
Setelah selesai makan siang, Amartha merasa mengantuk. Satya yang melihat Amartha sudah sangat lelah pun mengajak istrinya untuk rebahan di kamar.
"Mah, kayaknya kita mau istirahat dulu,"
"Ayo Mama tunjukkan kamar kalian," kata Rosa.
"Pah, Satya nemenin Amartha dulu,"
"Iya, Nak ... kalian istirahatlah, kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh," kata Rudy.
Rosa berjalan mendahului Satya dan Amartha, ia menunjukkan kamar yang diperuntukkan untuk anak semata wayangnya itu.
"Nah, ini kamar kamu, Sayang..." kata Rosa seraya membuka pintu.
"Makasih, Mah..." kata Amartha.
Satya dan Amartha masuk ke dalam ruangan yang cukup dingin itu. Kamar yang sangat luas dengan ranjang king size yang menawarkan kenyamanan bagi siapapun yang merebahkan diri diatasnya.
Rosa menutup pintu dan berjalan menemui suaminya yang masih di ruang makan.
Amartha mengedarkan pandangannya sesaat dan duduk di tepi ranjangnya.
"Kamarku jadi luas banget," kata Amartha.
"Iya, kamu suka?"
"Suka, kamu emang tau banget seleraku, Mas!" puji Amartha.
"Berbaring lah, kamu pasti capek beberapa jam duduk di dalam mobil," ucap Satya yang membuka selimut dengan tangan kirinya, ia menyuruh istrinya untuk berbaring.
"Aku mau sikat gigi dulu, Mas..." ucap Amartha.
"Ya sudah hati-hati," kata Satya.
Amartha membuka kamar mandi dalam yang dilengkapi dengan kipad angin elektronik yang dipasang di langit-langit kamar mandi yang tujuannya agar kamar mandi tidak lembab dan selalu kering. Amartha melihat sudah ada sikat gigi baru yang diletakkan di wastafel dengan aksen kayu dan cermin yang besar. Amartha tersenyum saat dirinya lewat pantulan cermin.
Ditempat lain, Ricko yang sedang duduk di ruang kerjanya sedang mengecek sesuatu di laptopnya, mendadak menghentikan aktivitasnya. Ia melihat jam di dinding.
"Jam 2 siang. Tuh bocah masih nonton tivi atau udah balik ke kamarnya?" gumam Ricko. Pria itu bangkit dan berjalan membuka pintu. Suasana sangat sepi. Namun tiba-tiba Vira berjalan keluar dari kamarnya. Ricko yang mendengar suara pintu terbuka pun akhirnya melangkah ke ruang tivi.
__ADS_1
"Mau kemana, Vir?" tanya Ricko.
"Mau keluar bentar. Kenapa, Kak?"
"Mau aku anter?" tanya Ricko.
"Nggak usah ... aku bisa sendiri, kok!" Vira menolak secara halus.
"Kamu lagi buru-buru?" tanya Ricko.
"Nggak..." jawab Vira.
"Aku mau ngomong sebentar, bisa?" tanya Ricko lagi, Vira mengernyit heran.
Namun baru saja Ricko akan bertanya, tiba-tiba ponsel yang ada di saku celananya berdering.
"Sebentar," ucap Ricko.
Ricko menyapa sang penelepon, sesekali ia tersenyum. Lalu tertawa, Vira sangat aneh melihat kelakuan pria itu. Karena taksi yang sudab dipesannya sudah menunggu di luar, Vira memberi isyarat kalau dia akan pergi. Ricko hanya mengangguk. Sementara ia masih menempelkan benda pipih itu di telinga kanannya. Vira pun melangkah pergi menuju pintu utama, ia menutup pintu seraya menghela nafasnya.
"Enaknya ngapain, ya? hari kedua setelah jadi pengangguran..." gumam Vira sambil masuk ke dalam lift yang membawanya turun ke lobby.
Vira keluar dari apartemen, ia masuk ke dalam sebuah taksi yang membawanya ke sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota.
Setelah 30 menit, wanita itu membayar ongkos taksinya dan masuk ke dalam mall tersebut. Tak ada barang yang ingin dia beli sebenarnya. Dia hanya ingin melepas penat sejenak. Vira membeli gellato untuk ia nikmati sambil tawaf keliling dari satu lantai ke lantai berikutnya.
"Kak Ricko kayaknya akhir-akhir ini sering banget telfon-telfonan, suka ketawa sendiri ... berbanding terbalik sama aku..." Vira bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Tasnya lucu, hmmm ... ah, tapi nggak ada budget buat beli tas lagi," ucap Vira yang sesaat tadi menghentikan langkahnya, menatap sebuat tas dari luar etalase toko.
"Emang bener ya, makan eskrim kayak gini bisa balikin mood," ucap Vira yang melanjutkan langkahnya dan menyendokkan gellato rasa vanilla cookies itu.
Vira seperti orang sableng yang ngomong sendiri sambil berjalan kaki. Matanya beralih pada pusat permainan.
"Main bentar, seru kayaknya..." ucap Vira yang sudah menghabiskan gellato-nya dan membuang cup berwarna merah itu ke dalam tong sampah.
Dentuman musik menggema saat Vira menapakkan kakinya di pusat permainan yang kerap dikunjunginya sewaktu dirinya masih mengenyam pendidikan. Namun setelah bekerja, dia tak ada waktu untuk itu. Vira berjalan menuju counter pengisian saldo kartu.
"Mau check saldonya, Mbak..." ucap Vira.
__ADS_1
"Kartunya, Kak..." kata seorang petugas wanita yang ada di mesin kasir. Vira mengeluarkan kartu berwarna merah dari dalam dompetnya.
"Saya check dulu ya, Kak..." kata si petugas.
"Saldonya masih 56 ribu, Kak ... tapi maaf, Kakak bikin kartu ini di luar kota, ya?" lanjut wanita itu.
"Iya, betul..."
"Disini nggak bisa dipakai, Kak ... kalau Kakak mau Kakak bisa bikin kartu baru lagi," ucap wanita itu sambil memberikan kartu itu lagi pada Vira.
"Ya udah, bikin baru lagi aja,"
"Atas nama siapa, Kak?"
"Vira ... pakai huruf Ve," ucap Vira mengangkat jari tengah dan telunjuknya.
"Mau isi berapa?" tanya petugas itu.
"200 ribu," kata Vira seraya menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan pada wanita itu.
"Ini Kak, saldonya sudah bertambah ya 200 ribu, terima kasih..." kata petugas itu sambil menyerahkan kartu.
"Makasih, ya..." ucap Vira seraya membawa sebuah kartu berwarna merah di tangannya.
Vira berkeliling, ia melihat-lihat permainan apa yang menarik minatnya.
"Seru, nih..." kata Vira seraya mendekat ke arah permainan yang pukul memukul boneka yang akan muncul dari beberapa lubang.
"Anggap aja yang nongol ini si mamas pacar," kata Vira, ia menempelkan kartu dan mulai permainan. Vira melampiaskan amarahnya pada boneka yang tidak bersalah itu.
"Baru pemanasan!" kata Vira yang mendadak bersemangat. Karena ini hari kerja jadi hanya ada beberapa pengunjung yang datang.
Vira menuju permainan dance. Wanita itu menempelkan kartu dan mulai mengikuti tanda panah yang ada di layar, musik menggema mengiringi gerakan kaki Vira yang menekan lantai yang terbuat dari besi bergambar sign anak panah. Keringat mulai bercucuran dati pelipis dan kening Vira karena gerakannya menguras tenaga. Tangannya sesekali berpegangan pada besi di belakangnya sementara kakinya dengan lincah menekan tombol sesuai anak panah dan beat pada layar. Vira memakai kembali alas kakinya setelah selesai dari permainan battle dance itu. Nafasnya ngos-ngosan.
"Gila, udah lama nggak main itu, napasshhh udahhh nggakkk kuattth ... jangan-jangan tanda penuaan dini..." ucap Vira yang mengeluarkan tisu dari dalam tasnya. Ia menyeka keringat yang bercucuran, lalu ia kembali berkeliling.
"Untung pakai kaos sama jeans, jadi nggak ribet mau main beginian..." ucap Vira saat berhenti di depan permainan basket.
"Kita duel!" ucap seorang pria. Vira menoleh melihat satu sosok tersenyum padanya sambil mengangkat kartu member miliknya.
__ADS_1
"Jika kamu menang, aku akan traktir apapun yang kamu mau," lanjut pria itu.
...----------------...