggiannya, tapi malah memikirkan Kenan ditambah lagi Satya yang selama perjalanan diudara lebih banyak diam, tidak cerewet seperti biasanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


Setelah kurang lebih satu setengah jam mereka melakukan perjalanan udara, akhirnya pesawat kini sudah mendarat dengan sempurna. Satya segera mengajak Amartha untuk turun, kali ini Satya menyuruh Firlan untuk menjemput mereka berdua.


"Lan? lo udah sampe?" ucap Satya tanpa basa-basi di seberang telepon.


"Sudah, bos!" sahut Firlan singkat yang lalu mematikan sambungan teleponnya.


Aiiish, dia main matiin telepon! papi punya asisten kok minim akhlak!


Satya menggerutu dalam hati saat Firlan memutus sambungan teleponnya secara sepihak.


Firlan telah menunggu Satya dan Amartha dari setengah jam yang lalu, tentunya dengan seribu sumpah serapah yang bergema di hati sang asisten. Pekerjaannya di kantor saja sudah membuatnya kewalahan, ditambah lagi harus menuruti perintah anak bos yang sangat ajaib ini. Satya berjanji jika, ia akan mulai menekuni bisnis yang telah dibangun ayahnya, apabila urusannya ini sudah selesai. Mau tak mau Firlan menuruti permintaan Satya.


Satya dan Amartha kini berada dalam sebuah mobil, mereka berdua duduk di kursi penumpang bagian belakang, sedangkan Firlan setia di balik kemudinya. Satya menjelaskan bahwa mereka sekarang ada di pusat kota J, dan akan menuju sebuah rumah sakit elit di kota itu. Amartha hanya menganggukkan kepalanya, tanpa bertanya lebih jauh lagi.


Hari sudah malam tapi suasana kota masih ramai, Amartha memandang sendu ke arah luar jendela mobil. Ada bulir-bulir air mata yang jatuh dan tak bisa ia tahan lagi. Mobil Satya berhenti di parkiran depan rumah sakit.


"Kita udah sampe, turun, yuk?" ucap Satya memecah keheningan.


Amartha yang menyadari mobil telah berhenti pun segera menghapus air matanya.


"Kita mau ketemu siapa, Mas?" tanya Amartha yang menoleh pada Satya , meminta sebuah penjelasan. Karena ada banyak pertanyaan dibenaknya saat ini yang belum terjawab.


"Seseorang..." jawab Satya singkat.

__ADS_1


...---------------...


__ADS_2