Pesona Cinta Amartha

Pesona Cinta Amartha
Gagal Bertemu Amartha


__ADS_3

Kenan masih ada di rumah sakit.


"Selamat, malam Tuan ... saya Verlita, perawat yang bertugas malam ini, saya mau mengganti cairan infus Tuan," ucap perawat itu sambil mengganti botol infus yang tergantung di tiang infus.


"Bisa tolong panggilkan perawat yang bernama Amartha? ada yang mau saya tanyakan dengannya," ucap Kenan sesantai mungkin.


"Amartha dipindahkan ke poli umum, Tuan ... kalau ada pesan, nanti saya akan sampaikan," kata Suster setelah memasanf botol infus


"Tidak terima kasih," ucap Kenan.


"Baik kalau begitu, saya permisi Tuan," kata Perawat itu undur diri


"Tunggu," kata Kenan cepat


"Saya sudah merasa baik, jadi besok saya ingin pulang," lanjut pria yang kini masih berbaring di ranjangnya.


"Baik, Tuan ... untuk masalah itu, dokter yang akan menentukan, Tuan ... kalau begitu saya permisi," Verlitha langsung membalikkan tubuhnya dan akan mengecek kondisi pasien yang lainnya.


Kenan segera menelepon Ferdy, seorang pria muda dulu menjadi asisten Damar, karena Damar sudah tidak mungkin untuk memimpin perusahaan, sehingga Kenan mau tidak mau menggantikan posisi ayahnya, membuat keadaan perusahaan yang semula kacau menjadi kembali stabil.


"Halo, besok saya mau pulang, tolong kamu urus semuanya," ucap Kenan pada Ferdy, asistennya.


"Baik, Tuan ... apakah ada yg lain lagi, Tuan?" tanya Ferdy.


"Tidak ada, hanya itu saja, terimakasih Fer..." kata Kenan tidak begitu bersemangat.


"Sama-sama, Tuan," sahut Ferdy, kemudian sambungan telepon terputus.


Drrrrrtt...drrrt


Sebuah nama terpampang di layar ponselnya, Kenan hanya melihat sekilas tanpa berniat untuk mengangkatnya.


"Sinta lagi, Sinta lagi, ...Huuuffh" kata Kenan menggerutu kemudian menghela nafas panjang.


"Aku kira bisa bertemu kamu malam ini, andai aku punya satu kesempatan lagi, untuk hidup bersama kamu, Amartha ... pasti aku akan sangat bahagia..." ucap Kenan dengan raut wajah yang sendu.


Kenan mulai memejamkan matanya, hari ini berkali-kali Sinta meneleponnya, tapi Kenan tak berniat untuk mengangkatnya. Dia merasa sudah tidak bisa lagi untuk berpura-pura baik terhadap Sinta. Kenan berpikir Sinta sudah sembuh, dia sudah tidak melakukan hal-hal yang akan membahayakan nyawanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


.


Sementara di tempat lain, seorang wanita uring-uringan karena si pria yang tak kunjung mengangkat teleponnya.


"Kemana sih? nggak diangkat, udah beberapa hari ini nggak bisa di hubungi," Sinta menggerutu sambil mondar-mandir sambil menempelkan sebuah benda pipih di telinganya.


"Iiih, nggak diangkat!" kata Sinta kesal karena teleponnya tidak diangkat Kenan.


"Kak Refan, ya ... Kak Refan pasti tahu dimana mas Kenan sekarang," kata Sinta yang langsung keluar kamar, dan mengetuk kamar yang bersebelahan dengan kamarnya.


Tak membuang banyak waktu, Sinta menuju kamar Refan, dan mengetuk pintu dengan sangat tidak sabaran.


"Kakak ... Kak, bukain pintuuunya!! cepet bukaaaa," Sinta berteriak di depan kamar Refan.


"Berisik! ngapain sih? malem- malem ganggu orang tidur?" kata Refan yang kesal karena varu saja akan tidur, malah dikagetkan dengan suara teriakan dan ketukan dari balik pintu.


"Kakak tahu nggak?" Sinta mulai bertanya namun Refan segera memotong perkataannya.


"Ish, dengerin dulu," Sinta mencebikkan bibirnya.


"Kamu pasti mau nanyain Kenan, kan? kakak udah bosen, Sin ... dan kakak malu ... kamu ngejar-ngejar dia kayak orang gila, udah Sin ... udah ... lepasin Kenan, kasian dia ... dia berhak bahagia, Sin..." ucap Refan tanpa titik koma.


"Kok kakak ngomong kayak gitu sama aku?" Sinta tak percaya dengan yang dikatakan Refan, kenapa kakak yang selalu mendukungnya, malah menyuruhnya untuk melupakan orang yang sangat dia cintai?


"Dengerin kakak, Sin ... Kenan sudah banyak menderita, Sin ... udah, lepasin dia ... kakak juga mau kamu bahagia, karena Kenan nggak pernah cinta sama kamu, dia setahun ini membantu kamu karena kakak yang memohon-mohon agar dia mau membantu kamu sembuh, kakak nggak mau menyakiti Kenan lebih dari itu, perpisahannya dengan Amartha sudah membuat dia sangat menderita, dan sikap kamu yang seperti ini membuat hubunganku dengan Kenan semakin memburuk, kamu coba lupakan Kenan, Sinta ... lupakan dia..." Refan memegang kedua bahu Sinta, berharap Sinta mengerti apa yang diucapkannya.


"Udah selesai khotbahnya?" Sinta menepis tangan Refan.


"Sinta kamu jangan kurangajar ya sama kakak? kakak ngomong kayak gini juga demi kebaikan kamu," Refan mulai meninggikan suaranya, Refan sudah sangat frustasi menghadapi kelakuan Sinta.


"Aku akan cari tahu sendiri, meskipun tanpa bantuan kakak," ucap Sinta lalu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Refan yang masih terpaku ditempatnya.


"Sinta?!! aarrghhh! punya adik satu cuma bisa bikin kepala puyeng!" Refan mengacak rambutnya, kemudian segera masuk kembali.

__ADS_1


Refan pun menutup pintu kamarnya, dengan kesal. Mengapa adiknya sangat berubah sekarang, dia merasa sudah sangat tidak mengenali Sinta. Refan sangat bersalah dengan perceraian Kenan dan Amartha, dia tak akan sampai hati untuk meminta lebih.


"Maafin aku, Ken ... gara-gara permintaan konyolku, kamu dan Amartha yang harus berpisah, aku udah nggak tau lagi harus bagaimana, aku harus ketemu sama Amartha, aku harus bikin dia balik lagi sama kamu, dan masalah bocah kecil itu .... arghhh! itu akan aku pikirin lagi, besok aku harus ketemu sama Amartha, aku harus minta maaf..." Refan bergumam, ia segera menelepon seseorang untuk mencari tahu keberadaan Amartha. Setelah mendapatkan info, lalu Refan mencoba untuk tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Gimana persiapan pernikahan kamu, Sayang?" tanya Rosa pada anaknya, Amartha. Sedangkan Rudy hanya menguping istrinya yang sedang menelepon anaknya.


"Itu semua diurus, mami Sandra, Mah..." sahut Amartha sembari menarik selimut tebalnya.


"Katanya pernikahan kalian dipercepat, kamu dan Satya kalian, ehem, kalian tidak-" ucap Rosa, membuat Rudy semakin mendekatkan telinganya di pinsel Rosa, kemudian Rosa menepuk punggung tangan Rudy dan mengisyaratkan Rudy untuk tidak berisik.


"Apaan sih, Mah ... jangan mikir yang aneh-aneh Mah ... itu semua keinginan mami Sandra," jawab Amartha yang membuat Rudy dan Rosa kompak menghela nafas lega.


"Syukurlah, Sayang ... kalau kalian tidak melakukan hal yang mama cemaskan, karena tiba-tiba calon mertua kamu bilang sama mama pernikahan kalian akan dipercepat, jadi mama mikirnya kamu udah," Rosa jadi salah tingkah menanggapi jawaban anaknya, tak dipungkiri ada sekelebat kekhawatiran di hati Rosa dan Rudy mendengar pernikahan anaknya dipercepat.


"Udah ngebet kawin, eh maksudnya, Sayang..." lanjut Rosa yang malah cekikikan.


"Ih, apaan sih, Mama ... salam buat papa ya, Mah ... Amartha tidur dulu ya? udah malam ... besok shift pagi," ucap Amartha yang sudah beberapa kali menguap.


"Sebentar, Sayang ... apa setelah menikah kamu akan tetap bekerja?" Rosa menahan Amartha untuk menutup teleponnya.


"Iya , Mah ... kenapa?" tanya Amartha dengan mata yang sudah mengantuk.


"Alangkah baiknya setelah menikah, kamu bicarakan dengan Satya, Sayang ... bagaimanapun dia nanti yang akan menjadi suamimu, dia yang bertanggung jawab atas dirimu, kamu tanya dulu, apakah kamu boleh bekerja setelah menikah? semuanya harus dibicarakan, Sayang..." Rosa memberikan nasihat untuk Amartha.


"Siap, Mah ... makasih ya Mah," ucap Amartha dengan senyum tipis.


"Ya sudah, kamu tidur ... biar besok nggak kesiangan bangunnya," kata Rosa dengan lembut


"Amartha tutup telfonnya ya, Mah ... Assalamualaikum," Amartha mengakhiri percakapannya dengan Rosa.


"Waalaikumsalam," Rosa menjawab salam dari putrinya lalu memutus sambungan telepon itu.


Rosa meletakkan ponselnya diatas meja dekat ranjangnya, lalu memandang Rudy, dan mengelus lembut tangan Rudy .


"Nggak ada apa-apa, Papa nggak usah cemas, lebih baik kita sekarang tidur, udah malam," ucap Rosa yang mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Rudy yang duduk menyandar pada sandaran ranjang pun mengangguk, dan mulai merebahkan tubuhnya disamping istrinya, Rosa.

__ADS_1


...----------------...


Terima kasih yang udah setia membaca novel ini, jangan lupa like dan komennya juga


__ADS_2