
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar, masih pusing?" ucap Satya saat melihat mata istrinya yang mulai terbuka, pria menggenggam tangan Amartha dan mengusap lembut kepalanya.
"Lepasin," ucap Amartha dingin melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Yank..." Satya memanggil istrinya yang kini menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit sekali diartikan
"Aku minta maaf, Yank. Aku salah, aku minta maaf, aku nyesel banget udah ngelakuin itu. Kamu mau kan maafin aku?" ucap Satya yang menangkup kedua pipi istrinya, dan menatapnya dengan wajah yang penuh harap.
Namun Amartha hanya terdiam memalingkan wajahnya, entah mengapa dia begitu kesal melihat wajah suaminya itu. Walaupun dalam benaknya saat ini ada banyak pertanyaan, siapa yang mengantarkannya ke rumah sakit. Mengapa ada suaminya disini? sejak kapan?Karena seingatnya, dia sedang berada di pusat perbelanjaan dan sedang di ikuti oleh si penelepon iseng yang ngomongnya seolah-olah dia benar-benar mengenal dirinya dan Satya. Namun karena masih ngambek, Amartha lebih memilih diam.
Sampai akhirnya seorang suster mendorong masuk sebuah alat USG beserta monitornya, ia mengatakan bahwa Amartha akan diperiksa oleh dokter Vallerie, dokter spesialis kandungan. Saat ini Amartha tengah berbaring di sebuah ruangan yang khusus dibuat untuk di rumah sakit miliknya, ruangan dengan alat-alat yang sangat lengkap. Sebenarnya dari tadi Satya udah cengar cengir duluan, tapi sesaat kemudian pria itu langsung meredupkan senyumnya saat mendapat lirikan dari istrinya.
Amartha bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa dirinya diperiksa dokter kandungan. Apakah penyebab dia jatuh pingsan itu ada hubungannya dengan penyakit yang berhubungan dengan rahim? Amartha menelan salivanya dengan susah payah, wajahnya masih terlihat sangat pucat.
Dokter Vallerie memperkenalkan dirinya, dokter cantik itu mengoles gel diperut Amartha yang menimbukan rasa dingin, dan dia mulai menempelkan alat ultrasonografi dan menggerakannya di atas perut bagian bawah pasiennya, namun dokter itu mengernyitkan keningnya.
"Kenapa, Dok? apa tidak kelihatan?" tanya Satya yang berada di samping Amartha. Amartha pun tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya dengan 'tidak kelihatan'.
"Saya akan coba memakai ini," ucap dokter Vallerie sambil menunjukkan sebuah alat untuk USG yang berbentuk seperti tongkat.
Dokter itu mulai memakaikan sebuah bahan elastis yang biasa disebut balon pencegah kehamilan, pada sebuah alat mirip dengan tongkat yang panjangnya sekitar 5-7 sentimeter kemudian memberinya semacam gel atau pelumas.
"Itu mau buat apa, Dok?" Amartha bertanya pada dokter itu dengan raut wajah yang tegang.
__ADS_1
Dokter menjelaskan pada Amartha bahwa ia akan melakukan USG dari jalan lahir.
"Ehm, kenapa harus pakai itu?" lanjut Amartha.
"Karena agar lebih jelas, Nyonya. Bisa kita mulai sekarang? tenang ini tidak akan lama, Nyonya hanya butuh menarik nafas panjang ketika mendengar aba-aba dari saya," jelas dokter cantik itu.
"Apakah harus?" Amartha ngeri dengan alat dipegang oleh dokter Vallerie.
"Iya begitulah, Nyonya..." jawab wanita yang memakai snelli dengan senyumnya yang ramah, dia baru pertama kali berjumpa langsung dengan sang pemilik rumah sakit yang ternyata masih sangat muda.
"Sebenarnya dokter ini ingin memastikan apa? apakah itu sesuatu yang serius?" gumam Amartha dalam hatinya, lalu ia memandang suaminya dengan wajah yang tegang.
"Nggak apa-apa, Sayang. Kita mau pastiin sesuatu, ini nggak akan sakit, kamu cuma butuh tarikan nafas yang panjang, jangan lihat alatnya, lihat saja ke layar monitor itu," ucap Satya yang menunjuk sebuah monitor besar yang terpasang di dinding, segaris lurus dengan pandangan Amartha.
"Aku takut," Amartha menggeleng, dia tidak ingin diperiksa dengan alat itu.
"Coba, sekarang kamu tarik nafas yang panjang, ayo Sayang..." ucap Satya. Amartha menarik nafasnya panjang.
"Pintar, sekarang kamu fokus lihat ke monitor itu, jangan pikirkan yang lain, fokuslah melihat ke sana," ucap Satya mengarahkan istrinya agar melihat pada layar monitor yang menampilkan keadaan dalam rahimnya.
Ya, pada akhirnya mau tak mau Amartha membiarkan dokter itu melakukan tugasnya. Walaupun rasanya sedikit nyeri dan malu plus deg-degan dengan hasil yang didapat oleh sang dokter. Apakah ada sesuatu yang salah? atau ada penyakit yang serius?
Jika ya, bagaimana nanti pernikahannya dengan Satya? jangan-jangan dia akan dicampakkan seperti si penelepon itu bilang? pikirannya begitu random, sedangkan dokter Vallery tersenyum saat mendapatkan sesuatu.
__ADS_1
"Selamat ... Tuan dan Nyonya, Itu sudah kelihatan janinnya, Tuan ... perkiraan usia kehamilan 7 minggu, diusahakan Nyonya Amartha jangan terlalu lelah dan jangan terlalu banyak pikiran," ucap sang dokter itu sumringah.
"Apa? dokter bilang apa? hamil?" Amartha menatap Satya lalu kembali menatap layar monitor.
"Jadi? tidak ada sesuatu yang serius?" lirih Amartha yang kemudian dijawab gelengan kepala oleh suaminya yang juga dulu seorang dokter. Sementara dokter Vallerie menyudahi pemeriksaannya dan melepaskan sarung tangan yang sedari tadi dipakainya, kemudian ia membasuh tangannya dibawah air mengalir.
"Saya permisi, Tuan, Nyoya ... sekali lagi selamat," ucap dokter itu sambil menjabat tangan Satya dan Amartha bergantian, kemudian keluar dari ruangan itu meninggalkan sepasang suami istri yang tengah mendapatkan gambar bahagia
"Kamu akan menjadi seorang ibu, dia ada disini, di dalam sini," ucap Satya seraya mengelus perut istrinya, sementara air mata malah menetes dari kedua mata wanita itu, ia sangat bahagia mendengar kabar kehamilannya, namun Satya malah sakah mengartikan tangisan istrinya
"Kamu nggak seneng kita akan punya anak? apa kamu belum siap untuk ini?" ucap Satya yang menatap istrinya dengan tatapan sendu.
"Yank?" Satya memanggil istrinya dengan sangat lembut.
"Aku minta maaf, apa kamu belum siap punya anak? atau kamu masih marah sama aku soal kejadian tadi pagi? aku minta maaf, seharusnya aku nggak melakukan itu, aku minta maaf," ucap Satya sembari menatap wajah istrinya, menyeka air mata yang membasahi pipi wanita yang sangat dicintainya.
"Aku menangis bukan karena aku tidak ingin hamil, tapi karena aku terlalu bahagia mendapat kabar ini," ucap Amartha yang membuat segaris senyuman di bibir Satya, namun tidak dengan Amartha. Wanita itu hanya tersenyum tipis. Membuat Satya meredupkan senyumnya.
"Lalu, apa kamu masih marah soal kejadian tadi pagi? aku nyesel banget, Yank..." ucap Satya menatap Amartha dengan tatapan mengibanya.
"Kamu boleh marahin aku, Yank. Boleh banget. Tapi jangan diemin aku kayak gini, aku nggak bisa, Yank..." Satya tak melepaskan pandangannya dari istrinya. Amartha menatap suaminya dalam.
"Kenapa Mas ada disini?" Amartha malah bertanya perihal keberadaan suaminya, membuat Satya bingung dengan pertanyaan yang wanita itu lontarkan.
__ADS_1
"Hah? Maksudnya?" Satya mengerutkan keningnya.
...----------------...