
Setelah 1 jam perjalanan, ponsel Satya berdering. Ia menunjukkan layarnya pada Amartha.
"Angkat aja," ucap wanita itu dingin.
"Angkat?" gumam Satya.
Ia pun dengan malas mengusap layarnya dan menyapa orang yang berada di seberang telepon.
"Ya? ada apa?" tanya Satya tanpa basa-basi.
"Kamu dari mana aja? kenapa baru angkat dari aku?" tanya wanita di telepon.
"Fine, aku maafin kali ini. Tapi lain kali kamu juga harus kabarin biar aku nggak khawatir. Aku lagi di..." ucapan wanita itu terpotong oleh ucapan Satya.
"Maaf suaranya putus-putus, haaloo? h-haalo?" kata Satya sambil gimmick dan sesaat kemudian ia memutuskan panggilan itu secara sepihak.
Satya menghela nafas seraya memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
"Sebenernya kesiksa lahir batin tau aku, Yank..." ucap Satya seraya menjawab lirikan istrinya.
"Bukannya seneng?" sindir Amartha.
"Ta, jangan lupa usap perut kamu sambil ngomong 'amit-amit jabang kebo! biar muka anak kamu jangan mirip onoh!" seru Vira yang mendapat toyoran pelan dari Firlan.
"Issh! apaan, sih!" Vira menepis tangan Firlan.
"Masa iya anak kita mirip dia, nggak usah yang kayak gitu kamu dengerin. Apalagi dari mulut pacarnya Firlan, karena itu cuma mitos yang nggak terbukti kebenarannya," serobot Satya berusaha menjelaskan pada Amartha.
Firlan melotot pada Vira yang tersenyum simpul, senyuman yang sudah lama tidak Firlan lihat. Menyadari akan hal itu ekspresi Vira kembali lempeng.
Setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam akhirnya mereka sampai juga di kediaman Satya. Amartha pun dibantu Satya untuk turun dari mobil.
"Nggak mampir dulu ke rumah aku, Vira?" tanya Amartha saat jendela mobil dibuka oleh Vira.
"Nggak," sahut Vira.
"Yank, nggak usah ditawarin mampir! nanti Firlan sendirian pulangnya," kata Satya menarik pinggang istrinya untuk mendekat padanya.
"Iya kan, Lan?" tanya Satya pada Firlan.
"Yupppss!" sahut Firlan.
"Ya udah, deh! kamu hati-hati ya di jalan?"
"Pasti," jawab Vira.
Dan mobil yang dikendarai Firlan pun perlahan bergerak meninggalkan kediaman Satya.
Satya mengajak istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
"Nyonyaaa?" seru Sasa.
__ADS_1
"Alhamdulillah! Nyonya akhirnya pulang juga!" ucap bik Surti.
"Iya, Bik ... Bik Surti, Sasa ... saya naik dulu ya ke atas," ucap Amartha.
Satya menuntun istrinya untuk naik ke atas, menaiki satu persatu anak tangga.
Satya segera membukakan pintu kamar untuk istrinya.
"Kamu mau rebahan dulu? aku siapin bantalnya ya?" kata Satya setelah mendudukkan istrinya, namun Amartha mencekal tangan suaminya ketika pria itu hendak berpindah dari posisinya.
"Nggak usah, cukup pakai bantal ini aja ditumpuk," kata Amartha menunjuk bantal berwarna abu-abu itu.
"Baiklah, Nyonya. Akan saya segera siapkan," ucap Satya membungkukkan badannya hormat.
Amartha hanya tersenyum melihat suaminya yang langsung menyusun bantal-bantal agar Amartha bisa merebahkan tubuhnya dengan posisi setengah duduk.
"Udah nyaman?" tanya Satya setelah melihat tumpukan bantal sudah menyangga tulang punggung istrinya.
"Hu'um..." Amartha berdehem, ia merasakan kontraksi lagi di perutnya disertai tendangan di dalam perutnya.
Satya hendak pergi, namun kelingkingnya di tarik sang istri.
"Mau kemana?" tanya Amartha.
"Mau lihat ke bawah, ngambilin cemilan buat kamu sekalian aku bikinin jus," jawab Satya
"Disini aja, biar Sasa yang bikinin," kata Amartha yang memang sedang merasakan sesuatu yang tidak enak pada badannya.
"Iya iya aku nggak mau ditinggal," kata Amartha.
"Aku ganti baju dulu, bentar aja..." kata Satya seraya melepaskan tangan istrinya dari kelingkingnya. Amartha mengangguk pelan.
Satya melenggang menuju ruang ganti, ia ingin mengganti pakaian yang lebih santai. Amartha merasakan rasa nyeri di bagian perut paling bawah. Usia kandungannya belum genap sembilan bulan dan normal jika dia merasakan kontraksi yang hilang timbul. Amartha menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Ia mengusap perutnya yang menegang, sedikit keras. Rasa nyeri kemudian hilang dan perutnya yang kencang kini sudah kembali seperti semula.
Satya yang sudah memakai kaos dan celana pendek pun ke toilet untuk membasuh wajahnya dan mencuci tangannya.
"Kamu mau mandi sekarang atau?" tanya Satya setelah keluar dari kamar mandi.
"Daritadi kamu ngapain, Mas? cuma ganti baju sama cuci muka? kenapa nggak mandi sekalian? lagian udah sore juga," ucap Amaryha sedikit emosi, entahlah rasanya hal kecil saja bisa membuat moodnya buruk.
"Iya juga ya? ya udah aku mandi dulu, kamu tunggu disitu, ya?" ucap Satya seraya masuk ke dalam kamar mandi.
Amartha hanya menggeleng tidak mengerti dengan sikap ajaib suaminya itu. Kakinya terasa pegal terutama di bagian lutut, nyeri. Rasanya tulang kakinya seakan ditarik dan seperti akan terlepas. Amartha memijit sendiri lututnya yang sangat sakit.
Beberapa saat kemudian, Satya keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar.
"Kenapa, Yank?" tanya Satya yang melihat istrinya sedang mengelus perutnya sendiri. Amartha menggeleng pelan. Ia tak mau suaminya khawatir.
Satya mengangkat gagang telepon untuk menyuruh pelayannya membuatkan waffle coklat dan jus alpukat kesukaan istrinya.
"Sini, biar aku pijitin kaki kamu, ya?" tanya Satya seraya meraih kaki istrinya.
__ADS_1
Sementara Sandra yang sudah mendapat kabar jika menantunya sudah pulang ke rumah pun langsung mendatangi kediaman anaknya.
Wanita uang masih cantik diusianya itu melangkah dengan langkah yang terburu-buru.
"Bik? menantu saya ada dimana?" tanya Sandra pada bik Surti yang baru saja menutup pintu.
"Ada di kamar Nyonya..."
"Tolong hangatkan sup iganya ya, Bik? saya mau naik ke atas," ucap Sandra seraya memberikan apa yang dibawanya pada bik Surti.
"Baik, Nyonya..." jawab bik Surti.
Sandra langsung naik ke lantai dua, ia sudah sangat cemas sekali dengan keadaan menantunya.
Sandra mengetuk pintu dahulu, tak lama pintu pun terbuka.
"Mami?" ucap Satya.
"Awas minggir!" Sandra langsung menerobos masuk.
Sandra melihat Amartha sedang ada di ranjang duduk disanggah para bantal.
"Ya ampuuun, Sayang! kenapa kamu pergi dari rumah dengan keadaan hamil seperti ini? mami khawatir dengan kamu, Sayang!" Sandra mengelus kepala Amartha, wanita itu duduk di tepi ranjang.
Satya menutup pintu dan mendejati dimana kedua wanita beda generasi itu berada.
"Sat? mami pengen ngomong berdua sama Amartha, lebih baik kamu keluar dan turun ke bawah bilang sama Sasa bikinin mami lychee tea pakai es batu yang banyak," kata Sandra tanpa melepaskan pandangannya pada wajah menantunya.
"Iya, Mam..." Satya bergegas keluar dari kamar.
"Amartha," panggil Sandra lembut.
"Iya, Mam..." sahut Amartha.
"Kamu gimana? kandungan kamu baik-baik aja?" tanya Sandra.
"Iya, Mam ... baik, Mam." ucap Amartha dia takut jika Sandra akan memarahinya karena kabur dari rumah.
"Amartha, boleh mami bicara?" ucap Sandra menatap lekat kedua mata menantunya.
"Boleh, Mam..."
"Seberat apapun masalah dalam rumah tangga, kabur dari rumah bukan cara menyelesaikan masalah. Jika ada sesuatu diantara kalian, selesaikan dengan kepala dingin. Pergi dengan membawa emosi hanya akan memperburuk keadaan, mami bicara seperti ini karena mami sudah merasakan manis dan pahitnya berumah tangga. Kita tidak bisa lari dari masalah, kita harus menghadapinya. Kita harus tegar, terlebih lagi sebentar lagi kamu akan mempunyai anak," Sandra menggenggam tangan Amartha.
"Iya, Mam. Maafin Amartha, Mam ... Amartha nggak akan kabur-kaburan lagi dari rumah," jawab Amartha.
"Anak pintar. Kalau si sableng memang keterlaluan biar mami yang turun tangan, Sayang!" ucap Sandra. Amartha terkekeh dengan apa yang diucapkan mertuanya itu.
"Mami sayang sama kamu, dan mami nggak mau terjadi sesuatu yang akan kamu sesali nanti. Kamu anak mami, sama seperti Satya," ujar Sandra.
"Makasih, Mam..."
__ADS_1
...----------------...